Minggu, 29 September 2013

Honestly Chapter 5


5.        Should I Tell You?

Rasanya jadi aneh berangkat sendirian. Sama sekali tidak ada yang bisa diajak bicara. Tidak ada gadis berambut cokelat keemasan yang berjalan dengan cuek beberapa langkah di depannya.
Kemarin malam ibu Michisa mengirim SMS pada Henji bahwa besok pagi Michisa akan berangkat sekolah dengan rekan kerjanya. Sepertinya kemarin ada banyak pekerjaan yang ia terima, jadi ia terpaksa menginap di lokasi kerja.
Hmph, padahal Michisa cuma model. Tapi dia cukup populer. Mungkin karena ia terlihat berbeda dibanding yang lain. Menurut orang-orang, dia paduan sempurna Inggris dan Jepang, alias Barat dan Timur. Rambut cokelat keemasannya panjang bergelombang alami di ujung. Dan menurut kabar yang Henji dengar, mata Michisa bukan hitam, melainkan hijau gelap. Namun Henji tak pernah benar-benar memperhatikan mata Michisa untuk sekedar memastikan itu.
Tapi sepertinya daya tarik Michisa hanya penampilan luarnya saja, ya. Dia sering bersikap kasar, belakangan malah jadi agak dingin.
Henji menggelengkan kepalanya cepat. Tidak, Henji, tidak boleh. Jangan berprasangka buruk pada orang lain. Mungkin Michisa hanya belum menunjukkan kelebihan lain selain penampilannya.


"Hei, kamu lihat video klip Summer Alone kemarin?"
"Aah, preview-nya 'kan? Lihat dong! Keren banget!"
"Kyaa~!!! Tasuku-kun kereeen!!! Lagunya bagus banget! Suaranya juga!"
"Kalau aku datang mendekat~ apa kau akan marah padaku~?"
"Kyaaa~!! Jangan menirunyaaa! Aku jadi maluuu~!"
"Hehe~ Dari suaranya, sepertinya dia tampan yaa~"
"Iya iya. Tapi... Bagaimana kalau seandainya dia... Yah, tak sesuai bayangan kita?"
"Bisa juga sih. Makanya dia tidak mau tampil di depan publik. Kalau memang begitu sih, menurutku biar saja dia sembunyi terus. Lebih baik kita berkhayal tak pasti seperti ini. Iya 'kan?"
"Iya iya aku setuju~"
Gadis-gadis yang merumpi ria itu berteriak-teriak dan tertawa-tawa karena senang. Henji hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka dari bangkunya yang berada di barisan paling kiri, dekat jendela. Ternyata para siswi di kelasnya banyak yang menyukai Tasuku. Kalau sampai mereka tahu Tasuku sebenarnya adalah orang seperti Henji, mungkin mereka akan... Shock, mungkin. Ah, sudahlah. Henji 'kan memang tak berniat membuka identitasnya.

