Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 September 2017

Lika-Liku Ngomik: Ganti Pen Tablet

1. Waktu Beli Pen Tablet Pertama, Genius i608x

     Masih ingat betul saya ketika bertekad beli pen tablet Agustus tahun 2015 lalu. Waktu tanya ke orang tua, "Boleh nggak uang lebaran tahun ini aku pakai untuk beli pen tab?"

Lalu diantarlah saya ke Mangga Dua oleh ayah. Sebelumnya kami berdua riset kecil-kecilan dulu merek dan tipe apa yang bagus. Pilihan jatuh antara Genius MousePen i608x atau Wacom Intuos Pen. Harga Intuos paling murah waktu itu 1.2 juta, sementara harga Genius i608x itu setengahnya, 640 ribu. Karena waktu itu saya memang masih pengguna pen tablet pemula, dan nggak bermaksud untuk jadi ilustrator/komikus profesional, ditambah bujukan ayah pula, saya beli Genius dulu.


Kesan-pesannya? WIHH suka banget. 
Ukurannya active area-nya besar, saya bisa gambar detail. Apalagi memang sempat terbiasa gambar di kertas/bidang besar. Awal-awal memang rada susah menggunakannya, tapi seiring latihan gambar jadi makin enak dan makin bagus. Semangat bikin komik tumbuh, ide ada, voilaa~ jadilah webtoon yang sekarang saya garap, "The King's Daughter".


Karena garap webtoon, gambar digital jadi makin sering. Sempat intens banget seharian penuh setiap hari gambar. Mulai terasa kesulitan-kesulitannya.
Pertama, pen bawaan Genius itu rada berat, ada baterainya AA. Pressure sensitivity-nya juga besar jadi harus agak lebih ditekan ketika menggaris, apalagi saya tipe orang yang menggarisnya tipis-tipis. Ditambah saya yang nggak nurut istirahat setelah kerja berjam-jam, sakitlah tangan. Sakit pegal-pegal aja sih kayak kalo abis Ujian Nasional atau try out, capek megang pensil gitu hehe.
Kedua, ukuran tabletnya yang besar itu. Di satu sisi menguntungkan karena tangan lebih bebas dan jauh bergeraknya, tapi di satu sisi lagi besar banget jadi agak repot kalau dibawa-bawa. Ringan sih, cuma tetap agak repot. Awalnya saya selalu gambar di rumah jadi nggak mempermasalahkan, tapi kemudian kuliah mulai, kesibukan mulai, jadi pengen pentab itu lebih gampang dibawa ke mana-mana. Malah kalo bisa ikut dibawa sambil berjemur di tengah padang rumput di bawah matahari pagi wkwk.

Walaupun sebel-sebel gitu tetep sayang sih sama pentabnya wkwk, namanya juga temen seperjuangan. Saya kalau gambar biasanya gak tegas tuh garisnya, tapi gara-gara sering pakai pen tablet, latihan tracing line art, dan tuntutan waktu, saya sekarang lebih tegas kalau bikin garis. Malah udah bisa gambar line art komik langsung dari sketsa kasar tanpa harus bikin sketsa detail lebih dulu. Mantap deh.


2. Genius Mulai Sakit...

Setelah mulai bikin webtoon, mulai sering ada error dari pen tablet itu. Pen tiba-tiba tidak ter-detect, sensitivity hilang, getar-getar, dan semacamnya. Itu terjadi dalam frekuensi yang jarang dan biasanya akan normal lagi setelah saya plug in ulang kabelnya, jadi nggak saya permasalahkan.


