Rabu, 03 Desember 2025

Supir Bus Sekolah yang Tidak Sekolah

Waktu itu pertengahan tahun 2014.

Aku hendak pergi dari tempat les bimbelku ke tempat les menggambar. Saat itu sedang masa-masa persiapan ujian masuk kampus jurusan desain yang jadi cita-citaku. Semangat sedang tinggi, les di berbagai tempat sekaligus aku jabanin.

Seingatku, saat itu kelas 12 SMA sudah tuntas sekolah--sudah tidak pakai seragam lagi. Meskipun begitu, gaya berpakaianku masih seperti anak remaja pada umumnya: pakaian putih atau hitam, rok jeans, dan kerudung putih bergo. Bukan seragam, tapi mungkin mirip seragam.

Dengan pakaian seperti itu, aku menunggu bus kota yang akan membawaku dari Petukangan ke daerah Mayestik.

Bukannya bus kota, ternyata malah bus kuning yang lewat duluan. Aku tidak pakai seragam sekolah--begitu syarat menumpang bus sekolah yang kutahu, jadi aku tak berharap bus itu berhenti. Namun, ternyata supir menghentikan bus tepat di depanku dan menyuruhku naik.

Aku menurut, meski sambil kebingungan.

Ternyata aku satu-satunya penumpang di bus kecil itu. Aku pun mengambil duduk di dekat bapak supir.

Tanpa kuminta, bapak supir itu mulai bercerita bahwa dulu beliau tidak tamat sekolah. Karena itu, beliau "hanya bisa menjadi" supir bus. Uniknya, nasib membawa beliau menjadi supir bus sekolah.

Kata beliau, beliau senang bisa mengantarkan anak-anak hingga bisa sampai ke sekolah. Beliau tidak mau anak-anak ini seperti beliau dulu, yang tidak bisa tuntas pendidikannya.

Karena itu, meskipun aku tidak pakai seragam, beliau tetap mau mengantarkan. Walaupun bukan ke sekolah, toh aku tetap dalam perjalanan untuk menuntut ilmu.

Aku pun sampai di tujuan. Turun bus hanya mengucap terima kasih tanpa membayar apapun. Bus sekolah tidak memungut biaya, karena memang merupakan program subsidi baru dari pemprov DKI Jakarta di masa itu.

Namun, aku turun dengan pengalaman berharga. Sangat singkat, tapi masih kuingat sampai 10 tahun kemudian di 2025 ini.

-----

Sekarang, 11 tahun sejak hari itu, aku sudah bekerja.

Meskipun tidak jadi kuliah di kampus desain, aku tetap berakhir menjadi desainer grafis. Tepat sesuai cita-cita kala remaja.

Bus sekolah masih ada. Kini armada bus itu diganti jadi lebih besar. Meskipun mampu menampung lebih banyak anak, bus itu tetap saja penuh karena antusiasme murid-murid. Aku sudah jarang melihatnya karena waktu operasi bus itu berselisih dengan waktuku bekerja, tapi setiap kali aku lihat, bus itu pasti penuh sepenuh-penuhnya.

11 tahun berlalu, tapi aku masih ingat cerita bapak supir bus sekolah waktu itu.

Sungguh kisah hidup yang unik, perjalanan hidup beliau itu.

Beliau beruntung, meski putus sekolah beliau bisa belajar keahlian khusus yang membantunya mencari nafkah: mengemudikan kendaraan besar.

Aku pernah baca dan tonton, anak-anak kalangan menengah ke bawah memang sangat didorong oleh lingkungannya untuk bisa mengemudi mobil, bahkan kalau bisa bus dan truk.

Hari ini, kendaraan umum begitu banyak. Termasuk di antaranya bus kecil dan besar.

Kira-kira, berapa banyak ya di antara supir itu yang tidak tamat sekolah?

Pendidikan mereka tak tuntas, tapi hasil kerja mereka mengantarkan banyak sekali anak ke sekolahnya. Anak sendiri dan banyak anak orang lain.

Benarlah kebermanfaatan seseorang tak tergantung dari ijazahnya, melainkan dari ilmu dan amal nyata yang ia lakukan.

Kamis, 16 Mei 2024

Aku Ingin Lebih Kuat!!

 Jadi, aku lagi sakit. Flu, batuk. Tubuhku tidak mampu mengimbangi aktivitasku.

Well, I did force myself quite a bit the last two weeks. Tiba-tiba H-3 bulan (atau kurang) aku memutuskan ikut Comifuro 18 (CF18), dan sampai H-1 acara aku masih gambar dan cetak produk. Huahahaha

Alhamdulillah CF berjalan sangat lancar (it ended too fast, If I could say...). Aku sampai di rumah Ahad malam. Besok paginya aku berangkat kerja kerja ke kantor. Pulang sore, lalu malam harinya lanjut les online bahasa Jepang. Aku sekip makan malam karena dari pagi sampai sore sudah disuguhi banyaaaak sekali makanan di kantor.

Ternyata, besok paginya aku tepar juga....

Harusnya kupaksakan diri untuk makan malam, ya.

Sekarang hari Kamis, sudah hari ketiga aku sakit. Seharusnya hari ini aku mengisi ekskul mentoring di sekolah lamaku, tapi karena sakit, jadi tidak bisa. Untungnya pekan ini ada mentoring gabungan online, jadi kegiatan adik-adik bisa kualihkan ke sana.

Besok aku harus masuk kerja. Harus.

Kantorku tidak seketat itu dalam urusan kehadiran, tapi tetap saja aku akan rugi. Sehari aku tidak masuk, sehari itu juga uang tunjangan transport dan makanku melayang... Bayangkan kalau tidak masuk berhari-hari. Haish. Beban pekerjaanku juga 'kan jadi ditanggung rekan kerjaku. Mau ditaruh di mana integritasku kalau begitu terus? :")

Karena itu, aku harus masuk!

Aku nggak mau kegiatan-kegiatan sampinganku jadi terkesan membuat kinerjaku di kantor menurun. Aku mau berjuang sebisanya juga di sana. I don't want to take my job and my officemates for granted. I want to cherish them.

Sejujurnya, masih banyak yang ingin kulakukan. Aku mau buka online shop untuk menjual karya-karyaku. Aku mau ikut bela diri Aikido lagi, atau daftar keanggotaan gym, pokoknya yang membuatku ada kegiatan olahraga. Aku juga mau bantu-bantu di rumah, mau masak-masak, mau belajar nyetir, mau jalan-jalan dan ngobrol aja sama keluarga. Aku mau main sama teman-teman lama yang sudah lamaaa sekali tidak kutemui. Aku juga mau bikin komik, mewujudkan ide-ideku jadi karya.

Banyak sekali yang mau aku lakukan....

Tapi, ya, tubuhku ini kok gampang sakit? :")

Dulu waktu kuliah pun, aku melakukan banyak kegiatan sampai penyakit mengeremku. Aku pernah sampai putus asa dan menyerah hidup karena. Namun, justru karena pernah seperti itu, karena aku sudah tahu rasanya tidak punya semangat hidup, aku mau memanfaatkan semangat hidup menggebu-gebu yang sekarang kumiliki ini.

24 jam rasanya kurang. Apakah mimpiku terlalu banyak? Yang mana yang harus aku utamakan, yang mana yang harus aku lupakan? No, that aside--apa yang harus kulakukan sekarang supaya aku sanggup menjalankan semuanya?

Aku sudah lelah jadi orang lemah. Aku capek karena aku gampang capek.

Bukankah kata hadits, "Mu'min yang kuat lebih dicintai Allah daripada mu'min yang lemah." Begitu, 'kan?

Ya Allah, izinkan aku jadi mu'min yang kuat! Izinkan hamba mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari nyawa yang Engkau berikan ini. Berikanlah aku petunjuk, mudahkanlah aku dalam memahami dan melaksanakan petunjuk-Mu. Berikanlah aku rezeki yang terbaik berupa kesehatan dan ketenangan hati. Aamiin....


So, what should I do?

Let's fix my morning habit. Subuh is a must. Tahajud, even better. Oh wait, mungkin persiapan malamku harus kuperbaiki juga, supaya paginya ikut baik. Makan juga. Mungkin aku juga harus lebih rajin stretching? Apakah porsi jalan kakiku sudah cukup? Apa aku olahraga dari jogging saja?

....

Ya Allah, tolong berikan aku ilmu terkait ini...

Jumat, 02 Februari 2024

Kekuatan Luffy!


Pada event Comic Frontier 17 beberapa bulan lalu, aku membeli gelang yang sederhana nan bagus ini. Temanku bilang harganya terbilang mahal menimbang bahan dan modalnya, tapi yaa... Bukankah kebanyakan barang di CF memang begitu? Hahahaa... Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku beli gelang ini, tapi ia masih awet meski aku pakai hampir setiap hari. It's worth the price, I think.

Anyway, seperti yang terlihat di foto, bandul gelang ini adalah Luffy. Aku bukan penggemar berat serial One Piece, tapi aku tahu garis besar ceritanya. Aku baca sedikit komiknya, nonton sedikit anime-nya (yang ditayangkan di TV dulu), dan sekarang sedang menonton versi live action-nya, meski belum selesai.

Saat menonton dan melihat kembali karakter Luffy, aku merasa kagum. Tokoh utama komik shounen zaman dulu kebanyakan punya sifat seperti itu. Sebut saja Luffy, Naruto, atau Goku. Mereka tidak banyak berpikir, tapi banyak bertindak. Mereka baik hati, mudah berteman, juga setia.

Sangat berlawanan dengan sifatku.
Aku terlalu banyak berpikir, bahkan sampai tidak jadi bertindak. Aku bisa memperlakukan orang lain dengan baik (semoga benar demikian), tapi selalu ada ruang skeptis dalam hati yang membuatku tidak bisa benar-benar membuka diri. Memang betul banyak berpikir itu salah satu pertanda banyak pengetahuan. Namun, kecerdasan tidak hadir satu paket dengan keberanian.