Bel pulang sekolah berbunyi. Usai mengganti sepatu dalamnya, Henji bergegas menuju ke pohon sakura. Ternyata Michisa sudah ada di sana lebih dahulu.
"Ah, tumben kau cepat sekali."
"Tumben kau lama sekali."
Henji agak mengernyit. Michisa... Walaupun tenang, ia dingin sekali hari ini.
"Ayo jalan."
Michisa berjalan duluan. Henji mengikutinya di belakang. Saat itu Michisa tak bicara apapun. Henji juga tidak berani bicara duluan. Waktu terasa berlalu cukup lama sampai akhirnya mereka tiba di depan apartemen Michisa, Apartemen Mizusawa.
"Aku mau tanya sesuatu," ujar Michisa sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Tasunaga Henji, kau ini Tasu-"
"AAW!"
"Hii-kun!!"
Henji kaget. Barusan Michisa mau menanyakan Tasuku 'kan? Hanya saja pertanyaannya terpotong jeritan anak kecil yang ikut menambah sensasi kagetnya. Sepertinya berasal dari taman samping apartemen. Michisa sendiri seolah melupakan apa yang ingin dia tanyakan tadi. Suara barusan menyita seluruh perhatiannya. Tanpa basa-basi lagi, Michisa langsung berlari secepat mungkin ke arah taman itu, meninggalkan Henji yang kebingungan. Ia sempat tersandung namun berhasil menjaga keseimbangannya sehingga tidak jatuh, dan langsung lanjut berlari. Melihat Michisa seperti itu, Henji menyusulnya.
Ketika mereka sampai di taman itu, Henji melihat dua orang anak usia SD, sepertinya saudara kembar. Yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Michisa berlari menghampiri mereka berdua.
"Kak Micchi!" yang perempuan merespon kedatangan Michisa.
"Nijika-chan, apa yang terjadi?" tanya Michisa terengah-engah.
"Hii-kun mencoba menolong kucing itu, tapi dia jatuh," jawab gadis bernama Nijika itu sambil menunjuk ke atas pohon.
"Niji terlalu cemas, aku nggak apa-apa kok," ucap anak laki-laki itu.
Michisa tersenyum, lalu berkata pada anak laki-laki itu, "Hihara-kun memang hebat, ya, bisa menahan sakit. Tapi sebenarnya ada yang terasa sakit 'kan? Lihat, kakimu luka."
"Cuma berdarah sedikit."
"Jangan begitu, Hii-kun! Kalau memang sakit, bilang sakit!" Seru Nijika sambil menyentuh kaki Hihara.
"Aduh!"
"Nah, iya 'kan? Sakit?"
"Iya... Sedikit..."
Michisa tertawa kecil, "sudah, sudah, akan kubawa kamu ke apartemen kalian. Tapi, sebelumnya kita harus menolong kucing itu dulu, ya?"
"Kucing itu kami namai Shii-chan, Kak," kata Nijika.
"Ah, aku mengerti! Karena bulunya putih, ya? Kependekan dari Shiro*?" Tanya Michisa.
"Benar! Sudah kuduga kalau Kak Micchi pasti mengerti! Tadi nenek nggak paham."
"Hahaha... Akan kucoba menurunkannya, ya."
Michisa mencoba memanjat pohon itu. Tapi sama seperti Hihara, ia terpeleset dan jatuh, "Kyaaa!"
"Kak Micchi!"
Henji yang dari tadi hanya mengawasi mereka cepat merespon. Ia menahan Michisa sehingga tidak jatuh ke tanah.
"Tasunaga!"
"Biar aku saja yang menurunkannya, kau dengan mereka saja," ucap Henji. Ia memanjat pohon itu dengan hati-hati namun gesit, lalu menurunkan kucing bernama Shii-chan itu.
"Shii-chan! Syukurlah! Terima kasih, Kak!" Ucap Nijika senang.
Henji hanya tersenyum. Melihat Nijika, ia jadi teringat Harumi, adik bungsunya yang baru saja berusia 7 tahun. Anak-anak ini sepertinya lebih tua dari Harumi.
"Nah, Hihara-kun, ayo naik ke sini. Akan kubawa kau pulang supaya bisa diobati," ujar Michisa pada Hihara sambil berlutut, menunggu Hihara naik ke punggungnya.
"Aku jalan saja, Kak Micchi."
"Benar kau bisa?"
"Sudahlah, Hii-kun, naik saja ke punggung Kak Micchi!" celetuk Nijika.
Hihara menyerah. Ia naik ke punggung Michisa yang lalu menggendongnya masuk ke apartemen.
"Hanazawa-san, biar aku saja," Henji menawarkan bantuan.
"Tidak, terima kasih. Biar aku yang menolong Hihara-kun."
Michisa dan Hihara berjalan duluan. Nijika menyusul mereka sambil menggendong Shii-chan. Henji diam di tempat, masih bingung apakah ia ikut naik ke atas atau tidak. Biasanya ia cuma mengantar Michisa sampai sini. Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia pulang. Tapi kali ini, perlukah ia mendatangi gadis itu hanya untuk pamit? Mungkin dia tidak peduli soal itu. Ya sudah, langsung pulang saja... Ah, tapi tidak sopan...
Nijika kembali menghampiri Henji, "Kak, kata Kak Micchi Kakak ikut saja ke atas."
Akhirnya ada solusi. "Ah, baiklah. Terima kasih, ya."
Mereka menaiki tangga bersama-sama. Michisa sudah agak jauh di depan mereka.
"Nama Kakak siapa? Kakak teman Kak Micchi?"
Henji tersenyum, "iya benar, namaku Tasunaga Henji."
"Ooh, Kakak tinggi sekali, ya."
Henji hanya tertawa kecil.
"Sepertinya Kakak dekat dengan Kak Micchi, ya?"
"Nggak juga kok. Kelihatannya saja begitu. Tadi namamu Nijika, ya?"
"Ya, namaku Miyazawa Nijika, 8 tahun! Yang tadi adik kembarku, Miyazawa Hihara. Senang bisa berkenalan dengan Kakak."
"Aku juga senang bisa berkenalan dengan kalian. Kalian sangat dekat dengan Hanazawa-san, ya?"
"Ya! Kami pindah ke sini dua tahun yang lalu. Sejak dulu Kak Micchi baik sekali. Kami selalu main sama-sama. Kalau ada festival juga kami sama-sama ke sana. Sejak Kak Micchi jadi model, dia jadi lebih sibuk. Tapi dia selalu menyempatkan diri main dengan kami. Karena itu kami sangat sayang pada Kak Micchi!"
Henji hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Nijika. Ternyata Michisa sangat baik pada anak-anak. Mungkin karena dia tidak punya adik.
Henji merasa bersalah. Ternyata Michisa tidak sedingin, seegois atau sekasar yang ia kira. Dia punya sikap hangat pada anak-anak. Dia memang hanya belum memperlihatkan sisi baik dirinya.
"Aku ingin jadi seperti Kak Micchi kalau sudah besar," tambah Nijika. Wajahnya merona senang. "Kak Micchi baik, pintar, kuat, juga cantik."
"Aku ingin seperti Michisa! Dia baik, pintar, dan juga cantik!"
