Jumat, 23 Desember 2016

Jatuh Lagi.

Aku rupanya kembali ke kondisi titik bawah itu. Titik terbawah hidupku. Titik yang sebenarnya kalau bisa aku nggak ingin sampai terulang. Namun apa daya, terulang sudah.

Fildzah punya kepribadian yang aneh.

Dalam satu masa, ia bisa begitu cemerlang, begitu berprestasi, begitu berdedikasi dan senang berjuang. Harapan orang-orang diwujudkan. Dalam masa ini ia terus maju tanpa peduli apa kata orang.

Namun, dalam masa yang lain, ia adalah orang yang sangat merepotkan. Yang nggak profesional. Yang nggak bisa menempatkan kepentingan bersama di atas masalah pribadi. Cengeng. Lari dari masalah. Dia akan terlalu mengkhawatirkan pandangan orang terhadap dirinya, padahal ia sendiri yang menyakiti orang lain.

Sayangnya itu semua terjadi seperti siklus. Senang sih ketika jatuh jadi berpikir berarti suatu saat aku bakal naik. Tapi sedih juga ketika naik lalu mikir bakal ada sesuatu yang bikin aku jatuh.

Aku terlalu aneh.
Suatu kali jadi anak yang cengeng di kelas dan sering berantem sama teman.
Masa setelahnya berhasil lulus dengan nilai baik.
Suatu kali terlalu menatap masa lalu, nilai di rapor 4.
Lalu ketika lulus jadi yang nilainya tertinggi.
Setelahnya jadi anak cengeng yang apatis, yang mengutuk keadaan.
Yang nilainya sering jeblok, nilai di rapor bayangan 5.
Yang gagal masuk jurusan IPA keinginan keluarga.
Jutek dan suka nangis sendirian.
Emosian.

Setelahnya, jadi anak dengan nilai baik lagi.
Diterima kuliah di jurusan dan fakultas bergengsi.
IP semester pertamanya 4.00.
Lalu sakit-sakitan.
Dapat nilai E karena nggak ikut ujian.
Lalu berprestasi lagi. Jadi ketua unit kegiatan.

Eh sekarang, jatuh lagi.
Beralasan bosan kuliah, jenuh, takut, bingung....
Padahal mungkin hanya malas saja.
Berlindung dari kesalahan suka nunda-nunda.

Kenapa ya?
Semester ini aku kacau banget. Emosional. Nangis sesenggukan, merengek gak karuan. Kayak waktu SMA dulu. Cuma lari, nangis sesenggukan, tenang sedikit, terus balik ke temen-temen lagi.

Sekarang mah rasanya mau sendirian aja.
Ya, aku gak profesional. Aku ngebunuh, ngacauin dan ngerusak kelompokku sendiri. Mungkin tahun depan aku sendirian lagi. Aku harap gak banyak tugas kelompok tahun depan. Aku gak mau nyakitin orang lain gara-gara hobiku nyiksa diriku sendiri ini.

Tahun depan, mungkin, aku sendirian.
Kepribadianku yang seperti ini terkuak. Tercantum dalam ingatan mereka. Nggak lagi deh sekelompok sama aku.

Aku jadi mikir lagi, apa orang kayak aku gini layak kuliah. Baru masalah ngehimpit kayak gitu aja udah lari. Udah nyerah. Gimana nanti kerja? Gimana kalau nanti harus kerja bareng orang lain?

Makanya cita-citaku komikus sih. Aku bisa kerja sendirian. Gak harus di kantor. Nggak ada itu rapat atau pertemuan yang gimana.

Aku tahu ini kepribadian yang buruk. Ini harus diubah. Aku gak boleh kayak gini. Tapi aku butuh waktu. Aku butuh jeda.

Memang banyak rehat paksa yang kuambil. Itu juga gak baik. Aku ingin berhenti sejenak. Ingin rasanya keberadaanku seperti hilang sesaat. Aku ingin memikirkan dan merencanakan hidup ini.

Padahal kesempatan seperti itu sulit sekali datang.
Aku ingin rehat.
aku ingin pulang.
Aku ingin lahir kembali nanti.
Karena itu aku ingin saat ini, semua orang lupa sejenak padaku.

