Jumat, 16 Agustus 2013

Honestly Chapter 4



4.        Next Inside

"Kenapa tadi kau tidak menungguku di dekat mesin penjual seperti biasa!?"
"Maaf, kemarin malam ibumu  menyuruhku menunggu di depan konbini* samping apartemenmu itu lewat SMS," jawab Henji berusaha menjelaskan pada Michisa. "Malah sebenarnya beliau memintaku menunggu dari depan apartemen kalian. Tapi aku tahu kau tidak akan suka itu, makanya aku bilang pada beliau kalau aku akan menunggu di depan konbini saja. Aku minta maaf."
Michisa menepuk keningnya kesal. Ibunya benar-benar berhasil mengerjainya. Ia kaget bukan main melihat Henji tiba-tiba muncul saat ia baru berjalan beberapa langkah dengan rambut kacau dari depan komplek apartemennya. Padahal Henji biasanya menunggu di perempatan yang berjarak 15 meter dari konbini itu.
"Kau tahu tidak?! Kau tidak harus menuruti semua permintaan ibuku!! Kau bisa menolak kalau memang tidak mau!!"
"Aku minta maaf," Henji menunduk menatap jalanan. "Saat kutanya pada ayahku, beliau bilang orangtuamu sangat baik padanya. Katanya ayahmu adalah salah satu teman terbaik yang ia punya. Aku hanya ingin ikut membantu ayah membalas budi yang ia terima."
Michisa terdiam sesaat sampai akhirnya berkata,"ayahku berteman dengan ayahmu?"
Henji agak terkesan dengan perubahan wajah Michisa yang tiba-tiba, tapi ia tetap menjawab, "ya, begitulah. Ibumu memberitahu aku soal itu saat aku pertama kali ke apartemenmu. Ternyata benar kalau kau tidak tahu."
Michisa mengangguk pelan. Henji melihat sedikit rona merah di wajah Michisa. Saat itu Michisa tampak seperti memanggil kembali kenangan masa lalunya. Memang benar kata Nona Reina kalau Michisa sangat mengagumi dan menyayangi ayahnya.
"Ah, aku baru ingat sesuatu," Michisa akhirnya kembali memulai pembicaraan setelah terhanyut dalam pikirannya sendiri selama beberapa menit.
"Ada apa?" Henji meresponnya.
"Kau ini penggemarnya Tasuku, ya?"
Henji sempat kaget untuk sesaat, namun ia segera mencoba untuk kembali tenang, "eh.. Ya, begitulah. Bagaimana kau tahu?"
"Aku mendapatimu menyanyikan lagunya, dua hari yang lalu saat kau ada di pohon sakura. Aku kaget mendengar suaramu. Mirip sekali dengan dia."
Dalam hatinya, Henji panik. Ia khawatir Michisa telah menyadari identitas asli Tasuku. Kenapa ia begitu ceroboh bernyanyi di sembarang tempat begitu? Ia senang akan pujian tidak langsung dari Michisa, tapi ia juga waswas. Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja. "Ah, terima kasih. Kau sendiri.. Apa kau juga menyukai Tasuku?"
"Ehm, lumayan."
Mendengar jawaban langsung itu, Henji tertegun. Tak disangka ternyata Michisa adalah salah satu penggemarnya. Dan kalau dipikir-pikir, entah kenapa hari ini ia bisa mengobrol dengan Michisa seperti ini.
"Aku suka lagu-lagunya, membuatku terkenang banyak hal. Aku juga antusias akan single keduanya yang akan dirilis 2 minggu lagi."
Mendengar pengakuan Michisa, Henji tersenyum. Tasuku memang tidak akan muncul bahkan untuk menemui penggemarnya. Ia hanya bisa mendengar pengakuan penggemarnya sebagai Henji.
"Terima kasih. Tasuku pasti senang mengetahuinya."
"Kenapa berterima kasih padaku? Ah, hei, bicara apa saja aku barusan??!"