Benar juga, Henji baru ingat. Harumi juga pernah bilang begitu. Michisa ternyata menginspirasi banyak orang. Harusnya dari awal Henji tidak perlu meragukan kebaikan Michisa dengan berpikir dia kasar atau semacamnya. Walaupun saat ini Michisa memang dingin, bukankah dulu saat mereka pertama bicara Michisa bersikap baik?
Eh, tunggu. Jadi sebenarnya sifat aslinya yang mana?
"Ke sini, Kak!" Nijika menuntun Henji ke depan apartemennya. Pintu apartemen itu terbuka lebar, sehingga bisa terlihat dari luar kalau Michisa dan Nona Miyazawa sedang mengobati luka Hihara.
"Aku kembali," ucap Nijika sambil masuk ke apartemennya. "Kak Henji juga masuk saja!"
"Tidak apa-apa, terima kasih. Aku di sini saja," jawab Henji sopan sambil tetap berdiri di dekat pintu.
Hihara selesai diobati. Luka di kakinya cukup panjang, tapi tidak parah. Sepertinya ia juga keseleo. Walaupun begitu, dia sama sekali tidak menangis. Kalau diperhatikan baik-baik, Hihara memang tidak terlalu ekspresif, tapi dia aktif, banyak bergerak. Sedangkan Nijika kebalikannya. Dia cenderung cerewet namun pasif.
"Terima kasih, ya, Michisa-chan. Kau selalu menolong mereka," ujar Nona Miyazawa.
"Tidak masalah. Sekarang saya permisi dulu," jawab Michisa dengan sopan. Ia berjalan menuju pintu keluar, tempat Henji berada.
"Eh? Sekarang kau punya pacar, ya?" Tanya Nona Miyazawa setelah ia menyadari kehadiran Henji.
"Ah, tidak kok, dia hanya teman satu sekolahku," jawab Michisa sambil tersenyum.
"Wah, maaf dugaanku salah," Nona Miyazawa tertawa malu. "Salam kenal, saya Miyazawa Natsumi, ibu dari Nijika dan Hihara."
"Senang bertemu dengan Anda," ucap Henji sambil membungkuk hormat. Dia tak mempedulikan kesalahpahaman tadi. Sejak ia diminta melindungi Michisa, Henji sudah menyiapkan mental akan apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya. Maksudnya sih, bersiap-siap akan yang terburuk.
"Kami permisi," pamit Michisa. "Tasunaga, ikut aku sebentar."
Henji dengan polosnya menurut. Ia mengikuti Michisa masuk ke apartemennya. Michisa meminta Henji duduk di ruang tamu sementara ia menyiapkan minuman.
Henji melihat sekeliling. Ini kedua kalinya ia datang ke sini. Tapi rasanya kali ini suasananya lebih sepi.
"Ibumu?"
"Tidak ada, kerja. Tenang saja, pasti tidak ada yang mendengar kita."
Tenang saja katanya? Untuk apa?
Michisa duduk setelah memberi Henji minuman. Henji berterima kasih padanya. Kebetulan ia memang haus sehingga ia langsung meminumnya.
"Langsung saja deh. Kau itu Tasuku 'kan?"
Serangan mendadak!
Henji hampir tersedak, "apa? Tidak mungkin 'kan??"
Michisa menatap Henji tajam. Ia menelitinya dari atas sampai bawah, lalu berkata, "Mungkin saja."
Henji diam menelan ludah.
"Aku sudah pernah bilang padamu, kadang aku memergokimu sedang bernyanyi di pohon sakura itu. Awalnya kukira kau hanya sekedar penggemar yang bisa meniru suaranya. Tapi, kemarin sore aku mendengar kau menyanyikan Summer Alone..."
Ah, berakhir sudah.
"... Single baru Tasuku yang diperdengarkan secara perdana pada publik malam harinya."
Ternyata Michisa menonton acara semalam. Kali ini Henji tertangkap basah. Harus bagaimana sekarang?
"Kalau kau bukan Tasuku, tidak mungkin kau menyanyikan lagu yang bahkan belum dirilis olehnya 'kan? Apa aku salah?"
Mengaku atau tidak? Kalau mengaku, apa Michisa bisa dipercaya? Tapi kalaupun ia menyangkal, apa Michisa akan percaya?
Henji hanya diam tertunduk, tak berani melihat Michisa. Apapun tanggapannya, sepertinya Michisa tidak bisa ditipu lagi. Bukti sudah jelas.
"Aku tak akan memberitahu siapapun," ujar Michisa. "Aku janji."
Henji mendongak perlahan dengan tatapan pasrah. Bisa saja tiba-tiba besok publik heboh karena identitas asli Tasuku bocor. Lalu penggemarnya akan meninggalkannya karena Henji tak seperti Tasuku yang mereka bayangkan selama ini. Tidak tampan, tidak keren, tidak sesuailah pokoknya. Mereka lebih suka Tasuku tetap cool dan misterius atau sesuai imajinasi mereka masing-masing, selamanya. Ya, seperti yang dikatakan teman sekelas Henji tadi.
"Kenapa kau jadi shadow singer?" Tanya Michisa.
Henji menatap gelas yang ada di meja sambil menjawab, "aku... Aku tidak bisa tampil di depan orang banyak."
"Oh, begitu," Michisa bersedekap. "Lagu-lagumu bagus, teruslah berkarya."
"Terima kasih," Henji memaksakan senyuman tipis. "Itu saja 'kan yang ingin kau bicarakan? Kalau begitu, aku permisi."
Henji berdiri, lalu berjalan keluar. Michisa mengikutinya. Tepat sebelum ia membuka pintu apartemen Michisa, langkahnya terhenti.
"Apa aku bisa mempercayaimu soal ini?" tanya Henji tanpa menoleh ke arah Michisa.
5 detik, tak ada jawaban. 10 detik, masih belum ada jawaban. Henji akhirnya menoleh ke arah Michisa. Gadis itu ternyata menatapnya dengan ekspresi datar.
"Kau mau jaminan?"
Henji terdiam sejenak, "jaminan apa?"
"Akan kuberitahu identitas asliku padamu agar keadaan kita sama."
Michisa berjalan mendekati Henji, lalu berbisik padanya, "Hanazawa Michisa bukan nama asliku."
Henji terdiam mendengar kata-kata Michisa. Perasaannya tidak enak.
"Nama asliku Michelle Steward. Setelah ayahku yang sakit meninggal, nenek mengusir ibuku kembali ke Jepang. Sepertinya beliau juga memutuskan hubungan keluarga dengan kami, padahal kami tak salah apa-apa."
Henji masih belum bisa berkata-kata. Ia kembali menoleh ke arah pintu. Mendadak ia diberitahu masalah pribadi keluarga yang seperti itu. Rasanya berat.
"Percayalah padaku," tambah Michisa. "Kalau kau membocorkan identitasku, akan kubocorkan identitasmu. Sebaliknya, kalau aku membocorkan identitasmu, silakan bocorkan identitasku. Bagaimana?"
"Baiklah."
Henji membuka pintu. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum pergi adalah senyuman tipis gadis itu.