Kamis, 27 Oktober 2016

Cita-Citaku Masih Komikus

Ya, setelah mencoba hal-hal lain, pontang-panting gambar sana sini, batal masuk jurusan seni, kesimpulan ini yang aku dapat. Ternyata aku masih suka dan masih ingin jadi komikus.

Ada keasyikan tersendiri saat menyusun cerita, mengatur panel, membuat karakter, mewarnai, hmm pokoknya pahit-manis ngomik deh. Berat dijalani, tapi begitu selesai, ada kepuasan tersendiri.

Sejak SD aku suka nulis cerita. Terinspirasi Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) kali ya. Aku bener-bener suka nulis manual di buku tulis semua cerita yang aku buat. Bahkan teman-teman dan guruku bergiliran membacanya. Seiring dengan itu, aku juga ternyata bikin komik. Yup aku baru sadar sekarang. Entah sudah berapa buku habis kupakai menggambar, satu halaman ada dua panel dan ceritanya bener-bener ga ngerti aku apaan hahahahhaa. Sesuka-suka aku aja.

Karakter komikku waktu kecil itu namanya Fina. Poninya panjang sampe nutupin sebelah muka kayak Yamanaka Ino-nya Naruto (padahal waktu itu belum tahu Naruto). Banyak sih inspirasinya si Fina itu, mulai dari Sam-nya Totally Spies, Danny Phantom, Winx Club, kartun-kartun Barat deh pokoknya. Si Fina ini ceritanya sahabatan sama Mina, karakter komiknya adik aku. Samalah tipenya gak jelas gitu :v

Pas kelas 6 aku mulai suka anime Jepang, suka komik Jepang. Alhasil pas kelas 7 aku bikin cerita judulnya "Changin'". Sekitar tahun 2008 atau 2009 kali ya. Dulu sih judul awalnya bukan itu, aku lupa juga.
Ceritanya tentang Kuroiteru Suteki, 15 tahun, yang dia ini punya identitas rahasia sebagai dewi kematian. Gara-gara keluarganya, dia itu dibesarkan tanpa emosi dan kasih sayang. Sampai di SMA dia ketemu sama mantan teman kanak-kanaknya, Ikisaki Hiroi. Hiroi kaget ngeliat Suteki yang dulu ceria banget sekarang jadi dingin dan nggak berperasaan. Dibantu teman-temannya yang lain, yakni Hakubara Megumi, Magokoro Kazasu dan Nagamiki Hanaka, Hiroi pingin ngubah Suteki jadi kayak dulu lagi dan nyelamatin Suteki dari takdirnya sebagai dewi kematian.

Yak, ini bener-bener inspirasinya dari Bleach, and a bunch of shoujo manga I read at that time.
My naming sense was not good, asal nemu kata yang enak aja di kamus. Padahal pas sekarang udah ngerti bahasa Jepang, nama-nama karakternya jadi terdengar aneh. Tapi gimana ya... mau diganti nama juga... itu nama, udah rada mendarah daging di hati...

Ada juga cerita aku yang lain, kayaknya dibikin pas kelas 7 juga, tapi aku lupa sebelum atau setelah Changin'. Judulnya aja aku lupa. Nama tokoh utamanya pun lupa. Ceritanya bener-bener kayak Bleach tapi ada yang diubah-ubah. Bleach is my biggest inspiration at that time.

Time flows, aku masuk SMA. Tahun 2012 aku bikin cerita baru, judulnya "Honestly". Cerita awalnya bahkan udah ku-post juga di blog ini.

Kalau Changin' itu lebih ke fantasi, Honestly itu romance-drama. Cerita awalnya itu tentang Tasunaga Henji, cowok pendiam penyendiri yang sebenarnya penyanyi bayangan terkenal, dan Hanazawa Michisa, cewek Tsundere manis blasteran Jepang-Inggris yang populer. Itu cerita awalnya. Sekali lagi bisa dibaca di post-post yang sebelumnya.

Magically, aku masih ngembangin cerita Honestly sampe sekarang. Ceritanya udah jadi rada berubah, walaupun intinya tetap sama. Henji jadi anak SMA biasa yang hobi budo dan seneng musik. Michisa... ya tetap Michisa. Makin ke sini aku malah makin pingin Honestly lebih nonjolin romance-nya. Hmm masih asik deh mikirin gimana bakal ceritanya si Henji, Michisa, dkk. I will definitely make it baper maksimal.

