Rabu, 03 Desember 2025

Supir Bus Sekolah yang Tidak Sekolah

Waktu itu pertengahan tahun 2014.

Aku hendak pergi dari tempat les bimbelku ke tempat les menggambar. Saat itu sedang masa-masa persiapan ujian masuk kampus jurusan desain yang jadi cita-citaku. Semangat sedang tinggi, les di berbagai tempat sekaligus aku jabanin.

Seingatku, saat itu kelas 12 SMA sudah tuntas sekolah--sudah tidak pakai seragam lagi. Meskipun begitu, gaya berpakaianku masih seperti anak remaja pada umumnya: pakaian putih atau hitam, rok jeans, dan kerudung putih bergo. Bukan seragam, tapi mungkin mirip seragam.

Dengan pakaian seperti itu, aku menunggu bus kota yang akan membawaku dari Petukangan ke daerah Mayestik.

Bukannya bus kota, ternyata malah bus kuning yang lewat duluan. Aku tidak pakai seragam sekolah--begitu syarat menumpang bus sekolah yang kutahu, jadi aku tak berharap bus itu berhenti. Namun, ternyata supir menghentikan bus tepat di depanku dan menyuruhku naik.

Aku menurut, meski sambil kebingungan.

Ternyata aku satu-satunya penumpang di bus kecil itu. Aku pun mengambil duduk di dekat bapak supir.

Tanpa kuminta, bapak supir itu mulai bercerita bahwa dulu beliau tidak tamat sekolah. Karena itu, beliau "hanya bisa menjadi" supir bus. Uniknya, nasib membawa beliau menjadi supir bus sekolah.

Kata beliau, beliau senang bisa mengantarkan anak-anak hingga bisa sampai ke sekolah. Beliau tidak mau anak-anak ini seperti beliau dulu, yang tidak bisa tuntas pendidikannya.

Karena itu, meskipun aku tidak pakai seragam, beliau tetap mau mengantarkan. Walaupun bukan ke sekolah, toh aku tetap dalam perjalanan untuk menuntut ilmu.

Aku pun sampai di tujuan. Turun bus hanya mengucap terima kasih tanpa membayar apapun. Bus sekolah tidak memungut biaya, karena memang merupakan program subsidi baru dari pemprov DKI Jakarta di masa itu.

Namun, aku turun dengan pengalaman berharga. Sangat singkat, tapi masih kuingat sampai 10 tahun kemudian di 2025 ini.

-----

Sekarang, 11 tahun sejak hari itu, aku sudah bekerja.

Meskipun tidak jadi kuliah di kampus desain, aku tetap berakhir menjadi desainer grafis. Tepat sesuai cita-cita kala remaja.

Bus sekolah masih ada. Kini armada bus itu diganti jadi lebih besar. Meskipun mampu menampung lebih banyak anak, bus itu tetap saja penuh karena antusiasme murid-murid. Aku sudah jarang melihatnya karena waktu operasi bus itu berselisih dengan waktuku bekerja, tapi setiap kali aku lihat, bus itu pasti penuh sepenuh-penuhnya.

11 tahun berlalu, tapi aku masih ingat cerita bapak supir bus sekolah waktu itu.

Sungguh kisah hidup yang unik, perjalanan hidup beliau itu.

Beliau beruntung, meski putus sekolah beliau bisa belajar keahlian khusus yang membantunya mencari nafkah: mengemudikan kendaraan besar.

Aku pernah baca dan tonton, anak-anak kalangan menengah ke bawah memang sangat didorong oleh lingkungannya untuk bisa mengemudi mobil, bahkan kalau bisa bus dan truk.

Hari ini, kendaraan umum begitu banyak. Termasuk di antaranya bus kecil dan besar.

Kira-kira, berapa banyak ya di antara supir itu yang tidak tamat sekolah?

Pendidikan mereka tak tuntas, tapi hasil kerja mereka mengantarkan banyak sekali anak ke sekolahnya. Anak sendiri dan banyak anak orang lain.

Benarlah kebermanfaatan seseorang tak tergantung dari ijazahnya, melainkan dari ilmu dan amal nyata yang ia lakukan.

Kamis, 16 Mei 2024

Aku Ingin Lebih Kuat!!

 Jadi, aku lagi sakit. Flu, batuk. Tubuhku tidak mampu mengimbangi aktivitasku.

Well, I did force myself quite a bit the last two weeks. Tiba-tiba H-3 bulan (atau kurang) aku memutuskan ikut Comifuro 18 (CF18), dan sampai H-1 acara aku masih gambar dan cetak produk. Huahahaha

Alhamdulillah CF berjalan sangat lancar (it ended too fast, If I could say...). Aku sampai di rumah Ahad malam. Besok paginya aku berangkat kerja kerja ke kantor. Pulang sore, lalu malam harinya lanjut les online bahasa Jepang. Aku sekip makan malam karena dari pagi sampai sore sudah disuguhi banyaaaak sekali makanan di kantor.

Ternyata, besok paginya aku tepar juga....

Harusnya kupaksakan diri untuk makan malam, ya.