*****

Setelah menghela nafas panjang, Henji menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Barusan ia berkirim email dengan Suzuki yang ada di London. Suzuki bilang dia baik-baik saja. Mereka bicara cukup banyak hal, tapi pesan terakhir Suzuki membuat Henji termenung.
"Kuharap kau bisa mencari teman banyak selama aku tak ada, Henji."
"Teman banyak" katanya? Belakangan dia memang sering bersama Michisa, tapi Henji merasa kalau Michisa belum menganggapnya sebagai teman. Atau mungkin Henji saja yang belum berani mengakuinya. Entah kenapa Henji sulit menemukan teman, teman dalam arti yang sesungguhnya.
Henji berjalan menyusuri lorong. Ia lalu berpapasan dengan seorang siswa yang terlihat sangat repot dengan barang bawaannya yang banyak. Henji memberanikan diri menghampirinya.
"Permisi, ada yang bisa kubantu?"
Yang ditanya merespon dengan cepat, "ah! Terima kasih, tolong bawakan yang ini..." Laki-laki itu berhenti sesaat dan menatap Henji. "Eh? Tasunaga, ya?"
Henji agak terkesan mendengar namanya disebut. Ah, ternyata laki-laki ini Ishimoto Kazuto. Teman sekelasnya waktu kelas satu dulu.
"Kau ingat padaku?"
"Apa katamu? Tentu saja! Kita 'kan pernah sekelas!"
Henji tersenyum tipis, "terima kasih."
"Kenapa berterima kasih padaku?"
"Ah, tidak apa-apa. Ini dibawa ke mana, Ishimoto-san?"
"Ke ruang OSIS, tolong ya. Dan tolong jangan memanggilku Ishimoto-san, Tasunaga. Panggil Ishimoto saja. Bahkan kau boleh memanggilku Kazuto," ucap Kazuto sambil tersenyum ceria.
Henji balas tersenyum. Baru-baru ini Kazuto terpilih menjadi ketua OSIS SMA Nosaka. Sepertinya ia sangat sibuk. Apalagi festival olahraga juga akan diadakan akhir bulan ini.
"Heeh... Ternyata kau ganteng juga ya kalau tersenyum, Tasunaga. Badanmu juga tinggi~"
"Eh??" Wajah Henji berubah kebingungan. Ia tak menyangka kalau orang lain pertama yang memujinya tampan ternyata laki-laki. Jadi bingung harus merasa senang atau... apalah itu.
"Benar juga, ya. Kalau diingat baik-baik, ini pertama kalinya kita saling bicara. Bahkan mungkin ini kali pertama aku mendengar suaramu," ucap Kazuto polos. "Habisnya dulu kau jarang bicara, jarang menegur, jarang ditegur, jarang ditanya, jarang bertanya, nggak pernah nyanyi... Syukurlah akhirnya sekarang kau bicara."
Kazuto terus mengajak Henji bicara sampai mereka tiba di ruang OSIS. Ia ramah sekali. Dia selalu tersenyum, ceria, tapi juga tetap berwibawa.
"Aku mengerti. Jadi kau ini sekarang kelas 2-5. Kudengar kau sepupunya Suzuki yang sedang pertukaran itu, ya?" Tanya Kazuto lagi sembari membetulkan kacamatanya.
"Ya, benar."
"Sepertinya setelah dia pergi kau jadi sendirian terus, ya?"
Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini Henji mengira tak ada seorangpun yang memperhatikan soal itu.
"Kau sadar, ya?"
"Tentu saja. Aku suka memperhatikan orang, apalagi teman-teman seangkatan kita. Itu kelebihanku."
Henji terdiam dalam perasaan kagum. "Kau memang hebat. Aku pergi dulu, ya, Ishimoto. Berjuanglah," Henji pergi meninggalkan ruang OSIS.
"Terima kasih, Tasunaga! Kapan-kapan boleh aku minta bantuanmu lagi?"
Henji tersenyum mengiyakan. Senang rasanya bisa bercakap-cakap dengan orang yang hebat seperti Kazuto.

*****

Sebentar lagi musim semi berakhir. Suhu mulai bertambah panas, pohon sakura juga mulai berguguran. Dan kini, hujan mulai sering turun. Benar-benar pertanda bahwa musim panas akan datang.
Bulan lalu, Henji menyiapkan single kedua Tasuku, Summer Alone, single musim panas. Single itu akan rilis dua minggu lagi dan akan dipromosikan mulai malam ini. Ada sebuah acara TV yang akan menayangkan potongan video klip single-nya itu.
Benar juga. Ngomong-ngomong soal video klip, tentu saja Tasuku juga tak pernah muncul di video klipnya. Selama ini video klip Tasuku selalu dibintangi oleh orang lain, di mana kisah dan skenarionya berupa film pendek yang diawasi langsung oleh pamannya sendiri, Sugawara Daiichi. Yang Henji tahu, ia hanya diperintahkan menyanyi, menulis lagu, dan berlatih. Soal lain diurus semua oleh pamannya.

Satu musim panas lagi datang
Sebulan penuh dengan keluarga
Namun kini, di pantai ini
Aku melihatmu sendirian

Kulihat dirimu dari jauh
Mengapa kau sendirian?
Tanpa teman atau keluarga
Menerawang laut biru
Adakah yang engkau tutupi?
Kau bisa cerita apapun
Kubayangkan diriku di sana
Berdiri tepat di sisimu...

