Senin, 23 Juni 2014

Sharing aja : Ujian Tulis SBMPTN 2014

Hari Selasa, 17 Juni 2014, aku ikut SBMPTN Tulis. Berusaha kembali mengejar kampus idamanku. Agak sedikit kurang beruntung, aku dapat tempat ujian di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, jauh dari rumahku yang berada di pojokan Jakarta Selatan. Karena suatu faktor, aku nyaris telat sampai di lokasi ujian. Alhamdulillah nggak telat.

Gugup? Jelas. Aku takut gagal lagi. Tapi aku juga berusaha keras untuk tenang.
Aku menghibur diri, bahwa seperti yang pernah dibilang guru bimbelku, persiapan SBMPTN itu bukan 8 minggu ataupun setahun. Tapi tiga tahun sejak awal kita masuk SMA. Aku nggak tahu usahaku belakangan ini keras atau nggak. Tapi aku nggak terima kalau usahaku selama SMA ini dibilang gak keras. Setiap hari aku pergi karena kegiatan sekolah, bimbel, atau mentoring. Aku jarang libur. Nggak ada hari tanpa aku pergi keluar rumah. Tindakanku pasti berarti, ilmuku pasti nggak sia-sia.

Waktu mau pamit berangkat ujian, ibuku mendoakan sambil mengecup pipi kiri dan kananku. Beliau mendukungku, sangat mendukung. Rasanya seolah doa beliau mengalir padaku.
Saat pamit masuk ruang ujian, ayahku pun mengecup kepalaku sambil mengucapkan kalimat dukungan. Kurasa hari itu hari yang akan selalu kuingat. Jarang-jarang orang tuaku begini. Aku yang selama ini takut mereka tak mendukungku, kini tenang dan percaya diri.

Bismillah, aku mulai ujian. Tes Kemampuan dan Potensi Akademik menjadi yang pertama kuhadapi. Aku bisa mengerjakan lumayan banyak. Manajemen waktuku juga tak seburuk waktu Try Out di bimbel. Aku pasrah. Aku sudah mengerjakan yang aku bisa.
Berikutnya tes Sosial dan Humaniora. Aku mengerjakan sejarah 8 soal, sosiologi 14 soal, serta ekonomi dan geografi masing-masing 11 soal, dari total soal tiap pelajaran 15. Lumayan banyak, Alhamdulillah. Terutama sejarah. Biasanya kalau Try. Out aku hanya bisa mengerjakan sekitar 4 soal.
Tapi hasil SBMPTN ini gak bisa ditentukan dari banyaknya soal yang dikerjakan saja. Belum tentu poin yang didapat lebih besar. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap bisa memperoleh hasil yang terbaik.

Secara umum, Alhamdulillah SBMPTN tulis hari ini lancar. Alhamdulillah aku nggak ketinggalan barang apa-apa hari itu. Alhamdulillah ayahku bersedia mengantar-jemput ke tempat ujian, bahkan menunggui aku. Alhamdulillah saat aku mampir ke rumah eyang di perjalanan pulang, beliau pun bilang kalau beliau mendoakanku.

Hehe, Alhamdulillah, itu pengalamanku tentang ujian tulis SBMPTN. Yang mau tahu kisahku di ujian keterampilan, lihat post selanjutnya, ya. (o^^o)

Yang sedang menunggu jawaban,
Fildzah Nur Fadhilah

Sabtu, 31 Mei 2014

Pasca Pengumuman SNMPTN 2014

Pastinya harap-harap cemas menunggu pengumuman itu. Tapi seperti yang dibilang banyak orang, jangan terlalu mengharapkannya. Akan terlalu sakit kalau ternyata benar tidak dapat. Karena itu, walaupun tentunya dalam hati masih ada secuil harapan, aku mencoba untuk tidak berharap.

27 Mei 2014, pukul 12.10 siang.

Aku baru selesai sholat dzuhur, setelah sebelumnya ikut Try Out SBMPTN kelima di NF. Sambil berpikir bahwa pengumuman SNMPTN sudah bisa diakses, aku menuruni tangga gedung bimbel. Karyawan NF menyapaku ceria mengingat hari ini pengumuman undangan. Mereka lantas menawariku membuka pengumuman dari laptop yang ada di situ. Aku menyetujui dengan senyum pasrah. Mereka tampak antusias mengetikkan dataku ke login halaman SNMPTN. Aku makin pasrah.

