Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 September 2017

Lika-Liku Ngomik: Ganti Pen Tablet

1. Waktu Beli Pen Tablet Pertama, Genius i608x

     Masih ingat betul saya ketika bertekad beli pen tablet Agustus tahun 2015 lalu. Waktu tanya ke orang tua, "Boleh nggak uang lebaran tahun ini aku pakai untuk beli pen tab?"

Lalu diantarlah saya ke Mangga Dua oleh ayah. Sebelumnya kami berdua riset kecil-kecilan dulu merek dan tipe apa yang bagus. Pilihan jatuh antara Genius MousePen i608x atau Wacom Intuos Pen. Harga Intuos paling murah waktu itu 1.2 juta, sementara harga Genius i608x itu setengahnya, 640 ribu. Karena waktu itu saya memang masih pengguna pen tablet pemula, dan nggak bermaksud untuk jadi ilustrator/komikus profesional, ditambah bujukan ayah pula, saya beli Genius dulu.


Kesan-pesannya? WIHH suka banget. 
Ukurannya active area-nya besar, saya bisa gambar detail. Apalagi memang sempat terbiasa gambar di kertas/bidang besar. Awal-awal memang rada susah menggunakannya, tapi seiring latihan gambar jadi makin enak dan makin bagus. Semangat bikin komik tumbuh, ide ada, voilaa~ jadilah webtoon yang sekarang saya garap, "The King's Daughter".


Karena garap webtoon, gambar digital jadi makin sering. Sempat intens banget seharian penuh setiap hari gambar. Mulai terasa kesulitan-kesulitannya.
Pertama, pen bawaan Genius itu rada berat, ada baterainya AA. Pressure sensitivity-nya juga besar jadi harus agak lebih ditekan ketika menggaris, apalagi saya tipe orang yang menggarisnya tipis-tipis. Ditambah saya yang nggak nurut istirahat setelah kerja berjam-jam, sakitlah tangan. Sakit pegal-pegal aja sih kayak kalo abis Ujian Nasional atau try out, capek megang pensil gitu hehe.
Kedua, ukuran tabletnya yang besar itu. Di satu sisi menguntungkan karena tangan lebih bebas dan jauh bergeraknya, tapi di satu sisi lagi besar banget jadi agak repot kalau dibawa-bawa. Ringan sih, cuma tetap agak repot. Awalnya saya selalu gambar di rumah jadi nggak mempermasalahkan, tapi kemudian kuliah mulai, kesibukan mulai, jadi pengen pentab itu lebih gampang dibawa ke mana-mana. Malah kalo bisa ikut dibawa sambil berjemur di tengah padang rumput di bawah matahari pagi wkwk.

Walaupun sebel-sebel gitu tetep sayang sih sama pentabnya wkwk, namanya juga temen seperjuangan. Saya kalau gambar biasanya gak tegas tuh garisnya, tapi gara-gara sering pakai pen tablet, latihan tracing line art, dan tuntutan waktu, saya sekarang lebih tegas kalau bikin garis. Malah udah bisa gambar line art komik langsung dari sketsa kasar tanpa harus bikin sketsa detail lebih dulu. Mantap deh.


2. Genius Mulai Sakit...

Setelah mulai bikin webtoon, mulai sering ada error dari pen tablet itu. Pen tiba-tiba tidak ter-detect, sensitivity hilang, getar-getar, dan semacamnya. Itu terjadi dalam frekuensi yang jarang dan biasanya akan normal lagi setelah saya plug in ulang kabelnya, jadi nggak saya permasalahkan.


Juni 2017, hampir 2 tahun setelah saya beli Genius itu, pen sama sekali nggak ter-detect. Saya coba ganti baterainya. Ternyata waktu saya ganti di dalamnya berminyak gitu, saya lalu bersihkan minyak-minyak itu dan pasang baterai baru. Setelah itu bisa dipakai lagi seperti biasa.
Namun, memasuki Juli 2017, pen saya mulai bermasalah lagi. Sering putus koneksi ketika sedang menggambar. Bikin satu goresan aja tuh susah. Agustus 2017, masih sama, bahkan mulai nggak berfungsi sama sekali. Akhirnya saya googling untuk cari tahu cara memperbaikinya, lalu ketemulah di blog kawan-kawan lain. Ternyata banyak yang punya masalah sama dengan Geniusnya. Baterai pen bocor karena pernah didiamkan untuk waktu lama di dalam pen. Ternyata harusnya baterai itu dilepas kalau sedang tidak dipakai, biar lebih awet.
Saya lalu bersihkan sisa minyak di pen sesuai petunjuk dari blog TakTeg ini. Setelah itu pen bisa digunakan kembali~ seneng banget. Tapi ternyata itu nggak berlangsung lama. Pen mulai sakit-sakitan lagi.
Padahal semangat ngomik lagi tinggi, semangat ingin jadi komikus profesional juga sedang tinggi. Setelah konsultasi dengan senior dan kawan-kawan, juga dengan mempertimbangkan masa depan, saya memutuskan beli pen tablet baru: pokoknya Wacom. Walaupun sebenarnya rada enggan move on dari Genius yang udah menemani hari-hari awal saya.


3. Kawan Seperjuangan Baru: Wacom Intuos Comic CTH490

Dibeli di awal bulan September 2017. Saya awalnya survei harga dulu lewat Tokopedia, terus ada yang jual lebih murah dari toko-toko lain, namanya Toko Jaya Baru Computer (saya promosiin loh, waw). Karena ternyata tokonya deket rumah, ayah saya bilang lebih baik beli di tokonya langsung. Akan tetapi saya sudah keburu harus masuk kuliah lagi ke kampus jadi ayah dan adik sayalah yang datang ke sana haha.

Btw, selama rentang 2 tahun sejak pertama beli pentab pertama sampai mau beli pentab kedua, Wacom udah berubah lagi dagangannya. Kalau waktu 2015 dia jualnya Intuos Pen, Intuos Pen & Touch, dan Intuos Manga, sekarang dia coba menjual berdasarkan untuk apa pentab akan dipakai: Intuos Draw, Comic, 3D, dan satu lagi yang saya lupa apa wkwk. Semuanya punya spesifikasi sama, yang membedakan hanya software bonusnya.

