Tampilkan postingan dengan label SBMPTN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SBMPTN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juli 2014

Keputusan Allah yang Lebih Indah :)

H+1 pengumuman SBMPTN nih! Terus gimana hasilnya?

Jam 5 sore lewat dikit aku udah coba buka website pengumuman, tapi lamaaa banget koneksinya. Akhirnya pindah ke web pengumuman yang di ITB. Rasanya waktu itu seolah-olah aku cuma daftar di ITB, jadi aku cuma fokus ITB aja hehe.

Setelah ku-input nomor peserta dan tanggal lahirku, ALHAMDULILLAH ada ucapan selamat di situ. Aku udah seneng ngira aku dapet ITB, tapi begitu ku-scroll webnya aku bukan dapet di FSRD ITB.

Tuh. Ternyata aku dapetnya di pilihan kedua, Ilmu Komunikasi UNPAD.
Jujur pas pertama lihat bingung mesti ngerasa gimana. Aku resmi gagal masuk FSRD, jadi ada rasa kecewa. Tapi aku berhasil masuk ke prodi yang kalau menurut statistik tahun lalu, peminatnya bisa lima kali lebih banyak daripada FSRD. Itu bagus 'kan? Harus disyukuri dong!

Aku sudah berdoa pada Allah supaya diberikan yang terbaik, dan inilah jawaban yang diberikan padaku. Sore itu, sambil berbuka puasa ummi-abi menyemangatiku. Mereka sempat tanya, "gak apa-apa di Unpad?" Aku jawab dengan segera "gak apa-apa."
Ibuku lalu cerita kalau sebenarnya beliau agak takut aku benar-benar masuk seni rupa. Di seni rupa banyak anak-anak unik, beliau takut aku mengalami degradasi di sana. Kalau di prodi lain, mungkin bakal lebih baik.
Ibuku juga menghibur, anak komunikasi media itu bakal jadi managernya, sedangkan anak desain komunikasi visual justru malah bakal jadi bawahannya. Bener juga 'kan? Ilmu yang kudapat selama les gambar juga nggak akan sia-sia kok.
Ortu juga merasa biaya kuliah plus biaya hidup di Unpad lebih murah daripada di ITB. Terus kalau mereka mau menjenguk aku di kost nanti sekaligus adikku Hafi di Kuningan, bakal lebih gampang karena Jatinangor-Kuningan itu searah, sedangkan kalau di ITB bakal agak lebih jauh karena harus mampir ke Kota Bandung.
Lebih banyak nilai plusnya kan ternyata? Akhirnya aku yakin kalau ternyata Unpad memang lebih baik untuk aku dan keluarga. Di last minute menjelang pengumuman, aku memang berdoa supaya aku dimasukkan ke universitas yang terbaik juga bagi orang tuaku.

Itu faktor keluarga. Ada lagi faktor temen-temen. Waktu aku kelas 10 ada kakak kelas 12 di Keputrian yang lumayan akrab sama aku, gara-garanya kami sama-sama suka anime (lol). Kakak itu akhirnya lulus dan kuliah di Ilmu Komunikasi Unpad. Setiap kali datang main ke sekolah atau acara-acara Keputrian lainnya, kakak itu selalu cerita-cerita padaku tentang kampusnya, tentang prodinya, tentang kuliahnya... Banyak deh. Beliaulah faktor utama aku memilih Ilmu Komunikasi Unpad sebagai salah satu pilihanku. Semoga kami bisa saling bantu nanti hehee...

Sepupuku yang paling tua juga sekarang lagi kuliah tahun ketiga di Teknik Geologi Unpad. Udah gitu ternyata banyak banget temen-temenku yang juga keterima di Unpad, malah ada sekitar dua orang yang satu prodi denganku. Salah satunya teman sebangkuku yang cantik waktu kelas 11 (ehhee). Temen-temen yang di situ sebagian besar juga lumayan kompatibel sama aku ini, jadi seneng deh, alhamdulillah ^^

Karena dulu ngeliatnya ITB terus, aku gak tahu apa-apa tentang Unpad. Jadi aku baru mulai cari informasi sekarang. Pas kulihat foto kampusnya, ternyata lebih keren dari ITB (ternyata ya). Masjidnya juga... 

... Aih, tampaknya keren banget. Pasti gabung kerohanian Islamnya deh~!