Juni 2017, hampir 2 tahun setelah saya beli Genius itu, pen sama sekali nggak ter-detect. Saya coba ganti baterainya. Ternyata waktu saya ganti di dalamnya berminyak gitu, saya lalu bersihkan minyak-minyak itu dan pasang baterai baru. Setelah itu bisa dipakai lagi seperti biasa.
Namun, memasuki Juli 2017, pen saya mulai bermasalah lagi. Sering putus koneksi ketika sedang menggambar. Bikin satu goresan aja tuh susah. Agustus 2017, masih sama, bahkan mulai nggak berfungsi sama sekali. Akhirnya saya googling untuk cari tahu cara memperbaikinya, lalu ketemulah di blog kawan-kawan lain. Ternyata banyak yang punya masalah sama dengan Geniusnya. Baterai pen bocor karena pernah didiamkan untuk waktu lama di dalam pen. Ternyata harusnya baterai itu dilepas kalau sedang tidak dipakai, biar lebih awet.
Saya lalu bersihkan sisa minyak di pen sesuai petunjuk dari blog TakTeg ini. Setelah itu pen bisa digunakan kembali~ seneng banget. Tapi ternyata itu nggak berlangsung lama. Pen mulai sakit-sakitan lagi.
Padahal semangat ngomik lagi tinggi, semangat ingin jadi komikus profesional juga sedang tinggi. Setelah konsultasi dengan senior dan kawan-kawan, juga dengan mempertimbangkan masa depan, saya memutuskan beli pen tablet baru: pokoknya Wacom. Walaupun sebenarnya rada enggan move on dari Genius yang udah menemani hari-hari awal saya.


3. Kawan Seperjuangan Baru: Wacom Intuos Comic CTH490

Dibeli di awal bulan September 2017. Saya awalnya survei harga dulu lewat Tokopedia, terus ada yang jual lebih murah dari toko-toko lain, namanya Toko Jaya Baru Computer (saya promosiin loh, waw). Karena ternyata tokonya deket rumah, ayah saya bilang lebih baik beli di tokonya langsung. Akan tetapi saya sudah keburu harus masuk kuliah lagi ke kampus jadi ayah dan adik sayalah yang datang ke sana haha.

Btw, selama rentang 2 tahun sejak pertama beli pentab pertama sampai mau beli pentab kedua, Wacom udah berubah lagi dagangannya. Kalau waktu 2015 dia jualnya Intuos Pen, Intuos Pen & Touch, dan Intuos Manga, sekarang dia coba menjual berdasarkan untuk apa pentab akan dipakai: Intuos Draw, Comic, 3D, dan satu lagi yang saya lupa apa wkwk. Semuanya punya spesifikasi sama, yang membedakan hanya software bonusnya.

Saya sudah mengincar tipe Intuos Comic sejak pertama memutuskan akan beli Wacom. Ini gara-gara senpai saya yang habis nyoba software bonusnya, Clip Studio Paint (CSP), dan beliau muji-muji itu, bikin kepo haha. Harga Intuos Comic yang ditawarkan JBC 1,6 juta, sudah termasuk pen tablet, software CSP dan Anime Studio, antigores, softcase, dan sarung tangan khusus gambar. Gimana gak tergugah hahahaha. Sudah begitu pas dicek bonus-bonusnya juga memang kece semua. Sekarang saya udah bisa bawa pen tablet ke mana-mana dan memang gak rugi walaupun harus keluar kocek hampir 3x lipat dibanding pentab sebelumnya.

Oiya, uang 1,6 juta buat beli Wacom itu juga uang tabungan saya sendiri. Alhamdulillah ada rezeki jadi saya nggak minta sepeserpun dari orang tua ^^

Terus gimana review-nya ketika dipake? Licin pisan da, pennya enteng banget hampir sama kayak berat pensil biasa. Ukurannya lebih kecil dan enak dibawa-bawa. Yang bikin saya agak kesusahan di awal adalah kabel USB-nya. Genius itu kabelnya udah jadi 1 sama tablet jadi bisa langsung tancap aja, nggak usah takut kabelnya hilang atau ketinggalan. Nah Wacom tidak begitu. Saya harus ingat-ingat bahwa kabel itu harus dibawa. Positifnya, seandainya nanti kabelnya rusak ya tinggal kabelnya aja yang diganti.
Atau apakah ini akal-akalan supaya saya beli wireless kit-nya? Entah wkwk.

