Waktu itu pertengahan tahun 2014.
Aku hendak pergi dari tempat les bimbelku ke tempat les menggambar. Saat itu sedang masa-masa persiapan ujian masuk kampus jurusan desain yang jadi cita-citaku. Semangat sedang tinggi, les di berbagai tempat sekaligus aku jabanin.
Seingatku, saat itu kelas 12 SMA sudah tuntas sekolah--sudah tidak pakai seragam lagi. Meskipun begitu, gaya berpakaianku masih seperti anak remaja pada umumnya: pakaian putih atau hitam, rok jeans, dan kerudung putih bergo. Bukan seragam, tapi mungkin mirip seragam.
Dengan pakaian seperti itu, aku menunggu bus kota yang akan membawaku dari Petukangan ke daerah Mayestik.
Bukannya bus kota, ternyata malah bus kuning yang lewat duluan. Aku tidak pakai seragam sekolah--begitu syarat menumpang bus sekolah yang kutahu, jadi aku tak berharap bus itu berhenti. Namun, ternyata supir menghentikan bus tepat di depanku dan menyuruhku naik.
Aku menurut, meski sambil kebingungan.
Ternyata aku satu-satunya penumpang di bus kecil itu. Aku pun mengambil duduk di dekat bapak supir.
Tanpa kuminta, bapak supir itu mulai bercerita bahwa dulu beliau tidak tamat sekolah. Karena itu, beliau "hanya bisa menjadi" supir bus. Uniknya, nasib membawa beliau menjadi supir bus sekolah.
Kata beliau, beliau senang bisa mengantarkan anak-anak hingga bisa sampai ke sekolah. Beliau tidak mau anak-anak ini seperti beliau dulu, yang tidak bisa tuntas pendidikannya.
Karena itu, meskipun aku tidak pakai seragam, beliau tetap mau mengantarkan. Walaupun bukan ke sekolah, toh aku tetap dalam perjalanan untuk menuntut ilmu.
Aku pun sampai di tujuan. Turun bus hanya mengucap terima kasih tanpa membayar apapun. Bus sekolah tidak memungut biaya, karena memang merupakan program subsidi baru dari pemprov DKI Jakarta di masa itu.
Namun, aku turun dengan pengalaman berharga. Sangat singkat, tapi masih kuingat sampai 10 tahun kemudian di 2025 ini.
-----
Sekarang, 11 tahun sejak hari itu, aku sudah bekerja.
Meskipun tidak jadi kuliah di kampus desain, aku tetap berakhir menjadi desainer grafis. Tepat sesuai cita-cita kala remaja.
Bus sekolah masih ada. Kini armada bus itu diganti jadi lebih besar. Meskipun mampu menampung lebih banyak anak, bus itu tetap saja penuh karena antusiasme murid-murid. Aku sudah jarang melihatnya karena waktu operasi bus itu berselisih dengan waktuku bekerja, tapi setiap kali aku lihat, bus itu pasti penuh sepenuh-penuhnya.
11 tahun berlalu, tapi aku masih ingat cerita bapak supir bus sekolah waktu itu.
Sungguh kisah hidup yang unik, perjalanan hidup beliau itu.
Beliau beruntung, meski putus sekolah beliau bisa belajar keahlian khusus yang membantunya mencari nafkah: mengemudikan kendaraan besar.
Aku pernah baca dan tonton, anak-anak kalangan menengah ke bawah memang sangat didorong oleh lingkungannya untuk bisa mengemudi mobil, bahkan kalau bisa bus dan truk.
Hari ini, kendaraan umum begitu banyak. Termasuk di antaranya bus kecil dan besar.
Kira-kira, berapa banyak ya di antara supir itu yang tidak tamat sekolah?
Pendidikan mereka tak tuntas, tapi hasil kerja mereka mengantarkan banyak sekali anak ke sekolahnya. Anak sendiri dan banyak anak orang lain.
Benarlah kebermanfaatan seseorang tak tergantung dari ijazahnya, melainkan dari ilmu dan amal nyata yang ia lakukan.