Jadi, bagaimana caranya menjadi berani?

Hmm, sejujurnya, jawaban pertanyaan itu tidak terjawab walau sudah berpikir bertahun-tahun. Ternyata, cara mencari jawabannya bukan dengan berpikir. Justru, jangan berpikir! Lakukan saja!

Nekad? Bisa jadi. Berani dan nekad itu beda tipis. Percaya diri juga. Bedanya ada di ada tidaknya kesiapan dan kepercayaan.

Wew, jadi ngalor-ngidul gini, hehe.

Hari itu di CF, aku membeli dua gelang. Yang satu berbandul Luffy, yang satu lagi Naruto. Keduanya adalah karakter pemberani. Bukan overthinker! Tentu ada kalanya mereka gagal dan lemah, tapi mereka terus berusaha, terus membangun kembali keyakinan yang runtuh, dan terus maju.

Life goes on! Let's just kinda keep at it! LOL


Minggu, 28 Januari 2024

"Kamu Sudah Kerja Keras!"

Ini kisah kilas balik dari sekitar awal tahun 2018. Saat aku lengser alias selesai menjabat semua amanah organisasi di kampus Padjadjaran.

Hari itu, pengurus organisasi lama dan baru hadir di aula untuk acara serah terima jabatan yang diadakan fakultas. Karena ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)-ku berhalangan hadir, aku sebagai salah satu wakil ketua hadir menggantikan.

Singkat cerita, dilantiklah adik tingkatku, selesailah tugasku. Kami bersalam-salaman dengan para dekan dan pejabat fakultas di akhir acara.

Saat aku menyalami wakil dekan bidang kemahasiswaan, yang juga dosen pengajar beberapa mata kuliahku, beliau spontan berceletuk dengan senyum cerah, "Wah, ini nih! Udah kerja keras!"

Refleks, begitu mendengar kata-kata beliau, air mataku berlinang. Tidak sampai menangis, karena aku berusaha menahan. Namun, rasa ingin menangis yang timbul sangatlah kuat.

Mungkin beliau mengucapkan itu tanpa pikir panjang, tapi hanya dengan itu aku merasa semua usahaku setahun terakhir diakui. Itu semua tidak sia-sia.

Ternyata selama ini beliau tahu aku, ya.

Aku memang sering duduk di barisan depan saat perkuliahan di kelas, tapi tidak pernah ada interaksi khusus antara aku dan beliau, jadi aku tidak merasa beliau tahu aku.

Karena aku aktif di UKM Fakultas dan beliau Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, aku sempat beberapa kali bertemu beliau kalau ada pertemuan atau kegiatan lainnya di fakultas.

Di tingkat rektorat atau universitas juga, aku ketua UKM tingkat Universitas, jadi pernah beberapa kali melihat beliau saat acara rektorat terkait kegiatan kemahasiswaan.

But that's all. I thought he just think of me like any other student. Like a person in the background, kalau aku boleh lebih kasar.

Ternyata tidak.
Beliau sadar siapa aku. Beliau tahu ke mana saja aku berkiprah. Beliau tahu.

Sekarang 2024, sudah 6 tahun berlalu sejak saat itu. Beliau pasti sudah tidak ingat, tapi aku masih merasa terharu setiap teringat momen itu. Karena kejadian itulah aku sadar, betapa berharganya afirmasi positif dari orang lain bagiku.

Betapa mudahnya cara membuatku menangis, yakni cukup dengan kata-kata
"Kamu udah kerja keras.
Makasih, ya."

___________________

Ucapan terima kasih khusus saya sampaikan pada beliau,
Dr. Dadang Sugiana, Drs., M.Si.
Dosen Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.
Semoga Bapak sehat selalu, terima kasih atas ilmu dan penguatan yang diberikan.

Jumat, 26 Januari 2024

Not Everyone Wants Your Best - Tidak Semua Orang Menginginkan yang Terbaik Darimu

Tidak semua orang meminta yang terbaik dari kamu.
Artinya, kamu tidak perlu memberikan yang terbaik dalam segala hal.
Kitalah yang perlu pandai-pandai mengenali, kapan harus maksimal, kapan perlu secukupnya.

Pekerjaanku sehari-hari adalah sebagai desainer grafis dan ilustrator.
Kerap kali, aku berusaha mengerjakan tugas kerja dengan usaha yang berlebihan. Aku membuat konsep dan desain yang membutuhkan masa pengerjaan cukup lama. Pada akhirnya, aku malah tidak bisa menyelesaikan tugas itu tepat waktu.

Padahal, permintaan yang diberikan padaku sederhana. Mereka ingin permintaannya sekadar dipenuhi. Mereka tidak meminta aku mengeluarkan kemampuanku 100%, bagi mereka 50% dariku saja sudah cukup.

Sayangnya, aku tidak mengenali keinginan mereka dengan baik.

Barangkali bukan hanya desain, tapi dalam hal lain pun aku mengalami masalah ini. Mengerjakan skripsi, menulis artikel di blog, menggambar karya, atau mengisi kegiatan mentoring.

Lelah, bukan?

Aku masih harus banyak belajar cara menurunkan ekspektasi dan idealisme. Sepertinya ini akan menjadi jalan sulit lainnya untuk mengembangkan diriku, tapi aku harus melaluinya, bukan?

Senin, 22 Januari 2024

Mengejar Value, Bukan Harga

Alhamdulillah, Senin kemarin aku berhasil puasa qodho, ibadah wajib yang selama ini terus tertunda dan harus segera diselesaikan. Karena sebelumnya gagal puasa terus, aku memutuskan untuk menyogok diri sendiri: kalau hari ini berhasil puasa, kita buka puasa Marugame Udon!

Alhamdulillah sogokannya berhasil, wkwkwk. Makanlah aku di resto udon yang kondang itu. Udon kuah kari dengan chicken katsu, ditambah sate tofu goreng, dan ice lemon tea bebas refill. Wah... Rasanya ini Marugame terenak yang pernah kumakan selama ini.

Sejujurnya, aku memang jarang makan Marugame. Alasan utamanya bukan karena harga, bukan karena uang, tapi karena memang aku jadwalkan. Aku berkomitmen cuma boleh makan di sana 1x saja per semester. Misalnya aku sudah makan di bulan Februari, aku baru akan makan lagi paling cepat di bulan Juli. Nyatanya, dalam setahun hanya 2-3 kali aku makan udon itu.

Kenapa dijadwalkan begitu?
Karena aku ingin menjaga keistimewaannya.

Kalau aku sering makan, udon itu bakal jadi biasa saja, common food. Akan tetapi, kalau aku makan jarang-jarang, setiap kesempatan aku makan udon bakal jadi spesial buatku.

Lagipula, makanan mahal yang aku suka ada banyak... Jadi sembari menunggu masa untuk "boleh" makan udon lagi, aku makan di resto yang lain: mungkin Doner Kebab, Raa Cha, atau resto lainnya yang belum kueksplorasi.

Selalu tanamkan prinsip, "Untuk makanan, selalu ada hari esok." Supaya tidak kalap beli makan hari ini. Penting juga untuk mengenali kapasitas diri: kalau tidak lapar, jangan beli makanan yang bikin kekenyangan. Kalau sudah kenyang, jangan makan lagi. Meskipun uangnya ada.

Ingat, kekurangan dan kecukupan itu dua-duanya ujian! Justru ketika kita punya uang, kita lebih diuji uang itu kita gunakan untuk apa. Apakah untuk hal yang bermanfaat atau yang sia-sia?

Hari saat aku makan udon itu, aku juga teringat pelajaran lain yang penting: jangan kejar harga, tapi kejar value. Bukan asal pilih yang paling murah atau yang paling mahal, melainkan kejar nilai-nilai, kepuasan, atau keuntungan yang ada di balik harga itu.

Misalnya, waktu aku lagi memilih minuman di resto udon tadi. Awalnya aku berniat memilih air minum yang paling murah. Kemudian aku melihat ice lemon tea dan ocha yang harganya hanya selisih Rp2.000 dari air minum, tapi bisa refill sepuasnya. Sekilas, memilih yang paling murah memang terlihat menguntungkan. Namun, kalau kita mempertimbangkan value, memilih lemon tea atau ocha jauh lebih valueable. Minuman-minuman itu lebih sulit kita temukan daripada air putih. Ada nilai kelangkaan di sana, walaupun tidak besar. Ada pula faktor refill tadi. Artinya, dengan menambah sedikit uang, kita bisa mencapai kepuasan yang lebih besar. That's value.

Oke, itu untuk value ke atas. Gimana kalau value ke bawah? Bisa juga kok!

Mempertimbangkan value ketimbang harga juga bisa membantu kita untuk hemat. Misalnya dalam hal minum kopi. Kita punya tujuan minum kopi supaya nggak ngantuk dan bisa lebih fokus saat bekerja. Kalau sudah punya tujuan begini, semua kopi akan terlihat satu value, entah mereknya itu St4rbucks, Kenangan, starling, atau seduh kopi sendiri. Asal bisa memenuhi tujuan, pilih saja yang paling murah! Toh, pada akhirnya merek apapun yang dipilih, esensinya sama: minum kopi.

Lain cerita kalau tujuan kita minum kopi sekalian cari tempat bekerja, mungkin kopi di cafe akan lebih bernilai (valueable).

Jadi, begitulah mindset yang kupertahankan selama beberapa tahun terakhir. Ingat esensi dan tujuan, spend your time and money wisely! Cheers!



yang Alhamdulillah kenyang,
Fildzah Nur Fadhilah

Minggu, 12 Juni 2022

Hidayah Numpang Lewat

 Aku kepikiran tentang ini setelah menyadari kebiasaanku berdoa. Kalau lagi makan, misalnya, seringnya tuh lupa baca doa makan. Beda sama orang non-muslim religius yang doa sebelum makannya lamaaa banget. Jadi teguran buat diri sendiri untuk doa juga.