_______________________________________________________________
  shiro : warna putih.

- Bersambung ke Chapter 6 - 

Catatan Penulis :

Yoo minna-san ogenki desu ka??? Setelah merilis chapter 8, saya akan hiatus sementara dari Honestly. Tapi ceritanya tentu saja masih saya terus tulis! Saya terlanjur suka sekali pada proyek ini!
 Jadi di chapter ini akhirnya Michisa mendengar sendiri dari Henji kalau ia adalah Tasuku. Dan ternyata Michisa juga terus membocorkan identitasnya!
Saya kehabisan kata-kata! Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

FildzahPro

Selasa, 10 September 2013

Aku Ternyata "M"

Sesuai judul, aku baru sadar kalau aku ternyata bener-bener M, karena selama ini aku bingung aku ini S atau M.

Sebelumnya, M dan S di sini merupakan istilah otaku untuk karakter-karakter di manga/anime Jepang, di mana :

S = Sadist (Kejam)
M = Masochist (Pekerja keras).

Ngertilah ya? Hahahaaa... Bukannya ge-er nih tapi. Cuma lagi ngerasa kayak gitu aja.

Masochist. Tipe orang yang merupakan pekerja keras. Walaupun capek, dia paksa-paksa terus karena dia ngerasa harus ngerjain semua tugas-tugas dan kerjaannya. Nggak ada waktu main. Tiap hari kerja, kerja, kerja. Bener-bener 4G-nya Jepang :
Ganbatte = Berjuanglah
Ganbarimasu = (subjek) + akan berjuang
Ganbarimashou = mari berjuang
Ganbarou = terus berjuang

Sekarang saya ini kelas 12 SMA (udah tauuuu). Tiap hari pergi. Beginilah kira-kira garis besar kegiatanku selama seminggu :

Senin = sekolah
Selasa = sekolah, bimbel NF (Nurul Fikri)
Rabu = sekolah
Kamis = sekolah, bimbel NF
Jumat = sekolah, Mentoring Keputrian
Sabtu = mentoring BM &/ Alumni BM
Ahad = bimbel Villa Merah &/ mentoring alumni BM

Paling di rumah cuma sekitar 2-6 jam kalo hari biasa. Itu juga pasti ngerjain PR, belajar buat ulangan, ngerjain tugas organisasi, dll. Rapat-rapat organisasi juga random harinya pas pulang sekolah. Kece deh.

Harus pinter-pinter nyari waktu istirahat. Refreshing badan. Kalo Refreshing pikiran sih bisa dengan main aja, entah kenapa aku selalu bisa browsing kalo malam minggu.

Semangat Fildzah, bismillah, ganbatte!

10 September 2013, Ruang 05 Nurul Fikri Petukangan

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Jumat, 30 Agustus 2013

Like I said, "Last Grade"