Sekarang hari Kamis, sudah hari ketiga aku sakit. Seharusnya hari ini aku mengisi ekskul mentoring di sekolah lamaku, tapi karena sakit, jadi tidak bisa. Untungnya pekan ini ada mentoring gabungan online, jadi kegiatan adik-adik bisa kualihkan ke sana.

Besok aku harus masuk kerja. Harus.

Kantorku tidak seketat itu dalam urusan kehadiran, tapi tetap saja aku akan rugi. Sehari aku tidak masuk, sehari itu juga uang tunjangan transport dan makanku melayang... Bayangkan kalau tidak masuk berhari-hari. Haish. Beban pekerjaanku juga 'kan jadi ditanggung rekan kerjaku. Mau ditaruh di mana integritasku kalau begitu terus? :")

Karena itu, aku harus masuk!

Aku nggak mau kegiatan-kegiatan sampinganku jadi terkesan membuat kinerjaku di kantor menurun. Aku mau berjuang sebisanya juga di sana. I don't want to take my job and my officemates for granted. I want to cherish them.

Sejujurnya, masih banyak yang ingin kulakukan. Aku mau buka online shop untuk menjual karya-karyaku. Aku mau ikut bela diri Aikido lagi, atau daftar keanggotaan gym, pokoknya yang membuatku ada kegiatan olahraga. Aku juga mau bantu-bantu di rumah, mau masak-masak, mau belajar nyetir, mau jalan-jalan dan ngobrol aja sama keluarga. Aku mau main sama teman-teman lama yang sudah lamaaa sekali tidak kutemui. Aku juga mau bikin komik, mewujudkan ide-ideku jadi karya.

Banyak sekali yang mau aku lakukan....

Tapi, ya, tubuhku ini kok gampang sakit? :")

Dulu waktu kuliah pun, aku melakukan banyak kegiatan sampai penyakit mengeremku. Aku pernah sampai putus asa dan menyerah hidup karena. Namun, justru karena pernah seperti itu, karena aku sudah tahu rasanya tidak punya semangat hidup, aku mau memanfaatkan semangat hidup menggebu-gebu yang sekarang kumiliki ini.

24 jam rasanya kurang. Apakah mimpiku terlalu banyak? Yang mana yang harus aku utamakan, yang mana yang harus aku lupakan? No, that aside--apa yang harus kulakukan sekarang supaya aku sanggup menjalankan semuanya?

Aku sudah lelah jadi orang lemah. Aku capek karena aku gampang capek.

Bukankah kata hadits, "Mu'min yang kuat lebih dicintai Allah daripada mu'min yang lemah." Begitu, 'kan?

Ya Allah, izinkan aku jadi mu'min yang kuat! Izinkan hamba mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari nyawa yang Engkau berikan ini. Berikanlah aku petunjuk, mudahkanlah aku dalam memahami dan melaksanakan petunjuk-Mu. Berikanlah aku rezeki yang terbaik berupa kesehatan dan ketenangan hati. Aamiin....


So, what should I do?

Let's fix my morning habit. Subuh is a must. Tahajud, even better. Oh wait, mungkin persiapan malamku harus kuperbaiki juga, supaya paginya ikut baik. Makan juga. Mungkin aku juga harus lebih rajin stretching? Apakah porsi jalan kakiku sudah cukup? Apa aku olahraga dari jogging saja?

....

Ya Allah, tolong berikan aku ilmu terkait ini...

Jumat, 02 Februari 2024

Kekuatan Luffy!


Pada event Comic Frontier 17 beberapa bulan lalu, aku membeli gelang yang sederhana nan bagus ini. Temanku bilang harganya terbilang mahal menimbang bahan dan modalnya, tapi yaa... Bukankah kebanyakan barang di CF memang begitu? Hahahaa... Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku beli gelang ini, tapi ia masih awet meski aku pakai hampir setiap hari. It's worth the price, I think.

Anyway, seperti yang terlihat di foto, bandul gelang ini adalah Luffy. Aku bukan penggemar berat serial One Piece, tapi aku tahu garis besar ceritanya. Aku baca sedikit komiknya, nonton sedikit anime-nya (yang ditayangkan di TV dulu), dan sekarang sedang menonton versi live action-nya, meski belum selesai.

Saat menonton dan melihat kembali karakter Luffy, aku merasa kagum. Tokoh utama komik shounen zaman dulu kebanyakan punya sifat seperti itu. Sebut saja Luffy, Naruto, atau Goku. Mereka tidak banyak berpikir, tapi banyak bertindak. Mereka baik hati, mudah berteman, juga setia.

Sangat berlawanan dengan sifatku.
Aku terlalu banyak berpikir, bahkan sampai tidak jadi bertindak. Aku bisa memperlakukan orang lain dengan baik (semoga benar demikian), tapi selalu ada ruang skeptis dalam hati yang membuatku tidak bisa benar-benar membuka diri. Memang betul banyak berpikir itu salah satu pertanda banyak pengetahuan. Namun, kecerdasan tidak hadir satu paket dengan keberanian.

Jadi, bagaimana caranya menjadi berani?