Henji menggumamkan lagu barunya itu dengan perasaan santai. Ia bersandar pada pohon sakura tempat ia biasa menunggu Michisa. Entah kenapa pohon ini selalu membuat Henji merasa nyaman. Keheningan yang dibuatnya seolah meminta Henji bernyanyi, memperindah suasana. Membuatnya lupa bahwa bisa saja ada orang yang mendengarnya.

Kalau kau sendirian, datanglah
Aku akan menemanimu
Berada tepat di sisimu...
Berada tepat di sisiku...
Ini bukan lagi
Musim panas seorang diri

Tak terasa satu lagu telah habis disenandungkan Henji. Ia diam sejenak, menghela nafas panjang. Lalu ia menarik punggungnya dari pohon itu. Ketika ia menoleh ke belakang, ia mendapati Michisa di sana.
"Ha-Hanazawa-san!"
Michisa menatap Henji sejenak. Henji dibuatnya teringat peristiwa tadi pagi. Jangan-jangan sekarang Michisa makin mencurigainya.
Ah, tapi lagu itu 'kan belum dipublikasikan. Santai sajalah...
"Ehm, mau pulang sekarang?" Henji mencoba memecah kesunyian.
Michisa mengalihkan pandangannya ke jalanan. Tanpa menjawab Henji, ia menjauh dari laki-laki itu.

*****

"Kakak, lagu barumu akan ditampilkan di TV malam ini 'kan?" Tanya Riho sambil menyerahkan segelas jus apel.
"Iya, kau benar. Sekarang acaranya baru mau mulai. Aku sendiri juga mau lihat," jawab Henji. "Kau masih bisa merahasiakan Tasuku 'kan, Riichan?"
"Tentu saja. Kakak nggak usah khawatir, aku bisa mengerti kenapa Kakak nggak mau tampil di depan orang banyak."
Henji tersenyum. Walaupun Riho perempuan, Henji sangat akrab dengan adiknya yang satu ini. Mereka hanya berbeda dua tahun. Henji kelas 2 SMA, Riho kelas 3 SMP. Mereka sama-sama punya kesulitan dalam bergaul, sama-sama sulit berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga mereka. Karena itulah Henji dan Riho bisa betul-betul saling memahami dan saling mensyukuri keberadaan satu sama lain.
Henji dan Riho sangat bersyukur bahwa adik bungsu mereka, Harumi, tidak seperti kakak-kakaknya. Harumi sangat ramah dan pandai bergaul. Ia sering menceritakan saat-saat ia bermain dengan teman-temannya di sekolah. Bahkan nyaris tiap minggu ada temannya yang datang ke rumah. Sebenarnya kalau bukan ibu Henji yang mengajak dengan menawari temannya kue, mungkin tidak akan sesering itu sih.
Kalau Riho, pernah ia dua kali membawa teman pulang ke rumah. Tapi semua itu karena tugas kelompok. Rumahnya dipilih karena paling dekat dengan sekolah. Karena tugas kelompok, mereka nyaris tidak membicarakan hal-hal seperti girls talk sama sekali. Toh, Riho memang bukan teman akrab bagi rekan-rekan sekelompoknya.
Kalau Henji... Jangan ditanya, deh. Dia yang paling parah. Satu-satunya teman sekolah yang pernah datang ke rumah hanya Suzuki. Suzuki juga sebenarnya lebih tepat disebut sepupu daripada teman sekolah. Dulu, sebelum pindah rumah ke daerah sini dua tahun lalu, ada tetangga yang sempat akrab dengan Henji. Seorang laki-laki yang lebih tua 8 tahun darinya. Tapi karena pindah, mereka terpisah dan belum pernah bertemu lagi. Kabar terakhir yang Henji dengar, orang itu sudah menikah dan baru memperoleh anak pertamanya. Ia terasa begitu jauh dan sibuk.
Ya sudahlah. Orang tua Henji dan Riho sendiri juga tidak mementingkan berapa banyak teman yang mereka punya. Yang penting mereka bersikap baik dan tidak mengecewakan satupun teman yang ada. Dan sifat baik itu sukses dimiliki oleh mereka bertiga.

"Wow, ini sih luar biasa bagus, Kak!"
"Aku sendiri tak menyangka video klipnya sebagus ini! Paman memang hebat!"
"Pasti laku keras lagi! Laku! Kerja bagus, Kak!"
Henji dan Riho berceloteh ria di depan televisi malam itu. Untuk sejenak mereka lepaskan kesedihan dari sulitnya berteman, sebelum pergi sekolah lagi keesokan harinya.