Saya sudah mengincar tipe Intuos Comic sejak pertama memutuskan akan beli Wacom. Ini gara-gara senpai saya yang habis nyoba software bonusnya, Clip Studio Paint (CSP), dan beliau muji-muji itu, bikin kepo haha. Harga Intuos Comic yang ditawarkan JBC 1,6 juta, sudah termasuk pen tablet, software CSP dan Anime Studio, antigores, softcase, dan sarung tangan khusus gambar. Gimana gak tergugah hahahaha. Sudah begitu pas dicek bonus-bonusnya juga memang kece semua. Sekarang saya udah bisa bawa pen tablet ke mana-mana dan memang gak rugi walaupun harus keluar kocek hampir 3x lipat dibanding pentab sebelumnya.

Oiya, uang 1,6 juta buat beli Wacom itu juga uang tabungan saya sendiri. Alhamdulillah ada rezeki jadi saya nggak minta sepeserpun dari orang tua ^^

Terus gimana review-nya ketika dipake? Licin pisan da, pennya enteng banget hampir sama kayak berat pensil biasa. Ukurannya lebih kecil dan enak dibawa-bawa. Yang bikin saya agak kesusahan di awal adalah kabel USB-nya. Genius itu kabelnya udah jadi 1 sama tablet jadi bisa langsung tancap aja, nggak usah takut kabelnya hilang atau ketinggalan. Nah Wacom tidak begitu. Saya harus ingat-ingat bahwa kabel itu harus dibawa. Positifnya, seandainya nanti kabelnya rusak ya tinggal kabelnya aja yang diganti.
Atau apakah ini akal-akalan supaya saya beli wireless kit-nya? Entah wkwk.

Karena Wacom yang saya beli adalah tipe CTH, pen tablet saya dilengkapi fitur touch. Akan tetapi, jujur saya belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Fitur touch lebih sering saya matikan. Saya harus latihan untuk gambar tanpa tangan menyentuh kertas baru saya bisa memakai fitur touch itu.
Selanjutnya adalah tombol shortcut di tablet. Sekali lagi saya kurang bisa memanfaatkan jadi hampir gak pernah dipakai haha.
Karena ukuran active area-nya lebih kecil dari pentab saya sebelumnya, tangan saya makin berkurang jangkauan gerakannya (sebenarnya ini bisa memicu penyakit hm). Ada positif-negatifnya lah haha.
Tapi ya secara umum, dia sudah ikut membantu saya merilis episode 5 ke atas webtoon saya. Dia menjalankan perannya sebagai pen tablet dengan baik dan sekarang dia jadi pacar saya wkwk.


4. Kesimpulan dan Saran (lah, makalah??)

Berikut poin-poin yang ingin saya sampaikan ke teman-teman yang sedang berpikir untuk beli pen tablet.
  • pen tablet pada akhirnya hanya alat. Bukan berarti merek lebih bagus terus gambar kita jadi ikutan lebih bagus juga. Semua tergantung siapa yang memakai pen tablet itu.
  • pertimbangan membeli nomor 1: budget! Kalau memang uang yang kita miliki nggak cukup untuk beli Wacom, nggak usah paksakan beli Wacom. Beli merek alternatif dulu. Kalau ternyata masih kepikiran ingin Wacom, katakan pada dia, "Suatu hari aku akan memilikimu!" dan belilah dia ketika ada rezeki.
  • pertimbangan membeli nomor 2: kamu siapa? Orang yang punya cita-cita jadi profesional, memang sudah profesional, atau hanya hobi menggambar? Kalau kita sudah/ingin profesional, biasanya pen tablet akan sering sekali dipakai. Jadi lebih baik beli yang tahan lama sekalian, yang mereknya sudah menjamin. Nah, kalau kita baru ingin belajar atau menggambar sesekali saja sebagai hobi, lebih baik beli pentab merek alternatif. Sayang kan beli mahal-mahal tapi jadi pajangan aja? Hehe.
  • Buat yang senang menggambar di bidang besar, pilih yang active area-nya besar juga. Tangan bisa lebih luas bergerak karena jarak untuk menggores dari ujung ke ujung layar juga lebih besar. Kalau sukanya gambar kecil, atau sangat mager sehingga enggan menggerakkan tangan jauh-jauh, nah silahkan pilih yang active area-nya kecil juga.
  • Merek apapun pen tablet yang kita beli, tetap harus kita rawat. Saya orang yang kalau gambar background ngegoresnya kasar banget, jadi lebih baik pasang antigores juga hehe. Pen dan tablet jangan sampai hilang salah satunya, kan sayang banget. Bersihkan sesekali dengan kain kering, rapikan kalau sudah tidak dipakai. Dengan begitu kalian akan langgeng sampai waktu yang ditakdirkan Tuhan haha.
Itu saja sharing dan review kali ini. Selanjutnya saya bakal cerita-cerita soal proses lahirnya webtoon saya. Semangat berkarya!

Jumat, 27 Juni 2014

Ujian Keterampilan SBMPTN 2014

Kali ini saya mau bagi2 pengalaman waktu ikut ujian keterampilan di ITB hari Kamis, 19 Juni 2014 yang lalu. Aku milih dua prodi yang mengharuskan ikut ujian keterampilan seni rupa, yaitu Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB di pilihan pertama dan DKV Universitas Sebelas Maret di pilihan ketiga. Dengan berbagai pertimbangan dan saran dari orang lain, aku dan keluarga sepakat untuk memilih lokasi ujian keterampilan di ITB, walaupun sebenarnya rumah kami di Jakarta.

Ada beberapa alasan kenapa aku memilih ujian di ITB :
- Kakak-kakak kelasku yang diterima semua ujian di sana
- di ITB gak ada ujian pengetahuan umum
- menurut guru bimbel Seni rupa, ujian di ITB lebih terorganisir
- walaupun pingin masuk FSRD dari kelas X, aku sama sekali belum pernah ke ITB
- sekalian pergi menjenguk adikku yang masuk pondok pesantren di Kuningan, Jawa Barat.