Karena Wacom yang saya beli adalah tipe CTH, pen tablet saya dilengkapi fitur touch. Akan tetapi, jujur saya belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Fitur touch lebih sering saya matikan. Saya harus latihan untuk gambar tanpa tangan menyentuh kertas baru saya bisa memakai fitur touch itu.
Selanjutnya adalah tombol shortcut di tablet. Sekali lagi saya kurang bisa memanfaatkan jadi hampir gak pernah dipakai haha.
Karena ukuran active area-nya lebih kecil dari pentab saya sebelumnya, tangan saya makin berkurang jangkauan gerakannya (sebenarnya ini bisa memicu penyakit hm). Ada positif-negatifnya lah haha.
Tapi ya secara umum, dia sudah ikut membantu saya merilis episode 5 ke atas webtoon saya. Dia menjalankan perannya sebagai pen tablet dengan baik dan sekarang dia jadi pacar saya wkwk.


4. Kesimpulan dan Saran (lah, makalah??)

Berikut poin-poin yang ingin saya sampaikan ke teman-teman yang sedang berpikir untuk beli pen tablet.
  • pen tablet pada akhirnya hanya alat. Bukan berarti merek lebih bagus terus gambar kita jadi ikutan lebih bagus juga. Semua tergantung siapa yang memakai pen tablet itu.
  • pertimbangan membeli nomor 1: budget! Kalau memang uang yang kita miliki nggak cukup untuk beli Wacom, nggak usah paksakan beli Wacom. Beli merek alternatif dulu. Kalau ternyata masih kepikiran ingin Wacom, katakan pada dia, "Suatu hari aku akan memilikimu!" dan belilah dia ketika ada rezeki.
  • pertimbangan membeli nomor 2: kamu siapa? Orang yang punya cita-cita jadi profesional, memang sudah profesional, atau hanya hobi menggambar? Kalau kita sudah/ingin profesional, biasanya pen tablet akan sering sekali dipakai. Jadi lebih baik beli yang tahan lama sekalian, yang mereknya sudah menjamin. Nah, kalau kita baru ingin belajar atau menggambar sesekali saja sebagai hobi, lebih baik beli pentab merek alternatif. Sayang kan beli mahal-mahal tapi jadi pajangan aja? Hehe.
  • Buat yang senang menggambar di bidang besar, pilih yang active area-nya besar juga. Tangan bisa lebih luas bergerak karena jarak untuk menggores dari ujung ke ujung layar juga lebih besar. Kalau sukanya gambar kecil, atau sangat mager sehingga enggan menggerakkan tangan jauh-jauh, nah silahkan pilih yang active area-nya kecil juga.
  • Merek apapun pen tablet yang kita beli, tetap harus kita rawat. Saya orang yang kalau gambar background ngegoresnya kasar banget, jadi lebih baik pasang antigores juga hehe. Pen dan tablet jangan sampai hilang salah satunya, kan sayang banget. Bersihkan sesekali dengan kain kering, rapikan kalau sudah tidak dipakai. Dengan begitu kalian akan langgeng sampai waktu yang ditakdirkan Tuhan haha.
Itu saja sharing dan review kali ini. Selanjutnya saya bakal cerita-cerita soal proses lahirnya webtoon saya. Semangat berkarya!

Sabtu, 22 September 2012

Review : The Best Skilled Surgeon

Aku lagi naksir sama manga yang satu ini. Berikut info dasarnya :

Judul Indonesia  : The Best Skilled Surgeon
Judul Asli           : Saijou no Meii
Komikus            : TAKASHI Hashiguchi (Yakitate!! Japan)
Status                : 11 Volume - Tamat
Sekuel               :
  • Saijou no Meii - The King of Neet (Manga)
  • Saijou no Meii (live-action drama)

Karena pernah diselamatkan dengan operasi tingkat tinggi (operasi transposisi sempurna aorta, yakni operasi untuk memperbaiki pembuluh jantung yang terbalik) saat masih bayi, Saijou Mikoto jadi sangat tertarik dengan medis. Karena penyakit yang dideritanya itu, ia sering mendatangi rumah sakit. Sambil diperiksa kesehatannya, ia senang bermain-main dan belajar medis dari para dokter di sana. Tak terkecuali dokter yang mengoperasinya saat bayi, seorang dokter bedah anak bernama Shindou Mamoru.