Alhamdulillah juga, ada adek alumni SMP-ku yang baru lulus, bilang kalau orang tuanya punya kost khusus akhwat di deket Unpad. Sekali lagi tuh, khusus AKHWAT! Enak kan? Skarang aku sama ortu masih tanya-tanya ibu kostnya. Kalo memang tempatnya bagus, kenapa nggak?

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Rasanya sekarang tuh ibarat aku minta melon, eh dikasihnya semangka. Minta yang besar dan kelihatan bagus, eh dikasih yang lebih besar, lebih bermanfaat dan lebih menyegarkan. Allah memang tahu yang terbaik! ^^

Mungkin Allah tahu aku punya potensi lebih besar di ilmu komunikasi. Waktu ujian keterampilan psikotesku memang gak memuaskan, gambar-gambar lainnya juga kayaknya tipe yang bisa lolos bisa nggak gitu. Aku belum tahu berapa peminat FSRD tahun ini, tapi tahun lalu aja peminatnya lebih dari 1000, dengan daya tampung sekitar 90 orang. Ilmu Komunikasi Unpad, yang tahun lalu punya daya tampung hampir sama dan peminatnya sekitar 5000 orang, malah bisa kumasuki. Apalagi baik Unpad maupun prodi Komunikasi sama-sama jadi pilihan favorit tahun ini. Aku malah lolos. Jujur memang waktu SBMPTN tulis aku bisa ngisi lumayan banyak, sekitar 8-14 soal per pelajaran soshum, matdasnya juga walaupun nggak banyak, tetep lebih banyak dibanding waktu Try Out. Seolah-olah secara nggak langsung Allah bilang padaku, ilmu dan kecerdasanku sayang kalau tidak digunakan lebih sering.

Sekali lagi, Alhamdulillah. Aku udah sama sekali nggak kecewa akan kegagalan masuk FSRD, aku malah makin bersyukur diterima di Unpad. Sekarang pun aku masih berusaha untuk semakin menyukai Unpad. Bismillah! Semangat kuliah! 

Pramuda 2014, 
Fildzah Nur Fadhilah


Selasa, 15 Juli 2014

Renungan H-1 SBMPTN

Assalamu'alaikum, di sini Fildzah...

Apa kabar semuanya? Masih hangat dalam suasana Ramadhan yaa...

Tak terasa sudah hampir sebulan berlalu setelah aku ikut tes SBMPTN. Aku gak deg-degan nunggu pengumuman, tapi nggak bisa bilang nggak takut juga. Pastinya adalah rasa cemas begini. Pengumumannya besok, 16 Juli pukul 18.00. Hmm.

Sejujurnya aku percaya diri bakal lolos. Tapi aku gak tahu bakal lolos di pilihan berapa. Aku sudah berjuang untuk ini. Aku nggak tahu usahaku keras atau nggak, tapi aku sudah usaha. Tinggal tunggu hasil.

Aku tahu mungkin belakangan ini sikapku gak terlalu baik, walaupun secara ibadah agak meningkat. Aku masih egois, masih asyik dengan dunia sendiri. Kuliah di manapun nanti, aku harus memaksa diriku untuk lebih peduli pada orang lain.

Galau amat yak. Random dikit yuk, optimis! Kuliah di manapun aku harus usaha lebih keras lagi dibanding waktu SMA. Ini kedengerannya ngeri sih, kesannya Kuliah bakal berat banget.

Ada hikmahnya nih lama nunggu pengumuman. Aku jadi tahu kalau jadi pengangguran itu nggak enak. Rasanya sehari-hari aku cuma sholat, makan, tidur, tilawah, nonton anime... Begitu-begitu terus. Nggak guna banget haha. Eh aku gambar juga kok, sama lagi mencoba belajar ulang bahasa Arab sama Jepang sendirian (entah ada progres atau nggak).

Kalo dipikir baik-baik, akun-akun medsosku jadi membagi-bagi kepribadianku nih. Di blog aku lebih sering curhat dan cerita pengalaman, di twitter aku jadi militan, di tumblr aku jadi otaku parah. Hahahaha....

Bismillah ah. Kalo besok diterima, bersyukur, jangan sombong. Kasihan kalo ada temen yang nggak dapet. Syukuri apapun yang didapat. Kalo nggak diterima (semoga nggak gini), yakinlah kalau Allah punya rencana yang lebih baik. Mungkin aku bakal daftar swasta, entah sekarang masih ada yang buka pendaftaran atau nggak.