Untuk tahun ini, ITB ngadain ujian keterampilan dua hari, tanggal 18 dan 19 Juni. Tiap peserta cuma disuruh milih salah satu hari aja, terserah yang mana. Yang penting di kartu peserta SBMPTN tertulis kalau lokasi ujian keterampilannya di ITB. Tinggal registrasi di ITB pada pagi hari di hari ujian yang diinginkan. Registrasi dibuka pukul 09:00 sampai 11:00, sementara ujiannya sendiri dimulai pukul 13:00.

Karena aku dari luar kota, aku milih ujian hari kedua, tanggal 19 Juni. Aku sekeluarga berangkat tanggal 18 Juni sekitar jam 5 sore dari Jakarta. Rencananya kami menginap di Bandung semalam. Karena kalau berangkat pagi-pagi saat hari H, rasanya terlalu berisiko, sekalipun registrasi baru ditutup jam 11 siang.

Registrasi Peserta

Ditemani ayahku, sekitar jam 09.30 di hari ujian aku registrasi di ITB. Panitia udah bikin tenda khusus buat registrasi, dan meja registrasinya pun banyak banget, dipisah-pisah berdasarkan absen nama. Kelihatan banget kalo panitia siap menghadapi keramaian. Setelah registrasi, oleh panitianya aku disuruh nunggu pengumuman penempatan ujian jam 11 nanti. Maksudnya biar tahu aku ujian di Aula Barat atau di Aula Timur, terus aku masuk ke kelompok berapa.

Sambil nunggu jam 11 aku jalan-jalan aja sama ayahku keliling ITB. Oiya, informasi aja, pas hari ujian itu banyak banget pedagang yang menjual triplek ukuran A3 dan A2 buat alas gambar. Mereka juga menjual pensil berbagai ukuran ketebalan dan (katanya) soal-soal ujian keterampilan tahun lalu. Tapi aku nggak beli apa-apa. Aku nemu triplek ukuran A3 di pojokan tangga, dekat pohon, nggak terlalu mulus dan agak bengkok. Kupikir dibuang, jadi kuambil aja (parah banget emang). ( ̄(工) ̄)
Tapi setelah kuukur, alasnya nggak sebesar A3, dia agak lebih kecil :v
Aku nggak beli pensil karena memang udah punya. Aku juga nggak beli soal karena merasa aku sudah cukup banyak latihan. Pokoknya Bismillah aja.

Oh iya info lagi, peserta ujian yang lulus tahun ini semuanya pakai seragam putih abu-abu, sementara lulusan tahun lain pakai baju putih-gelap. Jadi kelihatan siapa yang lulusan tahun ini dan siapa yang bukan. Hampir semua peserta nunggu pengumuman penempatan di ITB, jadi di sekitar tempat registrasi bakal banyak banget peserta yang duduk-duduk. Udara di ITB hari itu juga sejuk, nyamanlah untuk menunggu.

Btw soal teman, yang aku tahu teman sekolahku yang juga mau masuk FSRD nggak ada yang tes di Bandung, tapi ternyata aku ketemu juga satu orang. Dan malah aku baru tahu dia jadi daftar ke FSRD (disampaikan dengan rada shock). Selebihnya sih, aku ketemu beberapa teman satu lesku di Villa Merah Gandaria. Enak juga ada orang yang udah dikenal, jadi nggak terlalu panik hehe.

Jam 11 tiba, tempat ujian pun diumumkan. Ternyata semua peserta yang ikut ujian hari ini ditempatkan di Aula Barat, karena Aula Timur dipakai untuk acara lain. Berarti peserta hari kedua nggak terlalu banyak, ya? Nggak bisa bayangin gimana ramenya ujian hari pertama, toh yang dipake sampe dua aula.

Di pengumuman itu, tertulis nomor peserta, namaku, lalu tulisan "Aula Barat 3". Artinya aku ujian di Aula Barat kelompok 3.


Pelaksanaan Ujian

Menjelang ujian aku terus berdoa agar aku dimampukan menjawab soalnya. Selepas melihat pengumuman, aku dan ayahku kembali ke penginapan sebentar untuk menjemput ibu dan adik-adikku sekaligus check-out. Setelah itu kami sholat dzuhur dan kembali lagi ke ITB. Kali ini ibuku yang menemaniku di dekat Aula Barat, menunggu ujian mulai. Ternyata, walaupun di jadwal tertulis ujian mulai jam 1 siang, 30 menit sebelumnya para peserta sudah diizinkan masuk. Aku pamit pada ibuku masuk ke ruang ujian. Yah, pamit yang mengharukan lagi, nggak beda dengan waktu ujian tulis. Aku lalu masuk ke Aula Barat. Penjaga di situ lalu menyuruh para pengantar untuk "menjauh dari Aula Barat" :|
Jujur, salah satu penyesalanku hari itu adalah aku nggak minta doa restu dulu dari ayahku. Padahal beliau yang secara fisik paling lelah karena mengantarku ke sana-sini selama SBMPTN. Tapi aku tahu beliau mendoakanku. Bismillah. Aku bisa. Orang tuaku sudah mengikutkan aku di bimbel seni rupa sejak September tahun lalu, aku sudah latihan, aku sudah berusaha, dan bismillah, aku sudah siap. Be happy, be happy, keep calm and be happy. Kalau menggambar harus bahagia, 'kan?