Dokter Shindou-lah orang yang selalu mengajari Mikoto tentang medis, terutama bedah anak yang jadi bidangnya. Di luar dugaan, menjadi seorang dokter bedah anak sama sekali tidak mudah. Daripada orang dewasa, mereka tentunya lebih sulit diperiksa dan ukuran organ-organ mereka lebih kecil dari orang dewasa.

Berkat usaha keras dan semangatnya, Mikoto menyelesaikan kuliah di Amerika dan pulang ke Jepang dengan membawa gelar penghargaan MSA (Most Skilled Ameteur). Sampai di Jepang, dengan dibantu Dokter Shindou dan Dokter Mera, seorang dokter spesialis mata, Mikoto mulai bekerja di Rumah Sakit Pusat Heisei. RS yang dulu pernah mengalami kecelakaan operasi dan menutup bagian Bedah Anak milik mereka.

Mikoto bertekad untuk mendirikan kembali bagian bedah anak tersebut. Selama bekerja di sana, pasien demi pasien dia tangani dengan cara mengagumkan. Akhirnya banyak orang yang mendukung dia. Dokter magang yang ada di sana juga mulai tertarik dengan bedah anak setelah melihat keahliannya dalam dunia bedah. Setelah dibantu oleh Sena Maria, seorang dokter magang, dan Kiryuu Ayame, dokter spesialis bedah jantung, Mikoto berhasil mendirikan kembali Unit Bedah Anak. Namun ada yang tidak suka dengan keberhasilannya. Para petinggi RS yang merupakan lulusan dari universitas saingan Universitas Saihama tempat bekerja Dokter Shindou, yaitu Universitas Teio, terus mengirimi Mikoto pasien-pasien yang sulit ditangani agar Mikoto kewalahan. Di tengah keadaan itu, penyakit yang Mikoto derita waktu kecil sepertinya kembali kambuh. Bagaimana selanjutnya? Apa Mikoto bisa bertahan?


Kurang lebih mungkin itu sinopsisnya. Menurutku, setelah baca komik ini wawasanku bertambah. Jelaslah bertambah! Komik ini gak cuma mengenalkan aku bagaimana kegiatan operasi, tapi juga memberitahu aku bahwa operasi gak sesimpel yang kita kira. Ada berbagai cara untuk mengoperasi, tapi dokter bedahlah yang menentukan apa cara terbaik untuk pasiennya.

Beberapa teman yang kupinjami komik ini juga bilang kalau mereka suka. Setelah membaca ini, mereka jadi lebih semangat lagi untuk meraih cita-cita mereka, yaitu dokter. Dokter yang baik dan hebat, bidang apapun itu.

Dari segi artwork, karya Takashi-sensei ini juga nggak jelek dan masih terkesan normal, jadi enak bacanya.

Kepo nggak? baca makanyaaa~

Kamis, 05 Januari 2012

[Review] Bleach Eps. 342 "Thank You"

Sebenarnya udah lama tayangnya. Tapi baru kepikiran buat nge-review sekarang. Episode yang tayang tanggal 4 Oktober 2011 ini sepertinya jadi episode favorit para penggemar IchiRuki. Tapi ternyata banyak juga non IchiRuki fan yang ngaku suka sama episode ini. Tentang apakah?

Sebelumnya aku minta maaf, karena aku ini IchiRuki fan, mungkin hal-hal yang kubahas bakal condong ke IchiRuki. Yak, hajimemashou...