Oiya, kemarin aku juga ikut seleksi beasiswa Monbukagakusho, Kementerian Pendidikan Jepang. Aku daftar untuk program S1, Alhamdulillah tanggal 1 Juli kemarin aku dinyatakan lolos berkas. Aku ikut ujian tulis tanggal 7 Juli di pusat studi Jepang Universitas Indonesia, tapi kemungkinan aku lolos kecil. Aku bisa ngerjain ujian Bahasa Inggris, tapi cuma bisa ngerjain setengah ujian Matematika. Pengumuman tesnya tanggal 12 Agustus nanti, itu juga masih akan dipanggil lagi untuk tes wawancara.

Semangat, Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. Optimis lolos. Bismillah. Kudoakan juga teman-temanku yang ikut tes turut lolos di universitas impiannya.

Semangat khatam,
Fildzah Nur Fadhilah.

Jumat, 27 Juni 2014

Ujian Keterampilan SBMPTN 2014

Kali ini saya mau bagi2 pengalaman waktu ikut ujian keterampilan di ITB hari Kamis, 19 Juni 2014 yang lalu. Aku milih dua prodi yang mengharuskan ikut ujian keterampilan seni rupa, yaitu Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB di pilihan pertama dan DKV Universitas Sebelas Maret di pilihan ketiga. Dengan berbagai pertimbangan dan saran dari orang lain, aku dan keluarga sepakat untuk memilih lokasi ujian keterampilan di ITB, walaupun sebenarnya rumah kami di Jakarta.

Ada beberapa alasan kenapa aku memilih ujian di ITB :
- Kakak-kakak kelasku yang diterima semua ujian di sana
- di ITB gak ada ujian pengetahuan umum
- menurut guru bimbel Seni rupa, ujian di ITB lebih terorganisir
- walaupun pingin masuk FSRD dari kelas X, aku sama sekali belum pernah ke ITB
- sekalian pergi menjenguk adikku yang masuk pondok pesantren di Kuningan, Jawa Barat.

Untuk tahun ini, ITB ngadain ujian keterampilan dua hari, tanggal 18 dan 19 Juni. Tiap peserta cuma disuruh milih salah satu hari aja, terserah yang mana. Yang penting di kartu peserta SBMPTN tertulis kalau lokasi ujian keterampilannya di ITB. Tinggal registrasi di ITB pada pagi hari di hari ujian yang diinginkan. Registrasi dibuka pukul 09:00 sampai 11:00, sementara ujiannya sendiri dimulai pukul 13:00.

Karena aku dari luar kota, aku milih ujian hari kedua, tanggal 19 Juni. Aku sekeluarga berangkat tanggal 18 Juni sekitar jam 5 sore dari Jakarta. Rencananya kami menginap di Bandung semalam. Karena kalau berangkat pagi-pagi saat hari H, rasanya terlalu berisiko, sekalipun registrasi baru ditutup jam 11 siang.

Registrasi Peserta

Ditemani ayahku, sekitar jam 09.30 di hari ujian aku registrasi di ITB. Panitia udah bikin tenda khusus buat registrasi, dan meja registrasinya pun banyak banget, dipisah-pisah berdasarkan absen nama. Kelihatan banget kalo panitia siap menghadapi keramaian. Setelah registrasi, oleh panitianya aku disuruh nunggu pengumuman penempatan ujian jam 11 nanti. Maksudnya biar tahu aku ujian di Aula Barat atau di Aula Timur, terus aku masuk ke kelompok berapa.

Sambil nunggu jam 11 aku jalan-jalan aja sama ayahku keliling ITB. Oiya, informasi aja, pas hari ujian itu banyak banget pedagang yang menjual triplek ukuran A3 dan A2 buat alas gambar. Mereka juga menjual pensil berbagai ukuran ketebalan dan (katanya) soal-soal ujian keterampilan tahun lalu. Tapi aku nggak beli apa-apa. Aku nemu triplek ukuran A3 di pojokan tangga, dekat pohon, nggak terlalu mulus dan agak bengkok. Kupikir dibuang, jadi kuambil aja (parah banget emang). ( ̄(工) ̄)
Tapi setelah kuukur, alasnya nggak sebesar A3, dia agak lebih kecil :v
Aku nggak beli pensil karena memang udah punya. Aku juga nggak beli soal karena merasa aku sudah cukup banyak latihan. Pokoknya Bismillah aja.