Di dalam Aula, kursi-kursi sudah diatur sedemikian rupa membentuk beberapa lingkaran. Satu lingkaran mungkin ada sekitar 15 kursi. Inilah yang dimaksud kelompok. Aku lekas menghampiri kelompok ketiga. Masih sepi, baru beberapa orang yang sudah ada di kelompokku. Justru ini kesempatan bagus, soalnya di tengah-tengah kami sudah terletak sebuah botol air mineral, dua buah pisang, setengah potong jeruk bali dan kardus yang biasa dipakai untuk nasi kotak. Ini pasti untuk ujian gambar stillife/objek kan? Kalau masih sepi begini, aku bisa milih sudut pandang di mana benda yang paling susah kugambar nggak terlalu kelihatan. Hehee (ini namanya strategi atau licik? -_-)

Panitia mulai mengumumkan untuk menyiapkan alat tulis dan mempersilahkan bagi yang ingin ke toilet terlebih dulu. Di sinilah kesalahanku. Aku nggak ke toilet sebelum ujian dimulai. Panitia juga ternyata menyediakan alas gambar ukuran A2 bagi yang tidak membawa. Setelah ragu cukup lama aku memutuskan untuk memakai alas dari panitia, karena alas-alas yang kubawa terlalu besar dan terlalu kecil, dan aku nggak mau gagal karena masalah teknis.

Setelah semua siap, panitia mulai membagikan kertas A3 dan soal pertama : gambar objek yang ada di depanmu. Waktunya 60 menit. Ujian dimulai tepat pukul satu siang. Waktu itu aku cuma berpikir satu hal : aku suka menggambar stillife. Iya, belakangan ini aku jadi suka menggambar stillife. Memang rasanya jengkel di awal karena bingung mana dulu yang harus digambar, tapi setelah selesai, rasanya ada kepuasan tersendiri.
Semua yang kupelajari selama bimbel seni rupa rasanya berguna. Aku harus menggambar dengan cepat, aku nggak boleh cuek dengan waktu. Aku nggak boleh cuek akan para peserta yang duduk di sampingku, tapi juga nggak boleh jatuh mental karena mereka. Aku melanggar ajaran bimbelku yang melarang memakai penghapus, karena aku menggambar kesalahan yang fatal.
Waktu 60 menit habis dan gambarku terbilang selesai, Alhamdulillah. Walaupun sebenarnya aku masih ingin menambahkan lagi kalau masih ada waktu. Jika dibandingkan dengan gambar peserta di sampingku, gambarku kelihatan bagus, tapi gak boleh terlalu percaya diri kan? Ini baru satu kelompok. Satu kelompok aja pasti ada sekitar tiga atau lebih orang yang gambarnya bagus dan SELESAI. Gambar bagus pun belum tentu diterima. Bismillah aja. Tetap optimis.

Selanjutnya, soal yang kedua : gambar suasana/ekspresi. Di soal kedua ini peserta diberi pilihan untuk memilih anak soal, yang pertama suasana di tempat makan, kedua suasana pulang sekolah, ketiga kalau gak salah suasana konser musik. Aku milih soal yang kedua. Waktu menggambar soal ini 90 menit. Barangkali aku menggambar rada ganas. Itu barangkali ajaran bimbelku lagi. Aku nggak boleh mikir lama-lama apa yang harus kugambar. Pikirin ide utamanya aja, terus gambar. Ternyata bener, sambil gambar, ide-ide mengalir keluar. Sambil terus menggambar, jangan mengabaikan waktu. Cek terus waktunya tinggal berapa menit. Lihat peserta-peserta lain, kalau kamu lihat gambar mereka udah penuh, kamu harus gambar lebih cepat lagi. Yang penting gambar kamu informatif dan selesai. Selesai, selesai, selesai.
Gila. Subhanallah walhamdulillah, aku yang paling susah gambar cepat ini ternyata bisa selesai gambar suasana di kertas A3 dalam 90 menit. Gambarku penuh, hampir semuanya diarsir. Walaupun seperti biasanya garisku gak setebal orang-orang lain. Gambarku selesai. Ideku lumayan. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... ヽ(;▽;)ノ 

Di jeda istirahat soal kedua dan ketiga, aku menyempatkan diri ke toilet. Menurut perhitunganku masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum soal ketiga dimulai. Ternyata di toilet ngantre sekitar 5 menit. Aku baru masuk ke aula lagi telat beberapa detik dari perkiraanku dimulainya soal ketiga. Tapi ternyata ujian sudah dimulai. Panitia sepertinya sengaja mulai lebih cepat.

Soal ketiga itu semacam psikotes. Tapi ternyata soalnya berbeda jenis dengan yang selama ini kupelajari. Soalnya beda. Beda banget mungkin. Gara-gara aku telat masuk, aku ketinggalan waktu untuk membaca petunjuk soal. Itu fatal banget kalau untuk ujian psikotes. Entah karena panik atau memang sebenarnya demikian, kata-kata di halaman petunjuk terasa ambigu buatku. Agak sulit dicerna. Psikotes itu cuma makan waktu 20 menit, sehingga ujian yang harusnya selesai pukul 17:00 jadi selesai 30 menit lebih cepat.

Setelah psikotes dikumpulkan, aku masih duduk di kursiku. Untuk soal pertama dan kedua aku bersyukur bisa menyelesaikannya dengan baik. Tapi selebihnya aku pasrah. Terutama untuk psikotes.
Aku sempat ngobrol dengan teman satu bimbel seni rupaku yang ternyata ada di kelompok sebelah. Ternyata keluhan kami sama : psikotes yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, juga petunjuk yang ambigu. Kami pasrah aja, juga mendoakan satu sama lain supaya lolos. Aku juga ngobrol sama teman satu sekolahku itu. Jujur baru kali itu aku ngobrol akrab sama dia. Soalnya di sekolah kami nggak dekat dan sama-sama pendiam hahaa...

Oke, terlepas nanti tanggal 16 Juli aku dinyatakan lolos atau nggak, aku senang bisa berkesempatan ikut ujian di sini. Aku akan tetap menggambar apapun hasilnya. Sekarang aku tinggal berdoa supaya aku dan teman-teman lolos SBMPTN dan mendapat hasil yang terbaik. Aamiin.

Terakhir, itu foto di samping Aula Barat, sebelum ujian mulai hehe.