Beda dari biasanya, episode ini ternyata cuma bersumber dari 1 chapter di manga-nya. Padahal biasanya 1 episode bisa menceritakan 3-5 chapter. Episode 342, menceritakan tentang chapter 423. Entah sengaja atau kebetulan, nomornya cuma dibalik-balik. Dan hanya perlu satu gambar untuk mengingatkan kita tentang apa chapter itu.



Udah inget? Yah, pokoknya tentang hilangnya kekuatan shinigami Ichigo dan perpisahan antara Ichigo dan Rukia. Chapter ini sendiri judulnya juga diubah oleh Kubo-sensei, yang awalnya "Farewell, Swords" menjadi "Bleach My Soul". Chapter ini ada di volume 48 'God is Dead' (cover : Aizen), tunggu aja tanggal terbitnya di Indonesia ya. Tapi tenang aja. Buat yang belum tahu, walaupun ini meceritakan perpisahan, tapi ini bukan episode terakhir dari serial anime Bleach.

Ada perbedaan mendasar soal hilangnya kekuatan Ichigo di manga dan di anime. Di manga, usai melepaskan Getsuga Tenshou Terakhir, Ichigo pingsan. Saat terbangun ia berada di kamarnya dan di saat itulah kekuatannya lenyap. Semua berlangsung cepat. Sedangkan di anime, untuk menyesuaikan dengan filler arcade, hilangnya kekuatan Ichigo dibagi menjadi 2 tahap. Ia akan kehilangan reiatsu sedikit demi sedikit, dan pada akhirnya reiatsu tersebut akan habis. Episode ini cenderung memiliki banyak hal yang tidak ada di manga-nya, tapi tentu saja semua yang ditayangkan sudah sepengetahuan dan seizin Kubo-sensei.

Sinopsis
Episode dibuka dengan latar langit sore, di mana Ichigo sedang bertarung melawan hollow biasa. Tapi ia kewalahan, hingga akhirnya Rukia-lah yang mengalahkan hollow itu. Rukia mengingatkan Ichigo yang tidak tahu akan lenyapnya kekuatannya agar lebih berhati-hati. Ia hampir saja memberitahu Ichigo bahwa kekuatan laki-laki itu akan lenyap. Kemudian Kurumadani datang mengomeli mereka. Begitu dia pergi, Rukia meminta Ichigo agar tidak memaksakan dirinya lagi. Lalu Ichigo dan Rukia melihat wahana ice skate di kejauhan (sumpah, adegannya shippy banget), lalu mulai bicara tentang kehidupan normal.


Rukia : "Sepertinya menyenangkan, ya, punya kehidupan biasa yang begitu damai."
Scene berganti ke SMU 1 Karakura. Ichigo berkumpul seperti biasa dengan Keigo dan Mizuiro. Kemudian langit kembali berganti jingga. Tampak di depan gerbang sekolah, Rukia yang tampak murung baru saja menyelesaikan teleponnya. Ia berpapasan dengan Ichigo, lalu kembali ke rumah bersama-sama. Sambil berjalan, Ichigo bertanya pada Rukia, "kapan kau pulang? Kau harus ingat kalau kau menumpang gratis di rumahku.". Rukia awalnya tak menjawab. Namun akhirnya ia berkata kalau dia akan kembali jika tugasnya sudah selesai.
Kubo-sensei sendiri memuji lewat twitter-nya kalau Rukia di adegan ini sangat cantik.

Ichigo : "Kau menumpang gratis di rumahku, ingat 'kan?"
Scene berganti di taman pada malam hari. Ichigo mencoba mengalahkan hollow yang menyerang seorang plus. Ia tidak bisa mengalahkan hollow itu dengan satu serangan seperti biasa. Apalagi di tengah pertarungan, tiba-tiba ia merasa kekuatannya redup. Untungnya Uryuu dan Rukia datang. Namun hollow berikutnya muncul lagi di kejauhan. Rukia meminta Ichigo menyerahkan urusan hollow itu padanya dan Uryuu, juga memintanya tetap di sana dengan alasan harus melakukan konsou pada plus tadi. Ia dan Uryuu lalu bergegas pergi. Sambil berlari, Uryuu bertanya pada Rukia.
"Kuchiki-san, reiatsu Kurosaki..."
"Aku tahu. Reiatsu-nya hampir mencapai batasnya."
"Lalu kenapa kau masih membiarkan dia bertarung? Kalau begitu terus, dia bisa..."
"Aku tahu! Aku tahu itu..."