Oh iya info lagi, peserta ujian yang lulus tahun ini semuanya pakai seragam putih abu-abu, sementara lulusan tahun lain pakai baju putih-gelap. Jadi kelihatan siapa yang lulusan tahun ini dan siapa yang bukan. Hampir semua peserta nunggu pengumuman penempatan di ITB, jadi di sekitar tempat registrasi bakal banyak banget peserta yang duduk-duduk. Udara di ITB hari itu juga sejuk, nyamanlah untuk menunggu.

Btw soal teman, yang aku tahu teman sekolahku yang juga mau masuk FSRD nggak ada yang tes di Bandung, tapi ternyata aku ketemu juga satu orang. Dan malah aku baru tahu dia jadi daftar ke FSRD (disampaikan dengan rada shock). Selebihnya sih, aku ketemu beberapa teman satu lesku di Villa Merah Gandaria. Enak juga ada orang yang udah dikenal, jadi nggak terlalu panik hehe.

Jam 11 tiba, tempat ujian pun diumumkan. Ternyata semua peserta yang ikut ujian hari ini ditempatkan di Aula Barat, karena Aula Timur dipakai untuk acara lain. Berarti peserta hari kedua nggak terlalu banyak, ya? Nggak bisa bayangin gimana ramenya ujian hari pertama, toh yang dipake sampe dua aula.

Di pengumuman itu, tertulis nomor peserta, namaku, lalu tulisan "Aula Barat 3". Artinya aku ujian di Aula Barat kelompok 3.


Pelaksanaan Ujian

Menjelang ujian aku terus berdoa agar aku dimampukan menjawab soalnya. Selepas melihat pengumuman, aku dan ayahku kembali ke penginapan sebentar untuk menjemput ibu dan adik-adikku sekaligus check-out. Setelah itu kami sholat dzuhur dan kembali lagi ke ITB. Kali ini ibuku yang menemaniku di dekat Aula Barat, menunggu ujian mulai. Ternyata, walaupun di jadwal tertulis ujian mulai jam 1 siang, 30 menit sebelumnya para peserta sudah diizinkan masuk. Aku pamit pada ibuku masuk ke ruang ujian. Yah, pamit yang mengharukan lagi, nggak beda dengan waktu ujian tulis. Aku lalu masuk ke Aula Barat. Penjaga di situ lalu menyuruh para pengantar untuk "menjauh dari Aula Barat" :|
Jujur, salah satu penyesalanku hari itu adalah aku nggak minta doa restu dulu dari ayahku. Padahal beliau yang secara fisik paling lelah karena mengantarku ke sana-sini selama SBMPTN. Tapi aku tahu beliau mendoakanku. Bismillah. Aku bisa. Orang tuaku sudah mengikutkan aku di bimbel seni rupa sejak September tahun lalu, aku sudah latihan, aku sudah berusaha, dan bismillah, aku sudah siap. Be happy, be happy, keep calm and be happy. Kalau menggambar harus bahagia, 'kan?

Di dalam Aula, kursi-kursi sudah diatur sedemikian rupa membentuk beberapa lingkaran. Satu lingkaran mungkin ada sekitar 15 kursi. Inilah yang dimaksud kelompok. Aku lekas menghampiri kelompok ketiga. Masih sepi, baru beberapa orang yang sudah ada di kelompokku. Justru ini kesempatan bagus, soalnya di tengah-tengah kami sudah terletak sebuah botol air mineral, dua buah pisang, setengah potong jeruk bali dan kardus yang biasa dipakai untuk nasi kotak. Ini pasti untuk ujian gambar stillife/objek kan? Kalau masih sepi begini, aku bisa milih sudut pandang di mana benda yang paling susah kugambar nggak terlalu kelihatan. Hehee (ini namanya strategi atau licik? -_-)

Panitia mulai mengumumkan untuk menyiapkan alat tulis dan mempersilahkan bagi yang ingin ke toilet terlebih dulu. Di sinilah kesalahanku. Aku nggak ke toilet sebelum ujian dimulai. Panitia juga ternyata menyediakan alas gambar ukuran A2 bagi yang tidak membawa. Setelah ragu cukup lama aku memutuskan untuk memakai alas dari panitia, karena alas-alas yang kubawa terlalu besar dan terlalu kecil, dan aku nggak mau gagal karena masalah teknis.