Henji tak tahu bahwa di tempat lain ada yang menatap televisi dengan kecurigaan yang tuntas sudah. Bukti sudah sangat jelas. Tinggal memutuskan apakah orang itu akan memastikannya sendiri atau tidak.


_______________________________________________________________
konbini : toko 24 jam (convenience store), salah satu contoh nyata adalah L*wson.


- Bersambung ke Chapter 5 - 

Catatan Penulis :

 Terlambat lagi nge-postnya hehee. Mungkin ke depannya saya akan merilis 1 chapter saja perbulan, harap maklum karena sekarang saya kelas 12 SMA, tingkat akhir sekolah. Mohon maaf atas perubahan ini...
Ngomong-ngomong, akhirnya di chapter ini keluar tokoh baru lagi, Ishimoto Kazuto. Di chapter-chapter berikutnya juga akan ada tokoh-tokoh baru (pastinya). Sedang berusaha melanjutkan novel ini di tengah kesibukan. Semangat!!!

Selasa, 30 Juli 2013

Honestly Chapter 3



3.        And So on

"Tolong lindungi Michisa."
Dulu ia memang sempat berpikir untuk menolong Michisa. Ternyata sekarang malah ibu Michisa langsung yang memintanya untuk melindungi gadis itu.
Beliau terlihat begitu berharap.
Michisa yang sekarang juga tak bisa melakukan segalanya sendirian.
Dan tak ada seorangpun laki-laki di rumah itu.
Mereka butuh bantuan bukan?
Henji tertunduk dengan tangan terkepal. Ia membulatkan tekad dan menguatkan diri, "baiklah. Saya akan bantu."
Nona Reina mendongak senang, "really? Terima kasih banyak, Henji-kun! Hanya kau yang bisa kupercaya! Entah bagaimana aku harus berterima kasih!"
Henji hanya tersenyum saat Nona Reina menjabat tangannya. Tiba-tiba ia merasa seolah jadi menantu paksaan.
"Menantu paksaan".
Eh, benar juga.
Henji memang suka menolong orang, tapi kali ini berarti ia harus meladeni gadis kasar itu setiap hari. Bagaikan punya satu adik lagi yang harus diurus.
Ah, kenapa dia baru sadar sekarang...

Henji berjalan pulang ke rumahnya, masih terngiang akan kejadian di rumah Michisa tadi. Ia mencoba menghilangkan segala rasa keterpaksaan yang muncul.
"Henji, ingat ini. Seorang laki-laki diciptakan punya kekuatan fisik yang lebih daripada perempuan, dan kelebihan laki-laki itu harus dimanfaatkan dengan baik. Karena itu tolonglah dan lindungilah orang lain, terutama perempuan, minimal adik-adik dan ibumu. Tapi jangan menolong orang kalau kau merasa terpaksa. Kau harus tulus membantu."
Kata-kata ayahnya terus membayangi langkah-langkahnya pulang. Ayahnya polisi berpangkat cukup tinggi, orang yang mengabdi pada masyarakat. Sejak kecil ayahnya selalu menyuruhnya berbuat baik, mengistimewakan lansia, anak-anak dan wanita. Saat ia naik kelas 1 SD, ia mulai diajari berbagai seni bela diri. Semakin besar, Henji juga merasakan kepuasan tersendiri saat menolong orang. Berkat didikan sejak kecil itulah dirinya kini begitu suka membantu.
Kali ini pun ia akan berusaha membantu, walaupun ia seolah-olah menjadi guardian.

*****

"Menjaga teman?"
"Ya. Temanku akhir-akhir ini gampang sakit dan sering diganggu orang. Orang tuanya yang memintaku. Mungkin sekarang aku akan pulang lebih sore dari yang sebelumnya. Aku terlalu semangat menolongnya, maaf."
Nona Hinata, ibu Henji, menatap putra satu-satunya itu, "tak apa. Memang itu ajaran ayahmu. Lagipula kau sudah besar, bisa mengatur diri sendiri. Di rumah masih ada Riichan, kok."
Henji tersenyum mendengar kata-kata ibunya. Ia bertekad untuk tetap berusaha menghidupi rumah ini.
"Aku lebih senang karena akhirnya kau punya teman lagi, Henji," tambah Nona Hinata.
"Ya, kuharap aku bisa berteman baik dengan dia," Henji menanggapi, walaupun ia tahu itu akan sulit.