Rukia lalu teringat akan pembicaraannya dengan Ukitake di telepon tadi.
"Aku mengerti situasimu. Kuchiki, kau harus menjaga Ichigo agar tak terlibat pertempuran lagi."

"Tapi bagaimana dengan perasaan Ichigo?"
Scene berganti lagi. Rukia yang murung tengah melamun di pinggiran sungai. Lamunannya terpecah ketika mendengar suara Ichigo.
"Di situ kau rupanya. Kenapa melamun?"
"Bukan apa-apa."
"Benarkah? Kau juga bersikap aneh belakangan ini."
"Aku tidak begitu."
"Kalau begitu kenapa kau tidak melihatku di wajah, seperti biasa? Sudah cukup lama kau begitu."

Angin berhembus. Rukia tak menjawab.
Ichigo : "Ada yang ingin kau katakan padaku 'kan?"
Ichigo bertanya demikian. Rukia lalu mengiyakan. Saat ia baru mau bicara, Ichigo menghentikannya dan berkata ia tak perlu mengatakannya. Ini membuat Rukia kesal, dan mereka mulai bertengkar seperti biasa. Ichigo minta maaf padanya. Ia mengatakan bahwa mereka telah cukup lama saling kenal, jadi ia bisa menebak apa yang Rukia pikirkan. Ia lalu mengajak Rukia pergi ke suatu tempat.

Ichigo : "Kita sudah lama saling kenal sekarang. Aku lumayan bisa menebak apa yang kau pikirkan."
Dan tempat itu ternyata adalah wahana ice skate yang dilihat Ichigo dan Rukia beberapa hari yang lalu. Di sana ternyata sudah ada Orihime, Tatsuki, Uryuu, Chad, Keigo dan Mizuiro. Karena Rukia waktu itu memandangi tempat itu, Ichigo mengira kalau Rukia ingin mencoba ice-skating. Rukia hanya tertawa geli mendengar itu. Ichigo mengajak Rukia mulai ber-ice skate.

Rukia : "Tunggu dulu! Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya!"
Awalnya aku ragu setelah Rukia berkata begitu. Tapi ternyata, Studio Pierrot dan Kubo-sensei berkata aku boleh membayangkan hal yang rasanya tidak mungkin.

Kaku memang. Tapi inilah yang terjadi.


Semua IchiRuki fan pastinya meledak-ledak dalam histeria melihat adegan ini. Sudah begitu, ada juga adegan saat mereka melihat kembang api. Rame-rame sih, tapi difokuskan ke Ichigo dan Rukia.
Ichigo : "Kenapa ada kembang api di musim begini?"
Keigo : "Kau tidak tahu? Ada taman ria yang baru dibuka di dekat sini, dan tiap hari pada jam segini, mereka menampilkan petunjukan kembang api."
Ichigo : "Jadi sekarang ada tempat seperti itu?"
Keigo : "Yah, tempatnya tidak besar, tapi itu tempat kencan yang sangat bagus (Kenapa ngomongin itu??). Aku dan Chad ke sana  beberapa waktu lalu."
Chad : "Ya, itu menyenangkan."

Ichigo : "Menyenangkan juga kalau menghabiskan waktu seperti ini sekali-kali."
Rukia : "Ya..."
Main usai, semua pulang ke rumah masing-masing. Sambil berjalan Ichigo bertanya pada Rukia, mengapa dulu saat pertarungan puncak di filler arc, Rukia bisa mengenal sosok Ichigo yang tengah dikontrol hollowfikasi.
"Dibandingkan dengan saat kita pertama bertemu, kau memang semakin kuat. Reiatsu-mu juga meningkat. Tapi... kau sama sekali tidak berubah."
Setelah berkata begitu, terdapat peringatan hollow yang muncul di sebuah pusat pertokoan. Ichigo langsung bergegas pergi dan mengubah dirinya menjadi sosok shinigami. Rukia sempat mencegahnya, tapi ia tak berdaya. Ia pun menyusul Ichigo. Ketika ia sampai di tempat pertarungan berlangsung, Ichigo tengah kerepotan. Ia tak bisa menghindari serangan-serangan yang ditujukan padanya. Rukia membantunya menghindari hollow besar itu. Mereka berlindung sementara di atap sebuah gedung.


"Yang kali ini besar sekali."

"Ya. Maaf, aku menghalangimu."
"Dasar bodoh, jangan bilang begitu! Kau tidak menghalangiku! Kalau kau terluka, aku akan mendukungmu! Kalau kau tidak bisa bergerak, aku akan bertarung menggantikanmu! Kalau kau menderita, akan kutanggung deritamu!"

Rukia : "Kita ini teman 'kan?" (nakama)
Ichigo : "Ya, kau benar...."
Sadar bahwa dirinya tak sanggup bertarung mangalahkan hollow seorang diri, Ichigo meminta Rukia menghentikan gerakan hollow tersebut. Rukia lalu membekukan kaki hollow itu dengan Tsugi no Mai : Hakuren. Kemudian, dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, Ichigo memotong hollow itu dengan Getsuga Tenshou-nya. Getsuga Tenshou terakhir yang ia lepas.



Usai melepas jurus itu, Ichigo makin melemah. Saat ditanya oleh Rukia, ia hanya menjawab kalau ia hanya merasa sedikit sakit. Rukia lalu berkata pada Ichigo bahwa sebenarnya ia selalu melebihi batas. Ichigo lalu menjawab, "Seperti yang kau katakan tadi. Apapun yang terjadi, aku akan tetap seperti ini. Jadi jangan sembunyikan hal yang harus kau katakan padaku."
Rukia terkejut. Ichigo ternyata mengetahui apa tugas yang diberikan padanya. Ichigo ternyata sadar kekuatannya akan lenyap. Dia hanya bilang bahwa ia sudah bisa menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh orang-orang Soul Society.
Ichigo semakin kesakitan, ia lalu berbaring. Ia lalu berkata pada Rukia, "Aku sudah banyak merepotkanmu 'kan? Maaf aku membuatmu terus mengikutiku sampai akhir."
Mendengar Ichigo bicara demikian, Rukia memarahinya. Sepertinya ia tak merasa begitu. Ichigo lalu bicara lagi, memintanya agar tidak lupa bahwa mereka berteman. Rukia mengiyakan, lalu menyuruh Ichigo beristirahat. Sempat tersenyum, Ichigo menuruti Rukia lalu akhirnya pingsan. Rukia yang melihat itu mangawasinya dalam diam, sambil memikirkan kata-kata ichigo tadi.

"Jadi jangan sembunyikan sesuatu yang harus kau katakan."
"Kita teman. Jangan lupa itu."
"Ichigo, kau benar. Apapun yang terjadi, kita tak akan berubah."
Scene berubah gelap, lalu mulai sesuai dengan cerita di manga. Saat terbangun, Ichigo ada di kamarnya. Di sampingnya sudah ada Rukia, Orihime, Chad dan Uryuu. Saat itulah, Rukia akhirnya mengatakan pada Ichigo bahwa sisa kekuatannya akan lenyap. Ichigo tak kelihatan terkejut karena sebenarnya ia sudah mengetahui itu. Ia lalu minta izin keluar. Di luar rumahnya, ia melihat sekeliling. Dalam hatinya ia menyatakan bahwa ia tak bisa merasakan tekanan roh apapun. Bahkan, reiatsu Rukia pun, secara perlahan memudar. Kekuatannya benar-benar lenyap.