Setelah semua siap, panitia mulai membagikan kertas A3 dan soal pertama : gambar objek yang ada di depanmu. Waktunya 60 menit. Ujian dimulai tepat pukul satu siang. Waktu itu aku cuma berpikir satu hal : aku suka menggambar stillife. Iya, belakangan ini aku jadi suka menggambar stillife. Memang rasanya jengkel di awal karena bingung mana dulu yang harus digambar, tapi setelah selesai, rasanya ada kepuasan tersendiri.
Semua yang kupelajari selama bimbel seni rupa rasanya berguna. Aku harus menggambar dengan cepat, aku nggak boleh cuek dengan waktu. Aku nggak boleh cuek akan para peserta yang duduk di sampingku, tapi juga nggak boleh jatuh mental karena mereka. Aku melanggar ajaran bimbelku yang melarang memakai penghapus, karena aku menggambar kesalahan yang fatal.
Waktu 60 menit habis dan gambarku terbilang selesai, Alhamdulillah. Walaupun sebenarnya aku masih ingin menambahkan lagi kalau masih ada waktu. Jika dibandingkan dengan gambar peserta di sampingku, gambarku kelihatan bagus, tapi gak boleh terlalu percaya diri kan? Ini baru satu kelompok. Satu kelompok aja pasti ada sekitar tiga atau lebih orang yang gambarnya bagus dan SELESAI. Gambar bagus pun belum tentu diterima. Bismillah aja. Tetap optimis.

Selanjutnya, soal yang kedua : gambar suasana/ekspresi. Di soal kedua ini peserta diberi pilihan untuk memilih anak soal, yang pertama suasana di tempat makan, kedua suasana pulang sekolah, ketiga kalau gak salah suasana konser musik. Aku milih soal yang kedua. Waktu menggambar soal ini 90 menit. Barangkali aku menggambar rada ganas. Itu barangkali ajaran bimbelku lagi. Aku nggak boleh mikir lama-lama apa yang harus kugambar. Pikirin ide utamanya aja, terus gambar. Ternyata bener, sambil gambar, ide-ide mengalir keluar. Sambil terus menggambar, jangan mengabaikan waktu. Cek terus waktunya tinggal berapa menit. Lihat peserta-peserta lain, kalau kamu lihat gambar mereka udah penuh, kamu harus gambar lebih cepat lagi. Yang penting gambar kamu informatif dan selesai. Selesai, selesai, selesai.
Gila. Subhanallah walhamdulillah, aku yang paling susah gambar cepat ini ternyata bisa selesai gambar suasana di kertas A3 dalam 90 menit. Gambarku penuh, hampir semuanya diarsir. Walaupun seperti biasanya garisku gak setebal orang-orang lain. Gambarku selesai. Ideku lumayan. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... ヽ(;▽;)ノ 

Di jeda istirahat soal kedua dan ketiga, aku menyempatkan diri ke toilet. Menurut perhitunganku masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum soal ketiga dimulai. Ternyata di toilet ngantre sekitar 5 menit. Aku baru masuk ke aula lagi telat beberapa detik dari perkiraanku dimulainya soal ketiga. Tapi ternyata ujian sudah dimulai. Panitia sepertinya sengaja mulai lebih cepat.

Soal ketiga itu semacam psikotes. Tapi ternyata soalnya berbeda jenis dengan yang selama ini kupelajari. Soalnya beda. Beda banget mungkin. Gara-gara aku telat masuk, aku ketinggalan waktu untuk membaca petunjuk soal. Itu fatal banget kalau untuk ujian psikotes. Entah karena panik atau memang sebenarnya demikian, kata-kata di halaman petunjuk terasa ambigu buatku. Agak sulit dicerna. Psikotes itu cuma makan waktu 20 menit, sehingga ujian yang harusnya selesai pukul 17:00 jadi selesai 30 menit lebih cepat.