Ups, bukan itu yang mau kubahas. Aku mau bahas tentang kebiasaan berdoa waktu aku lagi sama adik bungsuku. Kalau pergi sama dia, aku selalu ngingetin dia untuk baca doa keluar rumah dan naik kendaraan. Kalau makan sama dia, aku selalu ngingetin untuk baca doa makan dulu. Kalau aku nemenin dia bobo, aku inget untuk ngingetin dia baca doa mau bobo.

Tapi, kalau aku sendirian, aku nggak inget untuk baca semua doa-doa itu.

Kenapa ya?

Tiba-tiba inget untuk baca doa, untuk segera sholat, untuk segera beramal... itu hidayah 'kan?

Jadi aku terpikir, "Oh jangan-jangan sebenarnya itu hidayah dari Allah untuk adikku, aku cuma ditumpangin aja jadi media perantaranya."

... ... '-')

Waa...

Seneng sih, secara nggak langsung 'kan dapet amal jariyah, ya. Tapi sedih juga gitu lho karena hidayahnya buat orang lain, bukan buat diri sendiri...

Terus aku terpikir, betapa banyak hidayah yang numpang lewat di aku. Dari Allah, lewat aku, lalu sampai ke adikku, ke adik-adik mentee-ku, ke teman-temanku... (ke pembaca blog-ku juga mungkin kalau ada? ehe)

Alhamdulillah...

tapi, ya... aku juga pengen hidayah buat diriku sendiri hehe.

Semoga aku bisa peka sama hidayah-hidayahnya Allah (>u<)

Ya Allah, aku nggak pintar, tolong kasih aku hidayah yang mudah dipahami yaa. Aamiin...

Kamis, 10 Maret 2022

Susah Menulis.

 Beberapa tahun belakangan ini, aku merasa sangat kesulitan untuk mengekspresikan diri. Menulis tidak selepas dulu, menggambar tidak semudah dulu, semuanya jadi lebih sulit.

Tentu saja aku mencoba untuk mencari tahu sebabnya. Ternyata, itu karena pikiranku jadi lebih berisik dari yang sebelumnya.

Setiap aku mulai mengeluarkan isi hati atau pikiran, sisi pengkritik dalam diriku juga berpikir cepat. Ini lebih baik dihapus. Yang ini nggak usah dibahas. Ini nggak penting. Kalau aku nulis begini nanti orang yang baca bakal mikir yang nggak-nggak.

It's annoying.

Karena kebanyakan mikir dan terus-terusan memperbaiki, karyaku jadi banyak yang nggak selesai. Kalaupun selesai, belum tentu aku publish karena merasa masih belum pantas dirilis. 

Intinya, aku mengekang diriku sendiri.

Harusnya aku lebih lepas aja 'kan? Tulis, gambar, post sesuka hati aja kayak sebelumnya. No one really cares. Ekspresikan saja. Kenapa nggak bisa?

Setelah pertanyaan itu keluar, aku menyadari juga kalau aku punya rasa takut. Takut kalau orang-orang akan bisa melihat diriku yang sebenarnya, dan diriku yang sebenarnya itu bukan orang yang baik. Aku jadi menyadari kalau aku punya kesan yang buruk terhadap diriku sendiri. I'm not that good of a person. I shouldn't speak about this. I should shut up. I should stay away.

Why so harsh? I know right, LOL.

Menurutku sebagian orang bakal paham kebimbangan ini. Kita takut orang lain tahu diri kita yang sebenarnya, tapi di saat yang sama juga kesepian karena nggak ada yang tahu seperti apa kita sebenarnya.

Kalau aku nggak mau kesepian, aku harus membuka diri. Aku harus memberi kesempatan orang lain untuk tahu tentang aku. Aku juga ingin berbagi cerita dengan orang lain, kok. Aku mau berbagi banyak hal, pengalaman, kisah, pandangan. Aku mau menulis lebih bebas.

Aku ingin bebas dari diriku sendiri.

Aku nggak mau dikekang oleh batas yang Allah aja nggak menentukan. I should worry less.

Yuk bisa yuk.

Jangan takut.

Ayo publish. Bismillah.

Kamis, 27 Januari 2022

Meminjam Kekuatan Tuhan

Akhir-akhir ini, aku makin sadar kalau manusia tuh lemah banget.

Karena lemah, dia jadi berusaha mencari tempat untuk bersandar. Berusaha mencari sesuatu yang "kuat" untuk menopangnya tetap berdiri.

Sesuatu yang "kuat" itu bisa macam-macam bentuknya.

Harta.
Kekuasaan.
Orang yang mencintai.
Kecerdasan akal yang luar biasa.

Dimilikinya hal-hal itu akan memberi kesan kalau dia kuat.

Namun, sekuat-kuatnya manusia, dia akan tetap saja lemah.

Hartanya bisa habis.
Kekuasaannya bisa hilang.
Orang yang mencintainya bisa pergi.
Kecerdasan akalnya bisa tersapu oleh kepikunan di hari tua.

Mudah, mudah sekali keadaan bisa berubah.

Ketika sandaran itu, penopangnya itu hilang, manusia tak punya pilihan selain jatuh.

Dia jatuh, lalu akan mempertanyakan arti perjuangannya selama ini. Memikirkan makna dirinya, merenungkan apakah ia masih cukup berharga untuk ada di dunia ini.

Ternyata, hal-hal yang dia anggap "kuat" itu tidak cukup. Dia butuh sesuatu yang jauh lebih kuat lagi untuk menopang dirinya yang rapuh. Sesuatu yang tidak akan hilang, habis, atau pergi.

Kekuatan itu, datangnya dari mana ya?

Dari Yang Maha Kuat.
Itulah sumber kekuatan sejati.

Ya apa lagi. Siapa lagi. Tuhan-lah.
Bersandarlah sama Tuhan.
Bergantunglah pada Tuhan.

Kalau kita yakin kita berharga karena Tuhan ada, harga diri kita tidak akan jatuh bebas. Toh, Tuhan selalu ada.

Kita tahu kita berharga, karena Tuhan sendiri yang bilang demikian.
Kita diistimewakan oleh-Nya, kita dikatakan lebih mulia dari makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Jangan takut menjalani amanah kehidupan, manusia.
Ada Tuhan yang senantiasa meminjamkam kekuatannya padamu.

Kita lemah.
Kita kuat, ketika meminjam kekuatan Tuhan.

Minggu, 05 Desember 2021

Tanteku yang Kaya dan Dermawan

Tulisan kali ini akan kudedikasikan untuk seseorang yang sangat inspiratif, yang berperan besar dalam kehidupanku sejak aku kecil hingga dewasa kini.

Aku memanggil sosok itu dengan panggilan "Bunda".

Bukan, beliau bukan ibuku, melainkan kakak dari ibuku. Aku memanggilnya demikian karena begitulah anak-anaknya memanggil beliau.

Sejak kecil, aku mengenal Bunda sebagai orang yang diberi rezeki berlimpah oleh Allah. Rumah Bunda sewaktu aku kecil punya banyak mainan. Lalu saat aku SD, beliau pindah ke rumah baru yang punya ruang bermain dan kolam renang. Selain itu, Bunda juga punya beberapa rumah lagi di tempat lain. Bunda punya kontrakan, kosan, toko, dan berbagai properti lainnya. Singkat cerita, Bunda adalah tokoh "orang kaya" yang nyata dalam hidupku.

Selama ini, Bunda sering sekali memberi keluargaku hadiah: baju, sepatu, makanan, tas, sampai gawai bahkan kendaraan. Bunda sering mengajak aku dan sepupu-sepupuku jalan-jalan, mulai dari nonton bioskop, sampai ke Dufan bahkan luar negeri. Bunda membantu membiayai renovasi rumahku yang hampir runtuh gentingnya sampai nyaman dan aman ditinggali lagi. Bunda juga membantu ibuku agar bisa naik haji, bahkan membiayai keluargaku untuk melaksanakan ibadah umroh. Semua itu beliau berikan bukan atas permintaanku atau keluargaku, melainkan beliau sendirilah yang inisiatif memberi.

Keluargaku tidak miskin, tapi juga tidak kaya. Namun, aku bisa merasakan hidup yang lebih dari cukup karena hadiah-hadiah dari beliau.

Suatu hari saat aku berangkat kuliah, beliau pernah tiba-tiba terlintas dalam pikiranku. Lalu, aku pandangi diriku dari atas kepala sampai ujung kaki dan menyadari bahwa kacamataku, tasku, sepatuku, ponselku, laptopku, tempat pensilku, semuanya pemberian Bunda. Uang saku kiriman ayahku tiap bulan sudah cukup untuk aku hidup dan jajan, tapi Bunda selalu memberikan tambahan. Aku bisa beraktivitas dan beramal dengan tenang karena ayahku, ibuku, dan Bunda mendukungku secara finansial.

Sebagian teman-temanku pernah mendengar tentang Bunda. Tentu mereka merasa heran, kok anak dosen swasta biasa seperti aku bisa hampir tiap tahun jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri? Bawa oleh-oleh buat mereka pula. Sering juga pakai barang-barang bagus yang dia sendiri nggak tahu belinya di mana. Pada mereka, aku menjelaskan dengan kalimat singkat, "Aku punya tante yang kaya dan dermawan."

Pada suatu momen makan malam di tanah perantauan, aku dan adikku pernah mengobrol panjang tentang Bunda.
"Kalau aku jadi orang kaya, aku mau jadi orang kaya yang kayak Bunda," begitu obrolan kami.