*****

Michisa menyusuri jalannya menuju sekolah. Ia mampir sebentar ke toko 24 jam untuk membeli bento* karena tadi tidak sempat memasak. Ibunya harus pergi duluan sementara ia juga terlambat bangun.
Setelah absen sakit selama 2 hari, akhirnya hari ini dia bisa masuk sekolah. Saat ia tiba di perempatan jalan, ia terkejut melihat seorang lelaki yang dikenalnya berdiri sendirian di sebelah mesin penjual otomatis. Tasunaga Henji.
Henji menyadari kehadiran Michisa, "selamat pagi. Kau sudah sehat?"
Michisa menatap Henji dari atas sampai bawah, "kau menunggu seseorang?"
"Nanti kujelaskan sambil jalan. Ayo pergi," Henji berkata demikian seraya berjalan.
"Oi!" Michisa menyusulnya dan bertanya dengan kesal, "kau menungguku, ya? Kenapa?"
"Ibumu belum bilang apa-apa?"
"Apa?" Michisa terlihat bingung, "bilang apa?"
Henji diam sejenak, lalu menjawab, "waktu itu ibumu minta aku menjagamu."
Michisa kaget, "apa?! Dan kau menerimanya?!"
Henji mengangguk dengan agak gugup. Sepertinya gadis di sebelahnya akan... sangat marah.
"BODOH!!!"
Langkah Henji terhenti mendengar bentakan itu, ia menoleh pada Michisa, menangkap sekilas kekhawatiran di wajah marah gadis itu.
"Tak apa, sudahlah."
"Apanya yang 'tak apa'?! Kau benar-benar bodoh!!!" Michisa terus membentak. "Untuk apa kau menerimanya?! Apa untungnya buatmu?! Memangnya kau siapa, hah?!"
Henji diam tertunduk, lalu menatap Michisa kembali, "aku hanya suka menolong orang. Ini untuk kepuasanku sendiri."
Michisa diam sejenak, "lalu bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu?" Suaranya tidak sekeras yang sebelumnya.
"Kau khawatir soal itu?" Henji berpaling ke jalanan dan tersenyum tipis. Pertanyaannya barusan membuat Michisa mengernyit tak jelas.
"Nggak, kok!" Michisa membantah dan mulai berjalan lagi, mendahului Henji. Henji mengikuti Michisa sambil tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa sikap gadis di depannya ini begitu lucu.
"Anggap saja aku bekerja pada ibumu, ya. Waktu utamaku bekerja adalah saat kau berangkat dari rumah sampai kau sudah pulang ke rumah. Mohon kerjasamanya."
Michisa hanya melirik Henji sekilas, lalu bertanya, "ibuku membayarmu?"
"Itu urusan aku dan ibumu. Kau tidak perlu tahu."
"Siapa juga yang mau tahu!" Michisa membuang muka. "Jangan dekat-dekat! Jangan dekati aku juga di sekolah!"
"Aku mengerti," Henji melangkah mundur agak menjauh. Gadis ini aktris junior yang sedang naik daun. "Kau tak terikat peraturan dilarang pacaran atau semacamnya seperti para idol kan?"
"Memang, tapi aku tak mau aku terekspos denganmu. Hei, kita sudah di dekat sekolah. Kalau pulang jangan tunggu aku di gerbang sekolah! Tunggu di dekat pohon sakura yang itu!" Michisa bicara dengan nada arogan sambil menunjuk pohon sakura di sebelah kanan jalan.
"Baiklah."
Mereka berdua berpisah di situ. Henji menatap Michisa yang pergi menjauh. Henji tahu sifat Michisa memang egois dan kasar. Sampai saat ini bukan egois yang parah sih. Seraya berjalan ke kelasnya, Henji merenungkan segala hal yang terjadi sejak ia mengantar Michisa pulang beberapa hari yang lalu.
Michisa cenderung menutup diri dan mengandalkan kekuatannya sendiri. Apartemen yang ditempati dia dan ibunya cukup sepi. Berarti mereka tidak sering bersosialisasi. Sebenarnya Henji merasa aneh, kenapa Nona Reina sampai meminta orang lain untuk melindungi Michisa? Apa ada yang mereka sembunyikan? Ada suatu hal pada mereka yang belum bisa disentuh Henji. Semoga saja itu bukan hal yang buruk.

*****

Pulang sekolah. Usai mengganti sepatunya, Michisa mengeluarkan music player dan headset dari tasnya. Ia sibuk menyiapkan playlist lagu yang akan didengarnya sambil berjalan ke arah pohon sakura, tempat ia meminta Henji menunggu.
Henji memang sudah ada di bawah pohon itu, tapi ia belum menyadari kehadiran Michisa. Mungkin karena Henji membelakangi arah jalan itu, sehingga ia belum menyadari Michisa yang datang dari belakangnya. Awalnya, Michisa ingin meninggalkan Henji. Ia masih merasa kesal dengan pertanyaannya tadi pagi : "kau khawatir soal itu?"
Biar saja dia tetap tak sadar seperti itu dan terus menunggu! Toh, akhirnya dia akan pulang sendiri. Tapi niat itu hilang saat ia sadar bahwa Henji sedang bernyanyi kecil.
Rasanya pernah ia mendengar suara ini. Nada itu juga, liriknya juga... Ah, tak salah lagi. Ini memang lagu Tasuku.