Setelah psikotes dikumpulkan, aku masih duduk di kursiku. Untuk soal pertama dan kedua aku bersyukur bisa menyelesaikannya dengan baik. Tapi selebihnya aku pasrah. Terutama untuk psikotes.
Aku sempat ngobrol dengan teman satu bimbel seni rupaku yang ternyata ada di kelompok sebelah. Ternyata keluhan kami sama : psikotes yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, juga petunjuk yang ambigu. Kami pasrah aja, juga mendoakan satu sama lain supaya lolos. Aku juga ngobrol sama teman satu sekolahku itu. Jujur baru kali itu aku ngobrol akrab sama dia. Soalnya di sekolah kami nggak dekat dan sama-sama pendiam hahaa...

Oke, terlepas nanti tanggal 16 Juli aku dinyatakan lolos atau nggak, aku senang bisa berkesempatan ikut ujian di sini. Aku akan tetap menggambar apapun hasilnya. Sekarang aku tinggal berdoa supaya aku dan teman-teman lolos SBMPTN dan mendapat hasil yang terbaik. Aamiin.

Terakhir, itu foto di samping Aula Barat, sebelum ujian mulai hehe.


Senin, 23 Juni 2014

Sharing aja : Ujian Tulis SBMPTN 2014

Hari Selasa, 17 Juni 2014, aku ikut SBMPTN Tulis. Berusaha kembali mengejar kampus idamanku. Agak sedikit kurang beruntung, aku dapat tempat ujian di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, jauh dari rumahku yang berada di pojokan Jakarta Selatan. Karena suatu faktor, aku nyaris telat sampai di lokasi ujian. Alhamdulillah nggak telat.

Gugup? Jelas. Aku takut gagal lagi. Tapi aku juga berusaha keras untuk tenang.
Aku menghibur diri, bahwa seperti yang pernah dibilang guru bimbelku, persiapan SBMPTN itu bukan 8 minggu ataupun setahun. Tapi tiga tahun sejak awal kita masuk SMA. Aku nggak tahu usahaku belakangan ini keras atau nggak. Tapi aku nggak terima kalau usahaku selama SMA ini dibilang gak keras. Setiap hari aku pergi karena kegiatan sekolah, bimbel, atau mentoring. Aku jarang libur. Nggak ada hari tanpa aku pergi keluar rumah. Tindakanku pasti berarti, ilmuku pasti nggak sia-sia.

Waktu mau pamit berangkat ujian, ibuku mendoakan sambil mengecup pipi kiri dan kananku. Beliau mendukungku, sangat mendukung. Rasanya seolah doa beliau mengalir padaku.
Saat pamit masuk ruang ujian, ayahku pun mengecup kepalaku sambil mengucapkan kalimat dukungan. Kurasa hari itu hari yang akan selalu kuingat. Jarang-jarang orang tuaku begini. Aku yang selama ini takut mereka tak mendukungku, kini tenang dan percaya diri.

Bismillah, aku mulai ujian. Tes Kemampuan dan Potensi Akademik menjadi yang pertama kuhadapi. Aku bisa mengerjakan lumayan banyak. Manajemen waktuku juga tak seburuk waktu Try Out di bimbel. Aku pasrah. Aku sudah mengerjakan yang aku bisa.
Berikutnya tes Sosial dan Humaniora. Aku mengerjakan sejarah 8 soal, sosiologi 14 soal, serta ekonomi dan geografi masing-masing 11 soal, dari total soal tiap pelajaran 15. Lumayan banyak, Alhamdulillah. Terutama sejarah. Biasanya kalau Try. Out aku hanya bisa mengerjakan sekitar 4 soal.
Tapi hasil SBMPTN ini gak bisa ditentukan dari banyaknya soal yang dikerjakan saja. Belum tentu poin yang didapat lebih besar. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap bisa memperoleh hasil yang terbaik.

Secara umum, Alhamdulillah SBMPTN tulis hari ini lancar. Alhamdulillah aku nggak ketinggalan barang apa-apa hari itu. Alhamdulillah ayahku bersedia mengantar-jemput ke tempat ujian, bahkan menunggui aku. Alhamdulillah saat aku mampir ke rumah eyang di perjalanan pulang, beliau pun bilang kalau beliau mendoakanku.

Hehe, Alhamdulillah, itu pengalamanku tentang ujian tulis SBMPTN. Yang mau tahu kisahku di ujian keterampilan, lihat post selanjutnya, ya. (o^^o)

Yang sedang menunggu jawaban,
Fildzah Nur Fadhilah