Kami kagum akan kekayaan Bunda yang terasa manfaatnya sampai ke keluarga besar bahkan keluarga jauhnya. Kami kagum dengan beliau yang menghajikan dan mengumrohkan orang tuanya berkali-kali. Setelah orang tua, beliau menghajikan saudara-saudaranya, lalu sekarang ipar-iparnya. Aku rasa puluhan orang sudah beliau biayai umroh: saudara, ipar, keponakan, sampai asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan beliau. Itu baru haji dan umroh. Aku mana tahu perihal sedekah-sedekah beliau yang lain. Baju lebaran sekeluarga besar saja beliau yang berikan. Hewan-hewan kurban yang banyak itu juga. Belum kue-kue itu, makanan-makanan itu, uang-uang THR itu...

"Kebayang nggak sih amal jariyahnya?"

Ya pasti nggak kebayanglah! Buaanyak banget masya Allah! Pasti ngalir mulu tuh pahala kayak air terjun.

Yah, begitulah Bunda. Sosok "Utsman bin Affan" yang nyata dalam hidupku. Teladan yang sungguh dikagumi olehku, keluargaku, dan orang-orang di sekitarnya.

__________________________________

Hari ini, sudah sepekan lebih berlalu sejak Bunda pergi.

Beliau pergi untuk selamanya setelah hampir setahun ini berjuang melawan penyakit. Beliau dan keluarga beliau sudah berikhtiar semaksimal mungkin, tetapi Qodarullah, ternyata Allah Yang Maha Pengasih lebih sayang Bunda.

Usai sudah lelah beliau, usai sudah susah beliau.

Kini, saatnya beliau menikmati buah dari amal kebaikan beliau selama ini.

Ya Allah, ampunilah dia, sayangilah dia, maafkanlah kami dan maafkanlah dia.
Permudahlah timbangan amalnya, ya Allah. Berikanlah ia tempat yang mulia di dalam surga-Mu.
Berikanlah ia rumah yang lebih indah, pakaian yang lebih indah, serta hidangan yang lebih lezat dari yang pernah ia rasakan di dunia.
Kasihilah dia sebagaimana dia mengasihi kami. Sesungguhnya dia telah mempermudah kami dalam beramal kepada-Mu.
Janganlah Engkau siksa dia, ampunilah dia. Sayangilah dia. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang tidak menyia-nyiakan amal baik hamba-Nya.

Terima kasih ya Allah, karena Engkau telah menghadirkan Bunda dalam hidup kami.

Ya Allah, izinkanlah kami berkumpul kembali bersama Bunda di surga-Mu kelak. Jadikanlah kami orang-orang yang sholeh yang selalu condong kepada-Mu.

Terima kasih ya Allah.
Terima kasih banyak, Bunda.
Kami sayang Bunda.

Senin, 13 September 2021

Catatan Akhir Kuliah

 Alhamdulillah 'alaa kulli hal...

Berakhir juga masa kuliahku yang panjang ini. Tujuh tahun, men. Sekolah dasar aja kalah panjang.

Adik bungsuku yang dulu masih TK, sekarang sudah di penghujung SD. Dosenku yang dulu muda, sekarang sudah bapak-bapak banget penampilannya, sudah terganti oleh dosen-dosen muda yang baru. Teman-teman seangkatan ada yang sudah S2, ada yang sudah menikah bahkan punya anak, ada yang asyik bekerja... beragam banget pokoknya.

Lalu ada aku yang masih ada di sini.

Waktu aku bimbingan, audiensi, sidang, yudisium... para dosen pun bertanya-tanya, "Fildzah? Baru tuntas sekarang? Kok bisa? Padahal dulu di kelas 'kan rajin??"

Teman-teman juga mungkin heran, tapi nggak mengungkapkan aja. Ya gimana, aku juga tidak menyangka. Hehehe. Wong semua kelihatan lancar-lancar aja, terlihat bisa lulus di semester 9. Ternyata berlanjut terus ke semester 10, 11, 12, 13, 14...

"Ini... kapan berakhirnya?"

Berasa gelap. Jalan di depan nggak kelihatan sama sekali. Aku jadi banyak diliputi rasa takut: takut melangkah, takut terdiam, takut ditinggalkan. 

Aku takut 'berusaha keras'.

Iya, itu yang terjadi. Melihat skripsiku sendiri, aku tahu ia akan menuntutku melakukan banyak hal. Ia akan membuatku 'menyiksa' diriku sendiri. Alhasil aku jadi menghindarinya. Begitu juga dengan utang job training yang ternyata merupakan penghambat utamaku, lebih dari skripsi. Aku matikan naluri untuk memenuhi tuntutan kuliahku. Aku matikan dia, supaya aku tidak hancur memikirkan dia dan tuntutan yang lain.

Sejak kapan ya tuntutan itu jadi terasa berat? Kuliah, organisasi, hobi, ibadah... Dulu semua mudah dijalani, mengalir saja bagai mengikuti arus. Tiba-tiba arus itu berhenti dan aku dituntut berenang sendiri, kebingungan harus pergi ke mana.

Ternyata, tuntutan itu mulai berat karena aku menopangnya sendirian.

Aku lupa, kalau aku boleh minta bantuan orang lain.

Aku lupa, kalau Allah juga bersedia membantuku ketika aku jujur meminta.

Pada akhirnya, terlambatnya kelulusanku ini adalah skenario Allah untuk meruntuhkan egoku. Aku diingatkan bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa hal-hal yang Dia ciptakan untuk membantuku.

"I need help, but I don't know what help I need."

Setelah aku mengatakan itu ke orang tua, semestaku baru mulai bergerak. Mulai ada arus yang bisa aku ikuti lagi.

Aku belajar jadi orang yang menerima bantuan, menjadi si 'tangan di bawah'. Aku belajar bercerita ke orang lain kalau aku punya masalah. I cracked my shells open. I crushed one layer of my thick wall. Aku membiarkan diriku terlihat 'jelek' di mata orang lain. It was sooo hard to do that, tapi itulah yang perlu terjadi.

Naluriku untuk memenuhi tuntutan kuliah mulai bangkit kembali. Gut feeling, ghiroh, dia bangkit lagi. "Aku harus melakukan ini!!" rasanya senaaang sekali waktu aku mulai merasakan itu lagi, merasakan menerima tekanan untuk mencapai sesuatu. Melawan rasa takut, menahan lapar, sakit, dan kantuk demi mencapai sesuatu. 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰلِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ  ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِينَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Ternyata bisa berjuang itu nikmat Allah yang sangat besar. Semangat juang itu ternyata punya Allah, bukan punya manusia. Allah punya kuasa penuh untuk memberi atau mengambil semangat juang itu.

Aren't these 7 years a very beautiful lesson?

Mungkin ini aneh, tapi aku senaaaang sekali dikasih Allah kesempatan kuliah 7 tahun.

Aku bisa kenal banyak orang, bisa dapat berbagai pengalaman, bisa mengeksplorasi sisi diriku yang aku nggak tahu sebelumnya, bisa merasakan berbagai hal...

Karena 7 tahun juga, aku bisa dengan mantap melangkah maju tanpa menoleh lagi ke belakang. Teman-temanku sudah melangkah pergi, tempat penuh kenangan juga perlahan akan berubah. Biarlah mereka, tempat itu, momen itu, hidup hanya di pikiranku. I will cherish them well.

Kema Unpad, Fakultas Ilmu Komunikasi, Prodi Manajemen Komunikasi, Syaamil Unpad, Biro Kerohanian Islam, Aikido Unpad, Kelompok Grafis Fikom, Kiryokukai Bandung, Ngasta Kaaria, Akeno MS, Pakoban, AKSI, Stage Quality, Sobatmu.com... 

Keluargaku yang sudah bersabar menunggu...

Terima kasih banyak.

I lived my college life to the fullest, right?

Jumat, 24 Juli 2020

Paket, Kurir, dan Belanja Online

Aku ingin menulis tentang sesuatu yang remeh-temeh, tapi entah kenapa sesuatu ini terus kupikirkan sampai mendorongku untuk menulis tentangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir aku jadi lebih sering belanja online. Anggota keluargaku yang lain pun begitu. Belum lagi rejeki nomplok dari tante yang kerap kirim makanan ke rumah. Rumah kami jadi lebih sering terima paket. Karena pandemi, mungkin kami lebih banyak terima tamu paket daripada terima tamu manusia.

Hari ini, paket buku yang aku beli sampai. Entah kenapa, si penjual mengirim paket itu dengan kurir instan tidak seperti pesananku. Mungkin ini kali pertama aku terima paket dengan jasa "Yakin Esok Sampai". Bungkusnya warna merah. Sangat mencolok. Di bawah lingkaran putih bergambar tulisan "YES", tertulis dengan huruf kapital, "PAKET PRIORITAS".

Oh my God, jadi gini rasanya diprioritaskan.

Kemarin aku cek riwayat perjalanan paket buku itu. Entah kenapa, si penjual mengirim paket itu ke ekspedisi malam-malam, padahal aku sudah melunasi pembayaran sejak pagi. Paket itu, mungkin karena berbungkus merah, terus bergerak sepanjang malam. Tengah malam ia di pos A, dini hari ia sudah di pos B, sampai ke pos C di pagi hari dan diantarkan ke kurir antar.

Mengetahui hal itu bikin aku ingin mengunjungi sorting center mereka. Pasti keren, melihat paket berseliweran ke sana kemari dengan conveyor. Lalu di beberapa titik ada para pekerja dengan tampang bosan, haha. Semoga rezeki mereka lancar.

Kurir paket yang datang hari ini, suaranya keras sekali, super nyaring. Anugerah Tuhan supaya ia tak perlu repot-repot menekan bel, apalagi mengetuk pintu. Aku harap malam ini beliau bisa istirahat dengan baik.

Kurir paket yang kemarin, terlihat kurus. Padahal ia mengantar paket dengan mobil, yang berarti paket-paket yang diantarnya berukuran besar. Well, memang yang aku beli itu meja kerja (belum dirakit). Ukuran kotaknya besar. Beratnya, wow, jangan ditanya. Waktu saya buka pagar untuk beliau, beliau mengira saya yang akan menerima paket itu sehingga bertanya, "Bisa nggak? Berat, lho."

Duh, Bapak, mohon maaf bikin Anda ngurusin paket besar saya. Thank you so muchh. 

Walaupun orang lain pasti bilang, "Ya itu 'kan emang kerjaan mereka," itu nggak menghentikan aku untuk kepikiran hal kayak gini.
I had enough of taking things for granted.

Walaupun ada pilihan pengiriman paling instan berupa ojek, aku tetap meminta paket itu dikirim dengan ekspedisi biasa. Biar yang antar pakai mobil. Biar tidak ada yang mengalami hal seperti beberapa pekan sebelum ini. Beberapa pekan lalu,  ayahku membeli meja belajar untuk adik, tapi ternyata paket meja yang belum dirakit itu dikirim pakai ojek. Iya, ojek motor. Sampai hari ini aku masih terbayang sosok samar driver ojek yang mengelus jidat setelah memarkirkan motornya di depan rumahku. Paket meja itu ukurannya lebih besar dan lebar dibanding paket mejaku, tapi beratnya lebih ringan. Karena ukurannya besar, pasti sulit sekali membawa benda itu dengan motor. Pasti lama proses dipasang di motornya. Dilepasnya juga, sampai pakai cutter. Belum lagi menyetir di perjalanan. Karena nggak enak hati, kami langsung kasih beliau ongkos tambahan.

Yang bikin saya sedih adalah saya tahu bukan cuma beliau driver ojek yang mengalami itu--mendapat tugas mengantar barang yang sulit diantar pakai motor. Sebagai pengguna jasa, mari kita gunakan otak dan hati kita dengan baik.

Hmm, apalagi paket yang pernah kuterima?

Kursi lesehan. Ini juga diantar pakai mobil.
Keyboard mini, packaging-nya rapuh, tapi aku lega barangnya sampai dengan selamat. 
Baterai laptop, flash disk, uwaw.
Buku, komik, Audio CD, snack jadul langka yang cuma bisa kubeli online... Banyak, ya ternyata.

Belum lagi kalau dihitung paket keluargaku yang lain. Lampu motor, joystick PS, album K-Pop... Hobi keluarganya kelihatan, ya, hm.

Banyak barang yang kami beli online, tapi Alhamdulillah, kami tidak pernah punya masalah dengan ekspedisi atau pengiriman paket. Semuanya sampai dengan selamat, utuh, sesuai alamat tujuannya. Tidak ada yang rusak, patah, atau hilang di tangah jalan. 
Paket-paket itu tanpa kita sadari terus bergerak mendekati kita.

Apa seperti itu juga Allah mendekatkan rezeki seseorang? Hehehe.

Ya, suka-suka Allah (cling)✨

Rabu, 15 Januari 2020

Rezeki Saya Ternyata Begini

[Notice: Mungkin ini akan jadi tulisan yang menyebalkan karena banyak curhatan.]

Saya punya masalah, yaitu saya masih mahasiswa sejak tahun 2014 lalu. Mahasiswa S-1. Saya masih terhambat dalam menyelesaikan tugas akhir sehingga beginilah jadinya.

Kenapa memangnya? Apa yang terjadi?

Awalnya saya hanya mahasiswa baru yang bercita-cita jadi storyboard artist untuk iklan.
Kemudian saya mulai ikut banyak kegiatan mahasiswa yang memberi saya banyak kenalan baru dan cita-cita baru: menjadi seorang komikus.
Saat itu pula, materi kuliah yang awalnya bertema personal menjadi lebih bertema lembaga, organisasi, korporat. Tema yang menurut saya saat itu tidak penting untuk saya pelajari. Toh, saya tidak mau bekerja di korporasi besar.
Semangat menjadi komikus yang besar saat itu mendorong saya untuk mulai membuat komik. Memimpin teman-teman untuk membuat seminar bertema komik juga. 
Kemudian saya diberi ujian penyakit, yang mengharuskan saya minum obat setiap hari selama satu tahun. Sebenarnya sakit itu tak seberapa, tapi efeknya terhadap mentalitas saya besar sekali.
Saya jadi semakin pesimis, makin rendah diri, makin benci diri sendiri. Kadang jadi mempertanyakan pula sebenarnya apa makna hidup ini.
Saya jadi begitu emosional. Akibatnya saya mulai melalaikan tugas kuliah. Keluarlah nilai C/D/E, diulanglah seminar penelitian, tertundalah laporan magang.
Saya mulai ikut konseling di kampus, saya mulai mencari diri saya lagi, saya belajar agama dari awal lagi.
Kurang-lebih, itulah isi masa kuliah saya yang mendekati 5 tahun setengah ini.

Sekali-kali terpikir oleh saya, apakah ini karena dulu, dalam hati saya mempertanyakan senior-senior yang lulus sampai 7 tahun? Mempertanyakan senior yang mengulang kelas? Mempertanyakan anak-anak yang menghilang dari kampus seolah lenyap ditelan bumi? Semua hal yang saya pertanyakan dari mereka saya alami.

TAPI YA SUDAHLAH, ITU MASA LALU.

Sekarang saya sudah sembuh dari penyakit. Saya tidak harus minum obat lagi. Konseling saya sudah selesai. Setelah belajar agama dari awal lagi pun saya merasa iman saya jauh lebih baik dari sebelumnya. It's OK! Allah menjamin rezeki hamba-hambanya.

Saya kuliah sampai tahun keenam begini, berarti saya juga belajar lebih banyak hal dibanding teman-teman yang lulus lebih awal. Ada adik-adik yang tidak akan saya kenal dekat andaikan saya lulus tepat waktu. Ada teman yang tidak akan jadi dekat. Ada seminar yang tak akan saya tahu. Sepertinya Allah mau saya belajar sesuatu dulu di sini.

Tentu saja skripsi saya kerjakan. Meskipun saya akui saya tidak mengerjakannya secara intens, seberdedikasi teman-teman yang lain. Saya mengerjakannya. Saya kerjakan sendiri tanpa banyak bantuan dari dosen pembimbing karena mereka tahu ini topik penelitian yang saya kuasai. Tiap bimbingan jarang sekali saya revisi. Mungkin ini juga yang bikin saya jadi malas bimbingan dan menunda-nunda.
Mungkin di sisi lain saya juga nyaman dengan kehidupan sebagai mahasiswa di kampus sana. Mungkin saya tidak mau pergi.
Tapi orang lain pergi, bahkan yang muda sekalipun. Saya harus pergi dari kampus ini. Saya harus keluar dari Jatinangor, tempat kawan-kawan saya berada. Saya harus berpisah lebih awal dari tempat ini.

Akhirnya, semester ini saya pindah kembali ke rumah.

Minggu, 15 September 2019

Dengarkan Tubuhmu

Tubuhmu berbicara.
Dia sedang menyampaikan sesuatu, tapi kadang kita abai mencernanya.
Tubuh dan hatimu kadang berkata berbeda, tapi tubuh akan memaksamu untuk menuruti keinginannya.
Sementara hati bisa berpikir sepuasnya.

Waktunya makan.
Namun, kamu mengabaikannya dengan berpikir bahwa kamu belum lapar.
"Aku bisa makan nanti."
Kemudian tubuhmu memaksamu mengikutinya.
Perutmu berbunyi, memanas, asam lambungmu naik, segala usaha dia lakukan hanya untuk memberitahumu,
"Kamu mungkin belum lapar, tapi kamu harus tetap makan."

Waktu kau lelah.
Kau merasa masih sanggup menyongsong hari esok. Tak masalah mengurangi jam tidur.
Kau lawan dia dengan kafein dan semangat yang menggebu.
Lalu tubuhmu melawan, ia buat matamu berat dan tubuhmu lemas.
"Kamu harus istirahat."

Apalagi?

Sewaktu kau menahan hajat ke kamar mandi, dia akan menyiksamu. Mungkin juga dia akan menabung siksaan itu dan mendatangimu dengan penyakit pencernaan atau eksresi.
Dia mendendam.

Sewaktu kau sedih, kau merasa sanggup menghadapi segalanya, tapi tubuhmu mengeluarkan air mata. Dia buat kamu sampai lelah dan tertidur.
Dia membolehkanmu lemah.

Ketika kamu lemah, dia jatuh ke lantai, ingin tunduk.
Tunduk pada apa?
Pada Sang Pencipta yang menciptakan dia.
Dia diciptakan bersamamu.
Dia adalah salah satu bagian kecil yang Tuhan berikan padamu.

Perhatikan dia, coba dengar apa yang ingin ia sampaikan.
Kenapa dia didesain seperti itu?
Tuhan menyampaikan pesan untukmu melalui dia.

Kenapa kamu perlu makan tapi juga tidak bisa makan terlalu banyak?
Kenapa hanya ada laki-laki dan perempuan?
Kenapa ada waktunya untuk lelah dan tertidur?
Kenapa ada saatnya tubuh itu menua dan melemah?

Itu pesan Tuhan untukmu.
Baca kitab yang diturunkan-Nya.
Selaraskan hati dan tubuhmu.
Tak ada yang menang di antara mereka.
Toh, semua hanya seorang hamba.

Rabu, 20 September 2017

Lika-Liku Ngomik: Ganti Pen Tablet

1. Waktu Beli Pen Tablet Pertama, Genius i608x

     Masih ingat betul saya ketika bertekad beli pen tablet Agustus tahun 2015 lalu. Waktu tanya ke orang tua, "Boleh nggak uang lebaran tahun ini aku pakai untuk beli pen tab?"

Lalu diantarlah saya ke Mangga Dua oleh ayah. Sebelumnya kami berdua riset kecil-kecilan dulu merek dan tipe apa yang bagus. Pilihan jatuh antara Genius MousePen i608x atau Wacom Intuos Pen. Harga Intuos paling murah waktu itu 1.2 juta, sementara harga Genius i608x itu setengahnya, 640 ribu. Karena waktu itu saya memang masih pengguna pen tablet pemula, dan nggak bermaksud untuk jadi ilustrator/komikus profesional, ditambah bujukan ayah pula, saya beli Genius dulu.


Kesan-pesannya? WIHH suka banget. 
Ukurannya active area-nya besar, saya bisa gambar detail. Apalagi memang sempat terbiasa gambar di kertas/bidang besar. Awal-awal memang rada susah menggunakannya, tapi seiring latihan gambar jadi makin enak dan makin bagus. Semangat bikin komik tumbuh, ide ada, voilaa~ jadilah webtoon yang sekarang saya garap, "The King's Daughter".


Karena garap webtoon, gambar digital jadi makin sering. Sempat intens banget seharian penuh setiap hari gambar. Mulai terasa kesulitan-kesulitannya.
Pertama, pen bawaan Genius itu rada berat, ada baterainya AA. Pressure sensitivity-nya juga besar jadi harus agak lebih ditekan ketika menggaris, apalagi saya tipe orang yang menggarisnya tipis-tipis. Ditambah saya yang nggak nurut istirahat setelah kerja berjam-jam, sakitlah tangan. Sakit pegal-pegal aja sih kayak kalo abis Ujian Nasional atau try out, capek megang pensil gitu hehe.
Kedua, ukuran tabletnya yang besar itu. Di satu sisi menguntungkan karena tangan lebih bebas dan jauh bergeraknya, tapi di satu sisi lagi besar banget jadi agak repot kalau dibawa-bawa. Ringan sih, cuma tetap agak repot. Awalnya saya selalu gambar di rumah jadi nggak mempermasalahkan, tapi kemudian kuliah mulai, kesibukan mulai, jadi pengen pentab itu lebih gampang dibawa ke mana-mana. Malah kalo bisa ikut dibawa sambil berjemur di tengah padang rumput di bawah matahari pagi wkwk.

Walaupun sebel-sebel gitu tetep sayang sih sama pentabnya wkwk, namanya juga temen seperjuangan. Saya kalau gambar biasanya gak tegas tuh garisnya, tapi gara-gara sering pakai pen tablet, latihan tracing line art, dan tuntutan waktu, saya sekarang lebih tegas kalau bikin garis. Malah udah bisa gambar line art komik langsung dari sketsa kasar tanpa harus bikin sketsa detail lebih dulu. Mantap deh.


2. Genius Mulai Sakit...

Setelah mulai bikin webtoon, mulai sering ada error dari pen tablet itu. Pen tiba-tiba tidak ter-detect, sensitivity hilang, getar-getar, dan semacamnya. Itu terjadi dalam frekuensi yang jarang dan biasanya akan normal lagi setelah saya plug in ulang kabelnya, jadi nggak saya permasalahkan.


Juni 2017, hampir 2 tahun setelah saya beli Genius itu, pen sama sekali nggak ter-detect. Saya coba ganti baterainya. Ternyata waktu saya ganti di dalamnya berminyak gitu, saya lalu bersihkan minyak-minyak itu dan pasang baterai baru. Setelah itu bisa dipakai lagi seperti biasa.
Namun, memasuki Juli 2017, pen saya mulai bermasalah lagi. Sering putus koneksi ketika sedang menggambar. Bikin satu goresan aja tuh susah. Agustus 2017, masih sama, bahkan mulai nggak berfungsi sama sekali. Akhirnya saya googling untuk cari tahu cara memperbaikinya, lalu ketemulah di blog kawan-kawan lain. Ternyata banyak yang punya masalah sama dengan Geniusnya. Baterai pen bocor karena pernah didiamkan untuk waktu lama di dalam pen. Ternyata harusnya baterai itu dilepas kalau sedang tidak dipakai, biar lebih awet.
Saya lalu bersihkan sisa minyak di pen sesuai petunjuk dari blog TakTeg ini. Setelah itu pen bisa digunakan kembali~ seneng banget. Tapi ternyata itu nggak berlangsung lama. Pen mulai sakit-sakitan lagi.
Padahal semangat ngomik lagi tinggi, semangat ingin jadi komikus profesional juga sedang tinggi. Setelah konsultasi dengan senior dan kawan-kawan, juga dengan mempertimbangkan masa depan, saya memutuskan beli pen tablet baru: pokoknya Wacom. Walaupun sebenarnya rada enggan move on dari Genius yang udah menemani hari-hari awal saya.


3. Kawan Seperjuangan Baru: Wacom Intuos Comic CTH490

Dibeli di awal bulan September 2017. Saya awalnya survei harga dulu lewat Tokopedia, terus ada yang jual lebih murah dari toko-toko lain, namanya Toko Jaya Baru Computer (saya promosiin loh, waw). Karena ternyata tokonya deket rumah, ayah saya bilang lebih baik beli di tokonya langsung. Akan tetapi saya sudah keburu harus masuk kuliah lagi ke kampus jadi ayah dan adik sayalah yang datang ke sana haha.

Btw, selama rentang 2 tahun sejak pertama beli pentab pertama sampai mau beli pentab kedua, Wacom udah berubah lagi dagangannya. Kalau waktu 2015 dia jualnya Intuos Pen, Intuos Pen & Touch, dan Intuos Manga, sekarang dia coba menjual berdasarkan untuk apa pentab akan dipakai: Intuos Draw, Comic, 3D, dan satu lagi yang saya lupa apa wkwk. Semuanya punya spesifikasi sama, yang membedakan hanya software bonusnya.

Saya sudah mengincar tipe Intuos Comic sejak pertama memutuskan akan beli Wacom. Ini gara-gara senpai saya yang habis nyoba software bonusnya, Clip Studio Paint (CSP), dan beliau muji-muji itu, bikin kepo haha. Harga Intuos Comic yang ditawarkan JBC 1,6 juta, sudah termasuk pen tablet, software CSP dan Anime Studio, antigores, softcase, dan sarung tangan khusus gambar. Gimana gak tergugah hahahaha. Sudah begitu pas dicek bonus-bonusnya juga memang kece semua. Sekarang saya udah bisa bawa pen tablet ke mana-mana dan memang gak rugi walaupun harus keluar kocek hampir 3x lipat dibanding pentab sebelumnya.

Oiya, uang 1,6 juta buat beli Wacom itu juga uang tabungan saya sendiri. Alhamdulillah ada rezeki jadi saya nggak minta sepeserpun dari orang tua ^^

Terus gimana review-nya ketika dipake? Licin pisan da, pennya enteng banget hampir sama kayak berat pensil biasa. Ukurannya lebih kecil dan enak dibawa-bawa. Yang bikin saya agak kesusahan di awal adalah kabel USB-nya. Genius itu kabelnya udah jadi 1 sama tablet jadi bisa langsung tancap aja, nggak usah takut kabelnya hilang atau ketinggalan. Nah Wacom tidak begitu. Saya harus ingat-ingat bahwa kabel itu harus dibawa. Positifnya, seandainya nanti kabelnya rusak ya tinggal kabelnya aja yang diganti.
Atau apakah ini akal-akalan supaya saya beli wireless kit-nya? Entah wkwk.

Karena Wacom yang saya beli adalah tipe CTH, pen tablet saya dilengkapi fitur touch. Akan tetapi, jujur saya belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Fitur touch lebih sering saya matikan. Saya harus latihan untuk gambar tanpa tangan menyentuh kertas baru saya bisa memakai fitur touch itu.
Selanjutnya adalah tombol shortcut di tablet. Sekali lagi saya kurang bisa memanfaatkan jadi hampir gak pernah dipakai haha.
Karena ukuran active area-nya lebih kecil dari pentab saya sebelumnya, tangan saya makin berkurang jangkauan gerakannya (sebenarnya ini bisa memicu penyakit hm). Ada positif-negatifnya lah haha.
Tapi ya secara umum, dia sudah ikut membantu saya merilis episode 5 ke atas webtoon saya. Dia menjalankan perannya sebagai pen tablet dengan baik dan sekarang dia jadi pacar saya wkwk.


4. Kesimpulan dan Saran (lah, makalah??)

Berikut poin-poin yang ingin saya sampaikan ke teman-teman yang sedang berpikir untuk beli pen tablet.
  • pen tablet pada akhirnya hanya alat. Bukan berarti merek lebih bagus terus gambar kita jadi ikutan lebih bagus juga. Semua tergantung siapa yang memakai pen tablet itu.
  • pertimbangan membeli nomor 1: budget! Kalau memang uang yang kita miliki nggak cukup untuk beli Wacom, nggak usah paksakan beli Wacom. Beli merek alternatif dulu. Kalau ternyata masih kepikiran ingin Wacom, katakan pada dia, "Suatu hari aku akan memilikimu!" dan belilah dia ketika ada rezeki.
  • pertimbangan membeli nomor 2: kamu siapa? Orang yang punya cita-cita jadi profesional, memang sudah profesional, atau hanya hobi menggambar? Kalau kita sudah/ingin profesional, biasanya pen tablet akan sering sekali dipakai. Jadi lebih baik beli yang tahan lama sekalian, yang mereknya sudah menjamin. Nah, kalau kita baru ingin belajar atau menggambar sesekali saja sebagai hobi, lebih baik beli pentab merek alternatif. Sayang kan beli mahal-mahal tapi jadi pajangan aja? Hehe.
  • Buat yang senang menggambar di bidang besar, pilih yang active area-nya besar juga. Tangan bisa lebih luas bergerak karena jarak untuk menggores dari ujung ke ujung layar juga lebih besar. Kalau sukanya gambar kecil, atau sangat mager sehingga enggan menggerakkan tangan jauh-jauh, nah silahkan pilih yang active area-nya kecil juga.
  • Merek apapun pen tablet yang kita beli, tetap harus kita rawat. Saya orang yang kalau gambar background ngegoresnya kasar banget, jadi lebih baik pasang antigores juga hehe. Pen dan tablet jangan sampai hilang salah satunya, kan sayang banget. Bersihkan sesekali dengan kain kering, rapikan kalau sudah tidak dipakai. Dengan begitu kalian akan langgeng sampai waktu yang ditakdirkan Tuhan haha.
Itu saja sharing dan review kali ini. Selanjutnya saya bakal cerita-cerita soal proses lahirnya webtoon saya. Semangat berkarya!

Erica - Mirai Believer Romaji Lyrics (Tribute to ReLIFE Video)

 Saya ketemu video ini nggak lama setelah mulai baca ReLIFE, pas anime-nya baru diumumin bakal dibuat. Semampu yang saya tangkap, video ini dibuat oleh penggemar ReLIFE sebagai apresiasi dan selamat karena webcomic tersebut sudah mencapai 100 episode.

Saya suka banget lagunya sejak pertama dengar, tapi nggak ada yang menyediakan lirik romajinya. Oleh karena itu, saya coba menyediakan lirik romaji dari lirik disediakan di YouTube, barangkali ada yang suka juga sama lagunya.

Mirai Believer
By: erica / nao

戻りたい 戻れない もう一度
帰りたい帰れないもう二度と
 時間だけ過ぎて 追いつけないよ
 だから 止まらない止めれない心が
 愛したい愛されたいと願う
 まだ信じたい 信じてみたい
 笑った僕が 見たい
  Modoritai modorenai mou ichido
  Kaeritai kaerenai mou nidoto
  Jikan dake sugite oitsukenai yo
  Dakara tomaranai tomerenai kokoro ga
  Aishitai aisaretai to negau
  Mada shinjitai shinjite mitai
  Waratta boku ga mitai

何処かに忘れてしまったんだよ
なくした心が呼んでるの
道の無いあてもない暗闇でも 行くと決めたんだ
伝えたい言葉があるんだ
素直に今なら言えるよ
 意味の無い偽りは 全て脱ぎ捨てた
  Doko ka de wasurete shimattan da yo
  Nakushita kokoro ga yonderu no
  Michi no nai ate mo nai kurayami demo iku to kimetanda
  Tsutaetai kotoba ga arunda
  Sunao ni ima nara ieru yo
  Imi no nai itsuwari wa subete nugisuteta

戻りたい戻れないもう一度
帰りたい帰れないもう二度と
 時間だけ過ぎて追いつけないよ
だから 止まらない止めれない心が
愛したい愛されたいと願う
まだ信じたい 信じてみたい
笑った君が 見たい
  Modoritai modorenai mou ichido
  Kaeritai kaerenai mou nidoto
  Jikan dake sugite oitsukenai yo
  Dakara tomaranai tomerenai kokoro ga
  Aishitai aisaretai to negau
  Mada shinjitai shinjite mitai
  Waratta kimi ga mitai

どうして素直に生きれないんだろう
傷つくことなら慣れてるのに
高くて登れない壁ばっかりじゃ 夢も描けないよ
 失うものが無いなら
 恐れることも必要無い
最初から分かってた 僕は僕だけだ
  Doushite sunao ni ikirenain darou
  Kidzutsuku koto nara nareteru no ni
  Takakute toberenai kabe bakkari jya yume mo kakenai yo
  Ushinau mono ga nai nara
  Okoreru koto mo hitsuyou nai
  Saishou kara wakatteta boku wa boku dake da

 変わりたい変われないもう一度
出会いたい出会えないもう二度と
例え消えてしまうと分かっていても
いつか 誰かが誰かに伝えて
 思いが思いを繋げばいい
 ほら叶えたい 叶えてみたい
未来の先が 見たい
  Kawaritai kawarenai mou ichido
  Deaitai deaenai mou nidoto
  Tatoe kiete shimau to wakatteite mo
  Itsuka dareka ga dareka ni tsutaete
  Omoi ga omoi wo tsunageba ii
  Hora kanaetai kanaetemitai
  Mirai no saki ga mitai

眠れない 夜数えて
微かな 期待めくった
遠くで声がしたんだ
ここだよ 置いてかないで
行かなきゃ 幻だって
 超えなきゃ 掴めないんだ
過去も今も 無駄なんて無い
もう逃げないよ
  Nemurenai yoru kazoete
  Kasuka na
  Tooku de koe ga shitanda
  Koko da yo oitekanai de
  Ikanakya maboroshi datte
  Koenakya tsukamenainda
  Kako mo ima mo muda nante nai
  Mou nigenai yo

戻りたい戻れないもう一度
帰りたい帰れないもう二度と
 時間だけ過ぎて追いつけないよ
だから 止まらない止めれない心が
愛したい愛されたいと願う
 まだ信じたい 信じてみたい
 笑った僕が 見たい
  Modoritai modorenai mou ichido
  Kaeritai kaerenai mou nidoto
  Jikan dake sugite oitsukenai yo
  Dakara tomaranai tomerenai kokoro ga
  Aishitai aisaretai to negau
  Mada shinjitai shinjite mitai
  Waratta boku ga mitai



Senin, 21 Agustus 2017

Surat untukmu, Pejuang Semester Tujuh

Ytc. Fildzah Nur Fadhilah
Di kamar kosan sunyi pada malam sebelum PMBU 2017

Assalamu'alaikum. Bagaimana kabarmu hari ini?

Semester ini semester ketujuhmu, tahun keempatmu. Kamu sudah berjuang dengan sabar dan baik :)

Kamu hebat. Kamu sudah jalani pengobatan tb-mu selama 8 bulan. Tinggal sebulan lagi dan pengobatanmu selesai. Kamu berhasil melewati kontrol rontgen dan obat yang seperti tak ada habisnya. Perjuanganmu tinggal sedikit lagi kok.
Karena sakit ini, kamu jadi sadar akan nikmat sehat. Kamu jadi tahu betapa pentingnya menjaga pikiran dan tubuh tetap positif walaupun ada yang mengatakan hal negatif. Kamu jadi tahu, bagus bukan?

"Kalau kamu terus mengasihani diri sendiri, hidupmu akan berubah jadi mimpi buruk tiada akhir."
Kamu sudah mengalami mimpi buruk itu.
Karena itu, yuk mulai semester ini kita berubah jadi baik lagi.

Kamu mulai jauh dari Allah, lho?
Allah ingin Fildzah mendekat kepada-Nya lagi. Allah ingin Fildzah lebih banyak lagi ingat pada-Nya. Allah nggak akan ninggalin kamu sehina apapun kamu sekarang.
Kalau kamu mendekat, Allah juga akan mendekat kok. :D

Mungkin kamu akan mikir, kamu akhir-akhir ini rajin banget bolos ngajinya, rajin nunda sholatnya, rajin lupa sunnah. Kamu sendiri pun tahu, kamu harus berubah. Oke nggak usah berubah kembali seperti dulu. Lahirlah jadi orang baru yang melihat ke depan.
Jadi yuk perbaiki ibadah hariannya ^^

Setelah itu, sambil berjalan, yuk kita perbaiki studi kita. Kamu sudah cukup hebat bertahan di semester kemarin lho. Satu-dua nilai jelek, tak masalah. Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Perjuangan studi ini belum selesai kok. Pelajari apapun yang ingin kamu pelajari dengan tenang dan senang hati.

Lalu, kamu juga ingin memperbaiki hubungan dengan teman-teman bukan? Kamu sadar kamu nggak bisa terus menunggu dicari, jadi kamu mulai mencari orang-orang yang istimewa. Yuk mulai dari teman-teman sehalaqah saja dulu. Kabari apapun pada mereka, beri sesuatu sesekali, tanya kabar mereka, pokoknya sayangi mereka. Setelah itu, kamu bisa memperluasnya ke teman-teman komunitas. Lalu ke teman-teman organisasi, teman sejurusan... Tidak harus semuanya lho ya. Perlahan saja. Kamu pasti bisa menyebutkan satu-dua nama yang ingin kamu sayangi dan sayang kamu balik. Kamu tahu pasti ada kok orang yang sebenarnya ingat sama kamu meskipun kamu pikir mereka nggak.

Kalo karya, jalan terus ya! Santai saja. Semua orang punya kecepatan masing-masing. Pertahankan saja semangatmu!

Fildzah, ayo jangan kalah karena kata-kata orang lain.
Jangan kalah pada sisi pesimis dirimu.
Kamu bukan orang yang sempurna, pastinya. Begitu pun orang lain.

Semangat!
Kamu bisa melakukan banyak hal lebih daripada yang kamu bayangkan, asal kamu percaya (beriman) :D

Andalkan kekuatan Allah untuk hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan. Yuk!

Istirahatlah dengan baik dan berjuanglah dengan baik.

Wassalamu'alaikum.

Salam sayang dari dirimu di suatu waktu,
Fildzah yang ingin menjadi baik.

Rabu, 22 Februari 2017

Kenapa "Tinggal" dan Bukan "Masih"?

Sebuah tulisan yang dimaksudkan untuk memarahi diri sendiri.

Sejak beberapa bulan yang lalu, entah kenapa diri ini begitu pesimis.
"Aku gak serajin dulu lagi."
"Ah aku gak jago lagi."
"Duh ini mah gak bisa."
"Ini gimana bakal sembuh."
"Harusnya aku gini, tapi malah gitu."
Daaaan segalanya yang dropping banget.

Tentu aku sendiri lelah dengan sikap pesimis dan pemalas ini. Sikap yang nge-judge duluan bahwa aku nggak bisa dan apa yang kulakukan gak akan berhasil. Sikap yang membuat self-esteem alias harga diriku jatuh serendah-rendahnya. Menangisi diri sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan dan gagal menjaga pertemanan.

Aku lelah berdiri di sisi negatif. Aku mau pindah.

Yuk pindah.

Hari ini, hatiku seolah disentil sampai terbalik oleh Allah Sang Pengendali Hati. Tiba-tiba terbersit berbagai pertanyaan dalam benak ini.
"Kenapa fokus ke hal-hal yang gak bisa kamu lakukan? Kenapa gak ke yang bisa aja?"
"Kenapa meratapi waktu yang terbuang ketika masih ada kesempatan mencoba lagi?"
Don't look back, look forward!

Yang lalu memang nggak bisa dilupakan apalagi diulang, tapi ya udah itu udah lewat. Ada hal baru yang harus dihadapi. Bukan yang dulu atau yang nanti, tapi yang sekarang!

Be positive! Ayo pindah tempat berdiri. Beberapa langkah saja cukup.

"Jangan bilang 'tinggal satu menit', bilang 'masih satu menit'!"

Optimisme bikin beban berkurang kan? Ambisi dan impian bikin lebih semangat hidup kan?
Semua mulai dari cara pandang.

Yuk mulai hari yang baru! Bismillah, semangat!

Yang susah tidur,
Fildzah Nur Fadhilah

Rabu, 25 Januari 2017

Sakit Ceunah

Berawal dari awal Oktober 2016, sebuah benjolan berdiameter 2 cm muncul di leher kananku.

Waktu itu aku hectic menyiapkan acara terbesar UKM-ku tahun itu. Aku ketua panitianya, jadi banyak yang harus kuurus. Suruhan teman-teman untuk periksa ke dokter tidak langsung kuindahkan.

Tanggal 3 November 2016, aku akhirnya periksa ke poli umum di klinik kampus. Dokter memberi aku antibiotik dan menyuruhku kembali tiga hari lagi.
Namun, karena terjadi miskomunikasi antara aku, dokter, dan apoteker, perintah dokter tidak kuturuti. Obat kuminum tidak rutin. Kuliah dan organisasi jadi alasan aku tidak kunjung periksa lagi.

Beberapa pekan setelah periksa pertama, tanggal 21 November, aku kembali periksa ke klinik kampus karena benjolan itu bertambah. Sekarang jadi ada tiga benjolan di leher kananku.
Kebetulan dokter yang piket adalah dokter yang memeriksa aku sebelumnya. Aku langsung dinasehati macam-macam perihal 'anjuran dokter', dan dapat pelajaran bahwa "kalau dokter dan apoteker mengatakan hal yang berbeda, ikuti dokter. Sebab dokter yang tahu seperti apa keadaan pasiennya."
Berkesan banget.

Oleh Bu Dokter, aku diberi antibiotik lagi. Bahkan sampai ditentukan jam minum obatnya oleh beliau. Beliau juga mewanti-wanti kalau aku harus datang periksa lagi dalam tujuh hari.
Kali ini aku benar-benar nurut. Tujuh hari setelahnya aku kembali lagi ke klinik kampus.

Kali ini yang memeriksa aku Pak Dokter. Catatan medisku diperiksa. Benjolanku tidak mengecil walaupun sudah diberi antibiotik. Keringat malam tidak ada, demam nggak, batuk-batuk juga nggak. Beliau akhirnya memberi aku surat rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam.

Aku rujuk ke rumah sakit di dekat rumah. Ibuku menemani aku periksa ke bagian penyakit dalam. Oleh dokter di RS itu, aku diminta tes darah, ronsen paru-paru, juga tes mantoux. Tes mantoux itu disuntik cairan di bawah kulit, yang tiga hari kemudian dicek perubahan yang terjadi pada kulitnya apa. Dokter bilang akan lebih baik kalau ada indikasi 'positif' tuberculosis pada hasil pemeriksaan ini, karena kalau negatif bisa jadi aku menderita penyakit lain yang menuntut operasi kecil, atau kalau parah, kanker.

Jadilah aku jalani berbagai tes. Pengalaman pertama dirontgen dan tes suntik mantoux. Kali kedua dites periksa darah sejak kelas 3 SD.

Sayangnya, karena jadwal periksaku selanjutnya bentrok dengan akhir pekan (tahun baru), dokter di RS libur. Ibuku membawaku ke rumah temannya yang dokter spesialis paru-paru. Temannya bilang hasil tes mantoux tidak ada artinya kalau tidak langsung dilihat setelah tiga hari. Jadilah beliau yang menanganiku.

Menurut analisis beliau, aku positif menderita TBC Kelenjar Getah Bening. Paru-paruku juga kena, kata beliau. Hasil rontgen menunjukkan ada peradangan. Hasil tes mantoux juga positif. Kulitku yang kemarin disuntik menonjol kemerahan dan permukaannya seperti kulit jeruk. Aku positif TBC.

Bingung lho sebenarnya. Yang aku tahu penderita TBC itu demam dan batuk parah, sampai batuk darah malah. Tapi (alhamdulillah)-nya aku sama sekali nggak mengalami itu. Ibuku lalu bilang kalau beberapa bulan terakhir aku sering berdehem, batuk kecil gitu. Ibu itu emang luar biasa ya. Sadar hal-hal kecil kayak gitu.

Oleh amah dokter, aku diberi resep obat yang harus aku minum rutin selama sembilan bulan ke depan (kayak hamil lol). Nggak boleh sekip satu haripun atau pengobatannya ulang dari awal. Aku juga disuruh cari sinar matahari pagi, karena sesungguhnya itu obat TBC dari Allah.

Tiga pekan sudah berlalu sejak aku mulai minum obat. Aku mulai biasa minum 7 butir obat setiap pagi, mulai terbiasa dengan urinku yang kemerahan karena efek obat... Disuruh suntik juga nggak kaget haha. Mungkin ini hukumanku karena nggak membiarkan matahari masuk ke kamar kosanku, karena kadang malas makan... ya gitu mungkin.

Intinya mah, jaga kesehatan da. Sakit itu ga enak.

Yang bela-belain ikut KKN,
Fildzah Nur Fadhilah.

Jumat, 23 Desember 2016

Jatuh Lagi.

Aku rupanya kembali ke kondisi titik bawah itu. Titik terbawah hidupku. Titik yang sebenarnya kalau bisa aku nggak ingin sampai terulang. Namun apa daya, terulang sudah.

Fildzah punya kepribadian yang aneh.

Dalam satu masa, ia bisa begitu cemerlang, begitu berprestasi, begitu berdedikasi dan senang berjuang. Harapan orang-orang diwujudkan. Dalam masa ini ia terus maju tanpa peduli apa kata orang.

Namun, dalam masa yang lain, ia adalah orang yang sangat merepotkan. Yang nggak profesional. Yang nggak bisa menempatkan kepentingan bersama di atas masalah pribadi. Cengeng. Lari dari masalah. Dia akan terlalu mengkhawatirkan pandangan orang terhadap dirinya, padahal ia sendiri yang menyakiti orang lain.

Sayangnya itu semua terjadi seperti siklus. Senang sih ketika jatuh jadi berpikir berarti suatu saat aku bakal naik. Tapi sedih juga ketika naik lalu mikir bakal ada sesuatu yang bikin aku jatuh.

Aku terlalu aneh.
Suatu kali jadi anak yang cengeng di kelas dan sering berantem sama teman.
Masa setelahnya berhasil lulus dengan nilai baik.
Suatu kali terlalu menatap masa lalu, nilai di rapor 4.
Lalu ketika lulus jadi yang nilainya tertinggi.
Setelahnya jadi anak cengeng yang apatis, yang mengutuk keadaan.
Yang nilainya sering jeblok, nilai di rapor bayangan 5.
Yang gagal masuk jurusan IPA keinginan keluarga.
Jutek dan suka nangis sendirian.
Emosian.

Setelahnya, jadi anak dengan nilai baik lagi.
Diterima kuliah di jurusan dan fakultas bergengsi.
IP semester pertamanya 4.00.
Lalu sakit-sakitan.
Dapat nilai E karena nggak ikut ujian.
Lalu berprestasi lagi. Jadi ketua unit kegiatan.

Eh sekarang, jatuh lagi.
Beralasan bosan kuliah, jenuh, takut, bingung....
Padahal mungkin hanya malas saja.
Berlindung dari kesalahan suka nunda-nunda.

Kenapa ya?
Semester ini aku kacau banget. Emosional. Nangis sesenggukan, merengek gak karuan. Kayak waktu SMA dulu. Cuma lari, nangis sesenggukan, tenang sedikit, terus balik ke temen-temen lagi.

Sekarang mah rasanya mau sendirian aja.
Ya, aku gak profesional. Aku ngebunuh, ngacauin dan ngerusak kelompokku sendiri. Mungkin tahun depan aku sendirian lagi. Aku harap gak banyak tugas kelompok tahun depan. Aku gak mau nyakitin orang lain gara-gara hobiku nyiksa diriku sendiri ini.

Tahun depan, mungkin, aku sendirian.
Kepribadianku yang seperti ini terkuak. Tercantum dalam ingatan mereka. Nggak lagi deh sekelompok sama aku.

Aku jadi mikir lagi, apa orang kayak aku gini layak kuliah. Baru masalah ngehimpit kayak gitu aja udah lari. Udah nyerah. Gimana nanti kerja? Gimana kalau nanti harus kerja bareng orang lain?

Makanya cita-citaku komikus sih. Aku bisa kerja sendirian. Gak harus di kantor. Nggak ada itu rapat atau pertemuan yang gimana.

Aku tahu ini kepribadian yang buruk. Ini harus diubah. Aku gak boleh kayak gini. Tapi aku butuh waktu. Aku butuh jeda.

Memang banyak rehat paksa yang kuambil. Itu juga gak baik. Aku ingin berhenti sejenak. Ingin rasanya keberadaanku seperti hilang sesaat. Aku ingin memikirkan dan merencanakan hidup ini.

Padahal kesempatan seperti itu sulit sekali datang.
Aku ingin rehat.
aku ingin pulang.
Aku ingin lahir kembali nanti.
Karena itu aku ingin saat ini, semua orang lupa sejenak padaku.