Ketiga serial yang aku ceritain sampe sini, semuanya masih sekadar cerita. Desain karakter-karakter utama juga udah dibuat, tapi belum sampai mulai bikin komiknya. Sekadar planning. Tokohnya siapa aja, latar belakangnya gimana, setting lokasi di sekitar mereka gimana, dsb. Belum sampe bener-bener digambar jadi komik yang selesai, satu scene pun belum.

Walaupun begitu, tahun 2014, aku dapet ide cerita baru lagi: judulnya "Iya". Yang ini ceritanya lebih ke drama slice of life.
Ceritanya ada anak cowok turunan Jepang-Indonesia yang bandel bernama Kousuke Kitagawa. Singkat cerita, dia didepak ortunya dan disuruh untuk menyelesaikan SMA di Indonesia dan tinggal sama neneknya di kawasan Jakarta Selatan. Kousuke yang sotoy dan songong ini ketemu banyak orang dengan beragam kisah di sekolah dan tempat tinggalnya. Salah satunya Raisa, tetangga sekaligus teman sekelas yang selama ini sering main ke rumah neneknya. Selama di Jakarta, Kousuke belajar banyak hal, terutama tentang hidup...

Cuma makin ke sini aku ngerasa plotnya rada mirip komik Silver Spoon (Gin no Saji), jadi plotnya masih kuubah-ubah sampai sekarang. Jujur komikku yang progressnya paling sedikit itu si "Iya" ini. Perlu banyak riset dan gali ingatan soalnya. Secara gitu, setting cerita ini aku ambil dari kehidupan SMA-ku sendiri.

Yang menarik di karyaku yang ini menurutku judulnya. "IYA". Dalam bahasa Indonesia 'iya' itu artinya positif, 'boleh', 'ok', 'betul'. Sementara dalam bahasa Jepang 'iya' itu negatif: 'bukan', 'tidak', 'gak mau'. Menurutku kata ini udah mewakili ceritanya banget.

Aku punya alasan lain kenapa komik 'IYA' dan 'Honestly' aku tunda. Semua karena komik serius ketigaku: The King's Daughter.

Belakangan ini aku suka genre fantasi. Terpengaruh Arslan Senki, Akatsuki no Yona, Born From Death, dan Akagami no Shirayukihime. Aku bikinlah komik ini.

Cikal bakal perdananya itu waktu Inktober 2015. Disuruh bikin karakter original. Waktu itu aku lagi suka banget karakter Etoile/Estelle di Arslan Senki, dan terinspirasi oleh dia terciptalah Lisa Vayuwima, the crossdressing princess.

Walaupun inktoberku itu gagal, cerita ini aku develop terus. Plotnya kuatur2 dan revisi sekian kali, yang awalnya begini jadi begitu, sampai aku ngerasa kalau plot yang baru itu udah logis, seru, dan menarik.

Aku bikin desain karakternya, setting tempatnya, semuanya.

Juni 2016, semangatku untuk menjadi webtoonist sedang sangat menggebu-gebu.
Dengan sedikit nekad, aku buat komik The King's Daughter dan aku upload ke Webtoon Challenge Indonesia. Terus selama liburan kulakukan itu.

Sampai akhirnya liburan berakhir, aku harus kembali ke rutinitas biasa. Susah sekali mencari waktu untuk ngomik lagi.
Dari orang tua dan keluarga juga sudah ngasih sinyal kalau aku boleh seriusin ngomik kalau udah kelar kuliah.
Aku akhirnya tahan komikku.

Sudah 3 bulan aku nggak meng-update komik itu di webtoon challenge. Pen tablet makin susah kusentuh. Tangan cepat lelah karena terlalu lama kupakai menggambar. Padahal pembaca menunggu. Teman-teman menunggu. Bahkan ada teman kampus yang setiap ketemu pasti nanya, "Fildzah, kapan update?"

Aku kangen bikin komik.
Serius.

Aku kangen. Aku memang gak suka dikejar deadline, gak bisa terus kerja mati-matian. Aku memang capek bikin komik, bosan juga gak keluar rumah, tapi ternyata aku rindu ngomik.