Kau yang memanggilku
Apa kau tidak salah orang?
Mungkin aku mirip orang lain
Yang bernama sama denganku

Kalau aku menjawabmu
Akan seperti apa reaksimu?
"Sedang apa kau di sini sendiri?"
Aku mengharapkan senyumanmu

Michisa membiarkan dirinya mendengar Henji bernyanyi. Dalam hatinya ia kagum, suara Henji mirip sekali dengan Tasuku. Mungkin Henji juga penggemar Tasuku, lalu meniru cara bernyanyinya. Atau jangan-jangan... Justru Henjilah Tasuku sang Shadow Singer itu?
Ah, tidak mungkin. Henji itu 'kan... Ya begitu. Dia selalu kelihatan mendung. Selalu sendirian, selalu diam. Sedangkan Tasuku, lewat suaranya, ia terdengar seperti seorang lelaki tampan yang ekspresif, damai, bahagia, juga disukai banyak orang. Mustahil kalau dia ternyata Henji yang suram itu. Michisa terus berpikir sambil memperhatikan Henji yang masih belum sadar juga akan kehadirannya.
Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya Henji tak seburuk itu. Henji memang kelihatan suram, tapi sebenarnya... Yah... Dia baik. Sangat baik dan tulus malah. Dia memang tidak sering tersenyum di sekolah, tapi ternyata di luar sekolah ia sering tersenyum. Sikap dan cara bicaranya sopan, bahkan cenderung lembut. Postur tubuhnya tegap, badannya juga tinggi. Sepertinya hampir atau memang sekitar 180 cm. Teman seangkatan mereka di sekolah enggan bicara pada Henji karena postur tubuhnya yang tinggi besar ini : seram. Dan wajahnya, walaupun terkesan sangar ternyata sebenarnya dia cukup tampan, bahkan Michisa tak menyangka wajahnya bisa setenang dan sedamai sekarang ini.  Apa karena ia sangat menikmati musik?
Eh, oi! Apa-apaan pikiran yang barusan? Michisa baru sadar ia sudah berpikir yang aneh-aneh. "Pengetahuan"-nya soal orang itu keluar begitu saja. Ia menyandarkan dirinya di sisi lain pohon itu. Ternyata itu membuat Henji akhirnya sadar akan kehadirannya.
"Hanazawa-san?" Henji lekas berbalik menatap Michisa. Michisa sendiri membuang muka ke arah lain. "Kau baik-baik saja? Wajahmu kelihatan meme-..."
"Aku nggak apa-apa!" Michisa memotong pertanyaan Henji dengan kasar.
Michisa berjalan duluan dengan tangan menutup mulutnya. Henji menyusul di belakangnya. Michisa merasa sangat aneh karena telah memikirkan Henji seperti barusan. Ia malu pada dirinya sendiri yang telah berpikir seperti itu tentang seseorang.
"Kalau kau tak enak badan, tolong bilang padaku, ya."
Michisa diam saja. 
Untungnya Henji tak menyadari apa yang dirasakannya selama ini.

_______________________________________________________________
bento : makanan bekal 


- Bersambung ke Chapter 4 - 
Catatan Penulis :

Selamat siang, apa kabar? Maaf atas keterlambatan memosting chapter ini. Saat ini saya sedang berusaha untuk semakin menyukai Henji dan Michisa. Ikuti terus yaa, terima kasih banyak (^u^)
FildzahPro

Minggu, 21 Juli 2013

Alhamdulillah, Prestasi Baru!

Assalamu'alaikum...

Alhamdulillah nih Alhamdulillah, bulan lalu aku ikut lomba Drawing Manga di acara Ninety Cup XIV SMAN 90 Jakarta. Pengalaman pertama nih ikut lomba Manga... Deg-degan gitu :v

Awalnya tahu soal keberadaan lomba ini dari temen ekskul di Alistra, yaitu Adis, yang juga menjabat sebagai wakil ketua. Dia bilang mau nambahin sertifikat buat masuk kuliah nanti, jadi dia ngajak ikut. Kemungkinan untuk menangnya besar karena dia bilang yang ikut sedikit, dan menang gak menang tetep dapet sertifikat.