Baik Ichigo dan Rukia sama-sama menyadari bahwa ini perpisahan bagi mereka berdua. Ichigo takkan bisa melihat Rukia lagi mulai sekarang. Saat mereka bertengkar untuk terakhir kalinya, Rukia mulai memudar dari pandangan Ichigo. Ichigo meminta Rukia menitipkan salamnya pada yang lain. Rukia yang menunduk sedih lalu mengiyakan, dan mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan untuk terakhir kalinya, lalu mengucapkan perpisahan. Setelah Rukia menghilang dari hadapannya, Ichigo menatap langit dan bergumam, "terima kasih."

"Ini perpisahan, Ichigo."
"Jangan sedih begitu. Walaupun kau tidak bisa melihatku lagi, aku masih bisa melihatmu."


"Sampaikan salamku... pada semuanya."
Adegan ini, banyaaaakkk banget yang suka. Pada nangis, setidaknya berkaca-kacalah. Baik IchiRuki fan maupun yang bukan. Memang, Bleach dimulai dari pertemuan antara Ichigo dan Rukia, saat Rukia memberikan kekuatan shinigaminya pada Ichigo. Sejak itulah banyak hal yang terjadi. Ichigo yang dulu terus mengeluh akan kemampuan khususnya, dalam hati sebenarnya bersyukur. Ia bersyukur Rukia mengubah takdirnya. Ia bersyukur telah mendapatkan kekuatan untuk melindungi banyak orang. Dalam masa itulah, ikatan pertemanan antara Ichigo dan Rukia semakin dan semakin kuat. Tapi semua berakhir di episode ini. Tentu saja, mereka akan terus berteman sampai kapanpun.

Review
Studio Pierrot benar-benar sukses dalam episode ini. Tiap adegan mereka gambar dengan sebaik-baiknya. Para seiyuu juga berusaha dengan baik. Pokoknya sangat sangat bagus deh. Dan jujur aja, dari sekian episode Bleach yang mengandung IchiRuki, cuma ini yang pernah ku-download. Hampir semua IchiRuki fan mengakui kalau inilah episode terbaik yang pernah ada.

Go for BLEACH~!!!

Tambahan Unik dan Menarik (Khususnya bagi IchiRuki fan)
-  Ending dari episode ini adalah ending ke-28, "Haruka Kanata" yang dibawakan oleh UNLIMITS. Ending ini punya versi yang berebeda tiap episode-nya. Dan di episode 342, ending ini khusus tentang Ichigo dan Rukia, yang memuat beberapa klip dari Ichigo dan Rukia pertama bertemu, hingga akhirnya berpisah. Jadi kayak official AMV gitu...
-  Background Music yang mengiringi adegan perpisahan Ichigo dan Rukia sebenarnya adalah soundtrack di Bleach Movie : Memories of Nobody, yang berjudul "Always be With me in Mind"
-  Dalam sebuah wawancara, Kubo-sensei pernah ditanya seperti ini, "Anda ingin para pembaca fokus pada apa?", dan ia menjawab, "hubungan antara Ichigo dan Rukia. Perubahan mereka dalam perasaan mereka sendiri."
Hmm... Kalau kita lihat sampai di sini, kok "wow" ya?
-  Adegan IchiHime yang sebenarnya ada di manga, anehnya malah nggak ada di anime. Padahal biasanya Studio Pierrot cukup adil lho
-  Adegan Ichigo menatap langit di akhir episode banyak dibuat dalam beberapa versi, dan ini di antaranya.

Versi episode 342 (sudut pandang "ulat")
versi chapter 436 (sudut pandang Ichigo)
versi ending 26...
... sudut pandang Rukia.
Yahh... itulah review kali ini. Aku tahu bahasaku aneh, tahu-tahu formal, tahu-tahu santai. Tapi makasih ya udah baca. Buat penggemar IchiRuki, ada post menarik, di forum yang ku-join, Bleach Asylum.

Thanks to AmyCore on Bleach Asylum for the GIFs

CU (^w^)