Assalamu'alaikum, hissashiburi desu ne...
Sudah sebulan lebih sejak kenaikanku ke kelas XII IS 2. Menyenangkan, sekaligus berat.
Menyenangkannya, kali ini kelasku terasa sedikit lebih nyaman. Waktu kelas X-XI, aku bener-bener gak peduli sama kelas. Gak ada temen sekelas yang bener-bener akrab. Aku lebih sering diem aja, asyik sendiri. Masih shock-shock-nya masuk SMA dan jurusan IPS sih waktu itu.
"Ah, kelas juga nanti 'kan ganti lagi. Temen-temennya juga 'kan ganti lagi. Tempat numpang lewat doang."
Gara-gara pikiran kayak gitu, hatiku jarang ada di kelas.
Sekarang... Hmm, gak ada temen akrab sih, tapi seenggaknya lebih mending dibanding kelas-kelas sebelumnya. Walaupun kalau dipikir-pikir ulang lagi ya... Sama aja sih (._.)
Kayaknya sekarang-sekarang ini aku lagi dilindungi Allah banget deh.
Suaraku jadi lebih kecil sejak masuk SMA. Kehendak Allah kali ya? Karena gak bisa teriak-teriak, aku jadi gak bisa marah-marah kalo lagi kesel sama orang-orang di sekolah.
"Kursimu beresin dong!"
"Sampahnya buang yang bener dong!"
"Tahu nggak sih? Ini tuh masjid! Kenapa malah ngobrol, pake sambil makan dan duduk ngelingker segala lagi?!"
"Udah kelas 3 SMA masih gak sholat? Hidup buat apaan kalian?"
"Hargain dong temen kalian yang udah mau berbuat baik! Jangan malah diajak-ajak yang nggak-nggak!"
Yah, itu sebagian jeritan hati yang gak bisa kulepas. Sebenarnya masih banyak lagi yang lain.
Hari ini aku jadi nangis lagi setelah sekian lama. Kenapa sering banget aku nangis? Imbas gak bisa marah-marah. Kekesalan, kesedihan, kesenangan, entah kenapa semuanya diungkap pakai air mata.
Allah juga ternyata lagi ngejaga hatiku. Merasa tinggi hati sedikit, aku langsung dibanting.
Rasanya aku udah belajar, sambil berusaha nambahin hafalan, sambil menuhin tugas organisasi, dan lain sebagainya.
Tapi entah kenapa yang aku kerjain rasanya gagal terus.
Pas belajar, lancar-lancar aja. Aku gak pasif-pasif amat di kelas. Tapi pas ulangan, nilainya di bawah KKM terus. Pas berusaha belajar di rumah, entah kenapa bawaannya ngantuk terus. Pada dasarnya emang sedih sih, masa' sekolah bisa 12 jam, tapi di rumah cuma 6 jam?
Nggak guna banget aku di rumah.

Tapi ya mungkin inilah tantangannya. Aku harus lulus dengan nilai bagus. Rasanya agak aneh kalo ngarep jadi lulusan terbaik, jadi ya abaikanlah.
Harus berdoa, ibadah yang rajin. Bantu orang tua yang sering.
Nambah hafalan yang banyak. Masa dari SMP sampe sekarang masih 3 juz aja.
Jaga hati sama orang lain. Jangan nyakitin siapapun.
Ya Allah, permudahlah urusanku, lancarkanlah lisanku, agar mereka mudah memahamiku.

FildzahPro, 30 Agustus 2013
Di Kelas XII IS 2, SMAN 47

PS : Mungkin ke depannya aku bakal lebih jarang nge-blog. Mesti fokus sama sekolah dulu nih. Nilaiku sering di bawah KKM (KKM-nya 80 -.-).
Soal "Honestly", setelah kurilis sampai chapter 7, Honestly akan hiatus cukup lama. Kapan mulai lagi, akan kuumumkan lagi nanti. Kalo aku diterima PTN di jalur undangan (SNMPTN) ya mungkin April atau awal Mei, tapi kalau nggak, mungkin akhir Mei atau Juni.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


















Jumat, 16 Agustus 2013

Renungan Malam

Ya Allah, betapa celakanya aku ini. Bulan lalu aku begitu baik pada-Mu. Beda dengan sekarang. Kelalaianku malah semakin banyak.
Ya Allah, maaf karena aku hanya bisa menyesal dan terus meminta. Tolong hilangkanlah kegelisahanku, kuatkanlah diriku, dan permudahlah urusanku.
Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang pandai bersyukur. Lenyapkanlah diriku yang suka mengeluh, buatlah aku bersyukur dan berusaha sebaik mungkin tanpa menyesali apa-apa yang belum kumiliki. Tolong hilangkan kejenuhan dalam hatiku.
Ya Allah, mungkin kini aku terlalu sibuk dengan dunia. Tolong bimbinglah aku agar selalu bisa mengingat-Mu, selalu kembali kepada-Mu. Aku tahu, seindah apapun dunia saat ini, pada akhirnya hati ini akan selalu ingin kembali kepada-Mu.
Ya Allah, terima kasih banyak atas segalanya yang telah Engkau berikan. Setiap air mata, ibadah, suara dan kebahagiaanku adalah rasa syukurku kepada-Mu.
Ya Allah, kasihilah kedua orang tua dan adik-adikku. Jangan biarkan mereka menanggung dosa yang dipercikkan oleh anak dan kakak mereka ini. Ampunilah mereka, berkahilah mereka karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu yang lebih baik daripadaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.
Ya Allah, selamatkanlah aku dari kebimbangan dan kekhilafan. Tenangkanlah hatiku dan hati orang-orang yang kukenal atau mengenalku. Bersihkan dan lancarkanlah lisan kami, sucikan hati kami, agar kami bisa lebih saling memahami.
Ya Allah, mungkin saat ini ada orang yang kudzalimi. Tolong ampunilah aku, tolong beri aku kemudahan dan keteguhan untuk menepati janji-janjiku. Lembutkanlah hati kami agar dapat saling meminta maaf dan memaafkan.
Ya Allah, walaupun sikapku buruk terhadap Engkau, Engkau selalu menolongku setiap saat. Kekuatan hati, ketabahan untuk tetap melangkah maju walau sambil menangis, Engkau selalu berikan semuanya untukku. Terima kasih ya Allah, walaupun aku terus berbuat salah dan menyesal, Engkau terus menemaniku setiap saat.
Ya Allah, maafkan diri ini jika pernah tidak ikhlas beribadah kepada-Mu. Hilangkanlah rasa malas pada hati dan tubuhku. Tumbuhkanlah kedewasaan dan kedisiplinan padaku. Tolong jadikanlah aku seseorang yang istiqomah dalam berbuat kebaikan.
Ya Allah, sesungguhnya malam ini aku telah mengkhianati kepercayaan seorang teman. Tolong berikanlah aku kekuatan untuk menempuh ujian-ujian dari-Mu dan dampak-dampak buruk perbuatanku. Tolong kuatkanlah aku untuk menempuh dunia ini, dan kembali kepada-Mu.
Rabbana atina fid dun'ya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa kina adzabannaar...
Aamiin ya rabbal alamiin
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone










Honestly Chapter 4



4.        Next Inside

"Kenapa tadi kau tidak menungguku di dekat mesin penjual seperti biasa!?"
"Maaf, kemarin malam ibumu  menyuruhku menunggu di depan konbini* samping apartemenmu itu lewat SMS," jawab Henji berusaha menjelaskan pada Michisa. "Malah sebenarnya beliau memintaku menunggu dari depan apartemen kalian. Tapi aku tahu kau tidak akan suka itu, makanya aku bilang pada beliau kalau aku akan menunggu di depan konbini saja. Aku minta maaf."
Michisa menepuk keningnya kesal. Ibunya benar-benar berhasil mengerjainya. Ia kaget bukan main melihat Henji tiba-tiba muncul saat ia baru berjalan beberapa langkah dengan rambut kacau dari depan komplek apartemennya. Padahal Henji biasanya menunggu di perempatan yang berjarak 15 meter dari konbini itu.
"Kau tahu tidak?! Kau tidak harus menuruti semua permintaan ibuku!! Kau bisa menolak kalau memang tidak mau!!"
"Aku minta maaf," Henji menunduk menatap jalanan. "Saat kutanya pada ayahku, beliau bilang orangtuamu sangat baik padanya. Katanya ayahmu adalah salah satu teman terbaik yang ia punya. Aku hanya ingin ikut membantu ayah membalas budi yang ia terima."
Michisa terdiam sesaat sampai akhirnya berkata,"ayahku berteman dengan ayahmu?"
Henji agak terkesan dengan perubahan wajah Michisa yang tiba-tiba, tapi ia tetap menjawab, "ya, begitulah. Ibumu memberitahu aku soal itu saat aku pertama kali ke apartemenmu. Ternyata benar kalau kau tidak tahu."
Michisa mengangguk pelan. Henji melihat sedikit rona merah di wajah Michisa. Saat itu Michisa tampak seperti memanggil kembali kenangan masa lalunya. Memang benar kata Nona Reina kalau Michisa sangat mengagumi dan menyayangi ayahnya.
"Ah, aku baru ingat sesuatu," Michisa akhirnya kembali memulai pembicaraan setelah terhanyut dalam pikirannya sendiri selama beberapa menit.
"Ada apa?" Henji meresponnya.
"Kau ini penggemarnya Tasuku, ya?"
Henji sempat kaget untuk sesaat, namun ia segera mencoba untuk kembali tenang, "eh.. Ya, begitulah. Bagaimana kau tahu?"
"Aku mendapatimu menyanyikan lagunya, dua hari yang lalu saat kau ada di pohon sakura. Aku kaget mendengar suaramu. Mirip sekali dengan dia."
Dalam hatinya, Henji panik. Ia khawatir Michisa telah menyadari identitas asli Tasuku. Kenapa ia begitu ceroboh bernyanyi di sembarang tempat begitu? Ia senang akan pujian tidak langsung dari Michisa, tapi ia juga waswas. Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja. "Ah, terima kasih. Kau sendiri.. Apa kau juga menyukai Tasuku?"
"Ehm, lumayan."
Mendengar jawaban langsung itu, Henji tertegun. Tak disangka ternyata Michisa adalah salah satu penggemarnya. Dan kalau dipikir-pikir, entah kenapa hari ini ia bisa mengobrol dengan Michisa seperti ini.
"Aku suka lagu-lagunya, membuatku terkenang banyak hal. Aku juga antusias akan single keduanya yang akan dirilis 2 minggu lagi."
Mendengar pengakuan Michisa, Henji tersenyum. Tasuku memang tidak akan muncul bahkan untuk menemui penggemarnya. Ia hanya bisa mendengar pengakuan penggemarnya sebagai Henji.
"Terima kasih. Tasuku pasti senang mengetahuinya."
"Kenapa berterima kasih padaku? Ah, hei, bicara apa saja aku barusan??!"