Hari H lomba, saya datang kecepetan :v
Tapi jadi ada temen baru sih. Akhirnya aku nunggu waktu lomba mulai bareng dia. Akhwat juga, namanya Wulan dari SMAN 63. Sempet ngobrol-ngobrol soal anime, manga, dan sedikit juga tentang Rohis... (random ajah haha).

Oiya, jadi teknis lombanya itu disuruh bikin manga bebas bertema "Kegiatan di Musim Panas" dalam maksimal 4 halaman kertas A4. Lombanya hari Jumat. Dari hari Senin sebelum itu, aku udah mikir kalo aku mesti bikin name-nya dulu (name : istilah untuk sketsa kasar/storyboard). Biasanya kalo lomba "on the spot" gini, aku selalu kalah gara-gara waktu. Bisa jadi karena kurang persiapan atau kurang latihan.
Ternyata walaupun udah niat bikin name dari hari Senin, saya tak kunjung membuatnya karena idenya belum ada. Ceritanya apa ya... Ceritanya apa ya... Tiap hari mikir kayak gitu. Aku ngerasa harus bikin cerita yang bagus banget, jaga-jaga kalo ternyata nanti jomplang sama gambarnya. Tiba-tiba aku (jiaahh) teringat lomba Menulis Surat yang pernah aku menangkan waktu kelas 3 SD, walaupun itu juga Harapan I sih. Aku menang cuma karena menurut juri suratku menyentuh. Waktu itu aku nulis surat untuk guruku yang udah pindah.

Dari situ kuputuskan : aku harus bikin cerita yang mengaduk-aduk perasaan. Lagipula, kalau mendengar "musim panas", apa yang kebayang hayo? Sebagian besar pasti kegiatan yang menyenangkan : pantai, festival, kembang api, jangkrik, liburan, dan sebagainya.

Gimana kalau saat kegiatan menyenangkan itu berlangsung, ada orang lain yang justru bersedih?
Kayak lirik lagunya Aqua Timez, "mungkin saja saat aku sedang tertawa, aku tidak tahu kalau (di tempat lain) kau sedang menangis."

Akhirnya kubikin cerita tentang seorang siswi SMA bernama Hirakawa Natsumi. Namanya udah kubikin sesuai cerita juga lho (._.) "Hira" dari kanji "damai", "kawa" dari kanji "sungai", "Natsu" dari kanji "musim panas" dan "Mi" dari kanji "indah". Jadi kalau ditulis dalam aksara kanji Jepang bakal kayak gini :


  
Nah, si Natsumi ini sebenarnya anak yang periang. Seperti namanya, ia lahir di musim panas dan tumbuh besar dengan menyukai musim panas. Tapi suatu kali saat SMP, di tengah perayaan Festival Kembang Api, Natsumi kehilangan ibunya, orang yang paling dia cintai meninggalkan dia untuk selamanya. Sejak itu dia jadi benci pada musim panas terutama kembang api, karena ia menganggap musim panas itu mengambil ibunya dan kembang api itu bersorak gembira atas kematian ibunya.
Tapi kemudian ayahnya menasehati, "kau memang kehilangan ibumu di musim panas, tapi bukannya di musim panas juga ada banyak kenangan bersama ibu?"
Dan saat itulah ia sadar bahwa kebenciannya menutupi banyak kenangan indah yang ia punya bersama ibunya. Saat ibunya memakaikan yukata sambil bersenda gurau, lalu menonton kembang api bersamanya...
Setelah itu Natsumi mulai kembali ceria. Sadar bahwa tidak semua orang bahagia di musim panas, ia mulai sering mampir ke panti asuhan untuk bertemu anak-anak yang senasib dengannya, yang juga kehilangan satu atau bahkan kedua orang tua. Ia sadar ia lebih beruntung dibanding mereka yang usianya lebih muda darinya tapi sudah ditinggal orang tua. Cerita ditutup dengan ia bermain kembang api kecil bersama anak-anak itu.

Yang barusan kuceritain itu cuma 3 halaman (sengaja pendek biar irit waktu) loh. Paling satu halaman ada 9-12 panel... (._.)

Yosh, cerita beres. Tapi gimana dengan name-nya? Name itu akhirnya nggak selesai. Dari 3 lembar yang kurencanakan, name untuk lembar terakhir baru selesai setengah. Akhirnya aku tempur dengan keadaan seperti itu. Halaman terakhir kukerjakan nyaris tanpa mengikuti name.