Senin, 23 Juni 2014

Sharing aja : Ujian Tulis SBMPTN 2014

Hari Selasa, 17 Juni 2014, aku ikut SBMPTN Tulis. Berusaha kembali mengejar kampus idamanku. Agak sedikit kurang beruntung, aku dapat tempat ujian di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, jauh dari rumahku yang berada di pojokan Jakarta Selatan. Karena suatu faktor, aku nyaris telat sampai di lokasi ujian. Alhamdulillah nggak telat.

Gugup? Jelas. Aku takut gagal lagi. Tapi aku juga berusaha keras untuk tenang.
Aku menghibur diri, bahwa seperti yang pernah dibilang guru bimbelku, persiapan SBMPTN itu bukan 8 minggu ataupun setahun. Tapi tiga tahun sejak awal kita masuk SMA. Aku nggak tahu usahaku belakangan ini keras atau nggak. Tapi aku nggak terima kalau usahaku selama SMA ini dibilang gak keras. Setiap hari aku pergi karena kegiatan sekolah, bimbel, atau mentoring. Aku jarang libur. Nggak ada hari tanpa aku pergi keluar rumah. Tindakanku pasti berarti, ilmuku pasti nggak sia-sia.

Waktu mau pamit berangkat ujian, ibuku mendoakan sambil mengecup pipi kiri dan kananku. Beliau mendukungku, sangat mendukung. Rasanya seolah doa beliau mengalir padaku.
Saat pamit masuk ruang ujian, ayahku pun mengecup kepalaku sambil mengucapkan kalimat dukungan. Kurasa hari itu hari yang akan selalu kuingat. Jarang-jarang orang tuaku begini. Aku yang selama ini takut mereka tak mendukungku, kini tenang dan percaya diri.

Bismillah, aku mulai ujian. Tes Kemampuan dan Potensi Akademik menjadi yang pertama kuhadapi. Aku bisa mengerjakan lumayan banyak. Manajemen waktuku juga tak seburuk waktu Try Out di bimbel. Aku pasrah. Aku sudah mengerjakan yang aku bisa.
Berikutnya tes Sosial dan Humaniora. Aku mengerjakan sejarah 8 soal, sosiologi 14 soal, serta ekonomi dan geografi masing-masing 11 soal, dari total soal tiap pelajaran 15. Lumayan banyak, Alhamdulillah. Terutama sejarah. Biasanya kalau Try. Out aku hanya bisa mengerjakan sekitar 4 soal.
Tapi hasil SBMPTN ini gak bisa ditentukan dari banyaknya soal yang dikerjakan saja. Belum tentu poin yang didapat lebih besar. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap bisa memperoleh hasil yang terbaik.

Secara umum, Alhamdulillah SBMPTN tulis hari ini lancar. Alhamdulillah aku nggak ketinggalan barang apa-apa hari itu. Alhamdulillah ayahku bersedia mengantar-jemput ke tempat ujian, bahkan menunggui aku. Alhamdulillah saat aku mampir ke rumah eyang di perjalanan pulang, beliau pun bilang kalau beliau mendoakanku.

Hehe, Alhamdulillah, itu pengalamanku tentang ujian tulis SBMPTN. Yang mau tahu kisahku di ujian keterampilan, lihat post selanjutnya, ya. (o^^o)

Yang sedang menunggu jawaban,
Fildzah Nur Fadhilah

Rabu, 22 Januari 2014

Catatan dalam Status H-82 UN

Assalamu'alaikum, hisashiburi~

Lama banget aku nggak nge-post. Heh, tunggu itu bukan salahku. Sebelumnya aku pernah nyoba ngepost lewat iPad, tapi ternyata nggak bisa di-save jadi draft dan akhirnya malah hilang terhapus. Menyesakkan.

Nggak terasa memang. Kalau UN jadi tanggal 14 April 2014 (tanggal cantik btw), berarti tinggal 82 hari lagi. Kalo berdasarkan hasil TO selama ini, lulus sih iya, tapi nilainya gak memuaskan banget. Matematikaku belum beranjak dari angka lima. Walaupun setelah itu aku belajar, belum ada TO lagi untuk menguji apakah aku sudah berkembang atau belum.
Alhamdulillahnya, aku nggak kayak sebagian teman sekelasku yang sampe sekarang kerjanya cuma main-main aja. Mungkin mereka belajar di rumah sih, tapi mereka hampir gak pernah kelihatan belajar sendiri, pas nggak ada guru terutama. Ummi emang pernah bilang, tantangan terberat di jurusan IPS : anaknya males-males. Aku sendiri termasuk pemalas.

Pada dasarnya TO pas kelas 12 ini emang nggak sebanyak TO waktu kelas 9. Pas kelas 9 aku sampe 22 kali Try Out lho. Hasil akhirnya lumayan, 37.90 atau rata-rata 9.475. Dan gimana sekarang? Targetku cuma minimal 8.0 di tiap pelajaran. Rendah, ya, hohoo.

Terus soal kuliah, pilihan utamaku masih kokoh di FSRD ITB. Bahan-bahan seleksi buat masuk ke sana belum aku selesaikan. Masih berupa ide. Masih butuh banyak latihan menggambar, mengarsir dan mewarnai. Tapi kalo portofolio yang sertifikat sih insya Allah udah siap. Aku sudah membulatkan tekad bahwa di SNMPTN, aku cuma akan milih FSRD di pilihan jurusan. Jadi kalo dapet ya dapet, kalo gak dapet ya langsung ikut SBMPTN aja.

Satu yang bikin aku bersyukur masuk jurusan IPS, ternyata FSRD itu di SBMPTN masuknya ke jurusan IPS, jadi bidang tesnya SOSHUM alias Sosial dan Humaniora. Seandainya aku dulu masuk IPA dan masih ngincer FSRD, aku mesti ikut SBMPTN IPC atau IPS dan makin banyak lagi yang mesti kupelajari. Alhamdulillah aku IPS~!