Bikin komik itu nyiksa, tapi begitu kita dapat hasil yang bagus, kepuasannya gak bisa digambarkan. Seneng banget ada yang suka dan nunggu-nunggu karya kita. Seneng banget.

Tiap ngerasain hal itu, aku mikir,

"Ah, ternyata aku memang masih punya cita-cita jadi komikus."

Is it okay if I wanted to be one?

Sabtu, 17 September 2016

2016 - I'm Finally 20!


Berapa tahun saya nggak muncul di blog ini? Hahahaha.

Awalnya sih mikir, "Ah ya udahlah. Emang udah sibuk gak bisa nulis diary atau blog lagi kayak dulu." Tapi kemudian sedih karena rasanya nggak ada dokumentasi perasaan hidup...

Jadi ayolah nulis lagi wkwkwk.

Gaya nulis saya kok jadi berubah gini ya -_-

Anyway, this is me, now. Cewek baperan ini sekarang udah mulai tua. Mulai gede. Mulai semester 5. Masih baperan sih. Feeldzah.

And finally I turned 20 years old.... x)

Ternyata rasanya berat cuy. Makin banyak tanggung jawab yang didapet. Indah, tapi nggak seindah itu.

So how do I do now?

Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, saya sekarang semester 5. Udah masuk tahun ketiga kuliah di Manajemen Komunikasi Fikom Unpad. Mahasiswa kura-kura, karena officially terdaftar di tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Bener juga ya, jurusan saya masih agak jarang. Jadi lain waktu mungkin akan saya bahas tentang Mankom untuk adik-adik SMA. ;)

And thus,

I've been named the next president of Aikido Unpad. Berkat bantuan dari senpai-senpai dan kouhai-kouhai yang baik. Sekarang kami semua lagi mengurus anggota-anggota baru. Mungkin lain waktu saya bakal bikin post khusus untuk bahas Aikido Unpad. They have became so special to me.

While in Kelompok Grafis Fikom (KGF), saya dipilih jadi ketua panitia sebuah event. Rencananya bakal bikin seminar sama komikus-komikus lokal. To be announced deh.
Oiya, liburan semester kemarin, saya mulai ikutan Webtoon Challenge. Judul karya saya The King's Daughter, bisa dibaca di sini.

Kapan-kapan pingin bikin post juga tentang draft komik-komik saya deh :3

And last, my Rohis adventure. Banyak hal yang dialami di Biro Kerohanian Islam Fikom Unpad. Awalnya pahit-pahit, lama-lama jadi manis-manis-manis. Kapan-kapan cerita juga deh.

Oke, mungkin itu aja gambaran singkat beberapa tahun ini //lah dan post planning juga ya. Semoga tetep bisa menghidupkan blog ini.

Wassalam.

Yang lagi begadang,
Fildzah Nur F.

Kamis, 03 September 2015

Terjebak.

Barangkali aku mencoba menulis dengan gaya berbeda. Barangkali juga aku hanya ingin menuliskan perasaan ini.

Tak terasa sudah setahun sejak aku masuk bangku kuliah. Diri ini yang ditolak kampus impian, mensyukuri dengan sangat kampus yang menerimaku. Kampus yang beberapa tahun ini diminati paling banyak calon mahasiswa, di fakultas yang katanya paling kece di bidangnya, paling kece se-Indonesia.

Aku menikmati studiku. Sangat. Aku sadar jurusan inilah yang sebenarnya aku cari. Inilah yang sebenarnya aku inginkan. Di tempat inilah berbagai potensiku bisa berguna. Walhasil, dengan semangat menggebu, aku menyelesaikan semester pertama dengan nilai sangat memuaskan.

Bukan aku namanya kalau aku hanya kuliah. SMP aku masuk BEST (Badan Eksekutif Siswa Terpadu), Klub Jurnalistik, English Club, bahkan Taekwondo walaupun hanya sebentar. SMA aku bergabung di MPK, Keputrian, dan Aliansi Ilustrator. Belum ditambah mentoring/liqo yang masih setia kuhadiri.

Lantas, kegiatan apa yang kuikuti di bangku kuliah?

Pikirku, aku lelah dengan pekerjaan macam OSIS. Aku ikut unit kegiatan saja, jangan organisasi mahasiswa macam BEM. Toh, waktu SMA aku juga sempat terhalang jadi ketua ekskul karena aku anggota MPK. Aku tidak mau masuk BEM, BPM, atau himpunan. Tidak ingin saja.

Kebetulan, kampusku ini punya unit beladiri yang sudah sejak lama ingin kupelajari: Aikido. Latihan pertama, latihan kedua, ketiga, keempat... semua kujalani. Aku senang di sana. Walaupun anggotanya tidak banyak, aku bisa belajar banyak di sana. Aku yang awalnya hanya ingin latihan tanpa peduli warna sabuk, jadi terpacu untuk naik sabuk karena seorang kawan yang terpaksa berhenti di tengah jalan. Aku tetap dan terus latihan.

Memasuki fakultas, aku diperkenalkan pada Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM). Kuikuti Kelompok Grafis Fikom (KGF) dengan maksud melatih gambarku. Walaupun ada sedikit luka karena ditolak jurusan seni, aku masih ingin menggambar.

Semester satu, dua kegiatan itu kujalani beriringan.

Semester dua, duniaku meluas.

Hatiku sempat tergelitik karena tidak seperti di jenjang sebelumnya, aku tidak bergabung di lembaga dakwah kampus. Aku hanya liqo, tapi tidak banyak bergaul dengan teman-teman masjid seperti waktu SMA dulu. Liburan pertama kuliah, aku mendaftar menjadi pengurus lembaga dakwah fakultas (LDF) dengan niat kurang murni: mencari teman yang baik.

Bergabung di Biro Kerohanian Islam (BKI) kegiatanku tentu semakin banyak. Ketiganya kujalani beriringan.

Dari Aikido, aku belajar banyak hal: teknik aikido, beladiri Jepang lainnya, UKM beladiri lainnya, bagaimana BPM, bagaimana BEM, bagaimana rektorat... banyak yang kupelajari dari unit kecil yang memiliki banyak kendala ini. Saat aku ujian naik sabuk, aku belajar tentang dunia aikido Indonesia. Aku bertemu aikido-ka dengan tingkat tertinggi di Indonesia, juga bertemu aikidoka dari kampus lain. Benar-benar pengalaman berharga yang menyenangkan.
Aku sendiri tak paham kenapa masih bertahan di aikido. Teman-teman seangkatanku satu per satu mulai tidak latihan, hingga tersisa aku sendiri.
Aku suka beladiri ini, aku tak berniat berhenti memelajarinya.

KGF. Ternyata plesetan kepanjangannya "Kelompok Gagal FSRD". Memang tempat saya. Di sana kutemukan kekeluargaan yang luar biasa. Ceria, ramai, menyenangkan. Merekalah yang paling sering mengajak main kalau aku sedang bosan di kamar kos. Aku belajar banyak dari kawan-kawan yang sudah lebih senior dalam berkarya. Aku suka KGF, aku sayang KGF.

BKI. Aku memutuskan bergabung dengan departemen infokom. Departemen yang ternyata kerjanya desain, desain, desain, desain dan desain. Sampai aku muak mendengar kata itu. Kata kerja yang kukira kusukai. Mulai dari situlah aku sadar, mendesain dan menggambar, keduanya berbeda. Aku lebih suka menggambar, lebih suka berkarya untuk diri sendiri. Aku ternyata egois. Aku ingin berhenti saja karena rasanya pekerjaan-pekerjaan desain itu hanya menambah daftar panjang tugas-tugas kampusku. LDF dan LDK, keduanya setipe, tapi acaranya satu sama lain saja suka bentrok. Suka dadakan. Suka seenaknya mengambil waktuku. Aku ingin berhenti. Aku lelah.

Kuungkapkan niatku ini pada ibuku, dan aku runtuh oleh satu kalimat: "Tapi kalau kamu keluar, kamu gak ada peran untuk dakwah.

Iya. Benar. Kalau kupikir lagi UKM-UKM-ku yang lain juga demikian. Aku juga harusnya orang yang paling tahu bagaimana rasanya sendirian di jalan ini. Sakit memang. Lelah memang. Tapi harus dijalani...

Tapi kalau disuruh meninggalkan kegiatan yang lain lalu fokus hanya di jalan ini, aku juga tidak mau... sulit. Terlalu berat. Aku orang yang sekali bergabung dengan kelompok/unit kegiatan, aku tidak tahu cara untuk berhenti atau bahkan sekadar bolos pertemuan. Aku tidak bisa begitu. Aku tahu rasanya berjuang sendirian.

Semester dua, aku sempat sakit yang berujung pada penurunan nilaiku. Bahkan kalau boleh frontal, aku terancam mengulang kelas. Saat itu aku mengutuk tubuh yang lemah ini. Beri aku kesempatan belajar lebih banyak hal. Biarkan aku mengerjakan segalanya dengan baik. Aku tidak boleh sakit terlalu lama lagi.

Aikido ternyata meluas. Pelatih kami meminta bantuan agar Aikido membantu beliau membentuk unit panahan di Unpad. Nyaris semua anggota aikido menjadi anggota panahan. Aku pun mencoba olahraga sunnah Rasul itu. Orang tuaku juga tak keberatan ketika kubilang aku ikut panahan.
Tapi aku belum yakin sepenuhnya akan serius di bidang ini atau tidak. Aku berusaha untuk terus datang latihan, walaupun agak meringis melihat dompetku menipis. Aku harus berhemat kalau ingin lanjut latihan.

Harus lebih hemat, tidak boleh minta uang tambahan ke orang tua. Aku kurangi jajan. Aku ingin puasa lebih sering. Aku sempatkan mencuci seluruh bajuku sendiri. Buku kuliah juga harus kucari, lebih bagus kalau kubeli.

Satu kegiatan lagi yang kukenal dari aikido: karate.

Sebagai UKM yg belum sah di tingkat rektorat, aikido belum memiliki fasilitas ruang sekretariat dan uang kegiatan dari kampus. Kami menabung sendiri untuk alat-alat latihan. Jika kami butuh ruang untuk kumpul non-latihan, kami menumpang di sekre karate. Ini berkat relasi senior-senior yang memang berkegiatan di kedua UKM tersebut. Karena itu, walaupun anggota aikido aku juga kenal sebagian anggota karate. Mereka sudah kuanggap kawan-kawanku juga. Mereka sosok-sosok yang menyenangkan.

Karena suatu kesalahpahaman, aku mengikuti latihan mereka tempo hari. Ternyata menarik, membuatku ingin belajar karate lebih lanjut. Aku berniat ikut latihan mereka tiap kali aku senggang. Dengan aku bergabung di karate, barangkali bisa menjadi bentuk ucapan terima kasih juga karena mereka selalu membantu aikido selama ini...

Tapi, lima kegiatan sekaligus plus kuliah, apa bisa?

Aku sadar diri. Kedua kalinya aku ingin latihan dengan mereka saja, sudah bentrok dengan rapat KGF. Sulit.

Kadang aku berharap aku tak pernah sakit dan lelah, supaya aku bisa berkegiatan sebanyak-banyaknya.
Sedih rasanya mengingat semua kegiatan itu akan lebih sulit kupelajari jika aku sudah lulus kuliah nanti. Inilah kesempatan untuk memelajarinya.

Kalau aku boleh kuliah lebih lama, mungkin semua kegiatan akan kucoba. Tapi tidak boleh begitu. Bahkan jurusan menuntut untuk selesai studi lebih cepat. Kurang dari empat tahun.

Terjebak. Hanya itu yang terpikir olehku. Aku harus pikirkan langkah, pikirkan tujuan, pikirkan ke mana aku ingin pergi.

Atau lebih tepatnya kalau aku menurut, 'ke mana aku harus pergi'.
Barangkali aku menyangkal.

Rabu, 15 April 2015

Hari Kelima...

Assalamu'alaikum. Aku nggak nyangka ini kirimanku yang setelah sekian lama. Isinya gak terlalu menyenangkan sih...

Sabtu yang lalu, aku bangun dengan keadaan nyeri hebat. Bagian atas mata kananku sakit. Rasanya sakit untuk berdiri. Aku cuma bisa tiduran sambil menangis, meringis memegang pelipis kananku.

Aku langsung cari di internet itu gejala apa. Kesimpulan sementaraku migrain. Memang sih aku gak merasa sedang stres atau apa, tapi kurasa ini migrain. Kalau ternyata salah itu urusan belakangan.

Aku segera menghubungi kawanku yang bisa kuandalkan. Minta tolong dibelikan obat migrain. Namun, tak seperti dugaanku, ia tak menurut begitu saja. Ia malah tanya-tanya dulu tentang penyakit anehku itu. Ia menghampiriku ingin melihat langsung. Jujur, aku menghargai perhatiannya, tapi mungkin karena dipengaruhi rasa sakit, aku jadi kesal pada dia. Aku hanya ingin obat. Tolonglah. Soal ini sebenarnya penyakit apa nanti saja kita pikirkan. Soal ke dokter nanti saja...

Akhirnya dia memberiku habatussauda dan sedikit camilan. Aku tertidur dan terpaksa terlambat ikut agenda LDF hari itu. Ketika aku bangun kembali, nyeri di atas mataku sudah berkurang. Aku lantas bersiap-siap ke kampus untuk mengikuti agenda LDF.

Di sana aku bertemu dengan para akhwat seangkatan, akhwat senior, juga kawanku yang tadi itu. Ternyata menurut senior aku sedikit demam. Namun, aku lancar saja mengikuti kegiatan itu. Barulah setelah sholat dzuhur, sakit itu datang lagi. Sakit luar biasa yang membuat menangis.

Akhirnya aku diantar seniorku ke dokter. Dokter berasumsi aku nyeri karena kurang darah. Obat yang diresepkannya kuminum sesuai petunjuknya.

Nyeri di kepalaku akhirnya hilang, tapi aku tak kunjung membaik.

Demamku semakin menjadi. Maag yang tidur selama beberapa bulan tiba-tiba bangkit kembali dengan semangat. Aku makin tersiksa. Aku sampai izin ikut ujian tengah semester 3 mata kuliah.

Di tengah keadaanku, kawanku itu bercerita kalau kakaknya juga mengalami nyeri di atas mata yang sama sepertiku. Ternyata itu migrain. Dengan meminum tolak angin dan izin dari Allah, kakaknya sembuh.

Saat itu aku makin kesal padanya. Baguslah kakakmu tidak seperti aku. Baguslah. Aku ingin blak-blakan marah padanya, tapi aku nggak bisa. Aku gak punya siapa-siapa lagi di sini selain dia. Kalau dia memusuhiku, habislah aku. Lebih baik aku diam atau marah di blogku yang tidak ramai ini daripada kehilangan dia untuk beberapa hari.

Yang sudah terjadi, terjadilah. Kenyataannya aku masih sakit. Tambah sakit malah. Aku berhenti minum obat dari dokter. Aku mulai minum obat maag biasa. Sakit di perutku hilang. Ada perkembangan.

Sampai sekarang aku masih demam. Semua sudah mendoakan penyakitku sembuh. Semua mengingatkan kalau ini penggugur dosa. Allah sedang menguji. Ah... rasanya aku sudah gagal karena banyak mengeluh.

Apa karena kadang aku masih merasa kesal pada kawanku sehingga penyakitku belum diangkat? Aku pun marah pada diriku sendiri yang marah padanya, yang tak bisa mengubahnya menjadi orang yang semakin baik. Maafkan orang yang menyebutmu sebagai kawan ini. Maafkan...

Aku sudah membuat khawatir ummi-abi di rumah. Bergantian mereka tanya penyakitku. Mencari-cari penyebabnya. Mereka tanya pula kakekku yang dokter itu. Kuharap mereka tidak berpikir kalau tindakan merekalah yang membuat aku sakit. Kuharap mereka tenang saja di rumah...

Aku harus susulan tiga UTS. Besok juga ada UTS dua matkul. Jumat-Sabtu ada workshop yang sangat menarik, aku gak boleh ketinggalan. Latihan Aikido aku sudah izin dua kali berturut-turut, jadi latihan berikutnya aku harus datang. Aku ingin datang. Tugas-tugas minggu depan juga banyak dan besar.
Aku ingin melakukan semuanya. Ingin segera melakukan segalanya. Aku tak ingin sakit selamanya seperti ini. Aku harus bekerja lagi, berjuang lagi.

Kuharap nyeri di sekitar mata kiriku ini juga hanya migrain, atau sekadar pusing karena habis menangis atau sakit gigi. Kuharap hanya itu.

Ya Allah, tolong sembuhkanlah orang-orang di sekitarku... sembuhkanlah kami...
Aamiin