*****

Setelah menghela nafas panjang, Henji menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Barusan ia berkirim email dengan Suzuki yang ada di London. Suzuki bilang dia baik-baik saja. Mereka bicara cukup banyak hal, tapi pesan terakhir Suzuki membuat Henji termenung.
"Kuharap kau bisa mencari teman banyak selama aku tak ada, Henji."
"Teman banyak" katanya? Belakangan dia memang sering bersama Michisa, tapi Henji merasa kalau Michisa belum menganggapnya sebagai teman. Atau mungkin Henji saja yang belum berani mengakuinya. Entah kenapa Henji sulit menemukan teman, teman dalam arti yang sesungguhnya.
Henji berjalan menyusuri lorong. Ia lalu berpapasan dengan seorang siswa yang terlihat sangat repot dengan barang bawaannya yang banyak. Henji memberanikan diri menghampirinya.
"Permisi, ada yang bisa kubantu?"
Yang ditanya merespon dengan cepat, "ah! Terima kasih, tolong bawakan yang ini..." Laki-laki itu berhenti sesaat dan menatap Henji. "Eh? Tasunaga, ya?"
Henji agak terkesan mendengar namanya disebut. Ah, ternyata laki-laki ini Ishimoto Kazuto. Teman sekelasnya waktu kelas satu dulu.
"Kau ingat padaku?"
"Apa katamu? Tentu saja! Kita 'kan pernah sekelas!"
Henji tersenyum tipis, "terima kasih."
"Kenapa berterima kasih padaku?"
"Ah, tidak apa-apa. Ini dibawa ke mana, Ishimoto-san?"
"Ke ruang OSIS, tolong ya. Dan tolong jangan memanggilku Ishimoto-san, Tasunaga. Panggil Ishimoto saja. Bahkan kau boleh memanggilku Kazuto," ucap Kazuto sambil tersenyum ceria.
Henji balas tersenyum. Baru-baru ini Kazuto terpilih menjadi ketua OSIS SMA Nosaka. Sepertinya ia sangat sibuk. Apalagi festival olahraga juga akan diadakan akhir bulan ini.
"Heeh... Ternyata kau ganteng juga ya kalau tersenyum, Tasunaga. Badanmu juga tinggi~"
"Eh??" Wajah Henji berubah kebingungan. Ia tak menyangka kalau orang lain pertama yang memujinya tampan ternyata laki-laki. Jadi bingung harus merasa senang atau... apalah itu.
"Benar juga, ya. Kalau diingat baik-baik, ini pertama kalinya kita saling bicara. Bahkan mungkin ini kali pertama aku mendengar suaramu," ucap Kazuto polos. "Habisnya dulu kau jarang bicara, jarang menegur, jarang ditegur, jarang ditanya, jarang bertanya, nggak pernah nyanyi... Syukurlah akhirnya sekarang kau bicara."
Kazuto terus mengajak Henji bicara sampai mereka tiba di ruang OSIS. Ia ramah sekali. Dia selalu tersenyum, ceria, tapi juga tetap berwibawa.
"Aku mengerti. Jadi kau ini sekarang kelas 2-5. Kudengar kau sepupunya Suzuki yang sedang pertukaran itu, ya?" Tanya Kazuto lagi sembari membetulkan kacamatanya.
"Ya, benar."
"Sepertinya setelah dia pergi kau jadi sendirian terus, ya?"
Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini Henji mengira tak ada seorangpun yang memperhatikan soal itu.
"Kau sadar, ya?"
"Tentu saja. Aku suka memperhatikan orang, apalagi teman-teman seangkatan kita. Itu kelebihanku."
Henji terdiam dalam perasaan kagum. "Kau memang hebat. Aku pergi dulu, ya, Ishimoto. Berjuanglah," Henji pergi meninggalkan ruang OSIS.
"Terima kasih, Tasunaga! Kapan-kapan boleh aku minta bantuanmu lagi?"
Henji tersenyum mengiyakan. Senang rasanya bisa bercakap-cakap dengan orang yang hebat seperti Kazuto.

*****

Sebentar lagi musim semi berakhir. Suhu mulai bertambah panas, pohon sakura juga mulai berguguran. Dan kini, hujan mulai sering turun. Benar-benar pertanda bahwa musim panas akan datang.
Bulan lalu, Henji menyiapkan single kedua Tasuku, Summer Alone, single musim panas. Single itu akan rilis dua minggu lagi dan akan dipromosikan mulai malam ini. Ada sebuah acara TV yang akan menayangkan potongan video klip single-nya itu.
Benar juga. Ngomong-ngomong soal video klip, tentu saja Tasuku juga tak pernah muncul di video klipnya. Selama ini video klip Tasuku selalu dibintangi oleh orang lain, di mana kisah dan skenarionya berupa film pendek yang diawasi langsung oleh pamannya sendiri, Sugawara Daiichi. Yang Henji tahu, ia hanya diperintahkan menyanyi, menulis lagu, dan berlatih. Soal lain diurus semua oleh pamannya.

Satu musim panas lagi datang
Sebulan penuh dengan keluarga
Namun kini, di pantai ini
Aku melihatmu sendirian

Kulihat dirimu dari jauh
Mengapa kau sendirian?
Tanpa teman atau keluarga
Menerawang laut biru
Adakah yang engkau tutupi?
Kau bisa cerita apapun
Kubayangkan diriku di sana
Berdiri tepat di sisimu...

Henji menggumamkan lagu barunya itu dengan perasaan santai. Ia bersandar pada pohon sakura tempat ia biasa menunggu Michisa. Entah kenapa pohon ini selalu membuat Henji merasa nyaman. Keheningan yang dibuatnya seolah meminta Henji bernyanyi, memperindah suasana. Membuatnya lupa bahwa bisa saja ada orang yang mendengarnya.