Terus gimana soal pilihan alternatif? Nah, ini yang masih belum pasti. Abi pernah bilang, aku mesti milih profesi yang orientasi kerjanya bisa di rumah, bukan di kantor. Menurutku itu sangat masuk akal, karena aku sendiri juga ingin kelak menikah lalu jadi ibu rumah tangga. Jadi aku mesti milih jurusan yang kira-kira bisa mengantarkan aku ke pekerjaan macam itu. Kayaknya nih, dalam  hati abi pingin aku ngambil jurusan psikologi, terus buka praktik aja di rumah. Tapi aku nggak yakin bisa enjoy di Psikologi. Menarik sih, cuma takut nggak enjoy aja. Minatku selain menggambar itu jejepangan, jadi sempat kepikir ngambil Sastra Jepang UI.

Tapi kata Ummi, kalo nggak ada tujuan jelas di SasJep, misalnya mau jadi wartawan, jangan ngambil sastra.

Ternyata solusinya baru kutemukan tempo hari. Waktu itu aku iseng aja nanya temen di kelas, "jurusan yang nanti kerjanya bisa di rumah aja apa, ya?"
Dan dia jawab, "jadi translator aja. Kerjanya cuma dengrin kaset doang di rumah."
Mungkin dia ngrujuk ke sesorang yang dia kenal. Tapi apa yang dia bilang bener juga. Memang benar ada translator yang kerjanya di rumah aja.

Jadi dengan begitu aku punya alasan memilih Sastra Jepang. Kenapa UI? Karena universitas yang satu provinsi sama sekolah ya itu. Akan kucoba lagi negosiasi dngan orang tuaku. Ganbarimasu! Oyasumi~

Ngomong-ngomong maaf saya nulisnya kacau eheheee

Senin, 28 Oktober 2013

[Re-post] Catatan Akhir BEST 2009/2010

Assalamu'alaikum, kali ini mau nge-repost suatu catatan yang dibuat pembina BEST periode 2009/2010 di facebook dulu, tiga tahun yang lalu. Menurut saya bagus dan banyak banget kenangan di dalamnya, jadi saya putuskan untuk repost. Monggo...

NB : telah diedit sedikit di bagian ejaan


 Setitik Air Mata di Akhir Agenda BEST 2009/2010

Hari Senin, tanggal 16 Agustus atau bertepatan dengan tanggal 6 Ramadhan 1431 H adalah hari yang akan menjadi sejarah bagi kami, karena pada hari itu adalah hari di mana menjadi kegiatan pamungkas BEST 2009/2010. Kegiatan yang menjadi penutup kegiatan-kegiatan yang telah kami laksanakan sejak tahun 2009 dari mulai kegiatan Iedul Adha dan sampai hari itu tiba. Entah kenapa ada rasa sedih yang mendera dalam hati kami, khususnya kelas sembilan. Sejarah manis yang telah kami torehkan selama kurang lebih setahun di best akan segera berakhir, episode-eposide itu kini telah mencapai puncaknya. Kami tak akan pernah melupakan segala yang telah kami catat dan ukir dalam tiap memori ingatan kami tentang apa yang telah terjadi dan kami lakukan selama setahun di BEST.

Banyak hal yang terjadi, banyak cerita tercatat, banyak kenangan tak terlupakan yang membuat kami tersenyum bahkan menangis. Semua itu adalah bagian dari garis takdir yang telah Allah berikan untuk kami dan sungguh kami sangat menikmatinya. Kami pasti akan selalu ingat bagaimana kami bekerja, bagaimana kami membuat sebuah agenda, bagaimana kami rapat, bagaimana kami mengeluh, bagaimana kami semangat, bagaimana kami kecewa, bagaimana. dan .bagaimana.... dan banyak hal lain yang kami perbuat yang tujuannya adalah agar bagaimana mereka (kepala sekolah, guru-guru, orang tua, teman-teman) bangga dengan kami dan yang terpenting adalah bagaimana keberadaan kami bermanfaat bagi mereka. Tentunya itu semua adalah sarana bagi kami beramal untuk Allah, karena kami sadari bahwa kerja-kerja kami itu adalah bagian dari ibadah untuk Alloh Swt.

Cerita itu pasti akan berakhir dan kami harus membuat cerita-cerita kehidupan kami berikutnya dengan episode-episode yang lebih baik dan membuahkan kebaikan. Setahun atau dua tahun  di BEST buat kami cukup untuk menjadi  bekal kami berorganisasi. Kami jadi bisa memahami karakter tim kami, kami bisa memahami betapa sulitnya mengatur orang lain atau membuat agenda yang memakan biaya yang tidak sedikit. Kesabaran dan pengorbanan kami diuji di sini, berbahagialah bagi kami yang telah menunaikan amanah ini dengan ikhlas, semangat dan all out karena kami yakin ketika kita melakukan banyak maka akan dapat banyak, ketika bekerja baik maka akan mendapatkan hasil yang baik juga. Allah tidak akan mungkin keliru dan salah menilai atas apa yang telah kami lakukan. Kami sama sekali tidak kecewa ataupun menyesal atas apa yang telah kami lakukan. Walaupun kadang-kadang itu berdampak pada pelajaran dan kekhawatiran orang tua.

Huufff... kadang-kadang kami tertawa, geli dan kadang-kadang bangga melihat pongah kami sendiri. Koq bisa ya anak SMP kayak kami rapat sampai sore bahkan mengambil jatah waktu liburan kami untuk membahas agenda yang belum kami urus sebelumnya. Padahal teman-teman yang lain mungkin tengah asyik dengan komputer dan gamesnya di rumah atau di warnet. Terkadang orang tua kami pun marah kepada kami karena sering pulang maghrib, bahkan ada yang sampai sakit karena tekanan yang begitu dahsyat memikirkan agenda yang masih sangat mentah. Atau ada cerita remaja yang kadang terselip yang menjadi bumbu-bumbu obrolan seperti saling "menjodohkan" antara ikhwan dan akhwat, antara satu departemen atau departemen lainnya. Atau antara BPH dengan BPH inti. Kami tahu itu memang adalah gurauan sampah yang tak berarti, tapi kadang-kadang itu kami jadikan untuk mencairkan suasana dan membuat suasana tidak BT. Karena kami yakin seyakin-yakinnya itu adalah perbuatan yang konyol dan norak bagi kami. Walaupun kami sadari di usia kami yang sedang menggebu-gebu dan ABG ini sesuatu bisa saja terjadi. Memang itu tantangan bagi kami untuk menjaga hati dan iman kami, karena sekolah kami di pisah antara ikhwan dan akhwat, sehingga rapat-rapat BEST kadang-kadang kaku dan monoton, tapi lambat-laun itu semua menjadi pelajaran bagi kami untuk merubahnya. 