Kebetulan di NF tingkat cabang itu, terutama di try out super intensif SBMPTN ini, aku selalu peringkat pertama untuk paket Soshum. Aku selalu masuk peringkat 150 besar NF se-Indonesia, walaupun nilaiku memang tidak terlalu tinggi. Aku juga salah satu siswi NF yang mendapat beasiswa bimbel di semester genap. Aku nggak heran senyum kakak-kakak NF itu terlihat penuh harap.

Apapun keputusan Allah, itu yang terbaik. Aku nggak boleh protes. Apapun hasilnya, aku harus tetap belajar, tetap beribadah yang rajin, juga tetap menggambar. Pak Eko, guru kimia di sekolahku, juga sudah menyemangati kemarin, "Nggak masalah masuk lewat jalur apa, yang penting pastikan satu bangku di PTN itu punya kamu! Kalo dapet, ambil! Kalo gak dapet, KEJAR!!!"

Iya, benar! Kalau aku gak dapat, aku tinggal kejar! Aku pasti masih bisa kejar! Aku sudah berdoa agar Allah menguatkan hatiku dan tetap membuatku berjuang keras apapun hasil seleksi ini!

Tapi aku nggak bisa membantah kalau ada sedikit rasa sakit melihat senyum antusias kakak-kakak NF itu, perlahan berubah menjadi senyum yang dipaksa. Ternyata aku memang nggak dapat. Ya sudah, nggak masalah. Aku tinggal kejar!

Aku masih ingin mengejar FSRD ITB!
Aku yang waktu undangan hanya memilih satu prodi : FSRD ITB. Aku sudah mantap!
Aku yang hanya membuat portofolio berupa tiga gambar besar dengan pensil lalu difoto dengan kamera.
Aku yang merasa sudah berusaha keras, padahal belum.
Aku yang memutuskan harapan banyak orang.
Aku yang sudah diberkahi Allah dengan nilai UN yang lebih tinggi dibanding TO-TO-ku.
Aku yang dengan egois memilih jurusan desain yang kudambakan sejak masuk SMA.

Aku pulang dengan kemantapan hati mengejar SBMPTN. Lekas kupantau linimasa twitter-ku, ingin tahu siapa teman-temanku yang lolos seleksi. Ternyata banyak banget. Aku senang. Dalam setiap ucapan selamat kuikuti dengan permintaan "doakan aku, ya."
Mereka balik menyemangati, tapi entah mengapa sebagian kata "semangat" dari mereka terasa hampa. Terutama dari mereka yang lolos lewat jalur undangan. Mereka yang beruntung jalannya dimudahkan oleh Allah.

Aku tak menangis sampai dua hari setelah pengumuman. Namun pada akhirnya aku menangis. Bukan menangis kalah, tapi menangis ketakutan, jujur saja. Walaupun aku mencoba terus bersikap tegar dan siap mengejar PTN, nilai TO-ku menurun. Kecepatan menggambarku melambat. Malam sepulang les menggambar, aku mencoba mencari-cari tulisan orang lain yang lolos masuk FSRD tahun-tahun lalu di internet. Tapi mungkin karena cerita mereka terlalu sederhana, aku akhirnya malah menangis. Mudah sekali mereka lolos. Kenapa aku malah terseok-seok begini?

Kembali teman sekolah lain menyemangatiku. Salah satunya teman yang sudah diterima di prodi lain di kampus impianku. Aku ingin menyusul dia. Aku bangkit lagi. Waktunya untuk mengejar. Sejak dulu kamu sudah lakukan bukan? Tetap melangkah dan berlari walau dengan air mata.

Tapi aku lupa faktor eksternal yang dari kegalauan itu, orang tua. Terutama ayahku. Dulu ibuku bilang waktu beliau bersiap ujian masuk kuliah, beliau sibuk belajar sampai-sampai nggak pernah nonton TV. Akhirnya beliau lolos di Fakultas Ekonomi UI. Lain cerita dengan ayahku. Dulu beliau nggak berhasil meraih Teknik Mesin ITB impiannya. Setelah sempat mengikuti program D3 di ITB, beliau mencoba ikut ujian lagi di tahun berikutnya. Akhirnya beliau lolos di Teknik Mesin UI. Itulah cerita kenapa akhirnya orang tua saya yang berbeda 5 tahun itu bisa bertemu di kampus yang sama dan menikah.
Eh kenapa ceritanya jadi ini? Hehehe.

Lahir dari kedua orang tua yang menempuh pendidikan tinggi di UI, tentu aneh kalau aku nggak dapat PTN juga. Di mulut ibuku bilang sudah menduga aku nggak dapat undangan. Tapi aku yakin ada sedikit kekecewaan di hati mereka. Itu yang bikin sakit, sakit...
Bagaimana rasanya ketika kita yang ditolak sudah ikhlas, tapi orang tua belum ikhlas?

Mungkin mereka melihat aku nggak bekerja keras. Iya, kurasa aku memang nggak bekerja keras. Aku nggak pantas menyesal. Sekolah, bimbel, les, mentoring, pagi sampai malam, tujuh hari dalam seminggu. Aku hanya sebentar di rumah. Hanya sekedar makan, tidur, sholat, lalu jaga adik. Aku sebenarnya berusaha "puasa anime dan manga", tapi nggak pernah berhasil. Sama sekali nggak bisa. Aku belum usaha keras. Nggak setiap ibadah kulaksanakan dengan benar dan disiplin. Nggak semua mentoring kutanggapi serius. Nggak setiap waktuku di sekolah dan tempat les kumanfaatkan baik-baik. Nggak semua hati orang-orang kujaga. Aku pantas nggak dapat undangan.

Undangan itu rezeki, sebagiannya. Ada teman-temanku yang memang pintar, diterima di undangan. Aku bangga dengan mereka, pantas banget kok. Mereka selalu usaha dan usaha keras mereka nggak sia-sia.
Tapi ada juga teman-teman yang sebenarnya biasa saja.
Ada yang nilainya menengah ke atas, tapi perilakunya belakangan ini sangat sangat baik, diterima. Mereka pantas dan aku bahagia untuk mereka.
Ada yang dulu selalu bertanya padaku tentang pelajaran yang tidak ia mengerti, diterima undangan. Yah, dia rajin sih. Aku ikhlas, aku senang kok.
Ada juga yang nilainya biasa, perilakunya agak sedikit sering menyimpang, nggak pernah terlihat bekerja keras, diterima juga. Yah, mungkin diam-diam dia punya usaha keras. Walaupun hati agak bertanya-tanya, aku berusaha ikhlas. Allah punya rencana untuk mereka.

Dan tentunya punya rencana juga untukku.

Aku mungkin direncanakan-Nya masuk belakangan. Aku masih punya banyak teman seperjuangan. Aku masih bisa kok! Bismillah! Gadis egois ini masih ingin berjuang!

Insya Allah aku akan lolos ke salah satu prodi ini lewat SBMPTN :
1. ITB - Fakultas Seni Rupa dan Desain
2. Unpad - Ilmu Komunikasi
3. UNS - Desain Komunikasi Visual.

Yang masih harus dan akan terus berjuang,
Fildzah Nur Fadhilah.



Jumat, 07 Maret 2014

Sedikit Memikirkan Guru

Kita sebagai manusia jelas banyak meminta. Kita ini makhluk yang tak pernah puas. Dikabulkan satu keinginan, minta 100 keinginan lagi.

Tapi yang kali ini akan kita bahas, setelah berkeinginan, baik pada Allah ataupun pada manusia, pernahkah kita berterima kasih? Pernahkah kita bersyukur?

Saya mulai berpikir demikian setelah kejadian di kelas tadi siang, saat teman-teman saya membahas konsumsi untuk acara doa bersama sebelum ujian. Saat ditanya konsumsi apa yang mau dilebihkan untuk disumbangkan pada guru, mereka bilang tidak mau menyumbang.

Guru-guru hanya ingin uang.
Ngapain menyumbang makanan untuk mereka.

Dalam hati aku sangat menyesalkan ucapan teman-teman sekelasku itu. Daripada kelepasan marah, akhirnya kuputuskan untuk diam saja. Beginikah pendidikan kita zaman sekarang?

Yang saya lihat selama ini, seorang murid selalu saja mencari kekurangan gurunya, sehebat apapun gurunya itu. Guru akan selalu terlihat tidak tinggi di mata muridnya. Buktinya, kerap kali saya dengar beberapa teman mengobrol tentang gurunya tanpa menyebut sandangan "pak" atau "bu" di depan nama gurunya.

Mereka tidak tahu bagaimana usaha guru-guru itu untuk mereka. Bagaimana mereka harus memikirkan masalah muridnya di tengah banyaknya masalah mereka sendiri. Bagaimana rasanya bertambah tua sambil setiap harinya menjalani pekerjaan yang makan hati ini. Sakit...

Saya amat salut pada siapapun yang mau menjadi guru. Di tengah keluhan sakitnya balas jasa dari sang murid, muncul juga ungkapannya betapa ia cinta akan mengajar. Jadi guru itu nggak enak. Sakit hati. Capek teriak-teriak. Saya makin paham setelah jadi mentor di sebuah kelompok mentoring Islami. Mereka sering diejek-ejek, walaupun memiliki ilmu yang banyak di bidangnya dan kompeten dalam mengajar.

Sekarang begini : mengapa kita tak coba menenangkan hati guru?

Padahal banyak dampak positifnya. Guru itu juga manusia yang kalau mengajar, mungkin moody. Jadi kalau sang guru kita buat senang terus, beliau juga ngajarnya bagus dan antusias 'kan...

Aih sudahlah. Singkat kata, kalau mau dihargai, hargai dulu orang lain. Terlepas orang itu menghargai penghargaan kita atau nggak.

Maafkan post yang berakhir tidak jelas ini... :v

Rabu, 22 Januari 2014

Catatan dalam Status H-82 UN

Assalamu'alaikum, hisashiburi~

Lama banget aku nggak nge-post. Heh, tunggu itu bukan salahku. Sebelumnya aku pernah nyoba ngepost lewat iPad, tapi ternyata nggak bisa di-save jadi draft dan akhirnya malah hilang terhapus. Menyesakkan.

Nggak terasa memang. Kalau UN jadi tanggal 14 April 2014 (tanggal cantik btw), berarti tinggal 82 hari lagi. Kalo berdasarkan hasil TO selama ini, lulus sih iya, tapi nilainya gak memuaskan banget. Matematikaku belum beranjak dari angka lima. Walaupun setelah itu aku belajar, belum ada TO lagi untuk menguji apakah aku sudah berkembang atau belum.
Alhamdulillahnya, aku nggak kayak sebagian teman sekelasku yang sampe sekarang kerjanya cuma main-main aja. Mungkin mereka belajar di rumah sih, tapi mereka hampir gak pernah kelihatan belajar sendiri, pas nggak ada guru terutama. Ummi emang pernah bilang, tantangan terberat di jurusan IPS : anaknya males-males. Aku sendiri termasuk pemalas.

Pada dasarnya TO pas kelas 12 ini emang nggak sebanyak TO waktu kelas 9. Pas kelas 9 aku sampe 22 kali Try Out lho. Hasil akhirnya lumayan, 37.90 atau rata-rata 9.475. Dan gimana sekarang? Targetku cuma minimal 8.0 di tiap pelajaran. Rendah, ya, hohoo.

Terus soal kuliah, pilihan utamaku masih kokoh di FSRD ITB. Bahan-bahan seleksi buat masuk ke sana belum aku selesaikan. Masih berupa ide. Masih butuh banyak latihan menggambar, mengarsir dan mewarnai. Tapi kalo portofolio yang sertifikat sih insya Allah udah siap. Aku sudah membulatkan tekad bahwa di SNMPTN, aku cuma akan milih FSRD di pilihan jurusan. Jadi kalo dapet ya dapet, kalo gak dapet ya langsung ikut SBMPTN aja.

Satu yang bikin aku bersyukur masuk jurusan IPS, ternyata FSRD itu di SBMPTN masuknya ke jurusan IPS, jadi bidang tesnya SOSHUM alias Sosial dan Humaniora. Seandainya aku dulu masuk IPA dan masih ngincer FSRD, aku mesti ikut SBMPTN IPC atau IPS dan makin banyak lagi yang mesti kupelajari. Alhamdulillah aku IPS~!

Terus gimana soal pilihan alternatif? Nah, ini yang masih belum pasti. Abi pernah bilang, aku mesti milih profesi yang orientasi kerjanya bisa di rumah, bukan di kantor. Menurutku itu sangat masuk akal, karena aku sendiri juga ingin kelak menikah lalu jadi ibu rumah tangga. Jadi aku mesti milih jurusan yang kira-kira bisa mengantarkan aku ke pekerjaan macam itu. Kayaknya nih, dalam  hati abi pingin aku ngambil jurusan psikologi, terus buka praktik aja di rumah. Tapi aku nggak yakin bisa enjoy di Psikologi. Menarik sih, cuma takut nggak enjoy aja. Minatku selain menggambar itu jejepangan, jadi sempat kepikir ngambil Sastra Jepang UI.

Tapi kata Ummi, kalo nggak ada tujuan jelas di SasJep, misalnya mau jadi wartawan, jangan ngambil sastra.

Ternyata solusinya baru kutemukan tempo hari. Waktu itu aku iseng aja nanya temen di kelas, "jurusan yang nanti kerjanya bisa di rumah aja apa, ya?"
Dan dia jawab, "jadi translator aja. Kerjanya cuma dengrin kaset doang di rumah."
Mungkin dia ngrujuk ke sesorang yang dia kenal. Tapi apa yang dia bilang bener juga. Memang benar ada translator yang kerjanya di rumah aja.

Jadi dengan begitu aku punya alasan memilih Sastra Jepang. Kenapa UI? Karena universitas yang satu provinsi sama sekolah ya itu. Akan kucoba lagi negosiasi dngan orang tuaku. Ganbarimasu! Oyasumi~

Ngomong-ngomong maaf saya nulisnya kacau eheheee

Senin, 28 Oktober 2013

[Re-post] Catatan Akhir BEST 2009/2010

Assalamu'alaikum, kali ini mau nge-repost suatu catatan yang dibuat pembina BEST periode 2009/2010 di facebook dulu, tiga tahun yang lalu. Menurut saya bagus dan banyak banget kenangan di dalamnya, jadi saya putuskan untuk repost. Monggo...

NB : telah diedit sedikit di bagian ejaan


 Setitik Air Mata di Akhir Agenda BEST 2009/2010

Hari Senin, tanggal 16 Agustus atau bertepatan dengan tanggal 6 Ramadhan 1431 H adalah hari yang akan menjadi sejarah bagi kami, karena pada hari itu adalah hari di mana menjadi kegiatan pamungkas BEST 2009/2010. Kegiatan yang menjadi penutup kegiatan-kegiatan yang telah kami laksanakan sejak tahun 2009 dari mulai kegiatan Iedul Adha dan sampai hari itu tiba. Entah kenapa ada rasa sedih yang mendera dalam hati kami, khususnya kelas sembilan. Sejarah manis yang telah kami torehkan selama kurang lebih setahun di best akan segera berakhir, episode-eposide itu kini telah mencapai puncaknya. Kami tak akan pernah melupakan segala yang telah kami catat dan ukir dalam tiap memori ingatan kami tentang apa yang telah terjadi dan kami lakukan selama setahun di BEST.

Banyak hal yang terjadi, banyak cerita tercatat, banyak kenangan tak terlupakan yang membuat kami tersenyum bahkan menangis. Semua itu adalah bagian dari garis takdir yang telah Allah berikan untuk kami dan sungguh kami sangat menikmatinya. Kami pasti akan selalu ingat bagaimana kami bekerja, bagaimana kami membuat sebuah agenda, bagaimana kami rapat, bagaimana kami mengeluh, bagaimana kami semangat, bagaimana kami kecewa, bagaimana. dan .bagaimana.... dan banyak hal lain yang kami perbuat yang tujuannya adalah agar bagaimana mereka (kepala sekolah, guru-guru, orang tua, teman-teman) bangga dengan kami dan yang terpenting adalah bagaimana keberadaan kami bermanfaat bagi mereka. Tentunya itu semua adalah sarana bagi kami beramal untuk Allah, karena kami sadari bahwa kerja-kerja kami itu adalah bagian dari ibadah untuk Alloh Swt.

Cerita itu pasti akan berakhir dan kami harus membuat cerita-cerita kehidupan kami berikutnya dengan episode-episode yang lebih baik dan membuahkan kebaikan. Setahun atau dua tahun  di BEST buat kami cukup untuk menjadi  bekal kami berorganisasi. Kami jadi bisa memahami karakter tim kami, kami bisa memahami betapa sulitnya mengatur orang lain atau membuat agenda yang memakan biaya yang tidak sedikit. Kesabaran dan pengorbanan kami diuji di sini, berbahagialah bagi kami yang telah menunaikan amanah ini dengan ikhlas, semangat dan all out karena kami yakin ketika kita melakukan banyak maka akan dapat banyak, ketika bekerja baik maka akan mendapatkan hasil yang baik juga. Allah tidak akan mungkin keliru dan salah menilai atas apa yang telah kami lakukan. Kami sama sekali tidak kecewa ataupun menyesal atas apa yang telah kami lakukan. Walaupun kadang-kadang itu berdampak pada pelajaran dan kekhawatiran orang tua.

Huufff... kadang-kadang kami tertawa, geli dan kadang-kadang bangga melihat pongah kami sendiri. Koq bisa ya anak SMP kayak kami rapat sampai sore bahkan mengambil jatah waktu liburan kami untuk membahas agenda yang belum kami urus sebelumnya. Padahal teman-teman yang lain mungkin tengah asyik dengan komputer dan gamesnya di rumah atau di warnet. Terkadang orang tua kami pun marah kepada kami karena sering pulang maghrib, bahkan ada yang sampai sakit karena tekanan yang begitu dahsyat memikirkan agenda yang masih sangat mentah. Atau ada cerita remaja yang kadang terselip yang menjadi bumbu-bumbu obrolan seperti saling "menjodohkan" antara ikhwan dan akhwat, antara satu departemen atau departemen lainnya. Atau antara BPH dengan BPH inti. Kami tahu itu memang adalah gurauan sampah yang tak berarti, tapi kadang-kadang itu kami jadikan untuk mencairkan suasana dan membuat suasana tidak BT. Karena kami yakin seyakin-yakinnya itu adalah perbuatan yang konyol dan norak bagi kami. Walaupun kami sadari di usia kami yang sedang menggebu-gebu dan ABG ini sesuatu bisa saja terjadi. Memang itu tantangan bagi kami untuk menjaga hati dan iman kami, karena sekolah kami di pisah antara ikhwan dan akhwat, sehingga rapat-rapat BEST kadang-kadang kaku dan monoton, tapi lambat-laun itu semua menjadi pelajaran bagi kami untuk merubahnya. 

Hiks..hiks..hiks.. tapi rapat-rapat itu tak mungkin kami alami kembali setelah masa amanah kami selesai, kami tak akan lupa bagaimana "aneh"-nya ketua kami ketika memimpin rapat aneh karena kadang-kadang ia serius tapi kadang-kadang seperti anak kecil yang lucu, bahkan kadang-kadang marah dan menurut sebagian akhwat "serem" bila kesel karena  berisik dan tidak bisa diatur. Tapi bagaimanapun ia adalah sosok yang luar biasa, tak salah BM memilihnya menjadi ketua. Pengorbanannya sungguh tidak bisa diragukan lagi. Dengan motor THUNDER dan  BEAT-nya ia jelajahi setiap tapak-tapak aspal jalanan untuk menjemput rezeki dana proposal, walaupun itu adalah tindakan yang kurang terpuji karena belum punya SIM...he..he..he. Tapi itu aturan manusia tidak dosa, rasul saja memerntahkan kita untuk belajar berkuda dan memanah sejak kecil, motor mungkin saat ini sama saja dengan kuda yang bisa mempermudah urusan...betul tidak? (ngeles.com)

Selain cerita tentang ketua kami adalagi cerita rapat tentang wakil ketua kami. Sosok yang satu ini juga kadang-kadang "aneh". Kalau diminta menggantikan rapat pasti pembahasannya lama, maklum beliau mempunyai bahasa verbal yang tinggi sehingga kadang-kadang susah di tangkap maksud dan arah tujuan pembicaraannya. Mungkin beliaulah sosok yang mendobrak kekakuan saat rapat, kemampuan berkomunikasi dengan akhwat menjadikannya sosok yang paling dekat dengan akhwat di sekolah. Sehingga lambat-laun pengurus yang lainpun mengikui jejaknya  untuk tidak kaku dalam berkomunikasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan BEST. Awas pak Waketu jangan mepet-mepet entar keserempet! He...he..he..

Cerita selanjutnya adalah tentang sekum kami..hmm..hmmm. Sekretraris Umum. Tugasnya apa sich? Sekum kami ini juga agak "aneh". Wong sekum kok jarang nyatat hasil rapat, kalau di minta buat proposal lamanya minta ampun akhirnya ujung-ujungnya yang lain yang buat. Tapi itulah organisasi, kita saling membantu bila yang lain membutuhkan bantuan. 

Adalagi cerita tentang Bendum kami..sosok yang kale ini ternyata pandai mengelola keuangan maklum lah wong abinya orang pajak. Baik banget kalau rapat sering disediakan makanan. Semoga nanti uang kasnya surplus.. ayo siapa yang belum bayar uang kas? Bayar ya sebelum nanti ditagih!

Sekarang kita simak cerita pengurus di departemen. Kami mungkin tidak akan menampilkan secara detail semuanya ya, karena keterbatasan kami mengingat dan merekam semua peristiwa yang terjadi. Departemen IPTEK.... Di sana sosok penggila kartun Jepang dan suka membuat gambar ini adalah sosok yang luar biasa. Tidak heran ia mendapat penghargaan "Inspiring Student" tahun ini. Ia adalah salah satu motor penggerak roda BEST. Banyak ide-ide segar yang ia berikan yang membuat BEST lebih hidup. Keahliaannya menggambar dan bermain dengan photoshop membantu kami dalam pembuatan spanduk dll. Selain itu juga ada sosok perempan kedua di IPTEK, sosok yang kalem dan murah senyum ini juga telah banyak memberikan kontribusi yang positif bagi kami, banyak kemudahan darinya yang kami rasakan, seperti pada saat kameranya rusak saat acara MOS. Setelah itu ada sosok ikhwan putih berkacamata di IPTEK. Di tengah kesibukannya di rumah ia masih menyempatkan waktu untuk beberapa kali terlibat dalam rapat dan kegiatan BEST. Sosok yang jago photography dan bermain games serta English ini cukup memberikan warna tersendiri bagi IPTEK. Sosok yang terakhir adalah sosok ikhwan kalem berperawakan tinngi, walaupun ia baru masuk kepengurusan BEST di tengah-tengah tahun, tapi cukup memberikan aroma dan greget di IPTEK.

Di Departemen Agama ada sosok yang mudah untuk di kenali cukup dengan memintanya mengumandangkan takbir dan tahi lalatnya yang katanya mirip Azzam KCB. Maka pasti kita akan mengenal sosok yang ceria ini dan sikapnya yang suka penasaran terhadap sesuatu, yang menjadikannya cukup disegani oleh yang lain. Ia adalah bagian penting BEST, ia selalu menemani para petingggi-petinggi BEST lainnya kemanapun mereka pergi, bahkan ketika mereka bimbel pun ia rela mengantar mereka karena disamping Bimbelnya ada warnetnya.... he.he. Di bawah kepemimpinannya DEPAG berhasil menyelenggrakan program Maulid degan sukses. Sosok yang kedua di DEPAG adalah sosok ikhwan yang kalem dan ramah. Sosoknya sangat disenangi oleh teman2nya, kontribusinya di BEST cukup baik, ia adalah salah satu kandidiat ketua BEST tahun depan. Sosok yang ketiga adalah sosok akhwat yang cukup kalem dan mempunyai banyak hafalan al-qur'an ini merupakan salah satu pengurus muda yang cukup aktif, ia juga merupakan salah satu kandidat ketua BEST tahun depan. Sosok yang terakhir adalah sosok yang mempunyai leadership yang tinggi buktinya 2 tahun bertutut-turut dipilih menjadi ketua kelas oleh teman-temannya. Tapi sayang beliau sudah tidak bersama kita lagi di Baitul Maal sekarang, tapi kami akan selalu ingat segala pengorbanan, kontribusi yang telah di berikan, semoga di sana engkau bahagia dan lebih baik lagi.

Departemen selanjutnya adalah Departemen Seni dan Olahraga. Di departemen ini dihuni oleh seorang  ikhwan yang kekar dan pemberani teman-temannya sering menjulukinya "si tangan kuli". Kontribusinya cukup menonjol, kerjanya ulet dan tangkas bila mendapat instruksi. Berikutnya ada sosok imut bergigi behel.. sosok yang selalu tersenyum ini cukup memberikan warna di Mensora semoga nanti bisa menjadi kandidat ketua BEST yach. Sosok yang lain adalah sosok seorang akhwat yang kuat dan lantang, ia pandai bermain anggar. Kontribusinya cukup menonjol di BEST terutama di kepanitiaan kegiataan. Sosok terakhir adalah sosok yang low profile, suka angot-angotan tapi aktif dan jarang absent rapat dan kegiatan.

Departemen berikutnya adalah Departemen Kedisiplinan. Departemen ini di gawangi oleh sosok ikhwan yang jangkung, kalem dan tidak pernah datang terlambat ke sekolah, sehingga tepat amanah ini diberikan kepadanya. Ia merupakan petinggi BEST yang selalu berdampingan dengan ketua BEST dan jajarannya. Sosok ikhwan yang kedua adalah sosok ikhwan yang selalu PD dan  berani tampil di muka umum, ia juga merupakan salah satu kandidat ketua BEST tahun depan. Sosok berikutnya adalah sosok akhwat yang mempunya tingkat PD yang tinggi juga, suka bertanya dan sopan ini adalah merupakan motor penggerak BEST banyak info-info skandal kasus siswa terungkap darinya. Yang terakhir adalah sosok akhwat yang mempunyai suara yang bagus kalo nyayi, ia adalah pengurus BEST yang berdomisili paling jauh, ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang ke sekolah dengan kereta api.

Departemen berikutnya adalah departemen lingkungan hidup. Sosok yang pertama adalah sosok yang bijak dan murah senyum, ia disegani dan dihormati oleh teman-temannya, ia merupakan salah satu motor penggerak BEST. Sosok berikutnya adalah sosok paling kalem di BEST dan selalu berpenampilan rapih. Tidak banyak bicara tapi mudah untuk menerima instruksi. Sosok ketiga adalah sosok akhwat yang kritis, ulet dan pembelajar. Selalu juara di kelasnya membuatnya tidak terlalu lama untuk beradaptasi dengan hal baru yang di amanahkan kepadanya, ia juga adalah salah satu motor penggerak BEST. Dan salah satu yang sering ditegur orang tuanya karena pulang sore.he.he. sosok terakhir ini adalah sosok yang kalem dan cuek. Sulit untuk membaca pikirannya. Sosok akhwat jangkung ini cukup mewarnai BEST.

Departemen terakir adalah departemen Ekonomi dan Sosial. Digawangi oleh sosok akhwat yang sering curhat di FB ini, sosok yang kadang-kadang tertawa, senyum, kadang-kadang mengeluh, nangis dan tidak bisa tidur kalo ada tugas yang belum ia selesaikan. Tapi dengan semangat yang ia miliki akhirnya ia bisa membuktikan diri bahwa ia bisa, dan itu terbukti dengan suksesnya penyelenggaraan Baksos Ramadhan. Sosok berikutnya adalah sosok yang paling ganteng di DEPSOS ini, ketawanya yang unik membuatnya kelihatan awet muda..ha..ha. ia adalah salah satu kandidat ketua Best tahun depan. Berikutya adalah ia adalah sosok yang paling kalem di akhwat tapi kalau nulis status di FB..beeh..dalam banget maknanya. Kontribusinya cukup positif di BEST. Sosok yang terakhir adalah sosok yang tidak asing bagi para pencinta film KCB. Iya betul ia adalah salah seorang artis KCB (bangga.com). berkat pengalaman-pengalaman yang dimilikinya ia mampu mewarnai BEST dengan ide-ide segarnya. Ia juga kandidat ketua BEST tahun depan.....

Itulah kami yang tergabung dalam BEST 2009/2010. Mohon maaf kepada teman-teman apabila ada yang kurang tepat kami mendeskripsikan teman-teman semua, karena kami menilainya  hanya secra subjektif. Semoga kenangan-kenangan indah dan bermakna itu akan kami  kenang selalu dan akan kami jadikan pengalaman berharga untuk kehidupan kami selanjutnya. Waktu sudah berlalu dan tidak mungkin akan kembali. Mungkin di antara kami ada yang ikhlas ada yang kurang ikhlas, ada yang setengah-setengah ada yang all out, ada yang berkorban ada yang terkorban. Semuanya kembali kepada diri kami. Semoga dapat menjadi pelajaran untuk hari esok yang lebih..baik... biarlah air mata yang menetes ini menjadi saksi betapa kami selalu merindukan saat-saat itu. Saat kami disibukan dengan rapat, saat kami harus capek dan lelah untuk mensukseskan program, saat kami harus pulang sore bahkan malam, saat kami dipandang sinis oleh teman-teman yang bukan best, saat kami harus menempuh perjalanan jauh untuk sekedar mendapatkan dana, saat kami membagikan proposal, saat kami bingung, saat kami marah, saat kami kecewa...saat-saat itulah yang pasti akan kita rindukan...semoga Allah SWT membalas setiap apa yang telah kita lakukan dengan sebaik-baik balasan. Dan kita bisa bertemu kembali di surga-Nya kelak... terus berjuang kawan..UJIAN NASIONAL menanti kita di depan. Kita buktikan organisasi bukan menjadi penghalang kami untuk berprestasi!!!! Allohu akbar...

Wassalam......
Tangsel. 17 Agstus 2010 pukul 14.00 WIB- 16.45 WIB