Hmm, sejujurnya, jawaban pertanyaan itu tidak terjawab walau sudah berpikir bertahun-tahun. Ternyata, cara mencari jawabannya bukan dengan berpikir. Justru, jangan berpikir! Lakukan saja!

Nekad? Bisa jadi. Berani dan nekad itu beda tipis. Percaya diri juga. Bedanya ada di ada tidaknya kesiapan dan kepercayaan.

Wew, jadi ngalor-ngidul gini, hehe.

Hari itu di CF, aku membeli dua gelang. Yang satu berbandul Luffy, yang satu lagi Naruto. Keduanya adalah karakter pemberani. Bukan overthinker! Tentu ada kalanya mereka gagal dan lemah, tapi mereka terus berusaha, terus membangun kembali keyakinan yang runtuh, dan terus maju.

Life goes on! Let's just kinda keep at it! LOL


Minggu, 28 Januari 2024

"Kamu Sudah Kerja Keras!"

Ini kisah kilas balik dari sekitar awal tahun 2018. Saat aku lengser alias selesai menjabat semua amanah organisasi di kampus Padjadjaran.

Hari itu, pengurus organisasi lama dan baru hadir di aula untuk acara serah terima jabatan yang diadakan fakultas. Karena ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)-ku berhalangan hadir, aku sebagai salah satu wakil ketua hadir menggantikan.

Singkat cerita, dilantiklah adik tingkatku, selesailah tugasku. Kami bersalam-salaman dengan para dekan dan pejabat fakultas di akhir acara.

Saat aku menyalami wakil dekan bidang kemahasiswaan, yang juga dosen pengajar beberapa mata kuliahku, beliau spontan berceletuk dengan senyum cerah, "Wah, ini nih! Udah kerja keras!"

Refleks, begitu mendengar kata-kata beliau, air mataku berlinang. Tidak sampai menangis, karena aku berusaha menahan. Namun, rasa ingin menangis yang timbul sangatlah kuat.

Mungkin beliau mengucapkan itu tanpa pikir panjang, tapi hanya dengan itu aku merasa semua usahaku setahun terakhir diakui. Itu semua tidak sia-sia.

Ternyata selama ini beliau tahu aku, ya.

Aku memang sering duduk di barisan depan saat perkuliahan di kelas, tapi tidak pernah ada interaksi khusus antara aku dan beliau, jadi aku tidak merasa beliau tahu aku.

Karena aku aktif di UKM Fakultas dan beliau Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, aku sempat beberapa kali bertemu beliau kalau ada pertemuan atau kegiatan lainnya di fakultas.

Di tingkat rektorat atau universitas juga, aku ketua UKM tingkat Universitas, jadi pernah beberapa kali melihat beliau saat acara rektorat terkait kegiatan kemahasiswaan.

But that's all. I thought he just think of me like any other student. Like a person in the background, kalau aku boleh lebih kasar.

Ternyata tidak.
Beliau sadar siapa aku. Beliau tahu ke mana saja aku berkiprah. Beliau tahu.

Sekarang 2024, sudah 6 tahun berlalu sejak saat itu. Beliau pasti sudah tidak ingat, tapi aku masih merasa terharu setiap teringat momen itu. Karena kejadian itulah aku sadar, betapa berharganya afirmasi positif dari orang lain bagiku.

Betapa mudahnya cara membuatku menangis, yakni cukup dengan kata-kata
"Kamu udah kerja keras.
Makasih, ya."

___________________

Ucapan terima kasih khusus saya sampaikan pada beliau,
Dr. Dadang Sugiana, Drs., M.Si.
Dosen Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.
Semoga Bapak sehat selalu, terima kasih atas ilmu dan penguatan yang diberikan.

Jumat, 26 Januari 2024

Not Everyone Wants Your Best - Tidak Semua Orang Menginginkan yang Terbaik Darimu

Tidak semua orang meminta yang terbaik dari kamu.
Artinya, kamu tidak perlu memberikan yang terbaik dalam segala hal.
Kitalah yang perlu pandai-pandai mengenali, kapan harus maksimal, kapan perlu secukupnya.

Pekerjaanku sehari-hari adalah sebagai desainer grafis dan ilustrator.
Kerap kali, aku berusaha mengerjakan tugas kerja dengan usaha yang berlebihan. Aku membuat konsep dan desain yang membutuhkan masa pengerjaan cukup lama. Pada akhirnya, aku malah tidak bisa menyelesaikan tugas itu tepat waktu.

Padahal, permintaan yang diberikan padaku sederhana. Mereka ingin permintaannya sekadar dipenuhi. Mereka tidak meminta aku mengeluarkan kemampuanku 100%, bagi mereka 50% dariku saja sudah cukup.

Sayangnya, aku tidak mengenali keinginan mereka dengan baik.

Barangkali bukan hanya desain, tapi dalam hal lain pun aku mengalami masalah ini. Mengerjakan skripsi, menulis artikel di blog, menggambar karya, atau mengisi kegiatan mentoring.

Lelah, bukan?

Aku masih harus banyak belajar cara menurunkan ekspektasi dan idealisme. Sepertinya ini akan menjadi jalan sulit lainnya untuk mengembangkan diriku, tapi aku harus melaluinya, bukan?