Pesertanya ada sekitar 10 orang, dan yang diambil menjadi juara hanya 3 (dan akhirnya diubah lagi menjadi hanya 2). Di luar dugaan, aku selesai duluan. Mungkin karena aku nggak sampai proses inking (penebalan dan pemberian warna hitam-putih). Dan jujur itu yang paling bikin aku nggak pede. Yah, gimana sih rasanya cuma ngumpulin komik yang bentuknya masih sketsa, sedangkan yang lain pada nebelin pake drawing pen...
Karena udah selesai sendiri, aku sempet mikir apa aku tebelin aja, ya? Tapi akhirnya nggak jadi karena kalo dipikir baik-baik kembang api yang aku gambar memakai efek yang cuma bisa dibuat oleh pensil. Dan saat itu sudah larut sekali dan aku merasa harus cepat pulang atau aku dimarahi.

Usaha udah. Sekarang tinggal berdoa. Jangan lupa juga jaga hati orang.

Ternyata hasilnya manis. Aku sempet mikir, kalo ternyata aku menang dan Adis nggak menang, aku jadi nggak enak hati sama Adis. Karena Adis-lah yang ngajak aku ikut lomba ini. Cuma itu yang aku takut.
Aku sama Adis sama-sama nggak dateng waktu pengumuman juara.

Dan ternyata kedua juara itu adalah kami berdua.
Seneng banget, bersyukur... bisa menang sama-sama Adis... :')

Aku juara I, Adis juara II. Kami WhatsApp-an panjang cuma buat nyelamatin satu sama lain hahahaa...

Aku juga bersyukur banget karena akhirnya aku menang lomba gambar lagi. Lomba gambar manual terakhir yang aku ikuti itu waktu kelas X, lomba gambar komik Bahasa Prancis. Itu pun nggak menang karena nggak berhasil kuselesaikan. Lomba gambar manual terakhir yang kumenangkan itu waktu kelas 2 SD, Lomba Menggambar dan Mewarnai internal SD-ku tahun 2004. Juara I. Udah 9 tahun yang lalu. Lama 'kan? :)

Minggu lalu aku sama Adis ngambil hadiah dan pialanya bareng-bareng. Seneng deh. Piala pertama yang kubawa pulang dalam 10 tahun terakhir (biasanya diambil sekolah :v). Sertifikat ke-13 di masa SMA ini juga udah aman di map. Semoga ini bisa jadi batu loncatan untuk prestasi selanjutnya. Otsukaresama deshita! (^u^) Wassalam

Special Thanks :
- Adis yang ngajak ikut lomba dan banyak membantu mengurus banyak hal
- My Family :)
- Panitia Ninety Cup XIV, terutama JFC. Semoga tahun depan makin baik yaa... (^u^)
- Semuanya yang gak bisa lagi disebutin satu-satu! Terima kasih banyak!
Arigatou gozaimashita!






Senin, 15 Juli 2013

Semester 5!

Assalamu'alaikum, ane sekarang lagi di sekolah. Bisa nge-post berkat teknologi "post blog via email"~ *masih excited*

Kelas baru. Iyah kelas baru. Saya yang dulu kelas XI IS 4 sekarang kelas XII IS 2. Berasa kehilangan angka 4... Hahahaa. Sayangnya karena dateng telat, ane dapet bangku paling pojok kedua dari belakang. Kelihatankah tulisan di papan tulis? Entahlah. Cuma bisa bertahan. Temen sebangku juga sementara ini gak punya. Yah udahlah wkwk. Aku ngerasa jadi karakter di novel sendiri, di mana ia selalu merasa sendirian walaupun kelasnya ramai. Perasaan yang bagus banget kalo diungkapin ke dalam kata-kata di novel.

Ehm, ngomong-ngomong, kalo dari segi temen sekelas, menurutku temen-temen kali ini lebih enak dari yang sebelumnya. Tahun lalu berasa asing banget karena nggak ada kenalan yang agak deket. Tapi sekarang ada temen ekskul, temen lama, temen sehobi, pokoknya lebih enak. Mungkin emang awalnya aja kaku. Mungkin lama-lama kami juga bakal akur.

Akhirnya juga, ada adik kelas dari SMP yang sama masuk ke sini. Ikhwan sih. Tadi sempet nyapa, maksudnya mau negur bantuin. Tapi orangnya cuma bales senyum terus pergi, bahkan tanpa menatap ke ane. Serius, ane kangen temen kayak gitu. Ane teringat diri ane yang dulu pertama kali masuk ke sini. Masih jaga jarak banget sama lawan jenis. Ane pingin balik jadi yang dulu lagi. Selama dua tahun ini, standar ane terhadap nilai memang meninggi, tapi standar agama malah menurun. Sedih jadinya.

Yah, whatever. Tinggal setahun lagi. Semangat semangat semangat!

Hari ini, 15 Juli 2013
Tahun terakhirku di SMA dimulai!
Bismillahi Allahu Akbar! (^o^)9
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone