Tampilkan postingan dengan label My Achievement. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Achievement. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2021

Catatan Akhir Kuliah

 Alhamdulillah 'alaa kulli hal...

Berakhir juga masa kuliahku yang panjang ini. Tujuh tahun, men. Sekolah dasar aja kalah panjang.

Adik bungsuku yang dulu masih TK, sekarang sudah di penghujung SD. Dosenku yang dulu muda, sekarang sudah bapak-bapak banget penampilannya, sudah terganti oleh dosen-dosen muda yang baru. Teman-teman seangkatan ada yang sudah S2, ada yang sudah menikah bahkan punya anak, ada yang asyik bekerja... beragam banget pokoknya.

Lalu ada aku yang masih ada di sini.

Waktu aku bimbingan, audiensi, sidang, yudisium... para dosen pun bertanya-tanya, "Fildzah? Baru tuntas sekarang? Kok bisa? Padahal dulu di kelas 'kan rajin??"

Teman-teman juga mungkin heran, tapi nggak mengungkapkan aja. Ya gimana, aku juga tidak menyangka. Hehehe. Wong semua kelihatan lancar-lancar aja, terlihat bisa lulus di semester 9. Ternyata berlanjut terus ke semester 10, 11, 12, 13, 14...

"Ini... kapan berakhirnya?"

Berasa gelap. Jalan di depan nggak kelihatan sama sekali. Aku jadi banyak diliputi rasa takut: takut melangkah, takut terdiam, takut ditinggalkan. 

Aku takut 'berusaha keras'.

Iya, itu yang terjadi. Melihat skripsiku sendiri, aku tahu ia akan menuntutku melakukan banyak hal. Ia akan membuatku 'menyiksa' diriku sendiri. Alhasil aku jadi menghindarinya. Begitu juga dengan utang job training yang ternyata merupakan penghambat utamaku, lebih dari skripsi. Aku matikan naluri untuk memenuhi tuntutan kuliahku. Aku matikan dia, supaya aku tidak hancur memikirkan dia dan tuntutan yang lain.

Sejak kapan ya tuntutan itu jadi terasa berat? Kuliah, organisasi, hobi, ibadah... Dulu semua mudah dijalani, mengalir saja bagai mengikuti arus. Tiba-tiba arus itu berhenti dan aku dituntut berenang sendiri, kebingungan harus pergi ke mana.

Ternyata, tuntutan itu mulai berat karena aku menopangnya sendirian.

Aku lupa, kalau aku boleh minta bantuan orang lain.

Aku lupa, kalau Allah juga bersedia membantuku ketika aku jujur meminta.

Pada akhirnya, terlambatnya kelulusanku ini adalah skenario Allah untuk meruntuhkan egoku. Aku diingatkan bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa hal-hal yang Dia ciptakan untuk membantuku.

"I need help, but I don't know what help I need."

Setelah aku mengatakan itu ke orang tua, semestaku baru mulai bergerak. Mulai ada arus yang bisa aku ikuti lagi.

Aku belajar jadi orang yang menerima bantuan, menjadi si 'tangan di bawah'. Aku belajar bercerita ke orang lain kalau aku punya masalah. I cracked my shells open. I crushed one layer of my thick wall. Aku membiarkan diriku terlihat 'jelek' di mata orang lain. It was sooo hard to do that, tapi itulah yang perlu terjadi.

Naluriku untuk memenuhi tuntutan kuliah mulai bangkit kembali. Gut feeling, ghiroh, dia bangkit lagi. "Aku harus melakukan ini!!" rasanya senaaang sekali waktu aku mulai merasakan itu lagi, merasakan menerima tekanan untuk mencapai sesuatu. Melawan rasa takut, menahan lapar, sakit, dan kantuk demi mencapai sesuatu. 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰلِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ  ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِينَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Ternyata bisa berjuang itu nikmat Allah yang sangat besar. Semangat juang itu ternyata punya Allah, bukan punya manusia. Allah punya kuasa penuh untuk memberi atau mengambil semangat juang itu.

Aren't these 7 years a very beautiful lesson?

Mungkin ini aneh, tapi aku senaaaang sekali dikasih Allah kesempatan kuliah 7 tahun.

Aku bisa kenal banyak orang, bisa dapat berbagai pengalaman, bisa mengeksplorasi sisi diriku yang aku nggak tahu sebelumnya, bisa merasakan berbagai hal...

Karena 7 tahun juga, aku bisa dengan mantap melangkah maju tanpa menoleh lagi ke belakang. Teman-temanku sudah melangkah pergi, tempat penuh kenangan juga perlahan akan berubah. Biarlah mereka, tempat itu, momen itu, hidup hanya di pikiranku. I will cherish them well.

Kema Unpad, Fakultas Ilmu Komunikasi, Prodi Manajemen Komunikasi, Syaamil Unpad, Biro Kerohanian Islam, Aikido Unpad, Kelompok Grafis Fikom, Kiryokukai Bandung, Ngasta Kaaria, Akeno MS, Pakoban, AKSI, Stage Quality, Sobatmu.com... 

Keluargaku yang sudah bersabar menunggu...

Terima kasih banyak.

I lived my college life to the fullest, right?

Rabu, 28 Januari 2015

My Personal Reminder : Menjadi Maba

Aku bikin note ini di HP waktu baru masuk kuliah Agustus lalu. Tujuannya ya biar aku nggak lupa diri, nggak lupa tujuan, dan nggak hilang motivasi. Ternyata lumayan manjur lho ^^

Kalo lagi nggak semangat atau jenuh, aku baca-baca note ini. Kalau ada motivasi atau alasan berjuang yang baru pun, aku tambah note-nya. Barangkali berkat note ini juga IPK semester pertamaku bisa maksimal :)

Untuk semester depan sepertinya aku bakal bikin note baru lagi, jadi note yang sebelumnya kusimpan di sini ya. Silakan dibaca~

-- Just in Case You Lose Your Self --

Aku gak guna apa-apa di rumah. Makanya aku mesti keluar dari sana dan belajar hidup sendiri. Makanya juga aku gak pantas homesick.

Dengan jadi mahasiswa, aku akhirnya bakal tau gmn kerjaan seorang dosen itu. Itu pekerjaan ummi-abi. Pahamilah & hargai usaha mereka berjuang mencari nafkah demi keluarga.

Belajar itu enak kok, ibaratnya kita ada di sebuah tempat yang penuh dengan lampu mati. Dengan belajar, makin banyak lampu yang bakal menyala. Bahkan cahaya dari satu lampu saja bisa menuntun kita untuk menyalakan lampu-lampu yang lain. Rasanya asyik bisa tahu banyak hal, karena itu nikmatilah. Ilmu apapun nggak ada yang sia-sia. Belajarlah dengan rasa senang dan penuh rasa ingin tahu.

Berbeda pendapat sama orang lain itu wajar, tetap hormati pendapat mereka dan jangan diejek-ejek, kita ini negara demokrasi. Sangat wajar kalau ada perbedaan di negeri ini.

Hal yang penting itu bukan menjadi sempurna. Kamu cuma perlu menjadi lebih baik dari orang lain, karena itu berusahalah di atas rata-rata orang lain.

Kalau kamu gagal, kamu boleh kecewa, tapi jadikan juga kekecewaan itu sebagai motivasi untuk berusaha lebih baik lagi. Gagal itu emang gak enak, tapi lebih nggak enak lagi gagal sebelum berusaha kan?
Lagian kata Dahlan Iskan, "Habiskan Jatah Gagalmu di waktu muda." Wajar kok kalo ada byk kegagalan yg kita alami.
Kalo kata @anak_unpad, saat gagal, bukan kita yang paling payah, dan saat sukses, bukan kita yang paling hebat.

Untuk ke depannya, jangan terlalu mengandalkan diri sendiri. Berbagi itu adalah pengorbanan untuk menghindari rasa sepi. Kalo gak bisa sesuatu, jangan gengsi dan bilang bisa ngerjain semua sendiri. Kita manusia gak ada yang sempurna & diciptakan untuk saling menolong, saling melengkapi.

Capek ya? Capek sih. Tapi kalau dengan hati senang & ikhlas, jadi gak terlalu capek kan? We just simply do our best joyfully.

Begitu ada di atas, jangan sekalipun ngeremehin org lain. Aku yakin kamu tahu sendiri apa akibatnya. Ucap syukur atas apa yang didapat. Jangan susah puas & terobsesi sempurna, sampai-sampai tiap kekurangan kamu keluhkan. Siapa tahu yg kamu keluhkan itu adalah hal yang sangat diharapkan oleh orang lain. "Jika engkau merasa besar, periksa hatimu, mgkn ia sedang bengkak."

Jangan ngeluh karena jurusan gak sesuai minat atau karena temen-temen kenapa-kenapa. Jangan ngeluh juga soal univ kenapa-kenapa, pokoknya bersyukur aja. Ingatlah bahwa ada ribuan orang yang ingin berada di posisi kamu sekarang. Kampus ini memang bukan kampus impianmu, ini kampus impian mereka. Tapi malah kamu yang berhasil masuk ke kampus ini. Karena itu, tolong berjuang demi mereka juga.

Berjuanglah demi mereka yang belum berhasil atau gagal, juga demi siapapun yang membantu studimu sesedikit apapun bantuan mereka. Kamu bisa ada di sini sekarang karena mereka, dan kamu harus berjuang untuk mereka juga.

Jangan merasa ummi-abi nggak mendukung kamu. Ummi-abi ada terus dalam hidupmu lho. Kalo ngutip Shigatsu wa Kimi no Uso, "Ibu ada dalam setiap bahasa tubuhku." Kamu bisa kuliah, hidup cukup, makan enak, semua nggak lepas dari ummi-abi. Baju yang kamu pakai kuliah, kebiasaan waktu makan, cara mencuci, itu semua peninggalan orang tua bukan?

Minggu, 21 Juli 2013

Alhamdulillah, Prestasi Baru!

Assalamu'alaikum...

Alhamdulillah nih Alhamdulillah, bulan lalu aku ikut lomba Drawing Manga di acara Ninety Cup XIV SMAN 90 Jakarta. Pengalaman pertama nih ikut lomba Manga... Deg-degan gitu :v

Awalnya tahu soal keberadaan lomba ini dari temen ekskul di Alistra, yaitu Adis, yang juga menjabat sebagai wakil ketua. Dia bilang mau nambahin sertifikat buat masuk kuliah nanti, jadi dia ngajak ikut. Kemungkinan untuk menangnya besar karena dia bilang yang ikut sedikit, dan menang gak menang tetep dapet sertifikat.

Hari H lomba, saya datang kecepetan :v
Tapi jadi ada temen baru sih. Akhirnya aku nunggu waktu lomba mulai bareng dia. Akhwat juga, namanya Wulan dari SMAN 63. Sempet ngobrol-ngobrol soal anime, manga, dan sedikit juga tentang Rohis... (random ajah haha).

Oiya, jadi teknis lombanya itu disuruh bikin manga bebas bertema "Kegiatan di Musim Panas" dalam maksimal 4 halaman kertas A4. Lombanya hari Jumat. Dari hari Senin sebelum itu, aku udah mikir kalo aku mesti bikin name-nya dulu (name : istilah untuk sketsa kasar/storyboard). Biasanya kalo lomba "on the spot" gini, aku selalu kalah gara-gara waktu. Bisa jadi karena kurang persiapan atau kurang latihan.
Ternyata walaupun udah niat bikin name dari hari Senin, saya tak kunjung membuatnya karena idenya belum ada. Ceritanya apa ya... Ceritanya apa ya... Tiap hari mikir kayak gitu. Aku ngerasa harus bikin cerita yang bagus banget, jaga-jaga kalo ternyata nanti jomplang sama gambarnya. Tiba-tiba aku (jiaahh) teringat lomba Menulis Surat yang pernah aku menangkan waktu kelas 3 SD, walaupun itu juga Harapan I sih. Aku menang cuma karena menurut juri suratku menyentuh. Waktu itu aku nulis surat untuk guruku yang udah pindah.

Dari situ kuputuskan : aku harus bikin cerita yang mengaduk-aduk perasaan. Lagipula, kalau mendengar "musim panas", apa yang kebayang hayo? Sebagian besar pasti kegiatan yang menyenangkan : pantai, festival, kembang api, jangkrik, liburan, dan sebagainya.

Gimana kalau saat kegiatan menyenangkan itu berlangsung, ada orang lain yang justru bersedih?
Kayak lirik lagunya Aqua Timez, "mungkin saja saat aku sedang tertawa, aku tidak tahu kalau (di tempat lain) kau sedang menangis."

Akhirnya kubikin cerita tentang seorang siswi SMA bernama Hirakawa Natsumi. Namanya udah kubikin sesuai cerita juga lho (._.) "Hira" dari kanji "damai", "kawa" dari kanji "sungai", "Natsu" dari kanji "musim panas" dan "Mi" dari kanji "indah". Jadi kalau ditulis dalam aksara kanji Jepang bakal kayak gini :


  
Nah, si Natsumi ini sebenarnya anak yang periang. Seperti namanya, ia lahir di musim panas dan tumbuh besar dengan menyukai musim panas. Tapi suatu kali saat SMP, di tengah perayaan Festival Kembang Api, Natsumi kehilangan ibunya, orang yang paling dia cintai meninggalkan dia untuk selamanya. Sejak itu dia jadi benci pada musim panas terutama kembang api, karena ia menganggap musim panas itu mengambil ibunya dan kembang api itu bersorak gembira atas kematian ibunya.
Tapi kemudian ayahnya menasehati, "kau memang kehilangan ibumu di musim panas, tapi bukannya di musim panas juga ada banyak kenangan bersama ibu?"
Dan saat itulah ia sadar bahwa kebenciannya menutupi banyak kenangan indah yang ia punya bersama ibunya. Saat ibunya memakaikan yukata sambil bersenda gurau, lalu menonton kembang api bersamanya...
Setelah itu Natsumi mulai kembali ceria. Sadar bahwa tidak semua orang bahagia di musim panas, ia mulai sering mampir ke panti asuhan untuk bertemu anak-anak yang senasib dengannya, yang juga kehilangan satu atau bahkan kedua orang tua. Ia sadar ia lebih beruntung dibanding mereka yang usianya lebih muda darinya tapi sudah ditinggal orang tua. Cerita ditutup dengan ia bermain kembang api kecil bersama anak-anak itu.

Yang barusan kuceritain itu cuma 3 halaman (sengaja pendek biar irit waktu) loh. Paling satu halaman ada 9-12 panel... (._.)

Yosh, cerita beres. Tapi gimana dengan name-nya? Name itu akhirnya nggak selesai. Dari 3 lembar yang kurencanakan, name untuk lembar terakhir baru selesai setengah. Akhirnya aku tempur dengan keadaan seperti itu. Halaman terakhir kukerjakan nyaris tanpa mengikuti name.

Pesertanya ada sekitar 10 orang, dan yang diambil menjadi juara hanya 3 (dan akhirnya diubah lagi menjadi hanya 2). Di luar dugaan, aku selesai duluan. Mungkin karena aku nggak sampai proses inking (penebalan dan pemberian warna hitam-putih). Dan jujur itu yang paling bikin aku nggak pede. Yah, gimana sih rasanya cuma ngumpulin komik yang bentuknya masih sketsa, sedangkan yang lain pada nebelin pake drawing pen...
Karena udah selesai sendiri, aku sempet mikir apa aku tebelin aja, ya? Tapi akhirnya nggak jadi karena kalo dipikir baik-baik kembang api yang aku gambar memakai efek yang cuma bisa dibuat oleh pensil. Dan saat itu sudah larut sekali dan aku merasa harus cepat pulang atau aku dimarahi.

Usaha udah. Sekarang tinggal berdoa. Jangan lupa juga jaga hati orang.

Ternyata hasilnya manis. Aku sempet mikir, kalo ternyata aku menang dan Adis nggak menang, aku jadi nggak enak hati sama Adis. Karena Adis-lah yang ngajak aku ikut lomba ini. Cuma itu yang aku takut.
Aku sama Adis sama-sama nggak dateng waktu pengumuman juara.

Dan ternyata kedua juara itu adalah kami berdua.
Seneng banget, bersyukur... bisa menang sama-sama Adis... :')

Aku juara I, Adis juara II. Kami WhatsApp-an panjang cuma buat nyelamatin satu sama lain hahahaa...

Aku juga bersyukur banget karena akhirnya aku menang lomba gambar lagi. Lomba gambar manual terakhir yang aku ikuti itu waktu kelas X, lomba gambar komik Bahasa Prancis. Itu pun nggak menang karena nggak berhasil kuselesaikan. Lomba gambar manual terakhir yang kumenangkan itu waktu kelas 2 SD, Lomba Menggambar dan Mewarnai internal SD-ku tahun 2004. Juara I. Udah 9 tahun yang lalu. Lama 'kan? :)

Minggu lalu aku sama Adis ngambil hadiah dan pialanya bareng-bareng. Seneng deh. Piala pertama yang kubawa pulang dalam 10 tahun terakhir (biasanya diambil sekolah :v). Sertifikat ke-13 di masa SMA ini juga udah aman di map. Semoga ini bisa jadi batu loncatan untuk prestasi selanjutnya. Otsukaresama deshita! (^u^) Wassalam

Special Thanks :
- Adis yang ngajak ikut lomba dan banyak membantu mengurus banyak hal
- My Family :)
- Panitia Ninety Cup XIV, terutama JFC. Semoga tahun depan makin baik yaa... (^u^)
- Semuanya yang gak bisa lagi disebutin satu-satu! Terima kasih banyak!
Arigatou gozaimashita!






Kamis, 08 November 2012

Aku dan Kehidupanku Kini (Curhatan Random)

Yeaay!!! Alhamdulillah, setelah beberapa kali penundaan, akhirnya angkatanku resmi menjabat MPK. Pertama-tama pingin bilang selamat buat Kartika, akhwat yang udah terpilih jadi ketua MPK yang baru~! Yeaay~! Di luar dugaan kepilih sih, tapi nggak masalah kook~

Btw MPK sekarang berhasil mulai dengan baik. "Mulai ber-15, selesai ber-15," kurasa itu prinsip kami. Pas awal masuk MPK, aku nggak nyangka kami bisa se-solid ini. Emang sih semuanya gak selalu datang rapat, tapi mereka masih peduli. Dan menurutku entah mengapa MPK angkatan kami begitu singit (gila). Terlalu banyak candaan pas rapat, dan itulah yang harus kami sama-sama atasi. Membina anggota baru juga nggak gampang, tapi kami akan berusaha. Doakan kami, ganbarimasu!

Daaann soal jabatanku... hmm.. Alhamdulillah, innalillahi, bismillah... Ketua Komisi D (Ketertiban). Eh kalo diinget-inget itu posisi Ermi waktu BEST di SMP dulu yaa.. hehee..

----- Pas rapat tadi -----
Oknum T                            : "Ketua Komisi D; Fildzah!"
Ane                                    : "Kasih tau lagi dong, komisi A apa, B apa, C apa..."
Oknum H                           : "A; OSIS, B; kesiswaan, C; ekskul, D... tatib!"
Oknum tak teridentifikasi 1 : "Weehhh tatiib!"
Oknum tak teridentifikasi 2 : "Ayo nunduk semuaa! Nunduuuk!"
Ane                                    : (-_-)
---- Udah (maksa) -----


Yosh, sudahlah. Sekarang kami bakal disibukkan dengan persiapan program kerja dan Sidang Lokakarya. Semangaaat!!! (-,-)9

Eh, sebenarnya belakangan ini aku ngerasa berhasil nemuin lagi tempo hidup yang baik. Walaupun belum sampe kayak dulu yang mikir "aku bakal mati bahagia seandainya aku mati sekarang". Segalanya mulai membaik walau aku masih belum bisa bilang "aku betah dan senang di 47". Gimana ya? Aku udah bisa aktif di semua organisasi dan ekskul yang aku ikutin walaupun nggak sempurna. Mentoring tiga-tiganya alhamdulillah jalan. Nilai-nilaiku juga udah mulai stabil bagusnya. Sama temen-temen dan senior yang rada-rada juga udah makin sabar. Dan aku bisa tetap menekuni hobi-hobiku. Alhamdulilah...

Ini itu...apa efek menahan ketertarikan pada 48 family ya? Sabtu kemarin Kak Malik bilang kalo sebaiknya aku menyalurkan energi yang terpakai buat JKT48 ke hal lain yang lebih bermanfaat. Beliau juga bilang ketertarikanku ke anime dan manga masih lebih bagus buatku daripada itu. Emang sih, aku sendiri ngerasa sejak suka JKT48 aku jadi "cukup" berubah. Yang awalnya cuma suka tokoh fiksi, jadi suka juga tokoh nyata. Apalagi aku sukanya AKB48 dan keluarga. Banyak memori yang terpakai untuk itu. Waktu yang kupakai buat browsing-browsing soal mereka harusnya bisa buat aktivitas lain. Aku pingin mengurangi.

Aku udah cukup banyak tahu tentang 48 family.

Tapi ternyata memang sulit untuk benar-benar menghilangkan. Aku coba mulai aja dari unfollow fanbase-fanbase nggak penting di twitter. Acchan, Tomochin, Masuda Yuka, Okaro, aku juga unfollow mereka. Tapi rasanya masih belum mau unfollow fanbase penting kayak akb48journal atau melosnomichi. Masih pingin tahu yang penting-penting (single baru, member yg graduate, dsb). Akun officialJKT48 dan member-membernya juga belum mau ku-unfollow.

Sebenarnya ada satu hal yang paling membuatku mikir-mikir lagi untuk ninggalin JKT48. My oshimen, Kak Diasta. Kalau oshimenku lebih populer kayak Melody, Cindy, atau Ayana, aku nggak bakal mikir begini. Di antara 24 member, Kak Diasta yang fansnya paling sedikit. Aku masih mau, masih pingin dukung Kak Diasta. Karena itu juga aku masih berangan-angan bisa nonton theater.

Ya sudahlah. Itu masih progress.

Alih topik yuk.(._.)

Kembali soal organisasi. Di Keputrian, jabatan aku Divisi Infokom (yang ini kayak aku sendiri pas SMP hahaa), tugas utamanya ngurusin social media Keputrian. Temen-temen di sana juga masih sama, semua ceria dan serius. Nggak bikin bosenlah. Paling kita mesti saling menghargai banget nih, karena dari 15 anggota Keputrian 2014, selain BPH inti Keputrian (ketua, wakil, sekretaris, bendahara), di antara kami ada yang ketua ekskul Paskibra, ketua ekskul Alistra (gambar), ketua MPK, sekretaris OSIS, dll. Jadi semua punya kesibukan masing-masing. Ini tantangan terbesar kami.

Kalau di Alistra, aku jadi wakil II. Aslinya wakil I, tapi karena aku MPK jadinya wakil yang awalnya cuma 1 ditambah jadi 2. Alistra juga lagi banyak ikut lomba nih, doain aja ya semoga dari beberapa yang kami ikuti kami berhasil dapet juara. :)


Hmm, setelah baca semua yang di atas, pasti pada mikir, "kamu apaan dah, Fil? Maruk banget kegiatan! Nggak capek apa?"
Hoo, jangan salah. Saya masih punya waktu nganggur. Masih sempet main-main kok. Masih bisa nonton, baca komik, atau blogging kayak gini hehee :D

Saya sendiri sadar kok kalo ternyata saya ini "Organization Freak" (-_-)

Yoweslah, memang capek nyaris tiap hari ada kegiatan. Tapi insya Allah hal ini juga berguna buat masa depanku nanti. Tetap semangat ya semuaa! \(^w^)/



Fildzah Nur Fadhilah
Pray | Study | Organize | Draw

Sabtu, 13 Oktober 2012

Tugas Poster Bahasa Inggris

"Make a poster with theme cleaness!" Mr. Hadi said to my class that day.
Dalam hati langsung seneng. Yeyy!!! Aku emang suka bikin gini-ginian. Apalagi aku emang pingin kuliah di jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual a.k.a. Desain Grafis).

Tapi ternyata aku lamaaaa banget bikinnya. Berhari-hari. Walaupun mulai ngerjain jauh sebelum deadline, akhirnya begadang juga pas H-1. Hasilnya? Yah... Aku sih antara puas dan gak puas. Hasilnya kayak gini :


Yahh well... silakan komentar, beri saya masukan, kritik, saran, suka-suka Anda...

Yang aku puas adalah hasil print-nya bagus. Warnanya nggak jelek. Yang aku kurang puas adalah backgroundnya yang menurutku terlalu simpel, juga warna kulitnya yang terlalu pucat. Overall, termasuk bagus juga sih, Alhamdulillah. Dibanding temen-temenku yang lain, ini paling kelihatan bikin sendiri. Tapi punya temen-temenku juga bagus kok, ada juga yang kalimatnya lebih bagus daripada aku. Untuk poster aku dapet nilai 95, sedangkan untuk presentasinya 90. Yah Alhamdulillah deh...

Ada satu hal juga yang saya gak suka dari tugas ini : temen-temen yang copy-paste poster jadi dari internet. Itu gak ngehargain karya orang banget. Pembajakan. Jangan ada juga yang ngambil poster saya ini kalau mendapat tugas sejenis saya tadi. Walaupun jelek atau bagus, yang penting karya sendiri 'kan?

Sudah deh, sekiaaan~ thanks for your visit :)

Selasa, 05 Juli 2011

Inspiring Student, Lagi... ;)

Ya begitulah. Tanggal 19 Juni lalu aku wisuda. Dan aku dapat penghargaan baru. Aku terpilih lagi jadi Inspiring Student, setelah tahun lalu kuperoleh gelar itu.

Awalnya aku sama sekali nggak tahu siapa Inspiring Student tahun ini. Tahun lalu, aku mendapatkannya, dan aku memperoleh beasiswa selama 1 semester untuk semester 5. Aku bertanya-tanya, siapa yang mendapatkannya tahun ini. Apa Hafizhoh? Atau Nisa? Atau anak yang lain? Entahlah.

Waktu pengumuman kelulusan, Bu Rina bilang Insya Allah aku akan dapat piala saat wisuda karena NEM-ku paling tinggi. Aku seneng aja, karena di rumah aku nggak punya piala yang utuh. Jadi Inspiring Student tahun lalu aku pun nggak dapat piala. Cuma piagam berbingkai dan beasiswa. tapi waktu itu kan yang penting beasiswanya... jadi nggak apa-apa. Sampai hari wisuda, aku kira penghargaan Murid Berprestasi Kelas 9B milikku. Soalnya cuma penghargaan jenis itu yang diberi piala. Ternyata yang punya penghargaan itu Ermi, salah satu sobat dekatku. Dia maju ke panggung dengan gembira. Aku senang dengan itu. Ermi memang anak baik dan cerdas yang pantas dapat penghargaan itu.

Tapi aku lemas.

Mungkin aku kecewa hari ini. Penghargaan itu ternyata bukan milikku. Penghargaan yang tersisa hanya Inspring Student. Dan Inspiring Student tahun ini, aku yakin bukan aku. Tidak ada yang bisa jadi Inspiring Student berturut-turut 'kan?

Ternyata benar.

MC menyebutkan penghargaan "Inspiring Student", lalu diikuti namaku.
Ya ampun.
Rupanya guru-guru sengaja mengejutkanku. Mereka tidak memberi tahu aku maupun orang tuaku soal ini. Namaku juga disebut keras-keras waktu itu. Perasaan campur-aduk. Bingung, senang, nggak percaya, semua nyampur. Aku naik ke panggung. Lalu dikalungkan medali (plastik kayaknya ehehee) yang ada namaku di sana oleh ketua Yayasan Baitul Maal. Aku juga diberi map berisi sertifikat dan amplop putih berisi uang senilai 1,5 juta.

Wow wow. Alhamdulillah deh. Nggak nyangka sebenarnya. Mungkin yang lain benar. Adik kelasku bilang, sepertinya belum ada yang bisa merebut gelar Inspiring Student dariku. Aku masih belum ada yang bisa mengalahkan. Sebenarnya sedih juga mendengar itu. Harus ada adik kelas yang lebih hebat dari aku dan angkatanku. kalau tidak, BM nggak akan tambah bagus. Ayo dong adeekk kalahkan kamiii...

Yatto, Hasil UN yang Ditunggu-Tunggu...

Berawal dari SMS malam itu. Pemberitahuan bahwa pengumuman hasil UN SMP dipercepat dari tanggal 4 Juni 2011 menjadi tanggal 3 Juni 2011. Ooh, bagus deh. Aku udah penasaran banget sama nilainya. Walaupun sebenarnya aku kurang pede karena waktu UN ada soal-soal yang "nggak-pernah-dipelajari-sebelumnya-tahu-tahu-ada".

Jadi gimana perasaanmu, Fil?

Biasa aja.

(90% serius, 10% jaim)
Beneran deh! Aku bener-bener biasa aja. Yaah.. aku memang selalu kayak gini. Baru deg-degan kalo udah detik-detik terakhir.

Pengumuman ngaret, yang awalnya jam 1 siang, jam 1.30 baru mulai. Acara diadakan di Masjid Ulul Albab sekolah kami dan dipandu oleh Pak Malik. Selain kelas 9, ada juga adik-adik kelas 7, kelas 8, serta Alumni. Dengan bergantian, para guru menyampaikan kesan-pesan. Sejujurnya, capek juga. Cukup pegal maksudnya. Duduk terus tanpa gerak selama 1 jam lebih. Tapi untuk para guru yang berjasa itu, harusnya duduk pegal seperti ini cuma pengorbanan kecil. Yang penting mendengarkan mereka bukan?

Ada kesan guru yang menyentuh. Kesan-pesan dari Pak Hasyim membuat semua mata di sana berkaca-kaca. Touching sangat. Ada juga yang bikin marah, yakni waktu Bu Ridha menyampaikan kesan-pesannya. Waktu beliau bicara, ada suara HP berdering. Sepertinya punya murid. Begitu sadar beliau terdiam dan kelihatan kesal. Wajar sih. Sebab, bagi kami murid Baitul Maal, membawa HP ke sekolah selain saat kegiatan non formal adalah hal tabu. Jangankan guru. Pikiranku meledak-ledak kesal sama yang bawa HP itu. Kayaknya cowok sih. Yah, sebenarnya hari Rabu yang lalu, temen-temen sekelasku alias cewek-cewek angkatanku sudah kuminta tidak membawa gadget hari ini. Ternyata masih banyak yang bawa.
Untung bukan kalian yang mengalami kejadian seperti ikhwan itu. Apa kubilang?

Hhh.. Yah, sudahlah. Emang gitu ngatur remaja jaman sekarang. Kita Back to topic aja...

Akhirnya para guru selesai menyampaikan kesan-pesan. Ternyata... murid juga diminta kesan-pesannya. Dari ikhwan Zaid. Dari akhwat? Ternyata saya. Ya sudah. Aku cuma bilang, minta maaf atas kesalahan kami dan berterima kasih pada guru-guru. Aku menduga-duga waktu Zaid sedang memberikan kesan, jangan-jangan akhwat yang diminta itu aku. Iya atau bukan, aku siapin apa yang akan kukatakan. Ternyata bener. Alhamdulillah aku bisa mengutarakan kesan itu dengan cukup lancar. Kesan-pesan benar-benar selesai. Dan akhirnya tibalah... Detik-detik mendebarkan itu...

Karena jumlah murid tahun ini tiga kali lipat angkatan lalu, cara pengumumannya agak berbeda. Dulu, karena cuma 12 orang, seluruh kelas 9 duduk di paling depan, berhadapan langsung dengan barisan guru. NEM mereka disebutin satu-satu. Kami adik-adik kelas yang di belakang mereka menyaksikan mereka satu-persatu sujud syukur. Benar. Persentase kelulusan tahun lalu, 100%.

Saat menjelang pengumuman itu, aku terus menduga bahwa angkatanku nggak 100% lulus. Aku terus dihantui keraguan kalau angkatan kami tak bisa memecahkan rekor NEM tertinggi selama hampir 4 tahun Baitul Maal berdiri. NEM tertinggi selama ini dipegang oleh Kak Marwah, siswi angkatan pertama, dengan NEM sekitar 36,10. Sekarang ini beliau baru lulus dari SMA Negeri 90 dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Sejak beliau lulus dari BM waktu itu, belum ada yang berhasil mengalahkan beliau. Ironisnya, NEM tertinggi SMPIP Baitul Maal justru terus menurun dari tahun ke tahun.

Dulu, aku sempat sedih melihat situasi ini. Ingin sekali aku mendapat nilai tertinggi yang lebih besar supaya sekolahku makin melayang. Biar orang-orang pada tahu ada "Sekolah Jujur" dengan lulusan-lulusan yang NEM-nya gede, yang namanya Baitul Maal.

"Aku nggak mau begini. Aku ingin sekolah tempat aku pernah belajar di sana punya riwayat NEM 'ASLI JUJUR' tertinggi yang bagus. Aku nggak mau sekolahku NEM tertingginya cuma 36. Harusnya angkatanku ada yang sampai 38. Nilai 36 dari 40 nggak cukup untuk membalas apa yang selama ini dilakukan orang-orang di BM untukku. Bener-bener nggak cukup... Lagipula, Kak Marwah bisa mendapat NEM 36 waktu fasilitas BM masih seadanya. Bahkan mungkin beliau baru 1 tahun menikmati belajar di gedung sekolah sendiri. Dua tahun masa belajar, angkatannya menumpang di gedung SDIP BM. Sedangkan angkatanku? Kantin ada. Malah ada Pujasera. Komputer banyak. Lapangannya aspal. Loker bagus. Guru-gurunya lebih banyak dan hebat. Masjid nggak bocor lagi. Seragam pramuka ada. Alat peraga IPA makin banyak. Malah sekarang, Baitul Maal juga punya kolam renang sendiri. BM di masa Kak Marwah sama sekali nggak sebagus ini, tapi beliau bisa dapat NEM segitu. Kenapa angkatanku yang mendapat banyak fasilitas malah tidak bisa lebih tinggi? Kalau ternyata benar-benar tidak bisa, memalukan."

Aah, terkenang lagi pikiran itu. Itu pikiran yang sempat begitu bergejolak dalam diriku.

Sekarang pikiran terfokus lagi. Penasaran hasil UN. Kali ini, setiap anak dipanggil ke depan satu-satu. Masing-masing diberi amplop coklat ukuran biasa dan disuruh menanda tangani tanda terima. Aku mengambil amplop di depan, memberi tanda tangan, lalu kembali ke tempatku duduk tadi. Nasibku sekarang tergantung dari isi amplop coklat ini. Aku butuh NEM tinggi untuk masuk Sekolah Negeri Jakarta, bukan cuma sekedar lulus. Belakangan ini, aku dihantui cuma mendapat NEM sekitar 35-an. Padahal aku butuh 36 untuk masuk Jakarta. Aku juga dihantui kalau angkatanku nggak 100% lulus. Firasatku mengatakan ada yang tidak lulus. Entah siapa.

Guru-guru menyediakan tisu di depan kami.
"Ini tisu, ambil aja kalo mau. Siapa tahu ada yang nangis nanti," kata Bu Rina, kepala sekolah kami tersayang.
Setelah dibilang begitu, hampir semua anak nggak ngambil. Paling cuma 1 orang, dan dia pun sebenarnya tak mengerti kenapa disediakan tisu. Semua anak takut gara-gara tisu itu. Apalagi muka guru-guru kayaknya mendung. Nggak ada yang cerah. Beneran atau nggak, nggak tahu deh. Semua harap-harap cemas.

Sebelum membuka amplop, Bu Rina memberi tahu nilai tertinggi untuk masing-masing pelajaran.
"Bahasa Indonesia, nilai tertingginya 9.40..."
Alhamdulillah...
"... Matematika, 9.75..."
Yah, nyaris. Tapi Alhamdulillah deh...
"... Bahasa inggris, 10.00..."
Alhadulillah wa syukurillah... histeris aku di sini. Nilai siapa kira-kira?
"... IPA, 9.50..."
Allahu Akbar...
"... Lalu NEM tertinggi angkatan ini, 37.90."
Alhamdulillahi Allahu Akbar... rame banget pas ini disebutin. Siapa yang dapat NEM itu? Apa Icha? Atau Ermi? Emiel? Ario? Siapa?


Bu Rina mulai menghitung mundur, memberi aba-aba untuk membuka amplop. Semua dihiasi rasa penasaran dan was-was. Bu Rina meminta kami beristighfar jika tidak lulus dan mengucap hamdallah serta bersujud syukur jika lulus.