Hiks..hiks..hiks.. tapi rapat-rapat itu tak mungkin kami alami kembali setelah masa amanah kami selesai, kami tak akan lupa bagaimana "aneh"-nya ketua kami ketika memimpin rapat aneh karena kadang-kadang ia serius tapi kadang-kadang seperti anak kecil yang lucu, bahkan kadang-kadang marah dan menurut sebagian akhwat "serem" bila kesel karena  berisik dan tidak bisa diatur. Tapi bagaimanapun ia adalah sosok yang luar biasa, tak salah BM memilihnya menjadi ketua. Pengorbanannya sungguh tidak bisa diragukan lagi. Dengan motor THUNDER dan  BEAT-nya ia jelajahi setiap tapak-tapak aspal jalanan untuk menjemput rezeki dana proposal, walaupun itu adalah tindakan yang kurang terpuji karena belum punya SIM...he..he..he. Tapi itu aturan manusia tidak dosa, rasul saja memerntahkan kita untuk belajar berkuda dan memanah sejak kecil, motor mungkin saat ini sama saja dengan kuda yang bisa mempermudah urusan...betul tidak? (ngeles.com)

Selain cerita tentang ketua kami adalagi cerita rapat tentang wakil ketua kami. Sosok yang satu ini juga kadang-kadang "aneh". Kalau diminta menggantikan rapat pasti pembahasannya lama, maklum beliau mempunyai bahasa verbal yang tinggi sehingga kadang-kadang susah di tangkap maksud dan arah tujuan pembicaraannya. Mungkin beliaulah sosok yang mendobrak kekakuan saat rapat, kemampuan berkomunikasi dengan akhwat menjadikannya sosok yang paling dekat dengan akhwat di sekolah. Sehingga lambat-laun pengurus yang lainpun mengikui jejaknya  untuk tidak kaku dalam berkomunikasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan BEST. Awas pak Waketu jangan mepet-mepet entar keserempet! He...he..he..

Cerita selanjutnya adalah tentang sekum kami..hmm..hmmm. Sekretraris Umum. Tugasnya apa sich? Sekum kami ini juga agak "aneh". Wong sekum kok jarang nyatat hasil rapat, kalau di minta buat proposal lamanya minta ampun akhirnya ujung-ujungnya yang lain yang buat. Tapi itulah organisasi, kita saling membantu bila yang lain membutuhkan bantuan. 

Adalagi cerita tentang Bendum kami..sosok yang kale ini ternyata pandai mengelola keuangan maklum lah wong abinya orang pajak. Baik banget kalau rapat sering disediakan makanan. Semoga nanti uang kasnya surplus.. ayo siapa yang belum bayar uang kas? Bayar ya sebelum nanti ditagih!

Sekarang kita simak cerita pengurus di departemen. Kami mungkin tidak akan menampilkan secara detail semuanya ya, karena keterbatasan kami mengingat dan merekam semua peristiwa yang terjadi. Departemen IPTEK.... Di sana sosok penggila kartun Jepang dan suka membuat gambar ini adalah sosok yang luar biasa. Tidak heran ia mendapat penghargaan "Inspiring Student" tahun ini. Ia adalah salah satu motor penggerak roda BEST. Banyak ide-ide segar yang ia berikan yang membuat BEST lebih hidup. Keahliaannya menggambar dan bermain dengan photoshop membantu kami dalam pembuatan spanduk dll. Selain itu juga ada sosok perempan kedua di IPTEK, sosok yang kalem dan murah senyum ini juga telah banyak memberikan kontribusi yang positif bagi kami, banyak kemudahan darinya yang kami rasakan, seperti pada saat kameranya rusak saat acara MOS. Setelah itu ada sosok ikhwan putih berkacamata di IPTEK. Di tengah kesibukannya di rumah ia masih menyempatkan waktu untuk beberapa kali terlibat dalam rapat dan kegiatan BEST. Sosok yang jago photography dan bermain games serta English ini cukup memberikan warna tersendiri bagi IPTEK. Sosok yang terakhir adalah sosok ikhwan kalem berperawakan tinngi, walaupun ia baru masuk kepengurusan BEST di tengah-tengah tahun, tapi cukup memberikan aroma dan greget di IPTEK.

Di Departemen Agama ada sosok yang mudah untuk di kenali cukup dengan memintanya mengumandangkan takbir dan tahi lalatnya yang katanya mirip Azzam KCB. Maka pasti kita akan mengenal sosok yang ceria ini dan sikapnya yang suka penasaran terhadap sesuatu, yang menjadikannya cukup disegani oleh yang lain. Ia adalah bagian penting BEST, ia selalu menemani para petingggi-petinggi BEST lainnya kemanapun mereka pergi, bahkan ketika mereka bimbel pun ia rela mengantar mereka karena disamping Bimbelnya ada warnetnya.... he.he. Di bawah kepemimpinannya DEPAG berhasil menyelenggrakan program Maulid degan sukses. Sosok yang kedua di DEPAG adalah sosok ikhwan yang kalem dan ramah. Sosoknya sangat disenangi oleh teman2nya, kontribusinya di BEST cukup baik, ia adalah salah satu kandidiat ketua BEST tahun depan. Sosok yang ketiga adalah sosok akhwat yang cukup kalem dan mempunyai banyak hafalan al-qur'an ini merupakan salah satu pengurus muda yang cukup aktif, ia juga merupakan salah satu kandidat ketua BEST tahun depan. Sosok yang terakhir adalah sosok yang mempunyai leadership yang tinggi buktinya 2 tahun bertutut-turut dipilih menjadi ketua kelas oleh teman-temannya. Tapi sayang beliau sudah tidak bersama kita lagi di Baitul Maal sekarang, tapi kami akan selalu ingat segala pengorbanan, kontribusi yang telah di berikan, semoga di sana engkau bahagia dan lebih baik lagi.

Departemen selanjutnya adalah Departemen Seni dan Olahraga. Di departemen ini dihuni oleh seorang  ikhwan yang kekar dan pemberani teman-temannya sering menjulukinya "si tangan kuli". Kontribusinya cukup menonjol, kerjanya ulet dan tangkas bila mendapat instruksi. Berikutnya ada sosok imut bergigi behel.. sosok yang selalu tersenyum ini cukup memberikan warna di Mensora semoga nanti bisa menjadi kandidat ketua BEST yach. Sosok yang lain adalah sosok seorang akhwat yang kuat dan lantang, ia pandai bermain anggar. Kontribusinya cukup menonjol di BEST terutama di kepanitiaan kegiataan. Sosok terakhir adalah sosok yang low profile, suka angot-angotan tapi aktif dan jarang absent rapat dan kegiatan.

Departemen berikutnya adalah Departemen Kedisiplinan. Departemen ini di gawangi oleh sosok ikhwan yang jangkung, kalem dan tidak pernah datang terlambat ke sekolah, sehingga tepat amanah ini diberikan kepadanya. Ia merupakan petinggi BEST yang selalu berdampingan dengan ketua BEST dan jajarannya. Sosok ikhwan yang kedua adalah sosok ikhwan yang selalu PD dan  berani tampil di muka umum, ia juga merupakan salah satu kandidat ketua BEST tahun depan. Sosok berikutnya adalah sosok akhwat yang mempunya tingkat PD yang tinggi juga, suka bertanya dan sopan ini adalah merupakan motor penggerak BEST banyak info-info skandal kasus siswa terungkap darinya. Yang terakhir adalah sosok akhwat yang mempunyai suara yang bagus kalo nyayi, ia adalah pengurus BEST yang berdomisili paling jauh, ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang ke sekolah dengan kereta api.

Departemen berikutnya adalah departemen lingkungan hidup. Sosok yang pertama adalah sosok yang bijak dan murah senyum, ia disegani dan dihormati oleh teman-temannya, ia merupakan salah satu motor penggerak BEST. Sosok berikutnya adalah sosok paling kalem di BEST dan selalu berpenampilan rapih. Tidak banyak bicara tapi mudah untuk menerima instruksi. Sosok ketiga adalah sosok akhwat yang kritis, ulet dan pembelajar. Selalu juara di kelasnya membuatnya tidak terlalu lama untuk beradaptasi dengan hal baru yang di amanahkan kepadanya, ia juga adalah salah satu motor penggerak BEST. Dan salah satu yang sering ditegur orang tuanya karena pulang sore.he.he. sosok terakhir ini adalah sosok yang kalem dan cuek. Sulit untuk membaca pikirannya. Sosok akhwat jangkung ini cukup mewarnai BEST.

Departemen terakir adalah departemen Ekonomi dan Sosial. Digawangi oleh sosok akhwat yang sering curhat di FB ini, sosok yang kadang-kadang tertawa, senyum, kadang-kadang mengeluh, nangis dan tidak bisa tidur kalo ada tugas yang belum ia selesaikan. Tapi dengan semangat yang ia miliki akhirnya ia bisa membuktikan diri bahwa ia bisa, dan itu terbukti dengan suksesnya penyelenggaraan Baksos Ramadhan. Sosok berikutnya adalah sosok yang paling ganteng di DEPSOS ini, ketawanya yang unik membuatnya kelihatan awet muda..ha..ha. ia adalah salah satu kandidat ketua Best tahun depan. Berikutya adalah ia adalah sosok yang paling kalem di akhwat tapi kalau nulis status di FB..beeh..dalam banget maknanya. Kontribusinya cukup positif di BEST. Sosok yang terakhir adalah sosok yang tidak asing bagi para pencinta film KCB. Iya betul ia adalah salah seorang artis KCB (bangga.com). berkat pengalaman-pengalaman yang dimilikinya ia mampu mewarnai BEST dengan ide-ide segarnya. Ia juga kandidat ketua BEST tahun depan.....

Itulah kami yang tergabung dalam BEST 2009/2010. Mohon maaf kepada teman-teman apabila ada yang kurang tepat kami mendeskripsikan teman-teman semua, karena kami menilainya  hanya secra subjektif. Semoga kenangan-kenangan indah dan bermakna itu akan kami  kenang selalu dan akan kami jadikan pengalaman berharga untuk kehidupan kami selanjutnya. Waktu sudah berlalu dan tidak mungkin akan kembali. Mungkin di antara kami ada yang ikhlas ada yang kurang ikhlas, ada yang setengah-setengah ada yang all out, ada yang berkorban ada yang terkorban. Semuanya kembali kepada diri kami. Semoga dapat menjadi pelajaran untuk hari esok yang lebih..baik... biarlah air mata yang menetes ini menjadi saksi betapa kami selalu merindukan saat-saat itu. Saat kami disibukan dengan rapat, saat kami harus capek dan lelah untuk mensukseskan program, saat kami harus pulang sore bahkan malam, saat kami dipandang sinis oleh teman-teman yang bukan best, saat kami harus menempuh perjalanan jauh untuk sekedar mendapatkan dana, saat kami membagikan proposal, saat kami bingung, saat kami marah, saat kami kecewa...saat-saat itulah yang pasti akan kita rindukan...semoga Allah SWT membalas setiap apa yang telah kita lakukan dengan sebaik-baik balasan. Dan kita bisa bertemu kembali di surga-Nya kelak... terus berjuang kawan..UJIAN NASIONAL menanti kita di depan. Kita buktikan organisasi bukan menjadi penghalang kami untuk berprestasi!!!! Allohu akbar...

Wassalam......
Tangsel. 17 Agstus 2010 pukul 14.00 WIB- 16.45 WIB