Mungkin lebih tepatnya pengendalian air mata. Hmm.
Aku payah banget sama yang ini. Fildzah Nur Fadhilah, 17 tahun.
Tadi ada rapat angkatan sehubungan dengan masalah di Buku Tahunan Sekolah angkatan kami. Atau apa lebih bagus kusebut Buku Kenangan? Toh fokusnya kan cuma ke kelas 12.
Pokoknya waktu aku coba menyampaikan pendapatku, tanpa kehendak suaraku tersendat-sendat, nafas tercekat, mata berlinang air mata.
Padahal itu sama sekali bukan kehendakku.
Sampai sekarang aku nggak berhenti berpikir, kenapa dari dulu aku seperti itu? Kenapa aku gampang banget nangis?
Dan kenapa sebanyak apapun aku nangis air mataku nggak pernah kering sekalipun?
Kenapa?
Aku gak mau nangis lagi. Itu yang selalu kupikirkan. Tapi ternyata pengendalianku terhadap tangisan itu seolah tidak ada.
Apa sistem pengendalianku udah rusak ya?
Dulu juga pernah gini, waktu aku abis lomba. Dan aku gagal total. Begitu lomba selesai, aku keluar ruangan dengan wajah datar dan kosong. Tapi begitu ngeliat Lina, temenku yang juga ketua Keputrian, dengan ekspresi yang sama air mataku keluar. Deras banget.
Kenapa begitu ya?
Pada dasarnya aku cengeng. Iya, tahu diri kok. Dan parahnya puncak cengengku saat ini justru pas SMA.
Suaraku yang waktu SMP bisa sampai ke telinga dan hati orang-orang, kini tak sedikit pun bisa mengusik hati orang-orang di SMA. Suaraku tambah kecil. Saat bersuara pun, karena bicaraku nggak jelas akhirnya aku lebih memilih bungkam. Nggak ada artinya aku bicara.
Kerugiannya, aku jadi nggak bisa mengungkapkan ide dan maksudku dengan baik. Tapi keuntungannya, kalau marah aku jadi nggak bisa teriak-teriak kesal seperti orang lain.
Kalau sedih, aku nangis.
Kalau kecewa, aku nangis.
Kalau marah, aku nangis.
Bahkan kalau senang, aku juga nangis.
Ibarat komputer sederhana, inputnya beragam. Ada keyboard, mouse... Tapi outputnya cuma satu. Monitor.
Mungkin ini emang kelebihan dari Allah. Supaya perasaanku selama tiga tahun ini gak meledak-ledak tak terkendali. Aku dilatih sabar. Sabar. Sabar. Nggak ada gunanya juga diungkapkan.
Fight, there's still 8 months left.
Slowly but surely you're walking your way... Hang in there!
Catatan perjalanan hidup sejak remaja hingga dewasa, bahkan mungkin sampai lanjut usia :)
Sabtu, 19 Oktober 2013
Jumat, 04 Oktober 2013
Honestly Chapter 7
7.
Seventeen
Hari itu, Rabu
pagi, Henji berangkat sekolah seperti biasa, mengawal gadis manis egois yang
asyik dengan dunianya sendiri. Entah kenapa hari ini Michisa tampak seru sekali
dengan ponselnya. Baru sebentar menutup ponsel, ponsel itu berdering lagi
karena menerima pesan. Dibalas, ditutup, berdering lagi, dibalas lagi, begitu
seterusnya. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Michisa sibuk dengan ponselnya
benar-benar sejak berangkat dari rumah sampai ke sekolah.
Ya sudahlah.
Sebaiknya Henji tidak usah ikut campur. Mungkin itu temannya.
Eh, ternyata
Michisa punya teman ya?
Henji baru mulai
memperhatikan sejak mendengar percakapan adik-adiknya dengan Michisa lusa
kemarin, bahwa adik-adiknya kini berteman dengan Michisa. Ia juga baru ingat
kalau Nona Reina pernah mengatakan bahwa Michisa tidak punya teman di sekolah.
Ternyata itu
benar.
Selama ini Henji
mengira kalau Michisa akrab dengan Inoue Miharu dan Osawa Naomi dari kelas 2-4.
Mereka sekelas dengan Suzuki dan Michisa waktu kelas 1. Miharu dan Naomi dekat
dengan Michisa juga sejak saat itu. Mereka selalu ke mana-mana bersama.
Sebenarnya bisa ditebak dengan mudah bahwa Miharu dan Naomi jadi populer di
sekolah karena dekat dengan Michisa, dan hal itu membuat persahabatan mereka
diliputi isu-isu tidak baik. Puncaknya, kemarin mereka bertiga kelihatan aneh.
Tersebar rumor di angkatan mereka kalau Miharu dan Naomi sengaja menghindari
Michisa, sehingga kemarin Michisa benar-benar sendirian. Michisa sendiri juga
memancarkan aura aneh yang membuat orang enggan mendekat, akibatnya orang lain
tak ada yang menghampirinya.
Mungkin mereka
bertengkar. Ya. Cepat atau lambat pasti baikan lagi.
*****
Kamis pagi.
Michisa muncul dengan perban di lengan kanan atas, membuat kaget Henji. Caranya
berjalan juga agak aneh, sehingga Henji menduga kalau terjadi sesuatu juga pada
kakinya.
"Se-selamat
pagi," sapa Henji. "Apa yang terjadi padamu?"
Yang ditanya
diam saja. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan Henji. Henji terus menatap
Michisa dari belakang. Michisa sempat menoleh ke arahnya, namun begitu ia tahu
Henji memperhatikannya, dengan cepat ia berpaling, membuat rambutnya tersibak.
Henji makin kaget. Di pipi kanan Michisa ternyata juga ada plester yang sewarna
dengan kulit.
"Hei,
kenapa kau luka-luka begini?"
"Bukan
urusanmu."
Henji menelan
ludah, "Tentu saja
urusanku. Aku ditugaskan untuk men-"
"Menjagaku?
Hei, dengar ya. Ibuku memang memintamu menjagaku, tapi aku tidak. Aku tak
pernah minta apa-apa darimu! Luka ini bukan urusanmu!"
Henji tidak
bicara lagi. Michisa pasti membencinya. Ia melirik Michisa yang tertunduk
sambil merengkuh tasnya. Dia terlihat kesal.
Michisa masuk ke
gerbang sekolah lebih dulu. Henji masuk setelahnya, memanipulasi agar mereka
tidak seperti datang bersamaan. Ternyata akibatnya dia malah mendengar murid
lain yang sebelumnya menyapa Michisa bergosip.
"Hei,
kenapa Hanazawa-san diperban begitu?"
"Eh, aku
melihatnya kemarin di pertokoan. Sepertinya sepulang sekolah dia bertengkar."
"Ya, ya!
Aku juga lihat! Dia bertengkar dengan dua temannya itu..."
"Yang di
wajah itu pasti bekas tamparan kemarin. Jangan-jangan yang di lengan itu juga
bekas cengkraman kemarin? Ah, seram..."
Henji diam tanpa
kata. Ia yakin kemarin ia mengantar Michisa sampai apartemennya. Nona Reina
juga tidak bilang apa-apa padanya, entah itu soal Michisa akan bekerja atau
tanya-tanya kenapa Michisa begini-begitu. Jangan-jangan Michisa diam-diam pergi
lagi di luar pekerjaannya tanpa sepengetahuan Henji, lalu menemui
teman-temannya di pertokoan. Dan inilah hasil pertemuan mereka kemarin. Kenapa
dia bisa seceroboh itu?
"Tasunaga!"
Kazuto si ketua OSIS memanggilnya.
Henji merespon,
"Ishimoto, selamat pagi."
"Pagi. Maaf
tiba-tiba, tapi apa aku bisa minta tolong dua hari ini?" Tanya Kazuto.
"Soal
apa?"
"Kami
kekurangan panitia laki-laki untuk persiapan festival olahraga besok. Banyak
perlengkapan yang harus diurus. Aku tidak enak kalau panitia perempuan yang
menangani perlengkapan. Kau tidak ikut klub apapun 'kan? Bagaimana? Kau
bisa?"