Kalau kau sendirian, datanglah
Aku akan menemanimu
Berada tepat di sisimu...
Berada tepat di sisiku...
Ini bukan lagi
Musim panas seorang diri

Tak terasa satu lagu telah habis disenandungkan Henji. Ia diam sejenak, menghela nafas panjang. Lalu ia menarik punggungnya dari pohon itu. Ketika ia menoleh ke belakang, ia mendapati Michisa di sana.
"Ha-Hanazawa-san!"
Michisa menatap Henji sejenak. Henji dibuatnya teringat peristiwa tadi pagi. Jangan-jangan sekarang Michisa makin mencurigainya.
Ah, tapi lagu itu 'kan belum dipublikasikan. Santai sajalah...
"Ehm, mau pulang sekarang?" Henji mencoba memecah kesunyian.
Michisa mengalihkan pandangannya ke jalanan. Tanpa menjawab Henji, ia menjauh dari laki-laki itu.

*****

"Kakak, lagu barumu akan ditampilkan di TV malam ini 'kan?" Tanya Riho sambil menyerahkan segelas jus apel.
"Iya, kau benar. Sekarang acaranya baru mau mulai. Aku sendiri juga mau lihat," jawab Henji. "Kau masih bisa merahasiakan Tasuku 'kan, Riichan?"
"Tentu saja. Kakak nggak usah khawatir, aku bisa mengerti kenapa Kakak nggak mau tampil di depan orang banyak."
Henji tersenyum. Walaupun Riho perempuan, Henji sangat akrab dengan adiknya yang satu ini. Mereka hanya berbeda dua tahun. Henji kelas 2 SMA, Riho kelas 3 SMP. Mereka sama-sama punya kesulitan dalam bergaul, sama-sama sulit berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga mereka. Karena itulah Henji dan Riho bisa betul-betul saling memahami dan saling mensyukuri keberadaan satu sama lain.
Henji dan Riho sangat bersyukur bahwa adik bungsu mereka, Harumi, tidak seperti kakak-kakaknya. Harumi sangat ramah dan pandai bergaul. Ia sering menceritakan saat-saat ia bermain dengan teman-temannya di sekolah. Bahkan nyaris tiap minggu ada temannya yang datang ke rumah. Sebenarnya kalau bukan ibu Henji yang mengajak dengan menawari temannya kue, mungkin tidak akan sesering itu sih.
Kalau Riho, pernah ia dua kali membawa teman pulang ke rumah. Tapi semua itu karena tugas kelompok. Rumahnya dipilih karena paling dekat dengan sekolah. Karena tugas kelompok, mereka nyaris tidak membicarakan hal-hal seperti girls talk sama sekali. Toh, Riho memang bukan teman akrab bagi rekan-rekan sekelompoknya.
Kalau Henji... Jangan ditanya, deh. Dia yang paling parah. Satu-satunya teman sekolah yang pernah datang ke rumah hanya Suzuki. Suzuki juga sebenarnya lebih tepat disebut sepupu daripada teman sekolah. Dulu, sebelum pindah rumah ke daerah sini dua tahun lalu, ada tetangga yang sempat akrab dengan Henji. Seorang laki-laki yang lebih tua 8 tahun darinya. Tapi karena pindah, mereka terpisah dan belum pernah bertemu lagi. Kabar terakhir yang Henji dengar, orang itu sudah menikah dan baru memperoleh anak pertamanya. Ia terasa begitu jauh dan sibuk.
Ya sudahlah. Orang tua Henji dan Riho sendiri juga tidak mementingkan berapa banyak teman yang mereka punya. Yang penting mereka bersikap baik dan tidak mengecewakan satupun teman yang ada. Dan sifat baik itu sukses dimiliki oleh mereka bertiga.

"Wow, ini sih luar biasa bagus, Kak!"
"Aku sendiri tak menyangka video klipnya sebagus ini! Paman memang hebat!"
"Pasti laku keras lagi! Laku! Kerja bagus, Kak!"
Henji dan Riho berceloteh ria di depan televisi malam itu. Untuk sejenak mereka lepaskan kesedihan dari sulitnya berteman, sebelum pergi sekolah lagi keesokan harinya.

Henji tak tahu bahwa di tempat lain ada yang menatap televisi dengan kecurigaan yang tuntas sudah. Bukti sudah sangat jelas. Tinggal memutuskan apakah orang itu akan memastikannya sendiri atau tidak.


_______________________________________________________________
konbini : toko 24 jam (convenience store), salah satu contoh nyata adalah L*wson.


- Bersambung ke Chapter 5 - 

Catatan Penulis :

 Terlambat lagi nge-postnya hehee. Mungkin ke depannya saya akan merilis 1 chapter saja perbulan, harap maklum karena sekarang saya kelas 12 SMA, tingkat akhir sekolah. Mohon maaf atas perubahan ini...
Ngomong-ngomong, akhirnya di chapter ini keluar tokoh baru lagi, Ishimoto Kazuto. Di chapter-chapter berikutnya juga akan ada tokoh-tokoh baru (pastinya). Sedang berusaha melanjutkan novel ini di tengah kesibukan. Semangat!!!