"3... 2... 1... buka amplopnya."

Satu per satu kudengar teman-temanku meneriakkan takbir. Aku tidak melihat sekeliling. Tidak bisa. Butuh waktu bagiku membuka amplop itu dan aku harus fokus. Karena aku duduk paling depan juga, aku tak tahu bagaimana reaksi teman-teman di belakangku.

Akhirnya berhasil kubuka amplop itu.
Aku membuka kertas yang terlipat itu.
Ah, ada tulisan LULUS.
Tapi itu nggak cukup. Aku perlu tahu NEM UN-ku. Berapa? Jangan-jangan beneran 35?

Aku lihat NEM-ku. Itu waktu yang singkat, tapi dalam ingatanku terasa lama sekali.
Setelahnya, aku langsung sujud syukur. Dan rasanya aku tak mau bangun lagi. Aku mau terus sujud. Entah bagaimana harus mensyukuri apa yang kudapat hari ini.

NEM-ku, 35.15.
Yah, kukira begitu.
Banyak soal yang tidak bisa kujawab.
Walau tidak deg-degan, aku merasa akan ada kehancuran.
Ternyata TIDAK.

NEM-ku, 37.90.
Bener-bener segitu.
Dan sepertinya aku menempati peringkat pertama semester ini.
Sesuatu yang gagal kudapat di 5 semester lalu.
Harus bagaimana bersyukur?

Aku masih sujud. Rupanya aku terlalu bahagia. Aku mengeluarkan suara-suara tak jelas, karena tidak bisa mengendalikan suaraku. Air mataku mengalir terus. Tentu saja bukan air mata sedih. Aku terlalu senang.

Akhirnya aku bisa bangun dari sujudku. Guru-guru akhwat menjejalkan tisu ke mukaku. Ah, aku separah itu ya, ternyata. Karena lama sujudku dan suara tangisanku yang padahal tak keras, teman-temanku tahu, NEM 37.90 itu milikku. Satu persatu mulai memberi selamat padaku.

Tapi ternyata, ada 4 orang ikhwan yang belum tersenyum. Mereka maju ke depan dan duduk di sana. Aku sendiri bingung dan khawatir. Kenapa mereka di depan begitu? Mereka nggak lulus?

Ternyata mereka belum tahu hasil UN mereka. Tidak ada di amplop yang tadi itu. Hasil UN mereka ditahan karena mereka belum menyelesaikan tugas akhir sekolah. Namun, guru-guru berbaik hati. Setelah berjanji akan segera menyelesaikan tugas, guru memberikan amplop coklat yang baru. Alhamdulillah, ternyata mereka semua lulus.

Angkatanku lulus 100%.

Nggak percaya deh. Ternyata kami bisa. Hingga sekarang ini, angkatanku memegang rekor NEM tertinggi sepanjang sejarah BM, sekaligus NEM terendah juga sih. Ehehee :D

Setelah pengumuman itu, kami Sholat Ashar berjama'ah, menulis kesan-pesan di spanduk bekas dan pulang ke rumah. Aku pulang dengan wajah cerah dan perasaan yang ringan. Lega banget. Aku tahu, di rumah nanti reaksi ortuku pasti biasa aja. Selalu begitu. Walau begitu, aku tahu mereka sebenarnya bangga dan senang.

Oh ya, ini rincian nilai UN-ku...
B. Indonesia 9.40 (tertinggi)
Matematika  9.50
IPA              9.00
B. Inggris     10.00 (tertinggi)

Khusus B. Inggris, guru bidang studinya, Pak Yayat, janjiin aku traktiran. Yeaa... makasih, Pak... ^^
Aku senang dengan pencapaian ini. Setidaknya ada kemudahan untuk masuk negeri Jakarta. Mau tahu apa yang kulakukan untuk NEM ini?

Aku ngurangin main. Semester ini, aku nyaris nggak pernah menggambar lagi. Menurutku habis UN, bisa puas main, dan itu bener kok (kecuali kalo ternyata kamu jadi panitia perpisahan, kayak akuu). Aku jadi Sholat Dhuha hampir tiap hari. Kalo hari sekolah, aku usahain 4 raka'at. Tapi Sabtu-Minggu, biasanya cuma 2. Aku juga banyakin rawatib. Soalnya aku nggak jago bangun pagi buat Tahajud. Terus, yang paling penting, jaga hati orang-orang sekitar. Belajar juga, jangan berubah sikap aja. Kalo nggak ngerti tanya siapa aja yang menurut kamu bisa ditanya. Pas UN, liat-liat soal UN tahun lalu. Serius, jangan main-main melulu. Hormaati guruumu sayaangi temaaann...

Berdo'a juga ya. Info aja, ini do'a-do'aku tambahanku selama persiapan UN :
Ya Allah, tumbuhkanlah kedewasaan pada diri kami.
Luluskanlah teman-temanku dengan nilai tinggi dan berikanlah sekolah yang terbaik untuk mereka.
Ya Allah, bimbinglah aku menuju sekolah terbaik pilihanmu.
Berikanlah yang terbaik untuk teman-temanku yang baik, dan berikan pula yang terbaik untuk teman-temanku yang buruk.


Begitulah. Itulah pengumuman kelulusanku. Terima kasih telah membaca yaa... :)