Henji berpikir
sejenak, "Sepulang
sekolah?"
"Benar."
OSIS kelihatan
sangat repot. Henji ingin sekali membantu. Tapi kalau ia menerima, belum tentu
Michisa mau menunggu sampai ia selesai. Tidak mungkin.
"Baiklah,
aku bantu."
"Yosh!
Terima kasih banyak, Tasunaga! Kutunggu di ruang OSIS sepulang sekolah!"
Kazuto melesat pergi.
Menunggu sampai
selesai? Michisa benci padanya. Jangankan menunggu, mungkin dia lebih suka
kalau tidak pulang bersama Henji.
*****
“Aku
diminta OSIS membantu persiapan Festival Olahraga. Maaf, hari ini aku tidak
bisa mengantarmu pulang.
Tasunaga Henji”
Michisa melipat
kembali kertas itu. Henji dan Michisa belum tahu email dan nomor kontak
masing-masing, jadi Henji meninggalkan catatan di rak sepatunya. Lucu sekali.
Besok festival olahraga, tapi tak disangka OSIS kekurangan orang sampai-sampai
harus meminta bantuan Henji.
Ponsel Michisa
berdering menerima panggilan. Ia menjawabnya sambil berjalan pulang. "Halo, Riho? Ya, ini aku... Aku sudah
membelinya kemarin. Sepertinya besok aku tidak bisa ikut yang di rumah kalian.
Itu 'kan acara keluarga... Apa? Ya... Terima kasih tawarannya, tapi aku tidak
bisa. Besok kau beritahu aku saja kalau sudah siap, aku akan melaksanakan
tugasku. Tapi mungkin akan sedikit terlambat. Aku ada urusan dengannya dan
perlu banyak waktu..."
*****
“Hari
ini aku juga diminta OSIS membantu beres-beres setelah Festival Olahraga. Maaf,
hari ini aku juga tidak bisa mengantarmu pulang.
Tasunaga Henji”
Yang benar saja.
Jangan bercanda. Hari ini juga? Tapi hari ini...
Michisa meraih
ponselnya dengan cepat, menelepon seseorang.
"Riho...
Tolong cepatlah!"
*****
"Kita mulai
dari mana?"
"Aula
olahraga. Maaf ya, Tasunaga. Kami benar-benar berterima kasih."
"Tak
apa," Henji tersenyum.
"Ayo, kita
ke aula," ajak Kazuto.
Henji mengikuti
Kazuto ke aula. Baru berjalan sebentar, ponselnya berbunyi. Ia segera melihat
pesan yang baru diterima. Henji kira itu dari keluarganya, tapi ini bukan dari
alamat yang ia kenal.
“Aku
menunggumu! Jangan kelamaan!”
Matanya membelalak
sesaat, "Ishimoto, maaf, kau duluan saja ke aula."
"Ada apa?
Kalau darurat, lebih baik-"
"Tidak,
tidak apa-apa," Henji tampak mengutak-atik ponselnya, lalu menempatkannya
di dekat telinga. Ia teringat betapa jarangnya dia menelepon orang.
Kazuto hanya
mengamati Henji. Henji memang kelihatan cemas, tapi sepertinya memang bukan
apa-apa. Mungkin hanya urusan pribadi Henji. Dia bersiap melangkahkan kakinya
ke aula olahraga.
"Halo?
Hanazawa-san?"
Langkahnya
terhenti. Ia berpaling lagi ke arah Henji yang menarik nafas panjang.
"Ternyata
benar kau. Kau tidak usah menungguku..."
"Tidak apa-apa."
"Tapi aku
tidak tahu kapan aku selesai. Kenapa menungguku?"
"Itu... ada yang harus kubicarakan
denganmu hari ini."
"Apa?"
"Pokoknya ada yang harus kubicarakan
denganmu! Sudahlah, kau jangan cerewet. Aku tunggu kau!"
"To-tolong
jangan menunggu di luar sekolah, Hanazawa-san. Hati-hati."
"Yaa, aku mengerti..."
"Sampai
nanti," Henji mematikan telepon. Ia menghela nafas panjang dan menatap
Kazuto. "Maaf aku jadi menghambatmu, Ishimoto."
Kazuto masih
mematung, "Barusan
kau... Menelepon Hanazawa Michisa-san??"
"Ah... Ya,
yang barusan itu Hanazawa-san."
"Aku baru
tahu kalian akrab..."
"Tidak juga
kok, hanya saja orang tua kami pernah dekat," Henji memaksakan senyum dan
berjalan duluan. "Ayo kita cepat beres-beres."
"Ya."
*****
"Akhirnya
selesai~ terima kasih banyak untuk hari ini, semuanya!" Seru Kazuto lega.
Panitia yang lain membalas seruannya.
"Ishimoto,
aku duluan, ya!" ujar Henji sambil melesat pergi.
Kazuto hanya
menatap Henji yang pergi menjauh. Ia tersenyum, lalu mengurus kembali panitia
yang lain.
Henji berlari
sebisanya. Sudah satu jam lebih ia membuat Michisa menunggu. Ia masuk ke gedung
utama SMA Nosaka, tempat ruang OSIS berada. Ternyata Michisa ada di bangku
panjang dekat ruang OSIS, dalam keadaan tertidur. Henji mengambil tasnya di
ruang OSIS dan menghampiri Michisa.
"Hanazawa-san,"
Henji berusaha membangunkannya. Tidak baik baginya tidur di tempat seperti ini.
"Ayo pulang. Bangunlah..."
Michisa membuka
matanya perlahan.
"Maaf
membuatmu menunggu lama. Ayo, kita pulang sekarang juga."
"Tu-tunggu!"
Michisa menarik tangan Henji. "Duduklah!"
Henji kaget
akibat aksi mendadak itu. Ia jatuh terduduk di sebelah Michisa yang tampak mengeluarkan
sesuatu dari tasnya. Sebuah plastik kecil berisi kotak berwarna abu-abu.
"Hana-"
"Selamat
ulang tahun!!" seru
Michisa seraya menyodorkan kotak itu sambil menunduk.
Henji terkesiap
dengan kalimat barusan. Ia menatap Michisa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ah, eh,
maaf, aku selalu begitu..." Michisa menarik nafas dalam-dalam, mengangkat
kepalanya yang tertunduk, lalu menatap Henji dengan mantap sambil tersenyum
tulus.
"Selamat
ulang tahun, ya, Tasunaga."
"T-terima
kasih," Henji menerima kotak abu-abu yang disodorkan Michisa.
"Jadi... Ini yang mau kaubicarakan?"
"Salah
satunya," Michisa berdiri. Ia menghadapkan tubuhnya pada Henji dan
membungkuk dalam-dalam. "Maaf atas sikapku selama ini. Aku selalu bersikap
buruk padamu, padahal kau begitu baik. Aku minta maaf."
Henji hanya
tersenyum mendengar permintaan maaf Michisa, "Aku tidak pernah marah
padamu."
"Aku
tahu," Michisa bangkit melirik Henji sesaat, lalu membungkuk lagi.
"Terima kasih karena dulu kau pernah menolongku dari orang jahil. Terima
kasih sudah menolongku waktu aku sakit. Terima kasih sudah meladeni ibuku.
Terima kasih sudah berbagi rahasia denganku. Untuk kesabaranmu, untuk semuanya,
terima kasih banyak!"
"Hei,
sudahlah..." Henji mulai merasa malu.
"Terakhir!"
Serunya sambil tetap membungkuk. "Ini permohonan pertamaku untukmu.
Kumohon, mulai sekarang, berteman baiklah denganku!"
Henji makin
terkesiap. Ia masih sulit berkata-kata. Ia merasa begitu senang hari ini.
Sangat senang. Dia mengelus kepala Michisa dan tersenyum lega, "Terima kasih karena kau mau
berteman baik denganku."
Henji menarik Michisa
agar ia duduk kembali, "Terima
kasih juga karena menyukai lagu-laguku, Hanazawa-san."
Michisa
tersenyum, lalu menghela nafas dalam-dalam, "Haah... Akhirnya semua bisa kukatakan. Ayo
kita cepat pulang. Keluargamu pasti menunggu."
Henji mengikuti
Michisa berjalan pergi. Ia memasukkan hadiah dari Michisa ke dalam tas, lalu
mengecek ponselnya. Ada ucapan selamat dari Suzuki. Henji tersenyum membacanya,
setelah ia balas dengan ucapan terima kasih, ponselnya ia tutup kembali. Dengan
wajah santai ia mendongak ke langit.
Suzuki, hari ini akhirnya aku punya teman
baru. Dia perempuan sih, tapi teman tetap teman 'kan? Aku juga merasa kalau
Ishimoto menganggapku sebagai teman. Aku sangat lega sekarang karena berhasil
mendapat lebih banyak teman. Kau juga, baik-baiklah kau di sana.
*****
"Sekarang,
apa kau bisa bilang padaku kenapa kau bisa luka-luka begitu?" Henji mulai
bicara. "Ada rumor kalau kau bertengkar dengan Inoue-san dan Osawa-san di
Pertokoan Minami. Apa benar?"
Michisa tak
langsung menjawab, "Kau
jangan terlalu di belakang. Mendekatlah ke sini."
Henji mendekat. Mereka tetap tidak
berjalan beriringan, namun jaraknya sudah tidak sejauh sebelumnya. Sepertinya
Michisa masih belum mau bicara soal itu. Salah lagi deh.
"Rumor itu
benar. Aku bertemu mereka di sana, dan mereka menyerangku. Aku tak menyerang
balik, kok."
Syukurlah.
Ternyata Michisa mau buka mulut. "Apa kau sengaja menemui mereka di
sana?"
"Eh? Apa
semua mengira begitu?" Michisa terlihat kaget. "Kami kebetulan
bertemu, kok.
Hari itu aku ke pertokoan untuk
membeli hadiahmu tadi, makanya aku tidak bilang padamu. Maaf, ya."
Henji mengangguk
pelan mendengar penjelasan Michisa, "Apa yang mereka lakukan padamu?"
"Bukan
apa-apa. Naomi mencengkram kedua lenganku dari belakang, lalu Miharu
menamparku."
Naomi
mencengkram, lalu Miharu menampar. Henji pernah melihat kalau kuku mereka
berdua panjang berhias. Pantas saja Michisa terluka.
"Lalu...
Kakimu?"
Michisa menatap
Henji tak percaya, "Tasunaga, kau menyadarinya?"
"Eh? Yah...
Cara jalanmu agak aneh dari biasanya, jadi kupikir ada sesuatu."
Michisa membisu.
Selama ini Henji selalu melihatnya berjalan dari belakang. Tentu besar
kemungkinan bahwa Henji akan selalu menyadari bila terjadi sesuatu pada
kakinya. Atau apa memang dirinya sendiri yang kurang pandai menyembunyikan itu?
"A-aku terkilir waktu turun tangga apartemen, ka-karena melamun..."
Jawabnya malu-malu. Ia memperlihatkan sosok lain dirinya untuk kesekian kalinya
hari ini.
"Eh?"
"Jangan
bilang 'eh' dengan muka begitu! Aku tahu itu bodoh, terkilir di tangga yang
padahal kau lewati tiap hari... Kenapa aku bisa begitu? Kenapa? Kau boleh
tertawa kalau mau, aku tak akan marah!"
"Ti-tidak
kok..."
"Jangan
menahan diri!"
"Tidak,
sungguh," Henji tersenyum tipis dan tertunduk. "Maaf soal lukamu.
Kalau kau tidak membeli hadiah ke pertokoan, kau tidak akan bertemu
mereka."
Michisa ikut
tertunduk, "Itu bukan
salahmu. Lagipula, berkat itu aku jadi benar-benar yakin kalau mereka bukan
temanku. Mereka hanya mengincar popularitas."
"Kau
tegar," gumam Henji. Gumamannya terucap jelas sehingga Michisa
mendengarnya.
"Tidak kok.
Rasanya aku sudah terbiasa dengan orang-orang seperti itu."
Henji tiba-tiba
teringat kata-kata ayahnya.
"Jangan kau anggap remeh permintaan
Reina-san untuk menjaga putrinya. Keluarga mereka punya banyak rahasia yang tak
bisa ditebak. Hati-hati."
Ia merasa
ayahnya berlebihan. Tapi ia sadar, pasti ada sesuatu di balik permintaan Nona Reina.
"Boleh
kutanya kau soal yang lain?" Tanya Henji lagi.
"Apa?"
"Ini
sebenarnya sudah lama ingin kutanyakan," Henji melirik Michisa sesaat.
"Bagaimana kau bisa tahu namaku?"
Michisa bisa
mengerti rasa heran Henji. Henji tak pernah memberitahukan namanya sendiri pada
Michisa. Michisa sempat terdiam agak
lama sebelum akhirnya menjawab, "Aku pernah mendengar Sugawara-kun
memanggilmu, begitu saja. Itu 'kan bukan hal yang aneh, kenapa kau
penasaran?"
Untuk beberapa
menit mereka berjalan dalam diam.
"Bagaimana
kau tahu ulang tahunku?"
"Riho yang
bilang padaku."
"Lalu, kau
sendiri... kapan ulang tahunmu?"
Michisa tidak
langsung menjawab pertanyaan itu. Untuk sesaat wajahnya berubah mendung. Ia
memalingkan wajahnya ke arah langit dan menjawab, "14 Agustus."
"Eh?
Benarkah?" Henji tampak takjub. "Itu juga ulang tahun Riho."
"Sungguh?"
Michisa tampak senang. Tiba-tiba ponselnya berdering pendek. Begitu membaca
pesan yang masuk, ia mempercepat langkah.
"Ke-kenapa
buru-buru?"
"Aku baru
ingat kalau ada yang harus kulakukan," Michisa meletakkan ponselnya
kembali ke saku. Lalu begitu apartemennya terlihat, ia mendorong Henji pergi,
"Sudah sampai 'kan?! Nah, sekarang kau cepat pulang! Keluargamu
menunggu!"
"A-ah,
baiklah, sampai jumpa. Terima kasih untuk hari ini."
Michisa tidak
menjawab apa-apa. Henji menoleh kembali ke arahnya. Michisa tengah menatapnya
sambil tersenyum ceria, "Ada
apa? Kau harus cepat sampai ke rumah! Keluargamu sudah menunggu dari
tadi!"
Henji mengangguk
mantap, setengah berlari ia meninggalkan Michisa. Matahari sudah nyaris
terbenam. Lampu-lampu di jalan mulai menyala, menyinari Henji yang pulang
dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Tanpa ia sadari larinya bertambah cepat
seiring dengan berkembangnya senyum di wajahnya. Rasanya lari kali ini begitu
menyenangkan. Ia tidak cepat merasa lelah, malah justru ia merasa ingin terus
berlari. Entah dari mana semangatnya itu.
"Aku
pulang!"
"Selamat
datang!"
Henji terdiam di
pintu masuk rumahnya. Semua anggota keluarganya ada di rumah. Ayah, ibu, Riho,
Harumi, semuanya ada. Mereka semua duduk di meja makan dengan tatapan senang
dan lega.
"Akhirnya
kau pulang juga," Tuan Ryuuji duluan bicara.
"Maaf aku
pulang terlambat."
"Kami tahu
kok. Ayo, Kak, ke sini!" Harumi menarik tangan Henji ke ruang makan. Di
meja makan ada sebuah kue ulang tahun, juga masakan lain yang tidak biasanya
mereka makan setiap hari. Makanan-makanan favorit Henji ada di meja. Ibu Henji hanya memasak seperti ini
jika ada anggota keluarga yang berulang tahun.
"Selamat
ulang tahun!"
Henji hanya bisa
tertawa dengan perasaan haru di hatinya.
"Ayo,
Henji, tiup lilin dan potong kuenya!"
"Buat
permohonan dulu, Kak!"
Henji tersenyum,
"Kuharap mulai sekarang dan
seterusnya, kami semua akan tetap memiliki kekuatan untuk berbahagia menjalani
hidup."
Henji meniup
lilin dan memotong kue ulang tahun itu, lalu memberikan potongan pertama pada
ibunya, lalu ayahnya, dan kemudian adik-adiknya. Mereka bersenda gurau sambil
menikmati makan malam spesial hari itu.
"Waktunya
hadiah!" Nona Hinata berseru ceria. Beliau mengeluarkan beberapa bingkisan
dari dapur. "Ayo dibuka, Henji!"
Henji menyambut
bingkisan-bingkisan itu dengan senyum. Dia membuka bingkisan pertama, isinya
sebuah hoodie berwarna biru tua. Lalu
ia membuka bingkisan-bingkisan yang lain.
"Hoodie itu dariku," celetuk Riho.
"Kalau headphone itu dariku," ujar Harumi.
"Tas itu
dari Ibu."
Henji terdiam
melihat isi hadiah terakhir. Sebuah keyboard.
Ia melirik ayahnya yang menatapnya dengan senyum ramah.
"Ayah
mendukung bakat musikmu. Ayah harap kau bisa membuat karya yang lebih bagus
lagi jika ada itu," ujar ayahnya.
Henji tersenyum,
"Terima kasih, Ayah.
Semuanya, terima kasih banyak."
"Beginilah
keluarga kita, Henji."
"Oya, tadi
Kakak pulang bawa hadiah juga 'kan? Sudah dibuka belum?" Tanya Harumi.
"Ah, benar
juga. Belum kubuka," Henji mengambil hadiah dari Michisa, lalu membukanya
bersama keluarganya. Ternyata hadiah itu berisi sebuah jam tangan digital
bergaya sporty berwarna hitam.
"Itu dari
Kak Michisa?" Tanya Riho.
"Begitulah,"
jawab Henji.
"Cocok
denganmu. Ternyata Michisa-chan pandai memilih hadiah, ya," celetuk
ibunya.
Henji hanya
tertawa pelan. Ia merasa sangat senang. Tahun ketujuh belasnya tidak akan sepi
seperti sebelumnya. Tahun ini akan menjadi tahun yang hangat dan terang
benderang.
- Bersambung ke Chapter 8 -
Catatan Penulis :
Terima kasih telah membaca Honestly Chapter 7 : Seventeen!
Setelah merilis chapter 8, saya akan hiatus sementara dari Honestly. Tapi ceritanya tentu saja masih saya terus tulis! Saya terlanjur suka sekali pada proyek ini!
Chapter ini memiliki cerita utama tentang dimulainya persahabatan Henji dengan Michisa. Di sini terbahas juga ulang tahun Henji. Ngomong-ngomong, ulang tahun Henji tanggal 30 Mei. Ada yang samaan? Haha...
Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Akan hadir secepatnya lho (^_^)
FildzahPro
Honestly : Chapter 6
6.
The Visit
Michisa berjalan diikuti Henji di tengah matahari
sore. Walaupun tidak beriringan, ia bisa tahu Henji ada di belakangnya dengan
mendengar suara langkahnya. Agak aneh sih. Ada suara, tapi tidak kelihatan
wujudnya.
Eh, seperti Tasuku, ya?
Memang orang di belakangnya itu Tasuku sih.
Awalnya kenyataan itu memang sulit dipercaya, tapi kemudian jadi tidak begitu
mengejutkan. Entah kenapa.
Angin berhembus menerbangkan kelopak bunga sakura
yang tersisa. Minggu depan sudah masuk bulan Juni, dan pada saat itu jugalah
musim panas tiba. Pada masa ini hujan sering turun, termasuk tadi. Hujan yang
tadi turun membuat jalan pulang mereka hari ini terasa sejuk.
Tak terasa sudah hampir satu bulan ini Michisa
dan Henji pulang dan pergi sekolah bersama. Hanya sekedar "bersama",
tidak lebih. Mereka nyaris tidak pernah mengobrol akrab. Entah itu membicarakan
tentang diri sendiri, sekolah, pekerjaan, ataupun keluarga. Mereka hanya
mengetahui apa yang terlihat, sisanya menduga-duga.
Misalnya Henji terhadap Michisa. Henji hanya tahu
setelah berkunjung ke hunian Michisa bahwa Michisa tinggal bersama ibunya di
sebuah apartemen kelas menengah. Ayahnya sudah tiada, ibunya dan dirinya
sama-sama bekerja. Henji juga hanya mengetahui pekerjaan-pekerjaan Michisa yang
sudah ada hasilnya, alias sudah dirilis di publik. Kalau yang masih rencana
atau sedang proses, mana tahu Henji soal itu. Ia tidak ingin membuat Michisa
yang sepertinya gampang emosi itu marah, jadi ia lebih banyak diam dan tidak
bertanya apapun. Kalaupun bicara, ya... Hanya sedikit. Selama ini ia hanya
menduga-duga gadis seperti apa Michisa itu. Termasuk sikapnya yang sepertinya
sangat baik pada anak-anak.
Tapi belakangan ini Michisa jadi lebih tenang,
tidak terlalu mudah terpancing emosi. Dan bagusnya, mereka sekarang semakin
tahu tentang satu sama lain, walaupun cenderung ekstrim.
Michisa tahu bahwa sebenarnya Henji adalah Tasuku
sang penyanyi bayangan.
Henji tahu bahwa Michisa adalah anak yang diusir
dari keluarga besarnya di negara lain.
Mungkin dengan adanya rahasia-rahasia seperti
itu, kepercayaan akan muncul di antara mereka. Yang paling dipikirkan oleh
Henji saat ini adalah hubungan mereka. Apa boleh Henji menyebut Michisa sebagai
kawan? Atau mereka hanya sekedar teman satu sekolah seperti yang sebelumnya? Henji
merasa enggan menanyakan itu langsung pada Michisa. Selalu ada perasaan tidak
enak yang muncul.
Michisa terus berjalan. Sebentar lagi ia sampai
di rumah, apartemennya bisa terlihat olehnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya
pada orang-orang yang sedang menyebrang jalan. Salah satu dari mereka berjalan
ke arah tempat Michisa berada sekarang. Gadis yang berjalan dengan kepala agak
tertunduk. Sebagian wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya yang tergerai
panjang hampir sepunggung, lebih panjang dari rambut Michisa. Dari seragamnya,
sepertinya dia anak SMP. Dia terlihat mendung, dan entah kenapa itu membuat
Michisa jadi teringat laki-laki yang di belakangnya ini.
"Riichan?"
Langkah Michisa terhenti. Ia menoleh ke arah
Henji yang barusan menyebut nama seseorang. Bahkan bukan sekedar nama,
sepertinya panggilan akrab.
"Kakak?" Anak SMP itu menyahut.
Kakak
katanya? Anak ini adik Henji?
"Kenapa lewat sini? Ini bukan jalan pulangmu
yang biasanya 'kan?"
"Kakak sendiri? Harusnya 'kan Kakak tidak
lewat sini."
Michisa terkesima dengan apa yang dilihatnya
barusan. Gadis itu mengejutkan. Begitu namanya disebut, ia langsung mengangkat
wajahnya dan menoleh ke arah mereka, membuat wajahnya lebih terlihat. Begitu
melihat Henji, wajahnya berubah ceria. Sinar matanya seolah muncul. Ia berubah
dalam sekejap dari sosok yang suram ke sosok yang manis. Mengagumkan.
Henji tidak beda jauh. Wajahnya berubah ceria.
Sosok Henji yang seperti itu jarang sekali Michisa lihat. Dia tampak begitu
ceria saat mengobrol dengan adiknya. Michisa sadar bahwa untuk sesaat, Henji
lupa akan kehadirannya.
"Ah, maaf, Hanazawa-san. Kenalkan, ini
adikku, Riho," ujar Henji pada Michisa. "Riichan, ini... Hanazawa
Michisa-san."
"Salam kenal, Kak, namaku Tasunaga
Riho," sapa Riho malu-malu sambil membungkuk.
"Salam kenal, namaku Hanazawa Michisa,"
ujar Michisa sambil tersenyum manis dan balas membungkuk pada gadis berponi
panjang itu. "Kalian berdua mirip sekali, ya."
Henji dan Riho sama-sama tertawa kecil.
"Kau habis dari mana?" Tanya Henji pada
Riho.
"Aku habis membeli bibit bunga matahari
untuk Harurun dari toko di sana," jawab Riho sambil menunjuk ke sebuah
toko tanaman yang terlihat agak jauh dari sana. "Aku baru ingat kemarin
kalau Harurun ingin ada bunga matahari di rumah selama musim panas ini. Kata
ibu bibit bunga di toko itu bagus, jadi aku ke sana."
"Benar juga, ya. Harurun memang bilang kalau
dia ingin kita menanam bunga matahari sama-sama."
"Kalau Kakak? Kenapa Kakak di sini?"
Henji melirik Michisa sebelum bertanya balik, "Kau ingat temanku yang
kuceritakan pada Ibu?”
"Iya, aku ingat. Eh, jangan-jangan..."
"Dia orangnya."
Riho menatap Michisa. Sejak pertama melihatnya,
Riho sudah berpikir kalau Michisa amat cantik. Melihat seragam yang dipakainya,
dia tahu kalau kakak itu satu sekolah dengan kakaknya. Dia juga baru sadar
sekarang bahwa gadis di depannya ini adalah bintang yang disukai adiknya.
Michisa sendiri hanya tersenyum pada Riho, lalu
bertanya pada Henji, "Adik yang dulu pernah kau bicarakan itu, dia?"
Henji tampak mengingat-ingat sejenak, "Ah...
bukan, yang dulu itu adik bungsuku. Aku punya dua adik."
"Maaf kalau selama ini kakakku pernah
merepotkan Kakak," ujar Riho pada Michisa. "Eh, benar juga.
Sepertinya aku menghalangi Kakak pulang, ya? Maafkan aku."
"Tidak, kok," jawab Michisa cepat.
"Kalian pulang saja sama-sama. Rumahku sudah dekat, jadi pulang sendiri
juga tidak masalah."
"Kau yakin?" Tanya Henji.
"Yakin. Daah."
Michisa meninggalkan Riho dan Henji. Mereka
berdua menatapnya sampai ia masuk ke komplek apartemennya itu.
"Ternyata Kak Hanazawa memang lebih cantik
kalau dilihat langsung," ujar Riho memecah keheningan.
Henji diam saja. Riho benar, sih. Michisa memang
cantik. Tapi itu bukan hal yang harus diungkapkan.
"Orang lain pasti iri pada Kakak kalau bisa
akrab dengan orang seperti itu," tambah Riho sambil berjalan pulang.
Henji mengikutinya, "Kami memang sering
sama-sama, tapi kami ini nggak akrab, kok."
"Maksud Kakak?"
"Kami nggak sering mengobrol, jadi nggak
benar-benar kenal satu sama lain. Tadi 'kan kau dengar sendiri, dia tahu aku
punya adik, tapi nggak tahu kalau aku punya dua adik. Sikapnya juga beda
terhadapku."
"Masa? Beda bagaimana? Tadi dia baik,
kok."
"Memang, dia sangat baik pada orang lain,
apalagi anak-anak. Tapi dia... Awalnya dia kasar padaku. Tapi belakangan dia
juga bersikap dingin menusuk."
"Tapi rasanya dulu Kakak pernah cerita kalau
Hanazawa Michisa itu baik, waktu tahun baru kemarin."
Henji diam sejenak sampai akhirnya ia berkata,
"Waktu itu dia memang baik. Entah yang mana sifat aslinya."
"Kalau begitu, mungkin pernah terjadi
sesuatu padanya, iya 'kan?"
"Entahlah," Henji berkata demikian
sambil menerawang ke langit. "Aku pernah mendengar masalah pribadinya yang
cukup rumit, tapi kurasa bukan itu penyebabnya."
"Kalau begitu, mungkin ada kelakuannya yang
disengaja. Dia 'kan aktris, bisa punya banyak muka. Apa Kakak pernah berbuat
sesuatu sehingga dia bersikap begitu pada Kakak?"
Riho benar. Mungkin ada kelakuan Henji yang tidak
disukai Michisa, sehingga Michisa bersikap kasar padanya. Apa karena Henji
menerima tawaran untuk melindunginya? Mungkin dia membenci Henji karena itu.
"Mungkin karena aku seenaknya ikut campur
dalam kehidupannya, dia jadi membenciku."
Riho diam sejenak, "tapi kurasa Kakak bukan
orang yang pantas dibenci."
Henji hanya mengelus kepala Riho, "Terima
kasih, Riichan. Ayah bilang, kalau ada yang membenci kita, pasti ada juga yang
menyukai kita. Keduanya akan membuat kita kuat. Sebanyak apapun orang yang
membenciku, aku tetap aku."
Riho menatap kakaknya yang mengelusnya tanpa
menoleh itu. Henji selalu percaya apapun yang dikatakan ayah mereka. Riho kagum
akan ketabahan kakaknya. Kakaknya selalu memperhatikan orang lain walaupun
sebenarnya dirinya sendiri lebih membutuhkan perhatian.
"Kapan-kapan Kakak harus mengajak Kak
Hanazawa main ke rumah kita."
"Apa?"
*****
*****
"Si Michisa itu berguna banget, ya."
"Kau benar. Sering ada di dekatnya saja, kau
bakal jadi populer."
"Sebenarnya aku sudah bosan dengan dia,
orangnya benar-benar nggak asyik! Padahal cantik begitu."
"Ah, sama... Aku juga merasa begitu. Dia
diam terus, cuma senyum-senyum atau menanggapi sedikit saja apa yang kita
lakukan. Sok anggun! Sok keren! Membosankan!"
"Ya, ya! Jarang jalan-jalan, jarang shopping, bahkan sekedar memberi update fashion terbaru juga nggak,
apalagi mentraktir kita!"
"Cerita soal cowok juga nggak pernah! Dia
cewek bukan sih? Kelihatannya saja cantik dan kaya, padahal ternyata dia
miskin!"
"Kapan nih kita mau menyingkir? Toh, kita
sudah populer. Apa kita mau bikin skenario biar dia tambah sakit?"
"Jangan, nanti reputasi kita di sekolah jadi
jelek. Kita langsung saja menghindari dia diam-diam besok."
"Okee~"
Seketika tubuhnya terasa kaku. Michisa tanpa
sengaja mendengar percakapan Naomi dan Miharu saat ia sedang berada di dalam
salah satu bilik toilet. Ternyata di luar bilik-bilik itu, Naomi dan Miharu
datang, dan langsung membicarakan itu.
Sebenarnya ia sudah merasakan sejak awal kalau
Naomi dan Miharu tidak bermaksud untuk bersahabat dengannya. Ia tahu ada maksud
lain di balik kebaikan dan keramahan mereka yang janggal. Tapi mendengarnya
langsung seperti ini... Entah kenapa masih terasa sakit.
Tidak. Dia tak akan menangis. Tak akan pernah
menangis.
Setelah memastikan Naomi dan Miharu sudah pergi,
Michisa ikut meninggalkan toilet. Ia berpapasan dengan Henji di tangga.
Henji melirik Michisa yang ternyata juga
meliriknya. Pada saat itu juga Henji langsung mengalihkan pandangannya dan
berlalu.
"Jangan
dekati aku di sekolah!"
Ah, benar juga. Michisa pernah bilang begitu pada
Henji. Henji sudah bersikap benar. Michisalah yang sudah bersikap bodoh.
*****
"Hari ini sebaiknya kita cepat pulang,
langit sangat mendung."
Michisa setengah mengabaikan kata-kata Henji
barusan. Ia berjalan agak lebih cepat, namun tetap lambat. Henji yang di
belakangnya terpaksa menyesuaikan supaya ia tidak membalap Michisa.
Benar saja, hujan kemudian turun. Henji
cepat-cepat membuka payungnya. Michisa masih tetap berjalan tanpa mempedulikan
sekelilingnya.
"Kau tidak bawa payung?" Tanya Henji.
Hujan semakin dan semakin deras. Michisa baru
bergeming. Dengan lamban ia membuka payungnya. Sebagian tubuhnya basah akibat
aksi lambatnya itu.
Henji yang dari tadi mengawasi saja mulai
berpikir, hari ini Michisa begitu aneh. Walaupun hanya diam saja, Michisa belum
pernah sampai bersikap lamban begini. Ekspresinya normal seperti biasa, namun
bahasa tubuh dan tatapan matanya aneh. Seandainya ia bertanya ada apa, apa
Michisa akan menjawab?
Hujan makin deras dan disertai angin kencang.
Henji dan Michisa mulai kebasahan walaupun sudah memakai payung. Mereka harus
berteduh.
"Hanazawa-san, hujan makin deras. Rumahku
sudah sangat dekat dari sini, bagaimana kalau kau berteduh di sana dulu? Aku
akan mengantarmu pulang kalau hujan sudah berhenti."
Michisa masih membisu. Angin makin kencang,
akhirnya tanpa menunggu jawaban Michisa, Henji mengisyaratkan pada Michisa
untuk mengikutinya.
"Ke sini, Hanazawa-san!"
Michisa mengikuti Henji sambil berlari-lari
kecil. Baju mereka basah karena angin hujan. Hari ini, di luar perkiraannya
sendiri, Michisa begitu shock akan
kejadian di sekolah, saat memergoki teman-temannya yang munafik. Ia memang
kelihatannya punya banyak teman, serta sering berbaur dengan mereka. Namun di
antara mereka tak ada yang merupakan teman sejati. Ia juga sama sekali tak
menduga bahwa ia akan tetap merasa sakit saat ia kehilangan teman palsu.
"Aku tak perlu siapapun," gumamnya
sambil berlari kecil. Henji yang ada di depannya tak mendengar karena suara
hujan.
Henji makin jauh. Langkah Michisa melambat.
Pandangannya mulai kabur karena air mata.
"Aku tak perlu siapapun..."
Air matanya semakin berjatuhan. Ia tak kuat lagi
menahan tangis. Rasa sepi yang ia simpan selama ini akhirnya berhasil mengikis
dinding keteguhannya.
"Aku tak perlu siapapun... Aku tak pantas
ditemani siapapun... Kyaa!"
Michisa tersandung di tengah gumamannya. Bajunya
makin basah karena ia jatuh. Payungnya yang lepas dari tangan mulai
diterbangkan angin. Wajahnya yang terkena angin hujan menyamarkan wajahnya yang
menangis. Mulutnya memang bisa berbohong, tapi hatinya tidak. Ia ingin ada
seseorang yang benar-benar menjadi temannya, menjadi sahabatnya. Tapi orang
seperti itu tidak ia temukan di manapun, bahkan sampai sekarang.
"Hanazawa-san!" Henji menghampiri
Michisa yang baru ia sadari tertinggal cukup jauh di belakang. Ia sempat
menatap Michisa yang masih terkapar di jalanan.
"Hanazawa-san..."
Michisa diam terduduk. Kepalanya menunduk
dalam-dalam. Air hujan yang dingin dan air mata yang hangat bercampur di
wajahnya.
"Maaf," Henji meraih lengan Michisa
perlahan, "kau masih bisa jalan?"
Michisa mengangguk pelan sambil tetap menunduk.
Henji membantunya berdiri dan kembali menuntunnya berlari kecil.
"Sabarlah sebentar lagi."
Michisa tetap membisu. Baguslah, Henji tak
menyadari kalau ia menangis.
"Aku pulang!" seru Henji saat ia dan
Michisa masuk ke rumah. Mereka berdua basah kuyup dan terlihat agak
terengah-engah.
"Selamat datang," ibu Henji, Nona
Hinata, menyambut mereka. Ia hanya menatap kedua anak itu tanpa bertanya
apa-apa.
"Ibu, hujannya sangat deras, bolehkah dia
berteduh dulu di sini?"
"Tentu saja," Nona Hinata menghampiri
Michisa dan menatap wajahnya yang basah bercampur sembap. Beliau tersenyum,
"Selamat datang di rumah Keluarga Tasunaga. Tenanglah, sudah tak
apa-apa."
Michisa terpaku dengan kata-kata itu. Wanita ini
membaca ekspresinya? Atau kata-katanya hanya kebetulan saja?
Riho muncul. Begitu melihat Michisa, ia langsung
menghampirinya.
"Kak Hanazawa?" Riho memastikan kalau
orang di depannya benar-benar Michisa, karena Michisa kelihatan kacau. Kakaknya
juga. Mereka berdua basah kuyup dan berantakan.
"Henji, kau keringkan dulu dirimu. Biar ibu
yang mengurus temanmu ini," ujar Nona Hinata. Henji menurut, melepas kaos
kaki, menggulung celana panjangnya yang basah, lalu meninggalkan gadis-gadis
itu. Ia menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.
Nona Hinata tersenyum pada Michisa, "siapa
namamu?"
"Ah, saya... Hanazawa Michisa," jawab
Michisa. Ia sudah agak lebih tenang sekarang.
"Oh, jadi kau ini anaknya Hanazawa
Reina-san?"
"Y-Ya, benar," Michisa agak terkejut
mendengar pertanyaan itu. Ibu Henji ternyata juga mengenal ibunya.
"Kau basah kuyup, bersihkanlah dirimu dan
ganti bajumu. Akan kami pinjamkan. Riichan, tolong bantu dia, ya."
"Baik, Bu," Riho menurut.
"Michisa-chan, bagaimana kalau kau di sini
sampai setelah makan malam? Hujan sepertinya masih akan turun. Nanti Henji bisa
mengantarmu pulang."
"Ah... Jangan repot-repot..."
"Tidak, tidak repot kok! Aku sangat senang
karena akhirnya ada teman Henji yang datang ke rumah," ujar Nona Reina
senang.
Michisa diam mencerna kata-kata itu. Ia akhirnya
mengangguk pasrah.
"Ikut aku, Kak. Kita ke kamarku saja,"
ajak Riho ceria.
Michisa mengikuti Riho naik tangga ke lantai atas
rumah Henji. Ia mengedarkan pandangan seraya berjalan. Di luar dugaan, rumah
Henji cukup besar. Nuansanya gabungan antara tradisional dan modern. Hunian
yang kelihatannya lebih menyenangkan daripada apartemennya yang telah ia
tinggali selama empat tahun itu.
Pikirannya beralih pada gadis di depannya,
Tasunaga Riho. Gadis ini punya sorot mata yang mirip dengan Henji. Tegas namun
menyembunyikan sesuatu. Sikap dan tutur katanya juga baik. Gadis yang sangat
manis.
Enak ya, punya adik perempuan.
"Aku boleh memanggilmu 'Riho-san'?"
Michisa memberanikan diri.
Riho berhenti berjalan, diam sebentar, lalu memutar
badannya ke arah Michisa, "Ka.. Kakak mau memanggilku begitu?"
Matanya berbinar-binar tak percaya.
Michisa tersenyum, "Tentu saja. Kamu boleh
memanggilku 'Michisa'."
"Aku senang sekali ada orang lain yang
memanggilku dengan nama kecil. Terima kasih, Kak!" ujar Riho dengan ceria.
Nama panggilan bisa menggambarkan kedekatan hubungan antara dua orang.
"Ayo, Kakak mandi saja. 'Kan basah begini. Akan kupinjamkan bajuku dan
kusiapkan air hangat. Ah, Kak, adik perempuanku fans berat Kak Michisa, lho."
"Ternyata benar ya? Terima kasih banyak. Dia
ada?"
"Ada," jawab Riho sambil menaiki anak
tangga yang terakhir. Ia menuntun Michisa ke arah kanan, di sana ada tiga
pintu.
"Ini toiletnya, yang paling kanan. Yang di
tengah ini pintu kamarku, dan yang satu lagi kamar adikku, Harumi," jelas
Riho. "Kalau yang di ujung sana itu kamar Kak Henji dan kamar orang tua
kami."
Michisa mengangguk-angguk. Ia menoleh ke sisi
kiri ruangan itu. Di sana ada televisi, rak buku, lemari, dan karpet. Ia
menduga kalau di situlah tiga saudara ini bersantai. Mengobrol, makan kudapan,
membaca manga, atau main game.
"Sini, Kak. Masuklah ke kamar mandi, airnya
sudah siap. Aku akan siapkan baju dan kuurus barang-barang Kakak yang
basah," tuntun Riho.
Michisa mengikuti arahan gadis itu dan segera
membersihkan diri.
Henji keluar dari kamarnya dengan membawa handuk
dan baju bersih. Ia berjalan menuju kamar mandi lain yang ada di antara
kamarnya dan orang tuanya. Ia merasa ragu saat hendak membuka pintu kamar
mandi. Sepertinya ada orang.
"Ada orang di dalam?" Tanya Henji
sambil mengetuk pintu.
"Aku di sini, Kak! Buka saja pintunya, nggak
dikunci!"
Itu suara Harumi. Henji membuka pintu perlahan,
mendapati adiknya sedang mencuci gelas dan kuas-kuas cat air.
"Di kamar mandi yang satu lagi ada orang,
jadi aku ke sini. Oh, Kakak kehujanan, ya?" tanya Harumi.
Henji tersenyum lembut, "Ya, begitulah. Aku
basah dan kotor sekali, jadi harus mandi. Harurun habis melukis apa?"
"Rahasia!" Jawab Harumi ceria.
Henji tertawa kecil, "Hei, Harurun. Teman
sekolahku datang ke rumah, lho."
"Eh?? Benarkah? Di mana dia?"
"Sepertinya dia sedang bersama Riichan. Kamu
pasti senang kalau tahu siapa dia."
Harumi terdiam sebentar, berpikir. Lalu ia lekas
menyelesaikan pekerjaannya. Ia membawa alat-alat lukisnya ke kamar. Henji
menatap adiknya dengan senyum lalu masuk ke kamar mandi.
Harumi keluar dari kamarnya. Ia melihat kamar
mandi yang tadinya ada orang sudah kosong, lalu masuk ke kamar kakak
perempuannya tanpa mengetuk pintu.
"Kak Rii!"
"Harurun?"
"Kak Rii, kata Kak Henji temannya
datang..." ucapan Harumi terhenti. Kakaknya tengah duduk di kursi meja
belajar, menghadap ke tempat tidur. Sementara ada seorang gadis lain yang duduk
di tempat tidur kakaknya. Rambut gadis yang memakai baju kakaknya itu masih terbalut
handuk. Wajahnya tak asing bagi Harumi, tapi ini kali pertama mereka bertemu
langsung.
"Michisa..." Harumi bergumam pelan.
"Kak Michisa, ini anak bungsu dalam keluarga
kami, Tasunaga Harumi. Kami biasa memanggilnya Harurun," jelas Riho pada
Michisa.
Michisa tersenyum menatap Harumi, "Halo,
namaku Hanazawa Michisa."
Harumi langsung menghampiri Michisa. Ia grogi
namun senang karena bisa bertemu idolanya. "Na-namaku Tasunaga Harumi! Aku
tujuh tahun! Aku penggemar Kak Michisa! Aku senang sekali Kak Michisa ke
sini!"
"Benarkah? Terima kasih banyak," ujar
Michisa. "Duduk di sini, Harumi-chan."
Harumi sangat senang. Ia duduk di samping Michisa
dengan semangat. "Kata Kak Henji kalung ini pemberian Kak Michisa. Apa
benar?" Tanya Harumi sambil menunjukan kalung bintangnya.
Michisa mengangguk manis. Kenangan masa lalu
muncul saat ia melihat kalung bintang itu.
"Tunggu sebentar, ya, Kak!" Harumi
berlari cepat menuju kamarnya, mengambil sesuatu, lalu kembali lagi membawa
topi cap hitam-putih bertandatangan
Michisa. "Ini juga benar tandatangan Kakak?"
Michisa mengangguk lagi, "Ya. Aku senang
ternyata kau benar-benar menjaganya, Harumi-chan."
Harumi tertawa senang.
"Kak Henji sangat suka memakai topi cap seperti ini. Dia punya beberapa.
Sebenarnya yang ini salah satu topi favoritnya, tapi dia mengorbankan topi ini
demi Harurun. Topi ini jadi milik Harurun sejak Kak Michisa
menandatanganinya," ujar Riho.
"Begitu, ya? Aku baru tahu Tasunaga suka
topi seperti ini. Kalau sekolah dia nggak pernah memakainya," ujar Michisa
sambil memegang topi itu. Ia teringat kejadian di musim dingin yang lalu. Kalau
dipikir baik-baik, mungkin itulah awal dari segalanya. Awal di mana Henji mulai
melindunginya dari berbagai hal.
Ehm, mikir apa dia barusan? Melindungi agak
berlebihan. Mungkin lebih tepatnya menolong... Ya, menolong.
Michisa mengobrol dengan Riho dan Harumi. Asyik
sekali. Rasanya hangat.
"Kita bertiga berteman mulai sekarang
'kan?" tanya Harumi. Pertanyaan itu membuat Riho dan Michisa terdiam.
Teman...
Akhirnya.
"Kita teman 'kan, Kak?" Riho bertanya
lagi.
Michisa mengangguk dengan perasaan senang dan
lega. Benar juga. Dia sebenarnya tak pernah sendirian. Dia bukannya tak punya
teman. Dia punya Nijika, Hihara, dan sekarang juga ada Riho dan Harumi.
Riho dan Michisa bertukar alamat email dan nomor
ponsel.
"Kak, kalau boleh jujur, sebenarnya Kakak
teman pertamaku," ujar Riho pelan.
"Aku juga," tambah Michisa.
"Berteman baiklah denganku, Riho."
Mereka semua tersenyum. Sekarang tidak ada yang
sendirian lagi.
Henji berdiri di depan kamar Riho. Ia lega
mengetahui bahwa Riho akhirnya punya teman. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia
meninggalkan gadis-gadis itu, menyusul ibunya di dapur.
Apa ini
artinya sekarang tinggal aku yang sendirian?
"Ibu, ada yang bisa kubantu?" Tanya
Henji begitu ia tiba di dapur.
"Hmm, sepertinya tidak ada," ujar Nona
Hinata sambil tersenyum penuh misteri. "Hari ini ayah makan malam di
rumah, lho."
"Benarkah?" Henji bertanya lagi dengan
semangat. Ayahnya selalu sibuk bekerja sehingga biasanya beliau pulang setelah
makan malam.
"Ya," jawab Nona Hinata. "Ah,
dengar suara itu? Sepertinya ada yang membuka gerbang. Mungkin itu ayah."
Henji berlari cepat ke arah pintu rumah seperti
bocah. Ia mengintip lewat jendela. Ternyata benar itu ayahnya, Tuan Ryuuji.
"Aku pulang," ujar Tuan Ryuuji begitu
masuk ke rumah.
"Selamat datang, Ayah," Henji dan Nona
Hinata menyambutnya. Henji menyambut barang bawaan ayahnya, membawanya ke kamar
orang tuanya seperti biasa. Sebelum turun kembali, ia berhenti sebentar di
depan kamar Riho.
"Hei, ayah pulang!" Serunya dengan
ceria, lalu langsung pergi lagi.
Riho dan Harumi ikut senang.
"Kak Michisa, ayo kita turun ke bawah! Kakak
harus ketemu ayah!" ajak Harumi.
Mereka bertiga turun ke bawah. Yang paling harus
bertemu dengan Michisa justru adalah ayah. Karena ayahlah yang paling kenal
dengan keluarga Michisa.
"Ayah, selamat dataang!" Harumi
melompat ke pelukan ayahnya. "Ayah, teman Kak Henji datang ke rumah! Dia
akan makan malam bersama kita!"
Tuan Ryuuji menanggapi anak-anaknya dengan
senyum. Michisa menatapnya. Wajah beliau mirip sekali dengan Henji. Terlihat
sangar, namun saat tersenyum, aura wajahnya berubah.
"Siapa namamu?"
"Saya Hanazawa Michisa. Senang bisa bertemu
Anda," Michisa membungkuk hormat.
"Hanazawa? Kamu anaknya Hanazawa Reina-san
itu?" Tuan Ryuuji terlihat agak heran.
"Benar."
Tuan Ryuuji tertawa kecil, entah kenapa.
"Sepertinya aku salah paham, tapi abaikan saja, ya. Kau benar-benar mirip
dengan ayahmu, Hanazawa-san. Pasti sulit bagimu dan ibumu. Tapi kalian tabah
sekali. Aku salut."
Michisa mengangkat kepalanya. Ia senang ada yang
mengatakan kalau dia mirip ayahnya. Melihat sosok Tuan Ryuuji, entah mengapa ia
jadi teringat pada almarhum ayahnya. Dia menahan diri agar tidak membuat
matanya berkaca-kaca.
Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali
merasakan seperti apa makan malam keluarga yang lengkap anggotanya. Begitu
ramai, ceria, juga hangat.
*****
Michisa berdiri di ruang tamu, menunggu Henji
yang akan mengantarnya pulang. Ia sibuk menatap foto keluarga besar Henji yang
terpajang di sana. Tak lama kemudian, Henji datang.
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Ayo pergi,
Hanazawa-san."
"Tasunaga."
Henji diam. Ia memperhatikan Michisa menunjuk ke
arah foto di dinding, "Itu... Sugawara Suzuki-kun, ya?"
Henji ikut melihat foto itu, "Ya, benar.
Kalian sekelas, 'kan? Tentu saja kau kenal dia. Dia sepupuku."
"Sepupu?"
"Ya. Dia sepupu dan sekaligus satu-satunya
temanku."
"Begitu."
"Kau tahu? Setelah dia, kaulah teman
pertamaku yang pernah datang ke rumah ini."
Michisa menatap wajah Henji yang tersenyum santai
melihat foto itu. Henji lalu menoleh padanya. Michisa terkejut dan berpaling ke
arah foto itu lagi untuk menghindari pandangannya.
Henji mengamati mata Michisa dari samping. Ternyata benar, matanya bukan hitam.
Henji mengamati mata Michisa dari samping. Ternyata benar, matanya bukan hitam.
"Ayo berangkat," ajak Michisa. Ia
berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada seluruh anggota keluarga Henji. Ia
lalu pulang diantar Henji.
"Ternyata benar kalau matamu bukan
hitam," Henji memberanikan diri memulai percakapan, mencoba memecah
kesunyian malam. "Aku baru menyadarinya tadi. Itu bukan lensa kontak,
ya?"
"Ini warna mata ayahku," ujar Michisa
tanpa menoleh ke arah Henji.
"Ah, maaf."
Michisa diam saja.
Salah lagi, deh. Maksud hati ingin memecah kesunyian,
malah bikin tambah suram.
"Terima kasih untuk hari ini," ujar
Michisa.
"Aku... Mungkin lebih pantas minta maaf. Aku
seenaknya menyuruhmu datang."
"Kubilang, terima kasih. Jawab saja
'sama-sama'! Minta maaf terus! Kau ini kenapa deh?!"
Henji diam tertunduk. Salah lagi.
Mereka terus diam. Saat mereka melewati toko
aksesoris, Michisa berhenti.
"Hei, tunggu sebentar, ya!" sahutnya
sambil melesat masuk ke dalam toko setelah menitipkan barang bawaannya pada
Henji. Tak lama kemudian ia kembali membawa sepasang jepit rambut.
"Berikan ini pada Riho," ujarnya sambil
mengambil barangnya kembali.
"Terima kasih," Henji menyimpan jepit
rambut itu di sakunya. Ternyata Michisa perhatian juga. Sepertinya dia sengaja
memberikan ini pada Riho agar poni Riho yang panjang tidak menutupi wajahnya
lagi. Padahal Henjilah yang selama ini selalu bersama Riho. "Aku tak
pernah terpikir untuk memberinya jepit rambut."
"Mungkin karena kami sama-sama
perempuan," sahut Michisa. "Kau jangan sedih begitu. Kau tidak salah
kok."
"A-aku..." Henji salah tingkah.
Michisa tersenyum jahil ke arah Henji, "Kenapa?
Kau cemburu karena aku bisa jadi kakak yang begitu baik?"
"Ka-kata siapa??"
Michisa tertawa lepas melihat reaksi Henji. Henji
sendiri mulai bisa bersikap normal lagi. Jarang sekali ia melihat Michisa
seperti ini. Henji selalu melihat wajahnya yang kesal, marah, menahan derita,
bahkan mungkin ada yang senyum palsu. Walaupun Henji juga pernah melihat
Michisa tersenyum tulus pada teman-teman kecilnya, semua itu bukan karena
Henji.
Henji memperhatikan Michisa yang tertawa. Namun
lama-lama ia merasa malu.
"Hei, sudahlah. Ayo kita jalan lagi.
Memangnya aku sekonyol itu?"
Michisa masih menertawakannya, "Aku juga tak
menyangka ternyata kau ini anak papa. Kau berubah jadi bocah dalam sekejap
hanya karena ayahmu!"
"Me-memangnya kau beda??"
Michisa berjalan duluan sambil terus tertawa.
Perlahan tapi pasti, tawanya menghilang. Kali ini benar-benar tak ada yang
bicara sampai mereka tiba di apartemen Michisa.
"Terima kasih sudah datang ke rumah kami,
Hanazawa-san," ujar Henji sambil sedikit membungkuk.
Tak ada respon dari Michisa. Karena membungkuk,
Henji menatap ke bawah. Ia tak tahu ekspresi Michisa waktu itu. Michisa hanya
memalingkan tubuhnya masuk ke apartemen.
"Selamat malam."
"Selamat malam. Sampai besok."
Henji tak berlama-lama di sana. Ia segera pergi.
"Aku pulang."
"Ah, welcome
home, Michisa. Bagaimana rumah Henji-kun?"
Michisa terdiam sesaat, "menyenangkan."
"Syukurlah."
"Aku tidur duluan, Ma."
"Ya. Selamat tidur."
Michisa masuk ke kamarnya. Ia terduduk di balik
pintu dengan tatapan kosong. Ia sudah berusaha keras.
"Kenapa?
Kau cemburu karena aku bisa jadi kakak yang begitu baik?"
"Aku
juga tak menyangka ternyata kau ini anak papa. Kau berubah jadi bocah dalam
sekejap hanya karena ayahmu!"
"Me-memangnya
kau beda??"
Henji benar.
Dia iri pada Henji yang punya saudara.
Dia iri pada Henji yang masih punya ayah.
Dia juga iri pada Henji yang akrab dengan
sepupunya.
Dia iri pada Henji yang bisa dengan bangga
memajang foto keluarga besar di rumah.
Ah, aku benar-benar payah. Padahal akhirnya aku
bisa mendapat teman baru. Harusnya aku lebih bersyukur.
Catatan Penulis :
Terima kasih telah membaca Honestly Chapter 6 : The Visit!
_______________________________________________________________
- Bersambung ke Chapter 7 -
Catatan Penulis :
Terima kasih telah membaca Honestly Chapter 6 : The Visit!
Setelah merilis chapter 8, saya akan hiatus sementara dari Honestly. Tapi ceritanya tentu saja masih saya terus tulis! Saya terlanjur suka sekali pada proyek ini!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Akan hadir secepatnya lho (^_^)
FildzahPro
Langganan:
Postingan (Atom)